
“Ah, apa kau bilang? Maksud dari ucapanmu itu apakah aku harus selalu izin denganmu kalau aku akan pergi?” Albetho mengangguk dengan pasti dan menegaskan bahwa semua ucapannya tidaklah main-main.
“Eh, tidak bisa begitu! Orangtua—ku pun tak pernah melarangku. Aku masih diberikan kebebasan, asalkan aku tak mencoreng nama baik keluarga. Sedangkan kau, apa hakmu. Kita bahkan baru saja kenal!” protes Jessy dengan berani sambil berkacak pinggang di hadapannya.
“Kau sungguh berpikir aku sedang bermain-main. Kau sudah menjadi milikku. Dan seluruh jiwa dan tubuhmu itu, hanyalah milikku.” Mata Jessy membulat tak percaya. Bagaimana dia bisa dengan gila menyetujui semua ucapannya semalam. Dia seperti sudah terkena hipnotisnya.
“Putus! Aku mau kita putus sekarang. Kita akhiri saja, dan kau tidak usah menemuiku lagi!” berani dan kalah tegas dia berkata. Dia tak ingin kehidupannya di atur oleh seorang laki-laki yang bahkan dia belum mengenalnya lebih dalam. Dia hanya baru mengenalnya satu malam dan laki-laki itu mau mengatur hidupnya. Benar-benar pikiran gila, Jessy berpikir.
“Jangan pernah bermimpi putus denganku. Aku pasti kan kau menyesalinya!” tiba-tiba Albertho geram, dia mencengkram erat mulut Jessy. Dia menekannya dengan sangat keras hingga gadis itu memekik kesakitan.
“Lepaslkan! Kau benar-benar gila. Aku tidak mau. Pokoknya kita putus!” dengan mata memerah dan geram Jessy membalas. Dia mengamuk. Dia tak pernah diperlakukan sekasar ini oleh siapapun. Dia yang selalu di lindungi keluarganya seperti seorang putri, kini bertemu laki-laki di luar pemikirannya.
Sesaat Albertho mengubah wajahnya. Dia seperti melakukan sesuatu kesalahan, “Ma-maafkan aku, Jess. Sungguh aku minta maaf. Aku janji tidak akan bersikap seperti tadi lagi!” Jessy mendorong kasar tubuh laki-laki itu dengan kasar saat dia mencoba mendekatinya.
“Pergi dan jangan pernah kembali. Dan aku tekankan sekali lagi. Kita sudah tak punya hubungan apa-apa lagi!” Jessy mengusirnya, tanpa mau mendengarkan saat Albertho mencoba menjelaskannya. Dia membanting pintunya dengan keras dan menguncinya.
Dia terpuruk di lantai, masih terlihat gemetaran. Sebenarnya, dia sangat ketakutan menghadapi laki-laki tadi. Dia bahkan berpikir kalau laki-laki tadi membalas sikap kasarnya, dia tak tahu bagaimana harus membela dirinya.
“Gila. Gila. Mimpi buruk sekali aku tadi malam!” umpatnya bergidig ngeri. Dia berlari ke kamar mandi dan membersihkan seluruh tubuhnya yang dia rasa kotor. Dia sangat berharap tak pernah bertemu lagi dengan laki-laki tadi seumur hidupnya.
Hah, harusnya aku menolak saat Sabrina mengajakku, mungkin aku tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki gila itu. Jessy masih saja merutuki kesialannya kemarin malam.
***
Jessy terlihat melamun saat duduk berhadapan dengan Josh. Dia seperti berada dalam dunia lain. Bahkan saat Josh memegang tangannya, dia pun tak menyadarinya. Padahal suasana malam begitu romantis. John sengaja memesan tempat untuk menyatakan perasaannya.
__ADS_1
"Jess!" ucap Josh. Dia masih tak bergeming.
"Jessy!" kembali Josh memanggil namanya. Menarik perlahan-lahan kedua tangannya, membuat gadis itu tersadar.
"Eh, i-iya. Kenapa?" dia kikuk sendiri saat dirinya di ketahui terciduk oleh Josh.
"Ada apa, Jess? Apa ada masalah? Seperti biasa kau bisa menceritakan semuanya padaku!" Josh berusaha menerka jalan pikirannya. Kali ini entah kenapa gadis itu seolah memberi jarak padanya.
"Ah, tidak, tidak ada apa-apa!" Jessy melepaskan kedua pegangan tangan Josh. Dia seolah mengerti Josh akan berkata apa. Seolah ucapan Albertho tadi siang sudah memenuhi pikirannya.
"Sungguh? Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu padaku?" Josh tetap tak mempercayai ucapan gadis itu. Dia merasakan ada yang hilang dari gadis itu. Senyuman di wajahnya yang selalu dia tunjukkan seolah sirna.
"Uhm, omong-omong ada hal serius apa yang mau kau katakan?" dia berusaha mengalihkan pembicaraannya. Josh menatap kembali wajah gadis itu. Dia sedikit ragu akan mengutarakan perasaannya. Namun, semua set, deklarasi bahkan dia sudah menyewa full reservasi restoran demi melancarkan pernyataan cintanya.
"Jess!" dia kembali berbicara dengan sangat lembut meraih kembali tangan gadis itu. Menggenggam dengan erat.
"Aku tahu mungkin ini terkesan konyol atau mungkin kau akan mengira aku main-main dengan perkataan-ku, tapi sungguh aku ingin sekali kau tahu bahwa aku selama ini menyukai-mu. Sangat menyukaimu. Maukah kau memberikan aku kesempatan sebagai seseorang yang akan mengisi hari-harimu!" jelas dan tegas. Jenih dan lembut. Jessy mendengar semua ungkapan hati terdalam Josh.
Kata demi katanya menyiratkan bahwa dia sudah lama sekali menyukai gadis itu. Dia tak mampu berkata apapun saat benar-benar mendengar pernyataan cinta darinya. Baginya selama ini dia sudah menganggap Josh seperti kakak laki-lakinya. Seperti, Jonathan yang selalu menyayangi dan melindunginya sepenuh hati. Josh bahkan selalu berada diantara mereka. Keberadaannya bahkan Jessy sendiri tidak akan pernah tahu, jika karena pernyataan cintanya ini, dan dia seandainya menolak. Mungkin saja dia akan menghilang dari kehidupannya. Selamanya.
"Jo-Josh!" ingin sekali gadis itu membuka suaranya. Menjawab dengan lantang pernyataan cintanya barusan. Namun, dua jari tangan Josh menyentuh bibirnya, melarangnya untuk berbicara.
"Ssstt, aku mohon pikiran baik-baik, Jess. Aku akan selalu menunggumu. Kau tak perlu khawatir, apapun nanti Jawaban darimu. Aku pasti akan menerimanya!" Ya inilah Jessy. Dia yang selalu terlihat tidak tega saat seseorang meminta sesuatu dengannya secara terus terang dan menunjukan wajah yang menderita.
"Joshh!" rengeknya.
__ADS_1
"Iya, aku paham. Kau tak usah khawatir. Aku mohon tolong pikirkan lagi, ya!" Josh yang seolah tahu bahwa gadis itu akan menolaknya. Dia berusaha agar gadis itu tetap memberikannya kesempatan.
"Kalau aku menerimamu, apakah kau akan mengekang kebebasanku?" cetusnya, membuat segurat tanya di kening Josh.
"Hahaha, apa kau memikirkan hal sejauh itu, uhm?" dia mengangguk perlahan.
"Kau jangan khawatir, kau bebas bergaul dengan siapapun. Aku tidak akan mengenangmu. Dengan batasan, kau memang benar-benar tahu siapa dan bagaimana kau bergaul dan menjalani hidupmu. Selama semua hal yang kau lakukan untuk hal baik dan membuat kau lebih dewasa juga membawa hal positif, kenapa tidak!" tegasnya. Jessy tersenyum dengan lega. Prasangka buruknya terhadap Josh lenyap. Dia salah menilai. Rambut boleh saja sama hitam. Namun, cara berpikir seseorang dan saat mengambil keputusan pastinya berbeda.
"Dan aku yakin, keluarga kita pun tidak akan menolak. Mereka kan sama-sama tahu, bagaimana aku tumbuh dan siapa papaku!" tegasnya kembali. Jessy kembali tersenyum.
"Cih, kau sungguh yakin dengan hal itu? Bagaimana dengan, Jo? dia pasti akan sangat kesal saat mendengar ini! Pasti dia merasa kau sudah menghianatinya!" Jessy mengujinya.
"Wah, pemikiranmu sampai sejauh itu rupanya. Kau benar-benar di luar dugaan!" spontan tangganya lagi menarik hidungnya.
"Apa sih, Josh. Aku bilang sakit tahu, masih saja kau menarik hidungku!" Kembali Jessy menunjukkan bibir kerucutnya, membuat Josh tak bisa menahan tawanya lagi.
"Aku gemas sekali. Kau itu sebenernya sadar tidak sih, kau itu lucu, manis, imut dan sangat sangat menggemaskan!"
"Hiihh, aku bukan anak kucing tahu!" Gerutunya kesal. Dia merasa disamakan seperti seekor kucing.
"Memang kau kucing, Jess. Kamu itu kucingku yang lucu dan imut!" dia yang kembali gemas mencubit kedua pipi Jessy.
"Ah, Josh. Kau ya!" spontan Jessy berdiri dari duduknya. Akan memberikan pukulan padanya.
"Iya, iya. Maaf deh. Jess, Jessy kucingku yang lucu!" Godanya. Wajah Jessy pun merona karena malu. Dan tanpa sadar Josh sudah merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya.
__ADS_1
***
Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...