
DIMANA JASAD ANAKKU ?
Part 11
Sulis segera membaca ayat kursi, surat Al-Ikhlas, An-Nas dan Al-Falaq bersamaan dengan dada berdebar. Dan bacaannya semakin keras saat bola api itu melaju ke arahnya dengan cepat!
"Allahuakbar!" pekik Sulis seraya memejamkan mata dan berjongkok di samping ranjang Adinda.
"Ibu!"
Mendadak terdengar suara Damar yang muncul di hadapan Sulis. Damar yang muncul tanpa mata itu berdiri dan merentangkan kedua tangannya seolah menghalangi banaspati untuk menyerang ibunya.
Mulut Damar membentuk huruf 0 dan meniupkan angin yang keluar dari mulutnya sehingga mengusir banaspati itu.
Banaspati itu berbalik dari hadapan Damar lalu melayang-layang di sekitar kamar Sulis. Sulis memperhatikan banaspati itu dengan tegang. Dia teruskan membaca ayat kursi dan surat-surat pendek lainnya yang dihapalnya di luar kepala. Bahkan Damar pun ikut membacanya. Tak berapa lama berselang, banaspati itu terbang keluar dari kamar Sulis.
Sulis menghela nafas lega. Sosok yang mirip Damar di hadapan nya membalikkan badan. Sosok itu masih mengenakan seragam Pramuka seperti saat dia pergi dari rumah kemarin.
"Damar, Sayang!" desis Sulis dengan suara lirih.
Damar menyeringai dan terdiam 'menatap' ibunya. Dalam kondisi wajah tanpa mata, nyaris tak dapat diketahui apakah Damar sedang menatapnya atau tidak.
"Cari jasadku, Bu!"
Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Damar membuat Sulis tercekat.
"Siapa yang mencelakai kamu, Nak? Bilang sama ibu! Dan ibu akan mencari jasad kamu."
Damar terdiam. Sulis sejenak ragu untuk memeluknya atau tidak. Antara rasa rindu dan takut yang bercampur menjadi satu. Damar menatap Sulis lama dan kemudian menghilang begitu saja.
"Damar!"
Sulis memekik dan menghambur memeluk Damar yang ternyata sudah menghilang dan Sulis akhir nya hanya memeluk angin.
Air mata berlelehan di pipi Sulis. "Ya Allah, suamiku belum lama meninggal kanku dan sekarang Engkau ambil juga anakku dengan cara yang misterius?!" desis Sulis dengan hati yang merasa tersayat.
Sulis memuaskan tangisnya lalu segera menutup jendela kamarnya sendiri. Dengan berat hati, dia menyeret langkahnya ke kamar mandi untuk berwudhu.
"Satu satu, aku sayang ibu. Dua dua juga sayang ayah. Tiga tiga sayang adek ...."
Sulis tercekat saat secara samar dia mendengar kan suara Damar sewaktu dia mengayunkan gayung ke wajahnya. Sulis segera menghentikan gerakan wudhu nya dan mendengarkan dengan seksama suara Damar yang sedang menyanyi tadi. Tapi nihil. Suara nyanyian itu tidak terdengar lagi.
Sulis kembali menyalakan keran dan mengayun kan gayung untuk berwudhu dan saat gemericik air terdengar, lagi-lagi Sulis dengan samar mendengar kan nyanyian Damar lagi.
"Damar, Sayang. Kalau kamu mengangguk ibu terus menerus, ibu tidak dapat salat tahajud, Le. Apa kamu mau ikut salat? Ibu ingin salat agar urusan ibu mencari jasad kamu dimudahkan.
__ADS_1
Atau kamu ingin kamu sendiri yang menunjukkan lokasi jasad kamu?" tanya Sulis. Suaranya agak bergema di kamar mandi itu. Sulis seperti orang tidak waras karena berbicara sendiri.
Sekali lagi Sulis mematikan keran dan meletakkan gayungnya di bibir bak mandi. Suara itu pun menghilang. Dengan tangan gemetar, Sulis kembali mengayunkan gayung tanpa menyalakan kran air dan berwudhu secepatnya.
Sulis segera berjalan kembali ke kamarnya. Saat dia melewati dapur dan ruang tengah yang gelap, dia seolah-olah melihat bayangan benda-benda di dalam ruangan itu seolah mengejar nya dan hendak menangkapnya.
Sulis lalu meraih mukena dan memakainya, kemudian membentang kan sajadah lalu bersiap melakukan takbirotul ihrom.
"Allahuakbar."
"Allahuakbar."
Deg!
Jantung Sulis nyaris terlompat saat mendengarkan ada suara yang mengikuti suara nya. Seakan ada makmum yang mengikuti gerakan dan ucapan salatnya. Dan suara itu adalah suara Damar.
Sulis dengan dada berdebar membaca surat Al Fatihah dan surat pendek dalam hati. Sesekali dia menghela nafas saat merasa bahwa ada makmum bayangan yang sedang salat mengikuti nya.
Setiap kali Sulis berganti gerakan salat, setiap itu pula dia merasa Damar mengikuti nya dari belakang sama seperti saat anaknya masih hidup. Hingga Sulis sampai pada rakaat terakhir salatnya.
Dengan menghela nafas panjang, Sulis menata hatinya untuk melihat wujud anaknya kesekian kali. Perlahan Sulis bersiap untuk mengucap salam sebagai gerakan terakhir salatnya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh."
Perlahan Sulis menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tapi ternyata tidak ada satupun makmum yang berada di belakangnya.
Air mata mengalir lagi membasahi sajadah nya saat dia berulangkali menyebutkan nama Damar dan suaminya, Abdi. Kemudian dia mengusap wajahnya sebagai tanda untuk mengakhiri salat dan doanya.
Sulis perlahan membuka dan melipat kembali mukena nya lalu menggantungkan mukena nya di paku belakang pintu di dekat lemari baju. Kemudian Sulis perlahan mendekati kasur tempat Dinda tertidur, dan diapun mulai memejamkan mata.
***
Suara adzan subuh membangunkannya. Dengan perlahan Sulis bangun dan memijat kepalanya. Sulis merasa kepala nya nyeri saat bangun karena memang dia begadang.
Dengan langkah gontai, Sulis berjalan ke kamar mandi untuk menjalan kan salat subuh.
Setelah mengaji beberapa lembar Al-Qur'an, Sulis menutup Al-Qur'an nya lalu membuka jendela kamar.
"Aaarrgghhhh!"
Sulis memekik ringan saat melihat mbok Darmi berdiri di hadapan nya dengan wajah dan tubuh penuh koreng. Kemudian dengan lidah menjulur keluar bagai anjing, Mbok Darmi mendelik pada Sulis.
Sulis mengucek matanya dan menatap ke arah jendelanya lagi yang menghadap rumah mbok Darmi, dan ternyata bayangan mbok Darmi telah menghilang.
"Astaghfirullah, banyak sekali kejadian aneh belakangan ini," gumam Sulis dengan menegarkan hati, dia meraih sapu dan mulai membersihkan lantai dari kamar ke kamar.
__ADS_1
Saat di kamar Damar, Sulis menatap buku-buku Damar yang tertata di meja belajar. Dengan perlahan, diusap nya buku Damar lalu diambilnya setumpuk buku tulis Damar dan diciumnya perlahan penuh rasa rindu lalu dipeluknya lama.
Pluk. Sebuah buku tulis bersampul hitam terjatuh dari pelukan nya saat Sulis baru saja akan mengembalikan buku itu ke tempat nya semula.
Sulis lalu memungut buku yang terjatuh itu dan membukanya. Isi di dalamnya membuat Sulis terbelalak saking terkejutnya.
Buku itu ternyata buku harian Damar dan selama ini dia tidak tahu kalau anak sulung nya ternyata mempunyai buku harian.
Dibukanya perlahan buku itu dan dibacanya.
* Tanggal 7 Juni 2020.
"Ini berarti saat umur Damar masih sembilan tahun alias kelas tiga," gumam Sulis. Dibukanya lagi buku itu dan dibacanya.
[Hari ini aku melihat makhluk makhluk menyeramkan itu lagi. Ada tante baju putih dengan tawa yang melengking di pohon nangka depan rumah mbok Darmi. Saat aku menceritakan pada bapak, bapak bilang padaku agar tidak memberitahu ibu karena bapak khawatir ibu menjadi takut. Akhirnya aku diam saja melihat Tante baju putih dengan tawa yang melengking dan rambut panjang itu.
Aku juga pura-pura tidak tahu saat aku melihat sesosok bayangan tinggi besar bertaring di dekat kamar mandi sekolah. Kata bapak, aku ini anak indigo yang punya indera keenam. Tapi aku tidak tahu apa maksud bapak waktu itu. Bapak hanya bilang, kalau bapak juga punya indera keenam yang dirahasiakan nya dari ibu.
Suatu sore, bapak mengajakku untuk ke sebuah rumah kosong untuk melihat qorinku. Rupanya bapak juga punya Qorin. Bahkan kata bapak setiap orang juga punya jin seperti itu. Awalnya aku takut dengan kemampuan ini. Tapi kata bapak itu adalah kelebihan dan bisa menguntungkan asal digunakan dengan baik. Aku tidak tahu maksudnya saat itu. Aku hanya percaya pada ucapan bapak saja.]
Sulis tertegun. Dia memang mengetahui bahwa suaminya, Abdi mempunyai indera keenam saat Adinda lahir. Saat itu memang terjadi sesuatu yang membuat Abdi harus memperlihatkan kemampuan indigo nya pada Sulis. Dan Sulis yang merasa risih meminta Abdi untuk menghilangkan atau menutup kemampuan nya itu.
Di hari yang sama dengan Abdi menutup mata batinnya di desa sebelah itulah kecelakaan menimpa dan menewaskan Abdi. Waktu itu Sulis sungguh tidak tahu kalau Damar pun mempunyai indera keenam seperti suaminya.
Sulis pun membaca lembaran sebelum lembaran itu.
* Tanggal 3 April 2020
[Hari ini ibuku melahirkan adik perempuan. Adik ku lucu sekali. Namanya Adinda. Tapi sejak melahirkan, ibu sering merasa lelah dan tidak sayang padaku.
Apa kalau aku meninggalkan ibu, ibu tidak sedih ya? Aku hanya ingin ibu kembali seperti dulu yang menyayangiku sebelum mempunyai adik. Ah, aku sedih sekali saat ibu membentakku karena aku tidak bisa mengerjakan PR matematika dengan cepat.
Dan aku hanya bisa melihat ibu yang marah-marah lalu menuju ke arah adik yang menangis kencang. Untung ada bapak baru datang dari keliling jualan sayur. Ah, Ibu. Maafkan Damar yang tidak bisa menjadi anak pintar seperti anak lainnya.]
Sulis menangis sesenggukan saat membaca catatan Damar. Diulanginya lagi dari depan. Buku catatan itu hanya terdiri dari beberapa lembar yang sudah terisi penuh dengan tulisan. Lembar lain kosong. Tidak ada catatan awal kenapa Damar lebih memilih menulis di buku, daripada menceritakan masalahnya pada Sulis.
Sulis lalu membalik lembaran belakang buku Damar.
* 13 Juli 2020.
[Hari ini aku melihat qorin bapak lagi di balai desa. Entah kenapa qorin bapak sering menampakkan diri di balai desa? Aku bingung. Aku tidak tahu harus menceritakan pada siapa. Aku ingin bercerita pada ibu, tapi aku ingat pesan bapak agar tidak melibatkan ibu dalam hal ghaib. Ingin kupeluk bapak karena aku sungguh merindukan bapak. Aku juga sangat sedih karena bulan lalu bapak meninggal kecelakaan sepulang dari desa sebelah.]
Sulis menangis tergugu. Hatinya sesak. Mendadak dia mendengar suara jeritan yang menyayat dari rumah mbok Darmi.
"Aarghhh, tolong!!!"
__ADS_1
Next?