
DIMANA JASAD ANAK KU ?
Part 16
(Masih) beberapa saat sebelumnya,
Firasat Abdi mengatakan ada yang tidak beres. Maka dia pun mengikuti mobil Slamet dengan motor maticnya.
Abdi melajukan motornya dengan gusar, sesekali dia melihat ke kiri dan ke kanan jalanan yang lengang.
Hari ini masih sore lepas ashar, tapi entah kenapa jalanan sudah lengang. Abdi menatap ke mobil sedan warna merah di hadapannya, memastikan tidak ada suara minta tolong atau apapun yang terlihat wajar sehingga dia bisa lapor ke polisi.
Tapi nihil, tidak ada reaksi dari bocah gelandangan yang tadi dibawa masuk ke mobil itu.
Abdi meraba ponsel di saku celananya. Dia mendesis kesal saat menyadari jika ponselnya ketinggalan di rumah. Padahal dia sangat ingin merekam mobil itu, atau paling tidak menyimpan gambarnya.
Akhirnya Abdi hanya bisa mengingat-ingat warna mobil dan plat nomornya saja.
Mendadak mobil itu berhenti di pinggir jalan, tepat di sebuah warung bakso. Tapi tidak ada tanda-tanda penghuni mobil itu akan keluar ke warung.
Abdi pun ikut berhenti dengan pura-pura membeli air minum di kios rokok mungil pinggir jalan di belakang warung bakso itu.
Sementara itu anak yang sudah diculik oleh Abdi tertidur setelah meminum jus buah dalam kemasan.
Slamet dan mbok Darmi yang sedang memegangi anak itu di jok belakang menoleh ke arah Abdi.
"Din, apa kamu merasa kalau kita diikuti oleh seseorang?" tanya Slamet menatap ke arah sang supir.
Udin pun menatap kaca spion tengah mobil nya dan memandang ke arah si bos.
"Iya pak. Seperti nya pengendara motor matic hitam itu mengikuti kita."
"Hm, sudah kuduga. Saat kita berhenti, dia juga ikut berhenti. Kita harus main aman, Din. Saya tidak tahu siapa dia, tapi kalau dia tahu tentang penculikan anak ini, kita bisa mampos."
"Jadi, apa yang harus kita lakukan, Bos?"
"Telepon tukang kebun dan satpam di rumah, lalu share loct lokasi ini. Biar mereka nyusul kesini dengan mobil lain. Lalu saat mereka dekat, kita lanjut jalan. Kalau benar, motor itu mau mengikuti kita, apapun alasannya, aku mau dia ditabrak saja sampai mati. Aku sudah melihat plat nomor motor itu. Jangan lupa, informasi kan plat nomor motor itu juga ke Parman," sahut Slamet.
"Baiklah, Bos. Saya mengerti."
Udin pun lalu dengan cepat melakukan instruksi Slamet. Dan untuk mengulur waktu sampai anak buah Slamet yang lain datang, Udin melajukan motornya kembali dan berputar-putar di jalanan sekitar warung bakso itu.
Sampai saat mobil yang dikendarai Parman dan Tukimin, tukang kebun Slamet menyusul, akhirnya Udin melaju kan mobilnya ke daerah hutan.
Abdi mengurangi kecepatan motor nya saat mobil Udin menghilang di sebuah tikungan, mobil Parman datang dari belakang Abdi dan menabraknya dengan kecepatan tinggi.
Jalanan lengang karena berada di kawasan hutan, sehingga mobil Xpander itu dengan leluasa menghantam motor Abdi.
Brakkk!!
Motor Abdi terdorong dengan kencang dan lepas kendali selama beberapa detik, Abdi mencelat ke udara sesaat dan terlempar dari motornya jatuh ke aspal beberapa meter dengan kepala membentur aspal lebih dulu. Tubuh Abdi pun terseret dan tergores aspal dengan parah. Abdi meninggal seketika.
Melihat Abdi sudah tidak bergerak lagi, Slamet yang sedang sembunyi memerintahkan pada Udin dan Parman untuk segera pergi dari tempat kejadian.
**
Slamet menghela nafas lega saat sudah sampai di rumah. Urusan tumbal dan penguntit nya telah beres. Slamet tidak tahu jika orang yang ditabrak oleh suruhan nya adalah salah satu warga desanya. Karena saat itu Abdi memakai masker dan helm.
Hingga Slamet terkejut saat melayat di rumah Abdi. Jantung kepala desa itu berdebar kencang saat melihat jasad Abdi yang sudah dipocong, seolah-olah mendelik dan melihat nya dengan tatapan penuh dendam. Seakan meminta tanggung jawab Slamet kenapa dia menjadi seperti ini. Kepala desa itu menahan dirinya untuk tidak berteriak saat melihat mayat yang hidup lagi.
Slamet mengucek matanya berulang kali dan saat melihat kembali jasad Abdi, Abdi dalam kondisi memejamkan mata.
Slamet menelan ludah dan segera pamit untuk pulang pada Sulis dengan alasan rapat desa. Tak lupa pula dia melakukan pencitraan dengan memberikan santunan dan sumbangan yang jumlahnya tidak sedikit sebagai ucapan bela sungkawa.
Saat Slamet sedang mengenakan sepatunya di teras rumah Sulis, mendadak dia dikejutkan oleh suara seorang anak kecil dari arah belakang.
"Om, apa yang Om lakukan pada bapakku? Bapakku mengikuti Om sekarang!" seru bocah itu lirih.
__ADS_1
Slamet bergidik dan menoleh kan kepala ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada yang mendengar nya lalu segera kabur dari rumah Abdi dan Sulis.
"Mas, makan yuk! Aku sudah menyiapkan makan malam untuk kamu," ujar Desi seraya menghidangkan piring berisi spaghetti di atas meja makan.
Slamet mengangguk dan tersenyum kearah istrinya, dia melihat istrinya berubah menjadi wajah Abdi yang berdarah karena goresan aspal.
"Kamu sengaja kan membunuh ku?" tanya Abdi dengan marah di hadapan Slamet.
"Aaaaaaargggghhhh!"
Slamet menjerit keras dan tangannya menyenggol piring berisi spaghetti. Tapi alangkah terkejutnya Slamet saat menunduk dan melihat piring itu ternyata berisi cacing tanah.
Slamet berteriak sekali lagi sampai bahunya diguncang-guncangkan oleh istrinya.
"Mas, Mas Slamet! Kenapa sih kamu teriak-teriak gitu? Disuruh makan malam kok teriak-teriak!" seru Desi.
Dengan nafas tersengal-sengal, Abdi melihat ke arah istrinya yang sudah berganti wajahnya kembali.
"A-aku, aku nggak apa-apa. Tapi aku tidak lapar," sahut Slamet lalu berdiri dari kursi nya menuju ruang tengah untuk menonton tivi.
***
"Apa? Siluman itu mau tumbal lagi, Pak?" tanya Slamet kaget saat bapaknya menelepon nya dan mengatakan hal itu.
"Iya. Raja Segawon Lanang masih lapar. Apa susah nya sih nyari anak satu lagi untuk tumbal? Toh setelah lima tahun kamu menculik anak gelandangan, kamu nggak ketahuan polisi kan?" tanya Surya dengan nada memaksa.
"Ta-tapi Pak, perjanjian nya kan setiap enam bulan sekali?! Ini kan masih tiga bulan sejak aku memberikan tumbal terakhir? Masa sekarang sudah minta tumbal lagi? Ah, ternyata laki-laki yang suka ingkar janji bukan hanya manusia saja. Tapi siluman juga suka ingkar janji," omel Slamet kesal.
"Hush, jaga nada bicaramu! Kalau bukan karena raja Segawon Lanang, kamu nggak akan bisa hidup sukses seperti sekarang! Sediakan tumbalnya atau raja Segawon Lanang akan mengambil semua hartamu, Met. Bahkan dia juga bisa menyantap kita hidup-hidup."
Slamet mengakhiri panggilan telepon nya dengan marah. Tapi tak urung juga dia berpikir tidak akan menuruti perintah jin itu.
'Masa sih jin sama manusia lebih kuat jin? Coba saja sehari dua hari ini, aku nggak usah nurutin Segawon itu, biar nggak manja. Kalau mau makan bola mata, harusnya bisa cari sendiri!' gumam Slamet dalam hati, kesal.
Slamet lalu membuka ponselnya dan menatap foto Surti. "Kamu cantik banget sih, Sur! Aku ingin menikahimu. Tapi sayang nya aku punya istri."
"Tapi Desi pun matre. Sekarang setelah aku sukses, nggak jadi nggugat cerai, malah perawatan terus dan ngabis-ngabisin duit. Mana mandul pula. Periksa ke dokter, rahimnya bermasalah. Dasar, bikin kesel. Enaknya tidur aja nih. Bini arisan sosialita nggak pulang - pulang, nggak ngurus suami yang kelaparan!
Coba aja raja Segawon Lanang minta tumbal perempuan, pasti Desi yang aku umpankan padanya!" omel Slamet sekali lagi lalu memejamkan matanya.
Entah berapa lama Slamet tertidur, saat dia merasakan hembusan angin dari arah jendela.
Dengan malas, lelaki itu terbangun lalu berjalan ke arah jendela hendak menutup nya.
"Aneh, perasaan tadi sudah aku kunci, tapi kenapa ini terbuka lagi?" tanya Slamet keheranan sambil meraih jendela hendak menguncinya. Mendadak tangan Slamet yang sedang menjulur keluar dipegang oleh sebentuk tangan berbulu dan berkuku.
Arrrrgh!
Slamet berteriak kaget dan langsung mengibaskan tangannya, menjauh dari arah jendela.
Aauu!!
Terdengar suara lolongan anjing dan lampu kamar Slamet mendadak padam, tapi sedetik kemudian menyala lagi.
Dada Slamet berdebar kencang. Apalagi lolongan anjing itu kian lantang dan dekat. Suasana semakin mencekam saat lampu di kamar Slamet menyala kemudian padam sendiri.
Mendadak dari arah cermin besar yang terpasang di dinding dekat ranjang milik Slamet terpantul bayangan anjing berkepala manusia sedang menyeringai dengan kejam. Air liur keluar dari kedua taring depan mulutnya.
Secara cepat, bayangan di cermin itu membesar dan keluar dari cermin dalam bentuk makhluk nyata.
"Heeeggrrrggghhhh!!!"
Jin anjing itu menggeram dan mendekat ke arah Slamet. Badan Slamet menjadi gemetaran sampai terkencing-kencing di celana tanpa terasa.
Jin anjing itu mendekat kan kepalanya kearah Slamet, sehingga hawa panas dan pengap bisa dirasakan kulit wajah Slamet dari hembusan di mulut jin anjing yang tingginya lebih dari tiga meter itu.
"Carikan tumbal untukku kalau kamu masih ingin tetap kaya dan hidup!" seru anjing itu dengan deru nafas memburu.
__ADS_1
"Ba-baik Tuan! Saya akan mencarikannya besok! Sa-saya janji!" tukas Slamet dengan takut-takut.
Jin Anjing itu tidak mengatakan apa-apa lagi pada Slamet, dia hanya menatap dan menyeringai lebar pada lelaki itu lalu menghilang meninggal kan Slamet yang ketakutan dan lemas bersimpuh di lantai rumahnya.
Selang beberapa saat, waktu seakan berhenti. Slamet menghela nafas dan meraih ponselnya. Menelepon Surti untuk segera membuat janji temu dengan mbok Darmi secara diam-diam agar tidak diketahui oleh warga.
***
"Jadi begitu, Bu. Aku harus menculik gelandangan lagi. Tolong bantu aku!" cetus Slemet mengakhiri ceritanya.
Mereka bertemu di rumah Surya yang telah pindah ke desa di sebelah desa Slamet. Slamet yang membelikan rumah di daerah terpencil dan sepi tetangga untuk ayahnya itu.
"Baiklah. Ayo kita cari anak gelandangan lagi!"
Slamet mengangguk. Dia lalu menoleh ke arah bapaknya.
"Pak, aku juga diteror arwah laki-laki yang pernah aku tabrak. Tolong pak, tenang kan arwah itu atau tangkap saja aku tidak peduli!"
Slamet lalu menceritakan tentang Abdi yang baru saja ditabraknya. Surya manggut-manggut.
"Baiklah, bapak akan atasi arwah itu, dan kamu bereskan permintaan raja Segawon Lanang!"
**
"Sepi, nggak ada anak gelandangan yang biasa lewat," gumam Slamet kecewa.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita culik anak siapa saja dari depan sekolah dasar desa sebelah?" usul mbok Darmi.
"Halah terlalu beresiko! Bagaimana nanti kalau bapak dan ibunya nyari dan lapor polisi? Bisa ketahuan kita, Buk!
Kalau gelandangan kan enak! Kita bisa culik sepuas hati. Akan mudah untuk menculik anak yang tidak punya orang tua," cetus Slemet.
Mbok Darmi terdiam tapi pandangan nya terus mengawasi jalan yang dilewati nya.
"Bawa saja anak itu! Dia sedang menangis di jalan sendirian!"
Slamet mengerut kan dahinya.
"Anak itu? Nanti kalau orang tuanya nyari dan lapor polisi, gimana?"
Mbok Darmi berpikir sejenak. "Dia memang bukan gelandangan. Tapi melihat dia yang menangis sendirian di tengah jalan seperti ini, berarti dia anak bermasalah. Entah orang tuanya broken home atau dia lagi bertengkar di keluarga nya, yang jelas ayo kita bawa saja!" seru mbok Darmi.
"Hm, begini saja. Kita bawa anak itu ke rumah bapak dan kita sekap. Kalau besok tidak ada orang yang mencari anak ini, kita akan tumbal kan dia. Tapi jika ada orang yang mencari anak ini, kita lepaskan saja dia!"
"Bagaimana kalau dia cerita pada orang tuanya tentang penculikan ini?"
"Kita buat anak itu linglung saja dengan bantuan bapak!"
"Baiklah, ibu setuju."
***
Keesokan hari nya setelah pulang bekerja, Slamet ke rumah bapaknya, untuk menyampaikan bahwa dia mendengar kabar bahwa ada orang tua yang mencari anak hilang di desa sebelah, dan Slamet memutus kan untuk mengembalikan anak itu. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat anak itu sudah ma ti.
"Dia ma ti sendiri. Malam hari setelah kuberi makan, dia menangis dan minta pulang lalu sesak nafas dan kejang-kejang. Mungkin dia punya asma dan epilepsi. Kamu harus cari anak lain karena kamu tahu kan kalau raja Segawon tidak mau anak yang sudah ma ti?" ujar Surya membuat Slamet lemas.
"Lalu kita harus bagaimana? Orang tuanya sedang mencari anak ini kan? Kita kuburkan di sini saja atau ..."
"Kita hanyutkan saja dia di perbatasan sungai Desa. Cukup untuk membuat alibi bahwa anak ini bermain sendirian di sungai lalu penyakit nya kambuh dan tidak ada yang menolong kan?" ujar mbok Darmi.
"Baiklah, kita bawa kesana!"
Slamet pun membungkus jasad anak itu dengan tikar dan memasukan ke bagasi mobil.
Mobil itu pun menuju ke sungai perbatasan desa Slamet dan desa Surya. Beberapa saat setelah melempar kan jasad itu ke sungai, Slamet mendengar suara ranting pohon diinjak. Dia menoleh ke belakang dan melihat Damar berlari kencang dari belakang sebuah pohon besar.
Next?
__ADS_1