
Kali ini memutuskan untuk memandang laki-laki pada umumnya. Bukan seorang kakak laki-laki yang selalu ada dan menyayanginya. Kadarnya akan terasa lebih berbeda. Dia yakin, Josh pasti akan membuat hatinya lebih tenang dibandingknan dengan siapapun yang pernah dia kenal.
Huh, dia membuang nafasnya pelan. Josh masih menggenggam tangannya dengan erat. Terlintas sesuatu yang tak membuat hatinya tenang. Apalagi saat tadi dia izin ke kamar kecil dan dia melihat ponselnya, Albertho, laki-laki yang telah dia usir dari hatinya itu menghubunginya.
“Kau mau kemana lagi, Jess?” Josh berkata dengan wajahnya yang berseri. Dia tahu saat ini gadis itu belum memutuskan apapun. Namun, dia tak memberikan tembok yang tinggi untuknya. Dia, mengizinkan laki-laki itu mendekatinya secara perlahan.
“Kau bilang apa tadi dengan Jo?” dia melirik tajam. Tidak mungkin laki-laki itu tidak menceritakan tentang niatnya menyatakan perasaan pada kakaknya.
“Uhm, aku bilang sih sama dia kalau aku akan menyatakan perasaanku, tapi aku tidak menyebut nama-mu kok!” ucap Josh malu-malu sambil memegangi tengkuknya.
“Hah, itu kan sama saja. Apalagi malam ini dia tahu, kau bersamaku!” Jessy merajuk. Dia melepaskan pegangan tangan Josh. Membalikkan badan mode on ngambek.
“Maaf deh, Jess. Habisnya aku kan tidak mungkin bisa berbohong dengan kakakmu itu. Apalagi mata-matanya dia ada dimanapun!”
Deg. Dada Jessy sedikit bergetar, mendengar ucapan terakhir dari Josh soal kakaknya yang mempunyai mata-mata di mana saja. Pikirannya melayang kalau Jo pun tahu tetang sosok Albertho yang dia tutupi. Dia sudah menganggap laki-laki itu tak berarti.
“Uhm, apa kau juga mengadu soal masalahku kemarin yang tercebur kolam renang di pesta ulang tahun Angelica?” dia mengujinya.
“Belum sih, aku berencana mengatakannya malam ini. Aku pun tak sabar untuk membalas dendam!” ucapnya. Membuat Jessy mendelik. Sebenarnya dia bukan hanya menanyakan masalah itu, tapi yang ingin dia tanyakan adalah apakah Josh akan menceritakan soal pertemuannya dengan Albertho.
Josh memandangi wajah gadis itu. Dia terdiam, tanpa memberikannya balasan komentar, merajuk dan berteriak seperti pertanyaan sebelumnya.
“Apa yang kau ingin katakan sebenarnya?” dia sudah menaruh gurat curiga pada gadis itu. Dia pun sudah bisa menebak kemana arah dari pembicaraan gadis itu
“Siapa namanya?
__ADS_1
“Albertho!” spontan nama itu meluncur mulus dari mulut gadis itu. Tepat. Josh sedikit manaikan ujung bibirnya. Dia tahu kalau gadis itu sedang memikir laki-laki yang sedang dianggapnya sebagai saingan.
“Ah, bu-bukan seperti yang kau bayangkan, Josh!” Jessy membekap mulut bocornya. Dia keceplosan berbicara.
“Apa kau menyukai laki-laki itu?” tebaknya. Josh ingin mengetahui lawannya dalam persaingan cinta ini dengan jelas.
“A-ku, aku, ah, pokoknya tidak seperti yang kau bayangkan, Josh!” Jessy tidak mungkin mengakui bahwa hatinya sudah terpikat dengannya. Dengan bodoh dan mudahnya dia bisa terpikat oleh laki-laki yang bahkan identitasnya pun dia tidak tahu.
“Benarkah?” jelas sekali Josh meragukan jawaban gadis itu. Dia tahu saat ini dia sedang berbohong. Dia sedang menutupi hatinya.
“Rupanya kau disini!” suara seseorang membuat mereka berpaling. Mengikuti kearah suara. Segala yang sedang Jessy pikirkan beberapa saat lalu, kini dia—Albertho sudah berada dihadapan mereka. Dia menaikkan rahangnya dengan kasar, menatao kearah Jessy.
Jessy segera tersadar dan mengalungkan tangannya di lengan Josh. Dia, secara tidak langsung menjadikan Josh sebagai tamengnya. Josh terlihat tidak keberatan.
“Kau mencari sesuatu?” Josh yang menjawabnya. Dan dia menarik tubuh Jessy agar bersembunyi di belakang tubuhnya. Senyuman seringai langsung tertuju pada Josh.
Jessy terus bersembunyi di belakang tubuh Josh. Laki-laki itu jelas merasakan tubuh gadis itu bergetar ketakutan. Dia tahu gadis itu sedang menghindarinya. Buktinya, dia tadi tidak menolak saat dia menyumbunyikan tubuhnya di belakangnya.
“Aku rasa tidak ada yang perlu kau bicarakan dengannya!” ketus Josh menjawabnya. Masih belum sedetikpun melepaskan pandangan suramnya pada laki-laki itu.
“Kau tidak berhak memutuskan! Jessy, kemari kau!” deliknya makin geram, apalagi gadis itu tetap tak menuruti perkataannya. Dia terus bersembunyi di belakang tubuh Josh. Dan yang paling membuat Albertho geram adalah saat dia melihat tangan gadis itu melingkar di pinggangnya. Mendekapnya dengan sangat erat.
“JESSY!” dia setengah berteriak. Kembali meminta gadis itu agar tak mengacuhkannya.
“Tidak! Aku tidak mau berbicara denganmu. Apapun itu yang mau kau katakan. Semua sudah tak berarti. Jangan ganggu lagi!” dia membalas teriakannya. Tak kalah keras saat dia berkata. Membuat seberkas senyuman kemenangan muncul di sudut bibir Josh. Dia mendengar gadis itu menolaknya.
__ADS_1
“Jadi, kau menghindar karena laki-laki bodoh ini! Apakah dia sudah menyatakan cintanya padamu, hah?” Josh membulatkan mata saat mendengar ucapan yang di lontarkan Albertho. Kedua tangannya mengepal dengan sangat erat. Dia sungguh tak sabar ingin meninju wajah Albertho habis-habisan.
Albertho benar-benar kehilangan kesabaran. Gadis itu belum mau berbicara ataupun menatap wajahnya. Dia terlihat frustasi. Pertama kali dia merasakan sesuatu yang dia inginkan selama dihidupnya. Dia malah harus melepaskannya dengan sangat cepat.
“Kalau memang iya, kenapa? Dan, aku sudah menerima pernyataan cintanya!” akhirnya Jessy yang terpancing emosi menunjukkan wajahnya. Dia berkacak pinggang dihadapan laki-laki yang pernah mengusik hatinya.
“Oya, kau pikir aku bodoh. Kau tidak mungkin dengan mudah menerima laki-laki lain setelah apa yang kita laku—k,”
“DIAM!!” delikan makin menjadi membuat ucapanya terpotong. Dan kening Josh berkerut karena penasaran.
“Apa kau perlu bukti. Dia sudah di hadapanmu. Dan, kami sekarang sudah resmi berhubungan!” ucapnya, menunjuk-nunjuk dada Josh yang hanya bisa terdiam melihat tingkah kucing lucunya jika sedang mengamuk. Dia, sebenarnya ingin tertawa geli melihat aktingnya yang kaku. Siapapun yang melihat akan langsung tahu kalau dia sedang berbohong.
“Hahaha, kau benar-benar sedang memacing kesabaranku, hah!” Albertho bahkan yakin gadis itu sedang berbohong. Dia sedang marah karena sikapnya tadi malam dan dia berniat untuk meminta maaf. Jelas Jessy berang, dia tahu laki-laki dihadapannya itu sangat tidak percaya dengan ucapnnya.
Spontan dia membalikkan tubuhnya, sedikit berjinjit dan menarik kedua kerah baju Josh. Dia meluncurkan serangan jantung mendadak untuk kedua laki-laki dihadapannya. Josh yang terpaku saat sesuatu yang hangat membakar di dalam mulutnya. Bermain dengan sangat lincah. Pertama kali dia merasa gadis itu sangat agresif, tidak seperti gadis yang selama ini dia kenal. Josh pun tak ingin membuang lagi kesempatannya. Dia tanpa ragu menarik tubuh gadis itu. Membalas semua serangan hangat darinya.
“ARGGHH!” umpat Albertho kesal melihat pemandangan di luar dugaannya. Bahkan gadis itu berani melakukan hal yang dia benci. Dia memberikan sesuatu yang sudah dia anggap miliknya kepada orang lain.
Namun, getaran ponsel dalam saku jasnya membuatnya tak bisa berlama-lama. Dia segera berbalik badan dan meninggalkan mereka yang tengah berpagut mesra di jalan. Josh menatap kepergian laki-laki tadi sebagi simbol dari kemenangannya. Dia berhasil membuat laki-laki itu mundur. Pikirnya.
“Uhm,” Jessy melepaskannya perlahan. Malu. Dan membenamkan wajahnya di dada Josh.
“Aku anggap ucapan dan sikapmu barusan adalah jawaban dari pernyataan cintaku. Mulai hari ini, kau resmi menjadi kekasihku!” dia menarik wajah gadis itu perlahan. Memberikan satu kecupan hangat di keningnya. Memeluk kembali tubuh gadis itu dengan sangat erat dan Jessy sedikitpun tak menolak perlakuan manis dari Josh.
***
__ADS_1
Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...