JESSYANA LOVE STORY

JESSYANA LOVE STORY
MENGAKUI KESALAHAN


__ADS_3

Alan membawa keluar Jessy bersamanya. Semua mata sempat meliriknya apalagi melihat wajah sembab darinya.


“Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan tasmu!” dia bergegas masuk kembali meninggalkan gadis itu berdiri di depan pintu keluar karyawan hotel.


Josh tiba saat melihat Jessy berdiri di depan dengan mendekap tubuhnya. Dia seperti sedang mengigil dan ketakutan.


“Apa yang terjadi, Jess? Kau sakit?” dia meraih tubuh kekasihnya. Dia terlihat kosong dan linglung. Tak berapa lama mobil Alan berhenti, dia turun dan akan menarik tangan Jessy.


“Mau kau bawa kemana? Lepaskan dia!” Namun, Alan tak mengindahkan peringatan  yang Josh berikan. Dia menarik paksa gadis itu masuk ke dalam mobilnya.


“Kau gila!” delik Josh penuh dengan amarah. Dia mengepalkan tinju besarnya dan menghajar Alan habis-habisan hingga pria itu tersungkur di lantai,


“Dia, itu pacarku. Kau tidak ada hak apapun untuk membawanya!” setelah puas membuat Alan babak belur, dia menghampiri mobilnya dan membawa Jessy keluar mobilnya dan naik ke motornya.


“Aku kangen pulang ke rumah, Josh!” ucap lirih.


“Tidak, jangan pulang ke rumah dulu. Kita bicarakan dulu di tempatmu. Oke?” Jessy yang pikirannya sedang kacau hanya bisa menerima semua saran yang Josh berikan.  Sesampai di apartemen, Jess hanya duduk melamun. Belnya berbunyi. Alan sudah berada di ambang pintunya.


“Mau apalagi kau kesini?” dengusnya. Benar-benar mengamuk dan akan meninju wajahnya. Namun, dia memberikan tas milik Jessy hingga dia menghentikan kepalannya.


“Biarkan aku masuk, aku mau melihatnya!” pinta Alan.

__ADS_1


“Tidak! Pergi saja!” usir Josh.


“Tidak apa-apa, Josh. Biarkan saja dia masuk!” sahutan tak terduga dari suara lirih Jessy menghentikan pertengkaran mulut mereka.


Jessy membiarkannya masuk karena ada hal yang benar-benar ingin dia tanyakan? Kenapa Alan sampai tega memperlakukannya seperti tadi. Dia ingin tahu jawaban yang sebenarnya. Dia ingin Alan berbicara jujur dengannya. Tanpa ada lagi yang dia tutupi.


“Ini untukmu!” Alan memberikan ice cream strawberry full toping seperti yang pernah dulu dia pesan. Jessy hanya menarik wajahnya. Menatap mantap, mata Alan yang terlihat bersalah dan sangat bersedih. Tatapan matanya tulus. Berasal dari hati dan tidak main-main. Jessy bisa merasakan keteduhan saat menatap matanya itu.


“Jadi, apa penjelasan yang masuk akal darimu, agar aku paham dan memaafkanmu!” cetusnya. Dia sudah tidak mau bertele-tele ataupun di permainkan oleh keadaan. Jessy ingin tahu kebenarannya. Tampak Alan mengatur aba-aba untuk memulai darimana dia akan bercerita. Dia harus sanggup menerima setiap konsekwensinya. Entah gadis itu akan marah atau yang terburuk mungkin saja gadis itu akan memasukkan dirinya kedalam penjara.


“Maafkan aku, Jess! Aku banyak bersalah padamu. Peristiwa dulu, saat kau ada di dalam pub dan orang-orang itu, sebenarnya adalah rekayasa yang aku buat. Mereka semua orang suruhanku. Aku yang menyuruh mereka untuk mengerjaimu!“ duar duar duar deburan peluruh seperti menembaki seluruh tubuh Jessy. Dia benar-benar tak menyangaka dengan semua ucapan yang keluar dari mulut Alan.


“Kau gila!” Josh langsung melayangkan tinjunya lagi. Membuat tubuh laki-laki itu berdarah dan tersungkur di lantai. Dia bahkan tak memberikan perlawanannya. Dia memang sudah pasrah dan tak membalas apapun. Dia, akan menerima setiap hukuman yang diberikan.


“Aku merencankan semuanya. Tempat tinggal, tempat bekerja. Aku sudah menyelidiki semuanya. Aku memang sengaja, agar bisa memantau semua gerak gerikmu. Aku ingin membalas dendam padamu!” sontak Jessy terkejut. Balas dendam? Apa salahnya sampai dia membenci dan ingin membalas dendam padanya.


“Balas dendam, apa salahku, Lan? Aku bahkan tak pernag mengenalmu. Kenapa kau ingin membalas dendam padaku!” lirih suara Jessy. Bibirnya bergetar. Dia benar-benar masih belum mengerti dan paham perkataan yang belum dijabarkan jelas oleh Alan.


“Kau memang tak memiliki kesalahan, Jess!” sontak dia kembali terkejut dan itu membuat emosi Josh meradang. Dia sudah bersiap akan memukul lagi Alan. Namun, tangan Jessy menghentikannya.


“Biarkan dia jelaskan semuanya, Josh! Aku sungguh tak mengerti kenapa dia sangat ingin membalas dendam denganku? Kenapa dia sangat membenciku,  tapi aku tak memiliki kesalahan apapun!” tegasnya. Getir sekali dia merasakan. Hatinya seperti tercabik-cabik. Selama ini Jessy selalu berusaha bersikap baik kepada siapapun. Dia tak menyangaka sampai ada seseorang begitiu dendam terhadapnya.

__ADS_1


“Ini semua karena permintaan ibuku. Ibuku memintaku melakukan ini.” Kembali Jessy tak habis pikir, ibunya Alan? Bahkan dia sendiri pun tak mengenalnya.


"Ibumu?" pekiknya.


“Iya, ibuku, sangat membenci ibumu. Dia sangat sakit hati dengan ibumu. Dan, ini adalah pesan terakhirnya. Aku harus membalaskan semua rasa sakit hatinya?”


“Kenapa? Kenapa ibumu sangat membenci ibuku?” Jessy yang merasa ibunya seperti malaikat, tapi ternyata ada seseorang yang ingin balas dendam dan sangat membencinya.


“Ibumu, sudah merebut hati ayahku. Sampai di hari kematiannya pun, nama ibumu yang terus di sebut. Ayahku, tak pernah sekalipun memandangnya. Padahal selama hidupnya, dia mengabdikan seluruh jiwa dan raganya, hanya untuk ayahku seorang.


Jessy meraup kasar wajahnya. Memukulinya berkali-kali, “Kau pasti salah, Lan. Untuk apa ibuku melakukan itu semua. Ibuku, sudah memiliki dua suami dan dia sangat bahagia dengan kehidupannya. Dan, kami anak-anaknya tak pernah sekali pun melihatnya berselingkuh atau pun melirik laki-laki lain. Ibuku, sangat mencintai kedua ayahku, kau paham!” Dia kini murka, kenapa harus ibunya yang disalahkan atas kesalahan yang seharusnya tidak ada. Benar-benar tidak masuk akal, pikirnya.


“Logika saja, Lan. Kau kan sudah dewasa, sudah tahu mana yang baik dan buruk. Mana yang salah dan benar. Cinta? Apakah bisa di paksakan? Aku rasa tidak. Setiap orang berhak jatuh cinta dan menjatuhkan hatinya pada siapa pun. Hatinya berhak memilih dengan bebas, Lan. Karena cinta itu akan indah tanpa paksaan. Jika, ayahmu memang telah memilih hatinya untuk mencintai ibuku, apakah itu semua salah ibuku? Ibuku yang salah begitu? Dan kau dan ibumu seenaknya menilai keburukan seseorang karena hal itu. Sungguh tidak masuk akal, Lan?" Jessy benar-benar meledak. Dia tak ingin nama baik ibunya tercoreng hanya karena perasaan iri tidak dapat menerima cinta dari orang yang dicintainya.


“Aku tukar posisinya sekarang, Lan!” Jessy menatap Alan yang diam tak bergeming mendengar semua ucapan yang terlontar dari mulut Jessy.


“Kau menyukai aku, lalu aku menyukai Josh. Apakah aku salah karena tidak membalas cintamu?” Alan seperti mendapatkan tamparan di wajahnya berkali-kali. Dia benar-benar malu dan menyesal.


“Apa  kau akan membalas dendam kelak pada keturunanmu untuk membalas sakit hatimu, Lan? Itu tidak adil, Lan. Tidak ada seorang pun yang berhak melarangnya. Cinta itu bebas dan tak terikat oleh apa dan siapapun!” tegasnya. Bukan hanya Alan yang mendapatkan teguran. Namun, Josh pun merasakan hal yang sama. Dia merasa tersindir oleh kata-kata yang terucap dari bibir kekasihnya itu.


“Aku benar-benar minta maaf Jess. Aku bersedia menerima apapun sebagai hukuman. Aku rela jika kau ingin aku mendekam di penjara. Aku akan melakukannya. Aku tidak akan membalas apapun lagi. Aku salah, Jess. Maafkan aku!” berkali-kali Alan meminta maaf pada gadis itu. Dia benar-benar merasa bersalah. Dan mengakui kesalahannya.

__ADS_1


***


Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...


__ADS_2