
DIMANA JASAD ANAKKU ?
Part 13
'Ibu, apa yang harus aku lakukan sekarang?' batin pak Slamet galau bercampur bingung seraya melihat dengan sedih ke arah mbok Darmi yang masih pingsan.
Mendadak pinggang Slamet dicolek dari belakang. Kepala desa itu menoleh dan melihat Surti yang tengah kebingungan.
"Pak Slamet, saya ..."
"Ada apa Sur, kamu bilang saja."
Surti menatap ke arah ibu angkat nya yang masih tertidur pulas.
"Hm, saya bingung tentang ibu mau dirawat dikelas berapa?" tanya Surti ragu. "Sementara saya tidak punya cukup uang."
Pak Slamet berpikir sejenak, 'duh kalau aku minta mbok Darmi dirawat di ruang yang bagus atau VIP, pasti nanti banyak warga yang merasa iri dan bertanya-tanya tentang hal ini. Mereka bisa curiga pada kami. Tapi kalau mbok Darmi dirawat di ruang bangsal, apa nanti tidak marah ya?
Kalau begitu, lebih baik dirawat di kelas satu saja. Walaupun tidak ruang paviliun, setidaknya pasiennya tidak perlu berjubel,' batin Slamet. Akhirnya lelaki itu menatap ke arah Surti.
"Dirawat di kelas 1 saja. Aku lihat luka ibumu parah dan sangat beraroma tidak sedap. Kalau dirawat di bangsal biasa, takutnya membuat teman sekamarnya tidak nyaman dan protes."
Surti menatap Slamet dengan bingung. "Tapi saya tidak punya uang, Pak!"
"Tenang saja. Biar aku yang bayar."
Surti pun mengangguk dan menemui dokter jaga UGD kembali untuk menyampaikan keputusan ruang rawat inap Mbok Darmi.
*
"Jadi apa yang menimpa warga desa saya, Dok?" tanya Slamet saat duduk berhadapan dengan dokter spesialis kulit dan kelamin. Surti yang duduk di sebelah Slamet, tampak meremas tangannya, cemas.
"Pasien mengalami psoriasis parah. Maksud dari psoriasis adalah kondisi ketika sel-sel kulit menumpuk dan menghasilkan bercak bersisik yang gatal dan kering.
Psoriasis diduga sebagai masalah sistem kekebalan tubuh. Pemicunya antara lain stres dan pilek."
Slamet menatap wajah dokter di hadapannya dengan pandangan tak percaya.
"Tapi kenapa penyakit itu bisa muncul secepat itu dalam waktu satu malam?" tanya Slamet tidak paham.
Dokter di hadapannya menghela nafas. "Itu juga menjadi misteri. Seharusnya penyakit kulit diawali dengan gejala ringan kemudian semakin parah dari hari ke hari. Bukan seperti kejadian yang dialami pasien yang mendadak mengalami sakit kulit parah dalam waktu semalam seperti yang dikatakan keluarga nya."
Slamet dan Surti terdiam.
"Pasien masih perlu dirawat dan diobservasi. Kalau pasien sudah sadar, saya akan menanyakan hal-hal tentang makanan yang dimakan atau apa yang dilakukan sebelum pasien sakit. Jadi untuk sementara ini pasien hanya perlu beristirahat, mendapatkan oksigen dan infus sampai sadar, lalu lukanya dibersihkan secara teratur dan dioles salep," tukas dokter itu lagi.
Dokter hampir berdiri dari duduknya saat Slamet bersuara lagi, "tunggu Dok, apa tidak mungkin jika kondisi yang dialami oleh ibu saya karena ... santet?!"
Dokter itu menghela nafas dan membetulkan letak kacamatanya. "Pak, saya ini orang medis, tenaga kesehatan. Saya selalu memikirkan apapun kondisi yang menimpa pasien secara logika. Jadi saran saya, bapak dan mbak nya sabar dulu. Tidak usah menduga-duga. Kita akan melihat perkembangan pasien," sahut dokter itu lagi.
Slamet dan Surti hanya terdiam. "Baiklah, kalau sudah tidak ada yang ditanyakan terkait kondisi pasien, saya akan mengunjungi pasien lain. Permisi," pamit dokter itu dan keluar dari ruang konsultasi. Slamet dan Surti mengikuti dari belakang. Mereka berjalan di koridor rumah sakit yang masih lengang menuju ke kamar mbok Darmi.
__ADS_1
Mendadak Slamet menggenggam tangan Surti. Gadis itu terkejut, tapi tidak berusaha menepis nya.
"Surti, kamu mau kan jadi istri keduaku? Aku ingin punya anak, Sur. Istriku mandul," ujar Slamet sambil tersenyum manis.
Surti menoleh ke kanan dan ke kiri dengan takut-takut.
"Jangan dibicarakan di sini, Pak. Saya takut ada warga desa yang melihat. Saya tidak mau dikeroyok dan dihakimi massa. Lagipula saya bukan pelakor," sahut Surti lirih.
"Ck, kamu nggak usah malu dan takut. Ibu kita sudah setuju. Tapi memang aku perlu membereskan dulu kekacauan yang timbul di luar perkiraan belakangan ini," sahut Slamet.
"Pak, banyak gadis lain. Tolong jangan saya. Saya tidak ingin berhubungan dengan pria beristri."
"Halah, kamu itu munafik. Kamu juga senang kan kalau punya suami seperti aku yang kaya dan tampan ini?! Jangan pura-pura tidak mau dan sok jual maha!"
"Tapi, Pak ...!"
"Kamu diangkat anak dan mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungku yang tidak kudapatkan, karena itu harusnya kamu balas budi pada kami dengan cara mau menikah denganku!" desis Slamet.
Surti hendak menanggapi ucapan Slamet tapi diurungkan nya karena kamar ibunya sudah didepan mata.
Surti mengibaskan tangannya dari tangan Slamet saat kepala desa itu mulai menarik handle pintu.
Klek.
Pintu kamar rawat inap Mbok Darmi terbuka perlahan. Mbok Darmi tampak terduduk di ranjang pasien membelakangi pintu dan menghadap ke arah jendela kamar yang tertutup tirai putih.
Surti menatap ibu angkatnya dengan berbinar.
"Jangan bergerak dulu! Ada yang aneh!" desis Slamet.
Krekkk!!
Mendadak mbok Darmi menoleh kan kepalanya 180 derajat menghadap ke arah Surti dan Slamet.
"Aaarrgghhhh!" Surti menjerit perlahan saat melihat mata ibunya hanya terlihat putih nya saja.
Ibu angkatnya itu tampak menyeringai dan menangis kesakitan. "Kalian jahat! Huhuhu! Kalian jahat!"
Slamet dan Surti tercengang. Mereka melongo dan terkejut dengan apa yang terjadi di hadapan mereka.
Belum sempat mereka mengatasi rasa kagetnya mendadak mbok Darmi berdiri dan berjalan ke arah Slamet dan Surti yang ketakutan. Badan mbok Darmi menghadap ke depan, sedangkan kepalanya menghadap ke belakang.
Saat langkah Mbok Darmi terhalang oleh selang infus, mbok Darmi dengan cepat melepas selang infus yang menancap di tangannya, menjadikan lantai kamar penuh dengan noda darah yang tercecer bercampur dengan tetesan infus.
"Bu, Ibu! Sadar, Bu!"
Aroma menyengat menguap dari tubuh perempuan itu saat dia mendekati Surti dan Slamet.
Saat mbok Darmi tepat berdiri di hadapan Surti dan Slamet, mbok Darmi kembali memutar kepalanya dari belakang menghadap ke depan. Krekk!
Dia menuding ke arah dua orang yang sedang ketakutan di hadapannya. "Kalian! Kalian sudah membunuh ayahku, aku, dan kalian akan membunuh ibuku, haaah?!"
__ADS_1
Slamet dan Surti semakin terkejut saat mendengar bahwa suara yang keluar dari ibunya adalah suara seorang anak laki-laki.
"Ka-kamu? Damar?" tanya Slamet. Ada setitik rasa takut yang menjalari hatinya.
"Iya! Aku Damar, yang kalian bu nuh dengan semena-mena. Kalian jahat! Apa salahku pada kalian!"
Mbok Darmi menyeringai dan menatap Slamet dan Surti dengan kedua mata putih nya. Kedua tangan mbok Darmi terulur ke arah leher Surti dan Slamet.
"Kalian harus dihukum!"
Saat tangan Mbok Darmi hendak mence kik leher Slamet, lelaki itu mencekal pergelangan tangan ibunya.
"Haaaah! Kamu harus bertanggung jawab pada keluarga ku!" jerit Damar lagi. Dia mendekat dalam tubuh mbok Darmi ke arah Slamet dan melewati Surti yang ketakutan dan jatuh gemetaran di lantai.
Surti sangat ingin menyadarkan ibu angkat nya tapi dia merasa tangan dan tubuhnya gemetaran dan tidak bisa digerakkan sesuai perintah otak.
Akhirnya gadis itu hanya bisa melongo dan terguncang saat melihat mbok Darmi mendelik di depan wajah Slamet. Slamet nyaris tak bernafas saat mbok Darmi menghembus kan nafas kasar di depannya.
Tangan Slamet mencekal pergelangan tangan kiri mbok Darmi semakin kuat berharap Damar segera pergi dari tubuh ibunya.
Tapi tangan kanan mbok Darmi segera mencengkeram balik pergelangan tangan kanan Slamet dan mematahkan nya.
Klakkk!
"Aaarrgghhhh!" Slamet berteriak kesakitan bersamaan dengan suara tulang yang patah.
"Bapak ingat gak? Bapak mematahkan tulang tanganku juga sebelum bapak membawaku?" tanya Mbok Darmi dalam suara Damar dengan nada yang menyedihkan.
Sementara itu Surti yang berhasil menguasai diri segera membuka pintu kamar ruang rawat inap Mbok Darmi dan berlari terseok-seok ke ruang perawat.
"To-tolong, Mas, Sus! Ib-ibu saya ..."
Surti tidak bisa melanjutkan perkataannya karena kedua perawat di hadapannya langsung berlari ke arah kamar mbok Darmi.
"Ada apa ini?" tanya salah seorang perawat laki-laki setelah masuk ke kamar mbok Darmi. Dia terkejut melihat kekacauan yang terjadi dan mbok Darmi yang sedang mencengkeram lengan patah Slamet.
Mbok Darmi lalu menoleh mendadak dan menyeringai ke arah para perawat yang baru datang. Tampak suster yang berdiri di belakang perawat laki-laki gemetaran melihat mbok Darmi yang mendelik ke arah mereka.
Melihat dua orang perawat datang, mbok Darmi melepaskan tangan Slamet, lalu menyeringai ke arah kedua perawat itu.
"Kakak, kalian mau main denganku?" tanya Damar lalu dengan cepat berjongkok dan merayap di lantai lalu naik ke dinding kamar rumah sakit.
"Hahaha, ayo main denganku! Satu satu, aku sayang ibu! Dua dua juga sayang ayah! Tiga tiga sayang adek kakak ..."
Mbok Darmi lalu memanjat ke plafon kamar ruang rawat inap dan bergelantungan di lampu atas dengan kepala di bawah dan badan diatas seperti spiderman.
"Satu dua tiga, sayang semuanya!"
Bertepatan dengan Damar yang baru saja selesai menyanyikan lagunya, mbok Darmi melepaskan pegangan tangannya pada kabel lampu plafon. Tubuh mbok Darmi terjun bebas ke lantai ruang rawat inap dengan kepala jatuh terlebih dahulu.
Brakkkk!
__ADS_1
Next?