
DIMANA JASAD ANAKKU ?
Part 10
Tapi alangkah terkejutnya Sulis, saat dia melihat bunga tujuh rupa dalam nampan yang telah layu, dua botol kendi dari tanah liat, dan kemenyan dalam sebuah tempayan kecil dari tanah liat yang apinya telah padam.
Sulis menelan ludah. "Hah? Ada apa ini di kamar mbok Darmi? Bukan kah benda-benda ini adalah barang-barang yang biasanya dipakai oleh dukun di tivi-tivi?" gumam Sulis kaget. Dia semakin berjinjit agar bisa melihat sekeliling nya kamar mbok Darmi untuk mencari petunjuk.
"Lha kok sepi. Kemana mbok Darmi membawa Adinda?" gumam Sulis kelu. Berbagai pikiran buruk melintas di dalam kepalanya.
Sulis bermaksud untuk membuka jendela kamar itu saat kakinya terpeleset.
Bruggghhh!
"Awwww!!"
Sulis memekik saat pantatnya terjatuh di tanah. Dia mendesis kesakitan saat berusaha berdiri dari tempatnya terjatuh.
Perempuan itu mengibas-ngibaskan rok nya lalu kembali ke teras rumahnya yang hanya berjarak dua ratus meter dari rumah mbok Darmi.
Dengan lemas, Sulis duduk di anak tangga rumahnya yang terbuat dari semen.
Diraihnya ponsel dengan maksud hendak menelepon Surti karena mbok Darmi tidak mempunyai Hp. Hanya Surti yang mempunyai ponsel android jadul seperti miliknya.
Dicobanya tiga kali menelepon nomor whatsapp Surti, namun sayang sekali rupanya internet di ponsel gadis itu tidak diaktifkan.
Tak berputus asa, Sulis mencoba menghubungi Surti dengan telepon biasa, tanpa data. Rupanya nomor Surti tidak aktif.
[Sur, kamu dimana? Kenapa hp kamu tidak aktif?]
[Aku sudah pulang dari kantor polisi. Aku ingin bertemu!]
Centang satu. Tak ada tanda-tanda hp Surti aktif. Sulis menghela nafas kesal. Berbagai pikiran buruk menghantui nya.
Dia berdiri bermaksud untuk menaiki motor lalu mencari Mbok Darmi dan Surti.
Baru saja Sulis menaiki jok motor dan menghidupkan mesin motornya mendadak dilihatnya Surti yang membonceng mbok Darmi datang dari timur menuju ke rumah mereka.
Sulis menghela nafas lega karena melihat Adinda yang sedang tertidur lelap di pelukan mbok Darmi.
Sulis menunggu motor mbok Darmi masuk ke halaman rumahnya, dan segera menghambur ke arah Dinda begitu motor mbok Darmi mati.
"Dinda!" seru Sulis merentang kan kedua tangannya lalu menggendong Dinda. Diciumnya pipi bayinya dengan rasa rindu sekaligus rasa lega.
Mbok Darmi dan Surti memandangi nya.
"Darimana kalian? Aku takut sekali kalau kalian menghilang membawa anak ku!" seru Sulis memeluk Adinda kian erat.
__ADS_1
Mbok Darmi tertawa. "Kamu memikirkan apa tentang kami, Lis?! Kita kan tetangga baik. Kamu juga sudah saya anggap sebagai anak perempuan saya. Tidak mungkin dong kalau aku berbuat jahat padamu dan anak-anak mu," ujar mbok Darmi.
"Mbak Sulis, maaf kalau saya tidak bisa memberitahu terlebih dahulu tentang kepergian kami. Jadi aku mendadak ada urusan yang harus melibatkan ibu, Mbak. Jadi mau tidak mau Dinda juga diajak.
Tadi kita berangkat terburu-buru dan tidak sempat menelepon mu, Mbak. Aku kira bisa menelepon mu saat sudah sampai di desa setelah. Tapi sayang sekali, baterai hp ku habis dan aku tidak bisa menghubungi mu, maaf ya mbak."
Sulis menatap kedua perempuan yang berdiri di hadapan nya bergantian. Tentu saja rasa ragu dan tidak percaya muncul di hatinya.
Ingin sekali dia bertanya tentang apa yang dilihatnya di kamar mbok Darmi. Apakah mbok Darmi melakukan praktik perdukunan atau semacamnya.
Dan urusan apa yang membuat mbok Darmi serta Surti mendadak pergi ke desa sebelah. Tapi Sulis terlalu takut untuk bertanya tentang semua hal yang mengganggu pikirannya itu.
"Hm, mbok Darmi. Apa saya boleh bermain ke rumah mbok Darmi dulu? Saya masih berdebar dan gemetar karena baru pulang dari kantor polisi. Meskipun saya tidak bersalah, tapi saya selalu takut jika datang ke kantor polisi atau pun melihat laki-laki yang mengenakan seragam polisi," pinta Sulis.
"Oh tentu saja boleh. Ayo main ke rumahku, Lis. Aku ambil kuncinya dulu," sahut Mbok Darmi seraya merogoh tas selempang nya dan meraih anak kunci.
Sulis membetulkan jarik yang menggendong Adinda yang menggeliat di dalam pelukan nya. Diikuti nya langkah mbok Darmi masuk ke dalam rumah.
"Duduk dulu, Lis. Mau minum apa?" tanya Mbok Darmi setelah mereka duduk berhadapan.
Sulis menggeleng. "Enggak usah, Mbok. Aku tidak haus."
"Jangan gitu lah, Lis. Kamu nyaris tidak pernah keluar dari rumah. Masa ke rumah mbok kalau hanya Iedul Fitri saja, dan sekarang kamu nggak mau disuguhi apapun," tukas mbok Darmi.
Sulis tersenyum. "Ya sudah, mbok. Air putih saja."
Sulis memperhatikan punggung mbok Darmi yang menghilang setelah masuk ke ruang tengah. Ruangan yang terdapat sebuah kamar dengan perlengkapan dukun yang tadi dilihat nya.
Tak lama kemudian, Surti keluar dari ruang tengah menuju ruang tamu menemui Sulis dengan membawa segelas air putih dan sepiring pisang susu.
"Silakan dinikmati, Mbak," ucap Surti mempersilakan.
Sulis menatap hidangan di hadapannya dengan ragu. Sulis takut jika sajian di hadapannya mengandung mantera atau jampi-jampi. Mendadak dia mendapatkan kan sebuah ide.
"Astaghfirullah, aku lupa kalau aku puasa hari Senin, Sur!" seru Sulis sambil menepuk jidatnya.
Surti tersenyum kecil. "Wah mbak Sulis ini masih muda tapi pelupa," sahut Surti.
Sulis pun tertawa. "Iya nih. Kebanyakan pikiran. Oh ya, Sur. Tadi Dinda mau minum Asi yang ada di botol nggak?" tanya Sulis antusias.
"Mau, Mbak. Satu botol asi full sudah habis. Sebentar ya aku ambilkan botol nya," ujar Sulis beranjak dari hadapan Sulis.
"Iya. Maaf ya merepotkan kamu, Sur."
"Ah, enggak mbak. Nggak repot kok," sahut Surti.
Sulis mengamati foto-foto tua yang tertempel di dinding ruang tamu. Ada gambar mbok Darmi yang masih muda mengenakan baju seragam tengah berpose sendirian di depan sebuah rumah. Tapi dari tampilannya, jelas sekali rumah di foto itu bukan rumah ini.
__ADS_1
Sulis mengamati nya dengan seksama. Dia memang warga pendatang di desa itu. Suami nya yang merupakan warga asli desa ini mengajak nya ke sini setelah mereka menikah untuk menempati rumah warisan orang tua Abdi, sang mantan suami.
Dan saat mereka tiba di sini empat belas tahun yang lalu, mbok Darmi sudah menjadi janda dan dia mempunyai anak angkat yang bernama Surti usia lima tahun.
Sulis berdiri dan menatap foto itu. Dia pernah menjadi kader posyandu di desa ini yang pernah diajak oleh bidan desa untuk membantu memberi penyuluhan pada ibu hamil di sini. Jadi sedikit banyak dia tahu perut perempuan yang sedang hamil muda.
"Kayaknya mbok Darmi saat ini sedang hamil, berarti dia pernah punya anak. Atau anaknya keguguran? Apa anaknya ma ti saat kecil lalu suami nya meninggal dan dia mengangkat Surti menjadi anak?" gumam Sulis bertanya-tanya.
"Sayang nya aku juga baru saja memperhatikan foto ini sekarang, dari dulu aku abai pada foto-foto mbok Darmi padahal tetangga. Tapi memang kehamilan nya tidak terlihat jelas kalau tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh sih."
"Kamu lihat apa sampai serius begitu, Lis?" tanya Mbok Darmi yang keluar dari ruang tengah dengan membawa botol susu yang telah kosong.
Sulis nyaris terlompat saat melihat mbok Darmi datang dari arah ruang tengah rumah nya.
"Eeee, setelah saya perhatikan seperti nya dalam foto ini mbok Darmi sedang hamil. Jadi mbok Darmi pernah punya anak?" tanya Sulis.
Wajah mbok Darmi mendadak pias. "Kamu jangan mengada-ada, Lis. Itu foto ku saat masih sekolah di SMA. Mana mungkin aku hamil," sahut mbok Darmi dengan nada tak suka, membuat Sulis menjadi salah tingkah.
"Uhm, maaf, kalau saya lancang."
Mendadak Dinda menangis keras, Sulis memeriksa pantat Dinda yang ternyata anaknya sedang buang air besar.
"Uhm, mbok. Terima kasih telah membantu saya mengasuh Dinda saat saya di kantor polisi. Saya pulang dulu karena Dinda eek ini," pamit Sulis.
Mbok Darmi mengangguk. "Kamu belum cerita tentang kejadian di kantor polisi tadi, Lis. Apa yang terjadi di sana? Kamu ditanyai apa saja oleh para polisi?" tanya Mbok Darmi.
"Hm, besok saja atau nanti malam mbok, karena saat ini saya harus mengganti pampers Dinda dulu," sahut Sulis.
Mbok Darmi pun mengangguk dan Sulis segera pamit dan pergi dari rumah tetangganya itu.
***
Malam ini Sulis tidur dengan Adinda saja di rumahnya. Mbok Darmi dan Surti ternyata tidak bisa menemani Sulis lagi. Karena kata mbok Darmi, Surti kecapekan setelah perjalanan dari luar desa selama tiga jam dan mengalami demam.
Suara kentongan terdengar dipukul satu kali saat Sulis berganti posisi diatas kasur kapuknya. Perempuan itu rupanya tidak bisa tidur.
"Astaghfirullah, kenapa malam ini suasana panas sekali ya. Padahal aku sudah menyalakan kipas angin. Mbok Darmi dan Surti nggak bisa menemani membuat ku semakin kesepian tapi kalau mereka menemaniku, aku juga takut pada mereka," gumam Sulis.
Akhirnya Sulis pun turun dari kasurnya dan memutuskan untuk membuka jendela kamar.
Baru saja dia membuka jendela kamarnya, mendadak dia melihat sebuah bola api yang terbang melintas di samping rumahnya. Bersamaan dengan itu, dia mendengar seperti ada kerikil kecil yang dilempar di atap rumahnya.
"Astaghfirullah! Banaspati!" pekik Sulis tertahan, dia ketakutan saat melihat bola api itu berputar-putar di depan kamarnya.
Sulis segera membaca ayat kursi, surat Al-Ikhlas, An-Nas dan Al-Falaq bersamaan dengan dada berdebar. Dan bacaannya semakin keras saat bola api itu melaju ke arahnya dengan cepat!
Next?
__ADS_1