
DIMANA JASAD ANAKKU ??!?
Part 19
Desi duduk di jok belakang mobil sedan warna merah dengan perasaan campur aduk. Bahkan di tengah perjalanan dia menangis.
Supirnya Slamet, Udin, hanya melirik dari kaca spion yang tergantung di tengah mobil. Suasana mobil yang hening, mengakibatkan canggung bagi mereka berdua.
"Kenapa kamu lihat-lihat aku?" tanya Desi galak, mendadak dia teringat kalau Udin, Tukiman, dan Parman adalah anak buah Slamet yang mengetahui bahkan ikut serta dalam proses tumbal itu. Bulu kuduk Desi langsung merinding, apalagi saat teringat mobil yang dia kendarai saat ini.
"Saya hanya ingin menanyakan, ibu hendak diantar kemana?" tanya Udin lagi.
"Antar aku pulang ke rumah saja," sahut Desi pendek. Dia memang punya rencana untuk mengemas semua perhiasan, uang tabungan, sertifikat rumah dan sertifikat berbagai aset lalu ingin pergi secepat nya pulang naik mobil sendiri ke rumah orang tua nya yang berjarak tiga jam dengan naik mobil untuk menyewa pengacara guna mengurus semua berkas perceraian nya.
"Baiklah, Bu."
Mobil pun melaju membelah jalan raya menuju ke rumah Slamet.
Setiba di rumahnya, Desi langsung menuju ke kamarnya untuk menata baju, perhiasan, dan berbagai sertifikat seperti rencana semula ke dalam koper.
Rumah Slamet yang besar terdiri bisa untuk menampung sopir, dua asisten rumah tangga perempuan, tukang kebun, dan juga satpam.
Saat sedang memegang baju yang digantung di atas hanger, mendadak tangan Desi dipegang oleh sebentuk tangan anak kecil yang sangat dingin dan kotor.
"Aaawww!"
Desi otomatis berteriak dan melepaskan baju yang tergantung tersebut. Baju itu terjatuh di lantai kamarnya, di depan kolong tempat tidur. Dengan dada berdebar dan tangan gemetar, Desi berjongkok, berniat mengambil baju yang terjatuh itu.
Setelah berhasil mengambil bajunya dan menyimpan nya ke dalam koper, Desi lalu menuju kamar mandi.
Dia menyalakan keran air lalu mencuci mukanya. Dia mengira tangan anak kecil yang tadi muncul sesaat adalah akibat halusinasi nya.
Saat menatap ke arah cermin kamar mandi, Desi berteriak keras karena bertatapan dengan wajahnya yang menyeringai dengan gigi yang kehitaman dan lidah menjuntai sampai dagu.
Mendadak bayangan itu keluar dari cermin menjadi sosok persis dirinya. Desi yang terlalu takut, sudah tidak bisa berteriak lagi. Hanya tubuh nya yang terjatuh dan bersimpuh di dalam kamar mandi, menatap sosok persis dirinya dengan rasa takut.
Mendadak sosok itu menjadi asap dan merasuk ke dalam mulut dan mata Desi yang sedang ternganga ketakutan.
Dalam sekejap, lampu di ruangan kamar mandi di dalam kamar Desi menjadi nyala padam, nyala, padam, bergantian dengan begitu cepat.
Dan Damar yang sudah merasuki tubuh Desi, mendadak berdiri dan tertawa menyeringai sebelum meninggalkan kamar mandi.
Damar dalam tubuh Desi menyeret koper yang telah berisi pakaian serta semua asetnya berjalan keluar dari kamar mencari pak Udin.
Sementara itu Udin baru saja selesai dengan menjalankan misi dari Slamet dengan membuat rem di mobil jazz putih milik Desi menjadi blong.
Udin baru menyimpan gunting yang digunakan untuk memotong sambungan rem dan membersihkan debu di tangannya saat terdengar suara menyapa.
"Pak Udin, antar aku pulang."
Udin yang terkejut dengan sapaan dingin Desi menoleh dan menatap Desi dengan heran.
'Duh, kalau tahu dia minta kuantar, bisa ku bereskan di jalan aja. Aku nggak perlu motongin kabel rem. Kalau gini kan rencana berubah,' batin Udin.
__ADS_1
"Kenapa diam pak Udin? Pak Udin tidak mau mengantar saya?"
"Mau Bu. Ayo masuk."
Desi mengangguk, Udin meraih koper Desi dan memasukkan nya kedalam bagasi. Desi lalu duduk di jok belakang mobil dengan kepala tertunduk. Sementara itu Udin segera melajukan mobil keluar dari rumah Slamet.
Udin yang melihat Desi tertidur sengaja mengajak nya ke dalam hutan perbatasan desa. Lelaki jomblo itu menelan ludah melihat lekuk tubuh Desi yang menggoda.
Udin menelan ludah dan menjilati bibir bawahnya. 'Hm, bos Slamet kan sudah tidak mau dengan istrinya, mungkin lebih baik kalau sebelum kubu nuh, Bu Desi ku ajak ehem ehem dulu. Kan lumayan,' batin Udin.
Dia melirik jam di ponsel nya yang menunjukkan pukul sebelas malam. Sama sekali tidak ada kendaraan saat Udin membawa mobil itu masuk ke dalam hutan.
Udin membuka pintu mobil belakang dengan penuh nafsu. Sesaat berdiri di samping tubuh Desi yang sedang terlelap.
Malam itu bulan dan bersinar begitu terang, serta Udin memang sengaja menyalakan musik dan lampu mobil untuk menyinari wajah Desi, membuatnya semakin terlihat cantik. Dengan segera Udin meraih kedua bahu Desi dan merebahkan nya di jok belakang dengan kasar.
Udin yang sudah membayangkan akan berasyik masyuk dengan Desi yang berteriak-teriak ketakutan, mendadak terkejut karena Desi mendelik dan mencakar pipi Udin secara tiba-tiba. Bahkan kedua mata Desi terlihat memutih saat menatap nya.
Aaarrgghhhh!
Udin berteriak saat lagi-lagi Desi yang berada di bawah tubuh Udin, mendadak mengangkat kepalanya dan menggigit telinga kiri Udin sekuat tenaga sampai putus.
"Aaarrgghhhh! Perempuan sial*n!" teriak Udin keras. Darah merembes dari telinga nya. Udin sontak berdiri dan menjauh dari tubuh Desi.
Desi pun ikut berdiri dan melompat-lompat kegirangan sambil bertepuk tangan.
"Hore! Ayo main sama aku, Oom! Satu, satu, aku sayang ibu! Dua, dua, juga sayang ayah!"
Udin melihat Desi dengan ketakutan. "Siapa kamu?!"
Mendadak dari dalam tanah muncul tangan-tangan kecil dengan kuku hitam panjang yang dengan kompak memegangi kaki Udin sehingga tidak bisa bergerak kemana pun.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Kalian hantu-hantu dan arwah penasaran sial*n! Lepaskan aku! Tempat kalian bukan disini! Enyah kalian!" teriak Udin diantara rasa takut dan rasa marah. Lelaki itu bahkan terkencing-kencing melihat Desi yang mendekati nya dengan memperlihatkan jari-jari tangan dengan kuku yang begitu runcing.
Desi memiringkan kepalanya dan menatap ke arah Udin dengan mulut menyeringai lebar, memperlihatkan gigi-gigi nya yang hitam.
"Om mengusir kami? Oke, kami akan pergi. Tapi setelah lagu ku selesai, dan om ikut juga ya dengan kami."
Desi tertawa tergelak seperti seorang anak yang mendapat mainan.
"Tiga-tiga, sayang adek kakak!"
Damar di dalam tubuh Desi mencakar- cakar wajah dan dada Udin sembari menyanyi. Sedangkan Udin masih berteriak kesakitan, dia bahkan meminta maaf yang ditujukan entah pada siapa.
"Satu, dua, tiga, sayang semuanya!"
Krakkk! Crasshh!
Bersamaan dengan lagunya yang baru saja selesai dinyanyikan, Damar mencakar wajah Udin sampai tembus kepala dan mengambil kedua bola mata supir itu dengan tangannya yang berkuku tajam, membuat Udin ma ti seketika.
***
Parman, satpam di rumah Slamet sedang terjaga dengan terkantuk-kantuk saat pintu kaca di pos jaganya diketuk dari luar.
__ADS_1
Dengan mata setengah terpejam, Parman mulai berdiri dan membuka pintu pos satpam nya.
"Lho, kok kosong? Jadi siapa yang mengetuk pintu pos jaga barusan?" tanya satpam itu dalam hati.
Dengan mengucek matanya berulang kali, dilihat nya kanan dan kiri sekitar pos jaganya barangkali ada sosok yang tadi mengetuk pintunya. Namun, sayang sekali hanya ada desau angin yang terdengar.
"Hm, apa tadi cuma perasaan ku saja ya?" tanya Parman yang kembali merebahkan diri di kursi panjang kayu dengan busa tipis di dalam pos satpam.
Baru saja Parman hampir memejamkan matanya, mendadak dia merasa ada orang di samping nya.
Dengan perlahan, Parman membuka matanya dan berseru sekencangnya karena melihat Udin yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
"As*i! Bikin kaget saja! Kamu itu kalau datang ke sini, ngucap salam atau ngasih tanda gitu lho biar aku nggak kaget. Untung aku nggak jantungan! Kalau aku kaget terus sakit jantung dan ma ti, kamu mau tanggung jawab?!" omel Parman menatap wajah Udin yang pucat.
Udin hanya terdiam dan mengangguk, dia tidak mengucapkan sepatah katapun pada Parman. Membuat Parman keheranan.
"Heh, Udin! Kamu kok aneh sih? Masuk ke dalam pos satpam nggak ada suara nya, sekarang juga diam aja, wajah mu itu pucat banget kayak habis liat hantu!" cetus Parman. Sekali lagi Udin hanya diam.
"Lah, yowes. Sekarepmu. Terserah! Aku mau ngopi!" seru Parman lagi, dia lalu bergegas keluar dari pos satpam, Udin mengikutinya dari belakang dengan tetap terdiam.
"Heh, Din. Kamu kok aneh, diam saja terus dari tadi. Katanya kamu mau mengantar Bu Desi pulang kampung? Apa sudah kamu lakukan?" tanya Parman lagi.
Lagi-lagi Udin hanya terdiam. Slamet memang hanya merahasiakan rencana pembu nuhan terhadap Desi hanya dengan Udin. Parman pun tidak tahu menahu tentang rencana Slamet.
"Aku butuh cangkul," ujar Udin setelah sekian lama terdiam.
Rumah Slamet yang luas mempunyai beberapa macam jalan untuk sampai ke dalam rumah.
Pertama, dari pos satpam dengan melalui jalan utama. Jalan utama ini masuk melewati pintu utama rumah untuk sampai ke dapur.
Kedua, melalui halaman belakang. Dari pos satpam terhubung dengan semacam tanah sepetak yang ditumbuhi bunga mawar di kanan kiri nya langsung masuk ke halaman belakang dan lalu ke dapur dari pintu belakang. Di Halaman belakang ini terdapat gudang berisi segala peralatan rumah tangga dan pertukangan, mulai cangkul, sekop, obeng, dan lain sebagainya.
Udin dan Parman sekarang sedang melewati gudang berisi peralatan itu. Dan mendadak Udin meminta cangkul pada Parman.
"Ambil sendiri lah di gudang. Jangan manja!" cetus Parman ketus.
"Kuncinya macet," sahut Udin.
Parman mengerut kan dahinya. "Masa sih? Kemarin Tukiman bisa kok mengambil gunting rumput dari dalam gudang," sahut Parman. Tapi tak urung juga satpam itu berjalan di depan Udin untuk mengecek kunci pintu gudang.
"Awas aja ya kamu kalau mengada-ada, Din. Kalau sampai kunci gudang ini tidak bermasalah, kamu harus membayar ku lima ratus ribu!" omel Parman saat lelaki itu tiba di depan pintu gudang.
Klekkk! Klekkkk!
Anak kunci berputar dua kali dan pintu gudang pun terbuka.
"Nah, kan bisa?! Jadi kamu harus bayar aku ya?!" ujar Parman bangga seraya menengok ke arah Udin. Namun alangkah kagetnya Parman saat Udin menyeringai padanya lalu menendang perut Parman hingga terhuyung jatuh ke dalam gudang yang gelap.
Klek! Klekkkk!
Udin memutar anak kunci dari dalam gudang lalu menoleh ke arah Parman. Mereka berdua kini terkunci di dalam gudang.
Udin mendekati Parman dengan menyanyi, "Satu satu, aku sayang ibu ..."
__ADS_1
Next?