
DIMANA JASAD ANAKKU ??
Part 17
Damar mencium punggung tangan Sulis, ibunya, saat akan berangkat ke sekolah untuk kegiatan Persami.
"Bu, Damar berangkat dulu ya," ujar Damar seraya mengelus dan mencium kepala adiknya.
Adinda yang sedang tertidur dalam gendongan ibunya menggeliat sedikit lalu kembali anteng.
Ibunya menangkup wajah Damar dan mencium wajah dan pipi anak sulung nya.
"Iya. Hati-hati di jalan, Sayang. Nanti malam kalau tidak hujan dan adikmu tidak rewel, ibu akan menengokmu," ujar Sulis.
Damar mengangguk dan tersenyum sumringah lalu mengayuh sepedanya dengan riang.
Jarak sekolah dengan rumah Damar cukup jauh, sekitar dua kilo. Bukannya di sekitar rumah Damar tidak ada sekolah, tapi memang Abdi dan Sulis memilih sekolah negeri agar biaya sekolah nya lebih murah dibandingkan sekolah swasta yang ada di dekat rumah Damar.
Setelah berjalan hampir dua kilo dari rumah dan mendekati sungai, mendadak rantai sepeda Damar putus, sehingga tidak dapat dikendarai lagi.
"Ya Allah, kenapa mesti putus sekarang sih? Bengkel kan jauh dari sini?" gumam Damar dalam hati.
Dengan perasaan kesal, dia menuntun sepedanya untuk mencari bengkel terdekat.
Mendadak sebuah Xpander warna putih melewati nya. Damar melihat mobil itu dengan mata terbelalak.
Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan mobil itu, hanya saja ada jin Qorin anak laki-laki berpakaian lusuh yang sedang naik di atap luar mobil itu dan sedang menatap Damar dengan tatapan sendu itulah yang membuat Damar tertarik. Damar segera menyembunyikan sepeda nya di balik pohon besar dan mengikuti mobil yang mulai memelankan lajunya ke arah jalan setapak lengang di sungai.
Sungai yang menjadi perbatasan dua desa itu memang terletak di dalam hutan. Jarang sekali ada manusia yang masuk ke sungai ini.
Damar mengikuti dengan hati-hati dan bersembunyi di antara pohon-pohon besar sambil menatap mobil warna putih itu dengan pandangan penasaran.
Mendadak Damar mendelik saat melihat mobil itu berhenti di sungai dan mengeluarkan sesosok jasad dari dalam tikar lalu membuangnya di sungai yang airnya mengalir deras.
Jantung Damar berdebar lebih kencang dengan nafas tersengal-sengal saat melihat kejadian mengerikan itu di depan matanya.
'Astaghfirullah! Ada pembunuhan! Aku harus lapor polisi! Aku harus kabur dari sini!' gumam Damar dengan badan gemetaran dan keringat mengucur deras.
Tapi naas bagi Damar, kakinya menginjak ranting kayu kering sehingga menimbulkan bunyi gemerisik dan membuat Slamet dan anak buahnya menoleh.
"Ada saksi mata! Udin, Tukiman dan Parman, cepat kejar dan tangkap anak itu hidup atau ma ti!" seru Slamet saat melihat Damar yang mulai berlari secepat kilat.
Mendadak mbok Darmi menyeringai. "Kita bisa membawanya sebagai tumbal kan? Jadi kalian harus menangkapnya hidup-hidup!" cetus mbok Darmi.
"Baik. Kami mengerti, Mbok!"
Ketiga anak buah Slamet segera berlari mengikuti Damar. Secepat-cepatnya Damar berlari dan selihai - lihai nya Damar bersembunyi, tapi dia tidak mengenal seluk beluk hutan ini dan dia tidak bisa mengalahkan tiga orang laki-laki yang mengejarnya. Maka Damar pun dalam waktu yang relatif singkat dapat ditangkap.
Udin dan Tukiman segera memegang tangan Damar. Sedangkan Parman mendorong Damar agar selalu melangkah dari belakang.
"Ayo jalan!" seru Parman seraya mendorong punggungnya saat Damar mulai berhenti melangkah.
Sedangkan Udin dan Tukiman menarik kedua tangan Damar dan menyeret nya tanpa ampun.
Slamet terkejut melihat anak yang ada di hadapannya adalah anak di rumah Abdi.
Kepala desa itu menyeringai sambil mengusap dagu Damar.
"Kerja bagus kalian!" seru Slamet sambil melihat ketiga anak buahnya dengan menyeringai puas.
"Nanti kalian akan segera dapat bonus nya," sambung Slamet lagi. Ketiga anak buah Slamet tersenyum lebar.
"Dan kamu, anak nakal! Nggak kamu, nggak bapak kamu, semua sama saja tukang kepo. Dan nasib tukang kepo pasti apes.
Kami terpaksa membu nuh bapak kamu dengan menabrak lalu meninggalkan nya. Dan sekarang kamu tertangkap di sini juga untuk ngepoin kami, maka sudah jelas hukuman untuk kamu kan? Yaitu ma ti!" seru Slamet menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya ke lehernya sendiri.
__ADS_1
Mendadak mbok Darmi mendekat. "Dia anak Sulis dan Abdi kan?"
"Tentu saja. Ibu kan tetangga mereka pasti tahu kan tentang anak ini?" tanya Slamet sinis.
"Sulis pasti tidak akan tinggal diam kalau anaknya menghilang, dia akan lapor polisi. Kita harus mengelabui nya," usul mbok Darmi.
"Bagaimana caranya, Buk?"
"Cari mayat anak yang sudah meninggal tadi. Kita tukar baju mereka dan kita antar ke rumahnya. Kita katakan saja kalau anaknya sudah meninggal dan tenggelam di sungai."
"Ide bagus. Seperti nya wajah mereka juga mirip! Tapi bagaimana kalau Sulis masih mengenali anak itu bukan anaknya?"
Mbok Darmi berpikir sejenak. "Buat wajah mayat anak tadi tergores ranting sehingga tidak bisa dikenali," sahut mbok Darmi.
"Jadi kita akan menumbalkan anaknya Sulis?" tanya Slamet. Terdengar nada ragu dari suaranya.
"Tentu saja. Dia sudah tahu tentang pembuangan mayat ini, dan kita juga butuh tumbal, jadi ini sebuah berkah kan?" tanya Mbok Darmi pada Slamet yang manggut-manggut.
"Lepas kan aku!" teriak Damar meronta-ronta dalam genggaman Tukiman dan Udin. "Kalian jahat! Pembunuh bapakku! Dan sekarang kalian akan menumbalkan aku? Aku pasti akan membalas kalian!"
Mbok Darmi membungkuk dan menyentuh dagu Damar.
"Ck, ck, ck! Tak segampang itu, bocil. Kamu punya apa bisa melawan kami? Qorin bapakmu saja sudah dibereskan oleh suami ku yang dukun! Apalagi kamu!" seru mbok Darmi seraya menjentik dagu Damar, dia lalu berdiri dan menyuruh anak buah Slamet untuk membawa jasad anak yang sudah dibuang nya tadi.
"Kalian semua, cepat cari anak yang kita buang tadi!"
"Siap, Mbok!"
Ketiga anak buah Slamet langsung melesat menjalankan instruksi Mbok Darmi.
Damar meronta-ronta minta tolong saat jasad anak tadi sudah ditemukan dan seragam nya mulai dilepas paksa dari tubuh nya.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Kalian jahat!"
"Diam kamu!"
Aarrrghh!
Damar menjerit keras saat Slamet mencengkeram dan memuntir pergelangan tangannya dan seketika anak malang itu pingsan.
Dengan cepat dan cekatan Damar dan anak itu digendong ke mobil dan mulai menukar pakaian mereka.
*
Slamet dan mbok Darmi membawa Damar yang sudah sadar dan menangis ke meja batu di sebuah rumah kosong di tengah hutan yang memang disediakan untuk mempersembahkan tumbal dengan memakai mantel kain.
Lilin-lilin kecil pun dinyalakan di sekitar ruangan itu. Mulut Damar akhirnya dilakban agar tidak bisa bersuara lagi.
"Raja Segawon Lanang sudah tidak sabar untuk menyantap anak ini. Jadi kita tidak perlu menunggu tengah malam sore ini juga dia akan datang setelah ritual dilakukan," ujar Surya.
Slamet dan mbok Darmi manggut-manggut. Kemudian mereka melanjutkan ritual untuk memanggil jin berbentuk anjing itu.
***
Tubuh anak yang telah memakai baju Damar dibuang lagi ke sungai, dan ditemukan warga yang segera menghubungi Slamet selaku kepala desa.
Bersama dengan warga desa lain, Slamet pun mulai berpura-pura sedih dan berempati terhadap Sulis.
Tak ketinggalan bantuan sembako sebagai tanda berbela sungkawa pun diberikan. Dan Slamet pun pura-pura menyarankan Sulis untuk melaporkan hal itu ke polisi.
Sementara itu mbok Darmi tampak serius membicarakan nasib Sulis.
"Surti, malam ini kita akan menginap di rumah Sulis."
Surti mengerut kan dahinya. "Kita mau ngapain di rumah Sulis, Buk?" tanya Surti bingung.
__ADS_1
"Kamu tahu sendiri kan kalau anak Sulis dijadikan tumbal oleh kakakmu, si Slamet? Kita harus membungkam mulut Sulis dengan metode linglung atau sekalian kita bu nuh saja dia agar menyusul suami dan anak sulungnya dengan santet."
Surti terperangah mendengar usul ibu angkatnya.
"Tapi, Bu. Apa hal itu tidak keterlaluan? Mas Slamet sudah mengambil kebahagiaan Sulis. Aku kasihan, Bu!"
"Ck, kamu itu jangan munafik. Kamu kan selama ini ikut menikmati uang dari mas mu itu. Lihat skincare dan baju yang kamu pakai. Kasur, kulkas, dan mesin cuci. Juga kita bisa makan enak tiap hari karena mas mu. Sementara pekerjaan ibu yang cuma jual kue keliling itu hanya pencitraan saja."
"Bu, tapi Bu ...!"
"Heh, anak kecil. Kamu tinggal melakukan apa yang ibu suruh! Jangan membantah! Kamu bisa sekolah SMA juga karena biaya Slamet. Dan sekarang kita bisa hidup enak tanpa kerja juga karena Slamet. Karena itu kamu harus manut sama ibu!
Tugas kamu nanti saat kita ke rumah Sulis adalah kamu ambil rambut yang nyangkut di pembuangan lubang kamar mandi milik Sulis. Lalu berikan padaku. Besok kita ke rumah bapaknya Slamet dan memberikan rambut Sulis itu agar disantet," ucap mbok Darmi penuh penekanan, membuat Sulis hanya bisa mengangguk perlahan.
*
"Aman, rambut Sulis sudah dibawa oleh bapaknya Slamet, sekarang kita hanya tinggal menunggu Sulis kena santet dan meninggal.
Sudah kuduga, kalau anak dan suami nya bukan orang biasa. Buktinya Damar bisa muncul di sekitar Sulis. Sekarang kita bisa tidur dulu. Biar banaspati yang bekerja.
Namun rencana mbok Darmi hanya tinggal rencana. Karena santet itu tidak mampu menyentuh kulit Sulis dan justru kembali ke pengirim nya semula, mbok Darmi. Dan membuat kulit nya bernanah dan mengelupas parah.
***
Desi mendelik dan berdiri di hadapan Surti. "Tidak mungkin! Mas Slamet tidak mungkin melakukan pesugihan!" teriak Desi setelah mendengar cerita dari Surti.
Surti tergelak. "Makanya kalau jadi perempuan harus pinter. Masa nggak punya dugaan apapun saat suami miskin mendadak kaya?" tanya Surti sarkas.
"Kamu pasti mencoba menjelek-jelekkan suami ku agar aku tidak cinta lagi pada Mas Slamet dan kamu pasti akan merebut nya. Iya kan? Kamu ngaku saja!"
"Haduh, ini perempuan sudah make up nya menor dandanan nya mentereng, bebal juga," gumam Surti menahan kesal.
Surti lekas menarik tangan Desi lalu mendorong nya agar keluar kamar mbok Darmi.
"Kamu keluar saja sana! Pusing ngadepin kamu. Dikasih tahu malah sok tahu. Ingat mbak Des, sampai kapan pun saya dan mas Slamet itu saudara. Tidak lebih tak kurang. Awas jangan membuat keributan, atau aku akan memanggil satpam!" seru Surti seraya menutup pintu di depan wajah Desi.
Braaakkk!!!
***
Sementara itu, Sulis dengan menggendong Dinda pergi ke rumah Ustadz Amir yang saat itu sedang mengajar ngaji di langgar mungil depan rumahnya.
Bertepatan dengan Sulis yang baru masuk langgar, santri terakhir ustadz Amir sudah selesai mengaji.
"Assalamualaikum, pak Ustadz," sapa Sulis mengangguk hormat.
"Waalaikumsalam, mari masuk, Bu Sulis."
Pak Eko yang rupanya sudah berada di langgar, menemui Sulis dan mengajak nya masuk ke depan ustad Amir, sang kakak. Sementara itu santri-santri mengaji ustadz Amir mulai berpamitan untuk pulang.
Sulis berdiri menjauh dari ustadz Amir karena merasa sungkan, tapi ustadz itu dengan ramah menyapanya.
"Silakan duduk Bu Sulis. Saya sudah mendengar semuanya dari dek Eko tentang masalah Bu Sulis. Saya sangat prihatin mendengar nya," ucap ustadz Amir.
Sulis hendak menanggapi ucapan ustadz Amir saat Sulis mendadak kejang-kejang ringan dengan bola mata keseluruhan putih. Sedangkan Adinda mulai menangis keras dalam pelukan sang ibu.
Ustadz Amir segera memberi isyarat pada pak Eko untuk mengambil Dinda dari pelukan ibunya, lalu membawanya keluar langgar. Sedangkan pak Eko langsung mengenakan sarung tangan hitam yang memang sudah dipersiapkan nya sebelum berangkat ke langgar sebagai persiapan meruqyah pasien agar tidak langsung kulit mereka tidak langsung bersentuhan.
Ustadz Amir berjongkok di hadapan Sulis dan memegang kepala perempuan itu.
"Kamu siapa? Katakan apa tujuan kamu!"
Mendadak terdengar suara tangisan yang memilukan dari mulut Sulis. Suara itu suara anak lelakinya, Damar.
"Ibu ... ibu! Damar kangen sekali! Tolong aku pak Ustadz!"
__ADS_1
Next?