
Bab 21 ( Jasad masih utuh )
* Tiga hari yang lalu......
Ustad Amir mengangguk. "Insyallah, saya dan saudara saya akan membantu kamu, Damar. Sekarang kamu boleh pergi, kasihan ibu kamu butuh banyak energi untuk bersinggungan dengan jin seperti mu."
Damar menatap ustadz Amir. "Semoga pak Ustadz menepati janji padaku!"
Ustadz Amir terdiam sejenak dan menatap ke arah Damar yang masih merasuki Sulis.
"Damar, saya mempunyai rencana. Tapi kamu harus mengikuti rencana saya agar para penjahat yang membunuh mu bisa ditangkap."
"Saya tidak hanya ingin mereka ditangkap, saya hanya ingin mereka ma ti pak Ustadz."
Ustadz Amir hanya bisa menghela nafas panjang mendengar kata-kata Damar.
"Itu terserah kamu, tapi saya butuh agar kamu memancing mereka ke rumah kamu. Saya akan menempatkan Eko, adik saya, dan memasang Cctv di rumah kamu. Kami butuh bukti untuk melapor pada polisi dan mengajak mereka mencari kuburan kamu. Apa kamu paham?"
Sulis terdiam dan mendadak menyeringai lebar.
"Baiklah, Pak Ustadz. Saya tahu apa yang harus saya kerjakan."
Sulis pun memejamkan matanya dan tak lama kemudian dia pun pingsan.
**Kembali ke masa sekarang,
"Culik ibu dan adiknya. Lalu bawa kesini hidup-hidup!" seru Surya seraya tertawa terkekeh.
Wajah Slamet tampak kebingungan. "Bagaimana kalau dia datang, saat aku menculik ibu dan adiknya? Aku bisa ma ti konyol di sana," ujar Slamet keberatan. Lelaki itu lalu memperlihatkan tangannya yang terluka pada Surya. "Lagi pula, tangan ku masih terasa sakit bila digunakan untuk bergerak."
Surya tertawa terkekeh memperlihatkan giginya yang menghitam. Lelaki tua berpakaian serba hitam itu meraih keris tipis di samping nya. Lalu membakar kemenyan di cawan hitam dari tanah liat di hadapannya.
Bibir hitamnya yang tebal terlihat komat kamit dan meletakkan keris tipis dan kecil itu di atas cawan hitam seolah mengasapi nya. Lalu beberapa saat kemudian tampak asap dari kemenyan itu terserap ke dalam keris lalu Surya menaburi keris itu dengan aneka bunga tujuh rupa.
Dengan gerakan perlahan, diangkat nya keris itu oleh Surya lalu ditempelkannya ke dahi. Kemudian keris mungil itu dimasukkan ke dalam sarungnya dan diserahkan pada Slamet.
"Ambil keris ini. Culik ibu dan adik jin itu. Jika jin anak itu datang, segera tusuk dengan keris ini. Hal ini akan melemah kannya dalam beberapa waktu dan kamu harus segera kabur.
Tapi kalau untuk menangkap jin anak itu, kita butuh ritual khusus yang harus dilakukan di sini. Kekuatan anak itu memang lebih besar daripada kekuatan jin bapaknya, mungkin karena hatinya dipenuhi dendam membara."
Tampak wajah Slamet penuh ketakutan. "Pak, saya nggak mau ma ti konyol. Tolong saya, Pak!"
"Makanya kamu ikuti kata-kataku, Met. Malam ini kamu harus segera membawa ibu dan adiknya. Jangan tunda-tunda lagi!"
"Ba-baiklah, Pak. Saya pamit dulu."
Slamet yang diantar Tukiman segera keluar dari rumah Surya. Dengan perlahan, mobil nya melaju membelah malam.
Slamet menghela nafas panjang dengan masygul. Di samping nya, wajah Tukiman tak kalah amburadul. Dengan perlahan, Tukiman melirik ke arah wajah Slamet sambil menghembuskan nafas panjang.
"Kenapa kamu, Man?" tanya Slamet akhir nya setelah tahu bahwa anak buah nya itu mencuri pandang padanya.
"Saya ... takut ma ti, pak Bos! Jasad Udin dan Parman yang saya temukan di dalam gudang sangat mengerikan. Saya tidak ingin mengalami hal seperti itu, Pak Bos!" seru Tukiman dengan tubuh menggigil.
"Ck, bukan kamu saja yang takut! Aku juga takut!"
__ADS_1
Slamet melengos dan menatap ke arah luar jendela mobil, mendadak sebuah ide muncul dari dalam kepala nya.
"Kamu saja yang menculik Sulis dan anaknya!" titah Slamet tegas. Membuat Tukiman mendelik.
"Apa Bos? Kenapa harus saya!?" tanya Tukiman tanpa sadar. Slamet langsung mengerut kan dahi nya melihat Tukiman yang berubah menjadi pengecut. Padahal sebelumnya Tukiman adalah orang yang penurut.
"Kamu berani melawan perintah ku sekarang?! Aku menyuruh kamu dengan bayaran tinggi! Anak istri kamu bisa makan enak dan punya rumah bagus di kampung berkat siapa?" tanya Slamet sengit.
"Ma-maafkan saya, Bos. Tapi perintah bos kali ini membuat saya ketakutan sekali. Saya .. saya malah ingin mengajukan resign pada bos dan ingin pulang saja. Kasihan anak istri saya di kampung. Istri saya baru melahirkan, Bos. Saya boleh mengundurkan diri kan? Saya jamin semua rahasia Bos akan aman sampai saya bawa ke liang lahat," ujar Tukiman bersungguh-sungguh dan menghiba.
Wajah Slamet mengeras. Lelaki itu bahkan menggeretakkan gigi dan mengepal kan tangan nya.
Dengan segera kepala desa itu mncabut pistol dari sarungnya yang melingkar di pinggangnya lalu dengan secepat kilat mengarahkan ke arah kepala Tukiman, membuat wajah anak buahnya itu pucat pasi.
"Apa kamu bilang?! Resign? Tidak semudah itu! Enak saja kamu bilang resign. Aku yang sudah memberikan mu banyak uang dan sekarang akan kamu tinggal kan begitu saja?!!"
Tangan dan tubuh Tukiman gemetaran di bawah ancaman senjata api milik Slamet.
"Maafkan saya, Bos. Saya masih ingin hidup."
"Kamu hanya mempunyai dua pilihan! Lakukan perintah ku dengan menculik ibu dan adik Damar, atau kamu akan ma ti saat ini juga!" seru Slamet dengan marah.
"Saya ... Saya ..."
"Kita akan selamat, Man. Kita kan punya bapakku! Bapakku kan dukun sakti mandraguna! Biar saja Damar dan Sulis itu mam pus di tangan bapakku! Kita hanya perlu melakukan apa yang diperintahkan oleh bapak ku!"
Tukiman menghela nafas berat. Dia harus memilih dua pilihan yang menurut nya tidak menguntungkan baginya.
"Jawab sekarang, Man! Kamu pilih mana? Menculik Sulis dan anaknya atau ma ti di tangan ku saat ini juga?!" tanya Slamet garang.
"Saya akan menculik Sulis dan anaknya, Bos," sahut Tukiman lirih. Dalam hati kecil nya berkata ingin melarikan diri saat ada kesempatan kabur.
"Ambil keris ini. Kamu telah mendengar kan apa kata bapakku kan tadi?" tanya Slamet.
Tukiman mengangguk dan dengan gemetar menerima keris dari Slamet. Keris itu kecil dan nyaris seperti mainan. Dengan rasa ragu, Tukiman menyelipkan keris itu di sakunya.
Slamet membeli beberapa martabak dan terang bulan di pinggir jalan lalu memberikan obat bius pada kedua makanan itu. Dia tak lupa mengambil lakban, linggis, pentungan kasti dan tali tebal dari rumah nya.
Kepala desa itu dengan puas melihat beberapa warga yang berjaga di pos ronda menyambut kedatangan Slamet lalu memakan martabak dan terang bulan yang dibawakan olehnya.
Dan sesuai prediksi Slamet, empat orang laki - laki yang merupakan warga desanya itu mendadak mengantuk dan tidur dengan sangat nyenyak. Slamet dan Tukiman pun melanjutkan misi penculikan Sulis dan Adinda.
Jam satu lebih lima belas menit saat mobil Slamet dan Tukiman berhenti di depan rumah Sulis yang sepi.
Rumah di desa itu masih sangat berjauhan dengan para tetangga. Ada yang berjarak dua ratus meter, ada yang berjarak seratus meter di batasi oleh kebun pisang.
"Kamu turun di sini dan segera bawa Sulis serta anaknya. Sulis hanya perempuan lemah, sekali hantam, dia pasti pingsan. Aku akan menunggumu di sini!" seru Slamet dengan nada tegas.
Mau tidak mau, Tukiman mengangguk dan turun dari mobil. Lelaki itu membawa linggis dan berjalan perlahan menuju ke rumah Sulis.
Dengan berusaha beberapa kali, akhir nya jendela kayu tanpa kaca milik Sulis berhasil dibuka. Dengan mudah pula, Tukiman membongkar teralis kayu jendela yang telah keropos.
Dengan perlahan, Tukiman memasuki jendela rumah Sulis dan sampai di ruang tamu.
Di kamar depan yang engsel pintu kayunya telah rusak, sehingga daun pintu nya tidak dapat ditutup itu, Tukiman melihat sesosok tubuh sedang tertidur di dalam selimut.
Dengan jantung berdebar kencang, Tukiman mengayun kan linggis nya ke arah bantal.
__ADS_1
Tapi satu hal yang tidak pernah disangka oleh Tukiman, sebentuk tangan kekar muncul dari dalam selimut dan langsung menangkap linggis yang dipegang nya.
Mata Tukiman membeliak saat melihat Eko yang sedang berusaha merebut linggis nya. Eko juga dengan wajah penuh amarah menatap tajam ke arah Tukiman.
Rupanya ustadz Amir memang merencanakan untuk menukar tempat tinggal Sulis dengan Eko. Jadi Sulis dan Dinda ada di rumah Eko. Sedangkan Eko menempati rumah Sulis. rumah Sulis sendiri telah dilengkapi dengan cctv yang bisa dipantau oleh Eko dan Ustad Amir.
"Si- siapa kamu? Mana Sulis?" tanya Tukiman dengan panik.
"Heh! Kamu ini beg* ya? Harusnya saya yang bertanya ngapain kamu malam-malam ke rumah Sulis? Kamu disuruh siapa?" tanya Eko. Tangan kiri Eko menangkap linggis itu dan tangan kanan nya mengayun kan bogem mentah ke arah wajah Tukiman.
Brakkk!
Tukiman terhuyung menabrak lantai kamar dan memegang kepalanya. Dengan perlahan Tukiman berusaha berdiri.
"Menyerahlah saja agar hukuman kamu bisa lebih ringan!" cetus Eko. "Rumah ini telah terhubung dengan cctv, dan sejak kamu datang dengan merusak jendela rumah ini, kakakku telah melaporkan kamu pada polisi. Polisi telah dalam perjalanan menuju ke mari! Menyerahlah dan berkooperaflah!" seru Eko dengan memasang kuda-kuda.
Tukiman yang sedang kebingungan, meraih pisau lipat dari balik pinggang nya.
"Tidak! Aku akan lolos dan aku akan hidup!" tukas Tukiman, dia lalu menghambur ke arah Eko seraya mengarahkan pisau nya ke perut guru olah raga itu.
"Ciaaaat! Hiyaaaat!"
Buuughhh!
Argh!
Tukiman menjerit karena kepalanya terkena linggis yang dipukulkan oleh Eko. Dengan kepala berdarah-darah, Tukiman tersungkur ke lantai dan pisaunya terlepas dari tangan.
Tak lama berselang, terdengar sirine polisi dan Tukiman pun bisa segera dibekuk.
***
Polisi, Eko, Amir dan Sulis segera menyusuri hutan tempat terjadinya ritual pesugihan Segawon Lanang berdasarkan keterangan Tukiman.
Ada sebuah rumah tua yang di dalamnya terdapat meja batu dan beberapa bunga tujuh rupa sekaligus bulu ayam cemani.
Sulis bergidik dan menangis tak henti-hentinya, membayang kan Damar yang tersiksa di tempat itu sebelum menemui ajalnya.
"Wah, dukunnya dan kepala Desa itu sudah kabur rupanya! Rumahnya juga sudah sepi," ujar Raden sambil menatap ruangan di sekitar nya. "Tersangka yang tertangkap semalam (Tukiman) juga mengaku tidak tahu dengan tempat persembunyian Slamet yang lain."
"Kita bongkar saja makam yang ada disini berdasarkan keterangan Tukiman, Pak," saran ustadz Amir.
Raden mengangguk lalu memerintahkan pada anak buahnya untuk mencangkul spot tanah di sekitar area itu.
***
Sulis terpaku pada sebuah jasad anak tanpa baju dan tanpa mata dengan kondisi yang memprihatinkan.
Hampir sepuluh hari lebih sejak kematian Damar, dan jasad itu masih utuh belum ada pembusukan sama sekali.
Hanya tanah kotor yang menempel dan menyelimuti tubuh Damar. Memang sebuah keajaiban mengingat semua jasad sudah menjadi tulang, tapi hanya jasad Damar yang tampak utuh.
Sulis terjatuh bersimpuh di samping jasad kaku Damar, menatap tali dari benang woll yang melekat di pergelangan tangan Damar.
Sulis teringat betul bahwa gelang itu adalah buatan nya sehari sebelum Damar berangkat persami. Mereka bermain simpul tali bersama dengan benang woll untuk tugas persami dan salah satunya Sulis membuatkan gelang tali woll itu dan memasangkan nya sendiri di tangan anak sulungnya.
"Damar ..., anakku sayang! Huhuhuhu!"
__ADS_1
Next?