
“Ya ... Josh, kau tidak jadi sewa kamar sebelahku dong!” ucap Jessy.
“Kau tidak apa-apa kan?” Josh mengacak-ngacak rambut kekasihnya itu.
“Iya, tidak apa-apa kok! Lagian kita setiap hari ketemu.” Josh mengangguk dan membawa Jessy pulang.
Jessy mencium sesuatu yang harum dari dapurnya. Dia melihat Josh sedang menata sarapan di meja makan.
“Kau sungguh-sungguh membuat ini?” Jessy menarik kursinya. Duduk berhadapan dengan Josh yang sedang menuangkan susu di gelas Jessy.
“Uhm, nasi goreng spesial. Khusus aku buatkan untukmu dengan segenap cinta dan kasih sayangku, eyaaaa ...,” goda Josh. Jessy terkekeh geli mendengar lelucon garing yang keluar dari mulut kekasihnya itu.
“Um, enak banget! Mantap!” satu suapan masuk ke mulut Jessy. Ancungan jempol dan tentu saja satu kedipan mata menggoda dari gadis itu membuat Josh tak kalah terkekeh geli melihat tingkahnya.
“Sudah, jangan bercanda. Aku buat banyak, separuhnya aku bikin untuk bekalmu. Oke?” gadis itu mengangguk mantap menikmati sarapannya.
“Oya, aku ada beberapa pekerjaan yang mendesak. Mungkin, aku tidak bisa menjemputmu pulang dari pekerjaan pertamamu hari ini,” Josh berkata, sebelum dia lupa karena pekerjaannya.
“Oke! Aku masih bisa pulang naik bus atau taksi, eh, tidak deh, taksi terlalu mahal untuk jam pulang dari kampus!” dia mengingat kemacetan menuju tempat kerjanya. Pasti macet parah.
“Atau kau minta antar Jo saja saat ke tempat kerja. Ini kan hari pertamamu training. Jangan sampai terlambat!” Josh memberikan idenya dan dia pun tak perlu khawatir dengan keselamatan gadis itu jika bersama dengan kakaknya.
"Ah, itu—,”
“Kalau Jo menolak, aku akan menghajarnya habis-habisan!” Josh menunjukkan tinju besarnya di hadapan wajah gadis itu.
“Hahahaha, sudah, Josh. Perutku sakit mendengar lelucon garingmu itu!” ya tanpa sadar Josh sudah melihat senyum gadis itu yang hilang dua hari belakangan ini. Josh tidak ingin bertanya apa sebabnya. Dia hanya tahu gadisnya itu pasti pernah berhubungan dengan laki-laki yang bernama Albertho. Dia mencoba percaya pada gadisnya, bahwa gadisnya tidak melakukan hal-hal diluar batasan.
“Ayo, kita berangkat!” tepat saat mereka membuka pintu. Alan pun keluar dari kamarnya, dia hanya menyunginggkan senyum kecil saat melihat Jessy dan Josh.
“Pagi, Lan!” sapa Jessy.
“Pagi juga, Jess! Mau berangkat?”
“Iya, nih. Kau juga?”
“Tidak, aku santai sampai sore. Malam baru aku kerja!” sahutnya.
“Ayo, Jess!” Josh terlihat tak sabar. Dia berjalan cuek lebih dulu tak menghiraukan keberadaan Alan.
“Iya, iya. Aku jalan dulu ya, Lan!” Jessy berlari kecil mengekori Josh yang menahan pintu lift untuknya.
Cih, bahkan mereka sudah tidur bersama. Benar-benar wanita murahan. Cibir Alan. Dia benar-benar geram saat melihat tingkah Jessy yang menurutnya pura-pura polos.
***
__ADS_1
Jessy tampak bersemangat menjalani harinya. Dia ingin jam kampusnya segera berakhir dan berganti waktu untuk trainingnya nanti sore.
“Jo!” Jessy mendekati meja kakaknya yang tengah berkumpul bersama temannya. Dia bahkan sedang memeluk mesra salah satu teman kampusnya.
Mungkin selain Sabrina yang tahu hubungan mereka. Mereka pasti mengira Jessy sedang meminta pertanggung jawabannya. Apalagi, Josh yang cuti kuliah karena pekerjaan yang sedang dia geluti lebih menjamin. Tidak ada seorang laki-laki lain yang dekat dengan Jessy.
“Uhm!” dengan malas Jo membalas panggilan adiknya itu.
“Antarkan aku!” cetusnya. Membuat Jo menghentikan segala aktifitasnya. Membuang jauh teman kampusnya hingga dia tersungkur di lantai. Dia berdiri dan menghampiri gadisnya itu.
“Kau mau pergi kemana?” tentu saja Jo bersemangat saat adik perempuannya itu meminta bantuannya. Selama ini walaupun dia memohon, menawarkan atau merayunya, Jessy tak pernah sekalipun meminta bantuannya.
“Waktunya mepet sekali, hotel First Night. Tugasku tadi terlalu banyak!” Jessy yang memang diberikan banyak tugas hasil oleh-olehnya izin dua hari.
“OK!” Jonathan langsung menarik tangan adiknya. Membawanya ke parkiran motor. Tentu saja Jessy menjadi sorotan mata teman-teman kampus terutawa para gadis yang menyukai Jonathan.
“Nih, pakai!” di tambah Jo yang begitu perhatian memakaikan helm di kepala adiknya. Membuat para wanita makin berang.
“Jo, kau gila!” dengus Jessy mendelik tajam padanya.
“Apa?” Jonathan yang pura-pura bodoh.
“Hah, kau sengaja?”
“Hahaha, rasakan! Siapa suruh setiap kali aku menawarkan pertolongan kau selalu menolakku!” Jonathan naik ke motor dan mulai menyalakannya.
“Cih, sekarang mainnya adu-aduan, mentang-mentang sudah punya pacal!” ledeknya. Satu tancapan gas membuat Jessy memeluk tubuh kakaknya dengan erat.
“JOOO, pelan sedikit!!” pekiknya. Namun, mana mungkin Jonathan menghiraukannya. Ini kesempatan langka untuk mengerjai adik kembarnya itu.
Motor yang dibawa Jonathan sepuluh menit kemudian sudah sampai di tempat yang di tuju. Dia memegangi tubuh kakaknya, setengah limbung. Sedangkan kakaknya terkekeh geli melihat wajah pucat dan rambut acak-acakan milik adiknya.
“Kau gila! Gila!” teriak Jessy sambil memukuli pundak kakaknya yang masih tertawa melihat wajah acak kadulnya.
“Berikan helmnya!” Jessy menurut. Mendekati kakaknya. Melempar sedikit kasar helm tadi.
“Pulang mau aku jemput?” tawar Jo. Dia tahu, sahabatnya itu pasti sedang tak bisa menjemputnya.
“Aku mungkin bisa keluar malam, aku tidak tahu keluar jam berapa, Jo!” Jessy tidak menolak tawaran kakaknya. Dia tahu, kalau pulang sendiri malam akan sulit mencari kendaraan. Terlebih lagi, Jessy masih sedikit trauma.
“Telpon aku jam berapapun. Tunggu aku disini lagi. Jangan kemanapun sampai aku datang, aku pasti datang menjemputmu!” Jo menegaskan agar adiknya bisa di cari dengan mudah olehnya.
“Uhm.” Jessy melenggang masuk sambil memegangi perutnya yang masih sedikit sakit akibat guncangan keras motor kakaknya.
Brukk!Kini Jessy memegangi pantatnya. Dia sudah tersungkur di lantai.
__ADS_1
“Haduh, apalagi sih? Masa selalu bertabrakan. Sial sekali nasibku!” Jessy bergerutu. Memaki kesal dirinya sendiri.
“Kau tidak apa-apa, Jess?” suara dan tangan seseorang terulur untuknya. Jessy menarik wajahnya kearah suara.
“A-Alan?” dia menerima uluran tangannya dan berdiri.
“Sedang apa kau disini?” Jessy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku? Aku kerja disini? Kalau kau? Sedang apa kau disini?” sambil menunjuk. Seolah tak percaya dengan beberapa kali pertemuan mereka yang selalu kebetulan.
“OMG! Helooo! Sungguh?” Jessy melompat kegirangan. Dia tak menyangka akan bertemu seseorang yang dikenalnya di hari pertama kali dia masuk kerja.
“Uhm. Kau anak magang?” Jessy mengangguk cepat.
“Iya, aku magang disini untuk tiga bulan kedepan. Aku butuh reset untuk planing job yang akan aku ambil!” jelasnya.
“Oh, ya! Sepertinya kau harus segera masuk, kalau kau tidak ingin kena hukuman karena terlambat!” tegasnya sambil melirik jam di tangannya.
“Astaga! Aku pergi dulu ya!” dia berlari masuk kearah pintu karyawan.
Huh, gadis manja sepertimu. Apa sih yang bisa kau kerjakan! umpat Alan di hati.
Jessy sudah mengganti seragamnya dan berjajar masuk barisan bersama dengan yang lainnya. Mereka tampak menanti kehadiran seseorang yang akan membagikan tugas. Mata Jessy masih berkeliling mengamati seluruh dekorasi yang berada di ruangan.
“Perkenalkan, Mr Alan Montana, pimpinan dan chef yang memegang penuh untuk operasional kita disini!” semua mata terarah pada suara termasuk Jessy pun mengikuti suara itu. Jessy tersenyum sumringah saat dia melihat Alan sudah berdiri dengan seragamnya.
Wow, Alan rupanya seorang chef. Keren banget dia pakai seragamnya. Aku tidak menyangka penampilan urakannya berubah saat dia berseragam. Jessy berkomentar dalam hati. Memandangi Alan sambil senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
“Hei, kau!” tunjuk seseorang. Jessy terkejut. Dia menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Siapa lagi?” hardiknya.
“Ah, iya!” Jessy maju menghampiri tanpa dosa.
“Ada apa?” ucapnya terdengar sakras.
“Apanya?” Jessy yang di tanya malah balik bertanya. Membuat semua orang terkekeh melihat tingkah bodoh Jessy.
“Kau malah bertanya? Aku bertanya, kenapa kau senyam senyum sendiri? Seperti orang gila saja!”
Pyar!Ucapannya membuat wajah Jessy merah padam. Dan semua menatap Jessy yang terlihat bertingkah konyol, seperti seseorang yang sedang mencari perhatian.
***
__ADS_1
Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...