Jasad Anak Ku

Jasad Anak Ku
"JENAZAH"


__ADS_3

DIMANA JASAD ANAKKU ?


Part 2


"Apa? Tidak mungkin! Damar ada di rumah ini!" jeritku tertahan.


"Ibu tenang dulu. Ijinkan kami masuk ke dalam rumah untuk membawa jenazah Damar," ucap pak Slamet, kepala desa di sini.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan jenazah anak yang tidak kukenal itu masuk ke dalam rumahku!" seruku dengan suara parau. Jelas saja aku tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh warga desa.


'Apa-apaan mereka! Damar pasti masih baik-baik saja. Enak saja mereka membawa mayat orang lain ke sini!' seruku dalam hati.


"Bu Sulis, saya tahu jika hal ini berat bagi ibu. Kami harap ibu tabah dan ikhlas menerima takdir ini," ucap Pak Broto, sekertaris desa.


Aku mengerutkan kening. "Lebih baik kalian pulang saja. Damarku baik-baik saja. Dia kan ikut acara PERSAMI di sekolahnya," tukasku yakin.


"Bu, biarkan kami masuk ke dalam rumah untuk mengistirahatkan jenazah anak Bu Sulis. Apa Bu Sulis tidak merasa kasihan pada jenazah anak sendiri? Dan apa Bu Sulis tidak ingin melihat wajah anak ibu terakhir kali nya?" tanya Pak Slamet lagi.


Aku menatap wajah satu per satu warga desa yang ada di hadapanku bergantian.


"Biar aku sendiri yang memeriksa jenazah di mobil itu. Kalau bukan jenazah anakku dan kalian hanya mengada-ada saja, lebih baik kalian langsung pergi dari rumah ku dan bawa kembali jenazah itu."


Wajah para warga terlihat menegang. "Bu Sulis, apa tidak sebaiknya Bu Sulis memeriksa jenazah itu di dalam rumah? Kalau memeriksa jenazah itu di luar rumah dan Bu Sulis pingsan, hal itu tentu akan menyusahkan bu Sulis sendiri," saran salah seorang warga.


Aku mendelik. "Saya yakin anak saya baik-baik saja. Karena itu saya rasa lebih baik saya yang memeriksa jenazah siapa yang ada di mobil itu."


"Baiklah kalau itu keputusan Bu Sulis, saya tidak bisa menghalanginya. Silakan ibu lihat dan ibu pastikan sendiri," sahut Pak Broto seraya menyingkir dari pintu dan memberikan jalan padaku untuk bergerak maju.


"Tunggu, Sulis."

__ADS_1


Baru saja aku hendak melangkah kan kaki keluar dari pintu rumah, mendadak terdengar suara memanggil namaku.


Tampak mbok Darmi yang telah menjanda selama puluhan tahun menghampiri. Perempuan yang juga tetangga ku dan sudah kuanggap sebagai ibu sendiri itu mendekat dan mengulurkan tangan ke arah Adinda.


"Periksa sendiri jenazah itu. Jangan ajak Adinda. Biar aku yang menggendong Adinda," tukas Mbok Darmi tegas.


Aku mengangguk. Ucapan mbok Darmi benar. Aku melepas simpul jarik di belakang leherku lalu mengulurkan Adinda ke arah Mbok Darmi. Dia dengan sigap menerima dan menggendong anak bungsuku.


Aku lalu berjalan perlahan menuju ke arah mobil sedan yang sedang terparkir di halaman rumahku lalu dengan tangan gemetar membuka pintu belakang yang tidak terkunci.


Dadaku berdebar dengan begitu kencang saat aku melihat sesosok tubuh yang ditutup oleh jarik. Bagian yang dekat dengan ku adalah kaki jasad itu.


Dengan tangan gemetar dan mengucap basmalah berkali-kali, aku membuka jarik yang menutup kakinya perlahan.


Kaki itu tampak pucat dan dingin, tapi aku yakin itu bukan kaki Damar. Karena di betis sebelah kanan kaki anak itu terdapat tahi lalat mungil. Sedangkan Damar tidak mempunyai tahi lalat di kaki. Tapi untuk warna kulit, kuakui memang mirip. Sama-sama sawo matang.


Akhirnya dengan nafas tersengal karena debaran jantung yang kian mengencang, aku membuka jarik yang menutupi mayat itu secara keseluruhan dengan perlahan.


Jantung ku seakan terlompat dari rongga nya dan nafasku seakan terhenti saat aku melihat seragam Pramuka yang dikenakan anak itu.


Nama dada yang dijahit di seragam itu menegaskan siapa nama tubuh kaku yang sekarang sedang ada di hadapanku.


Damar Prasetyo.


Tapi wajahnya, aku yakin itu bukan wajahnya. Wajah anak laki-laki itu berdar4h-dar4h dan penuh luka-luka seolah tergores batu-batu lincip sehingga tidak bisa dikenali.


Mendadak aku merasa pusing. Pandangan mataku kabur dan perlahan menggelap. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.


***

__ADS_1


Aku terbangun karena aroma minyak kayu putih dan pijatan lembut di telapak kakiku. Kepalaku masih terasa sakit saat aku mencoba duduk.


"Tiduran dulu saja, Lis. Mungkin kamu masih syok. Mbok akan memijat kakimu."


Aku tidak dapat berkata-kata saat melihat wajah Mbok Darmi. Di sampingku, terlihat Adinda yang sedang tertidur lelap. Samar-samar terdengar suara mengaji dari ruang tengah rumahku yang mungil.


"Mbok. Anak itu bukan Damar," ujarku lirih tanpa ditanya. Aku tidak peduli jika setelah mengatakan hal itu mbok Darmi menganggapku tidak waras.


Mbok Darmi terdiam dan mengurut kakiku lagi.


"Mbok, jenazah yang terbaring di rumah ini, bukan lah jenazah Damar, Mbok! Aku yakin!" Aku mulai tersedu saat menyadari mbok Darmi tidak percaya padaku.


Sebenarnya aku lebih tahu penyebab tangisku bukan karena mbok Darmi tidak percaya padaku, tapi karena aku mulai ragu pada keyakinan ku sendiri bahwa anakku memang sudah meninggalkan ku untuk selama nya.


"Huhuhu, mbok! Anak itu tidak mungkin Damar! Damar tidak mungkin meninggalkanku secepat ini! Damar ... Damar bahkan sudah berjanji akan tetap bersama ku saat bapaknya meninggal empat bulan lalu!" tangisku mulai pecah dan hatiku mulai terasa sesak. Aku mulai tidak dapat mengendalikan diri dan menangis tersedu-sedu hingga Adinda mulai menggeliat gelisah di samping ku.


"Tenangkan hatimu, Sulis. Kasihan Dinda jika terbangun nanti."


Aku mengangguk dan mengusap air mata dengan punggung tangan lalu menatap ke arah mbok Darmi.


"Aku, ingin melihat jenazah anak itu, mbok. Tolong di sini temani Dinda," pintaku.


"Iya, Lis. Kamu temui para pelayat dulu. Jenazah Damar juga akan dimandikan menunggu kamu sadar. Walaupun kamu tidak siap dengan kenyataan ini, tapi kamu harus kuat menghadapi nya demi kedua anak kamu," ucap mbok Darmi. Aku mengangguk pelan.


Aku berjalan perlahan ke arah ruang tengah. Ada belasan orang yang duduk di sekeliling sosok jasad Damar. Suara mengaji perlahan berhenti saat aku datang.


Pak Slamet segera mendekatiku dan berkata, "Bu Sulis, jenazah Damar harus segera dimandikan."


Aku mengangguk. Lalu bersimpuh di dekat jasad itu. Tanganku perlahan membuka jarik coklat yang menutupi wajahnya. Dan tampak lah wajah penuh luka dan darah itu.

__ADS_1


Sekonyong-konyong saat aku memperhatikan wajah Damar dari dekat, mendadak mata anak itu terbuka dengan warna yang seutuhnya putih. Mulutnya pun menganga lebar dan kepalanya menoleh kepadaku dengan mata mendelik!


Next?


__ADS_2