JESSYANA LOVE STORY

JESSYANA LOVE STORY
AKU KENYANG


__ADS_3

Suara ketukan pintu membuatnya mengeliat dan bangun dari ranjangnya. Sambil menguap dia turun dari ranjangnya. Berjalan kearah pintu dan membukanya.


“Selamat pagi, Jessy!” Josh menyerbu masuk dan langung mendaratkan kecupan di kening gadis itu.


“Pagi, jam berapa sekarang?” Jess di gandeng masuk oleh Josh. Dia meletakan paper bag yang di bawanya.


“Uhm,  jam delapan.” Josh melirik jam di lengannya. Namun, matanya malah tertuju pada pipi Jessy yang terlihat membiru.


“Ada apa ini? Kau kenapa?” Josh yakin saat terahir mereka bertemu wajah gadisnya masih baik-baik saja.


“Kenapa ya? Aku juga lupa, mungkin terantuk tempat tidur!” ucap Jess menggaruk kepalanya seperti anak monyet. Menjawab pertanyaan Josh sekenanya, tapi Josh malah melirik ranjangnya yang terlihat aman tanpa ada sudut membahayakan untuknya. Dia tahu gadis itu sedang berbohong padanya.


“Jo mengantar dan menjemputmu, kan?” Josh menyelidik.


“Uhm, aku lapar. Kau bawa apa untuk sarapan aku kali ini?” dia yang membuka pepar bag yang dibawa olehnya.


“Dua sandwich keju dan daging kesukaanmu. Salad buah dan coklat panas!” sebut Josh sudah membuat perut Jessy menari-nari. Dia segera menyerbu dan menyantapnya dengan sangat lahap. Mata Josh terus berkeliling dan dia menemukan cup jumbo ice cream yang belum di buang olehnya.


“Jo, membelikanmu ini?” pertanyaannya membuat matanya melirik dan hampir tersedak.


“Uhuk, uhuk. Apa sih, Josh! Kau sudah seperti polisi yang sedang mengintrogasi maling!” Jessy protes. Dia tahu laki-laki itu sudah mencurigainya.


“Itu hanya pemikiranmu saja, Jess. Aku kan hanya bertanya, kenapa kau menjadi gugup saat menjawabnya. Jangan bilang padaku kalau kau dibelikan ini oleh laki-laki lain atau mungkin teman magang di tempat kerjamu itu!” seperti bajaj mulut Josh merepet terus. Dia tak berhenti disitu saja mencerca gadis itu sampai dia mau berkata jujur padanya.


“Aku kenyang!” Jess melempar sandwichnya. Dia menimggalkan meja makan dan masuk ke kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian Jessy keluar sudah berpakaian rapih, “Kau tidak usah mengantar. Aku bisa berangkat sendiri!” dia akan berlalu. Namun, lengannya malah di tarik Josh dan dia memeluk tubuh gadis itu.


“Maaf, maafkan aku, Jess! Kau jangan marah lagi ya!” dia merayu. Menunjukkan wajah tampannya yang menyedihkan. Membuat Jessy sedikit dongkol menatapnya.


“Habisnya kau juga sih yang man—,” mulut Jessy sudah tak berkutik. Dia hanya bisa merasakan rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya tanpa bisa dia hentikan.

__ADS_1


“Masih marah?” Josh kembali mengecup keningnya. Dia menggeleng.


“Aku akan jemput nanti malam, kau bisa menghukumku sesuka hati!” kode yang diberikan oleh Josh kembali membuat wajah gadis itu memerah. Dia memukuli pelan dada bidang laki-laki itu.


“Kau tidak mau?” bukan jawaban yang didengar Josh, tapi cubitan kecil di pinggangnya.


“Iya, iya. Maaf! Aku akan membuatmu tidur dengan nyenyak malam ini. Kau bersiaplah!” bisiknya kembali. Jess hanya mengangguk dengan pelan. Saat mereka membuka pintu, Alan pun keluar dari kamarnya. Kali ini Jess tak menyapanya. Dia hanya mengangguk pelan dan langsung menggandeng lengan Josh. Pergi dari hadapannya.


Entah kenapa hati Alan menjadi terusik. Dia tiba-tiba kesal dan geram sendiri. Dia seolah tak rela Jessy pergi dengan laki-laki lain. Entah perkataannya itu serius atau tidak. Dia yang meminta gadis itu untuk menjadi miliknya.


Dan setelah peristiwa itu, Jessy seolah menghindari Alan. Setiap kali bertemu atau berpapasan dia tak pernah lagi menatap mata Alan. Selain sikap seperti atasan dan bawahan, Jessy tak pernah mau di dekati olehnya.


Dua bulan berlalu tanpa terasa. Chef Donny pun tak pernah berani lagi bersikap semena-mena pada Jessy. Apalagi setelah dia melihat kemampuan dan tanggung jawab Jess terhadap pekerjaan. Dia benar-benar tekun dan serius menjalankannya, dia bahkan tak lagi membuat kesalahan seperti memecahkan piring atau lainnya. Dia benar-benar menjaga sikapnya. Jessy hanya ingin dapat sertifikat magangnya dengan nilai yang baik disisa satu bulan lagi dia magang disana.


“Jess, kau di panggil ke ruangannya chef Alan tuh!” ucap salah seorang rekan Jessy. Dia menepuk pundak Jessy yang sedang mencuci piring.


Kadang Jessy tak pernah membayangkan kemurkaan orangtuanya, jika tahu pekerjaan Jessy di tempat magang itu cuci piring, bersih sana sini, di suruh antar ini itu. Mungkin papa dan papi akan benar-benar membuat hotel itu hancur berkeping-keping. Wuaahh, bahkan Jessy sendiri pun tak berani membayangkannya.


“Anda mencari saya?” ucap Jessy saat sudah berada dalam ruangan Alan. Dia beranjak dari duduknya dan menekan kunci untuk ruanganya dengan sidik jarinya.


Tanpa banyak berkata apapun. Entah apa yang merasuki tubuh Alan. Dia menarik pelan lengan gadis itu dan mengajaknya duduk di sofa. Spontan dia berdiri. Dia tak berani lagi untuk berdekatan dengan laki-laki itu. Cukup baginya mengetahui sifat asli seorang Alan.


“Apa ada tugas yang harus saya kerjakan, Chef!” kembali dia berbicara secara formil denga laki-laki itu.


Brukk!Jessy sudah berpindah ke pangkuannya. Mendadak tubuhnya menjadi gemetaran dan terus mencoba menghindari tatapannya yang seolah akan memakan dirinya hidup-hidup.


“Ma-maaf, Chef, kalau tidak ada hal yang harus saya kerjakan izinkan saya keluar!” Sekali lagi Alan tak bergeming. Dia terus menatap wajah gadis itu tanpa berkedip. Sesekali tangannya bermain di wajah mulus Jessy. Dia seolah terhipnotis oleh wajah imut dan manis Jessy.


“Berapa aku harus membayarmu? Aku ingin pelayanan full service darimu?” Jessy mengkrejapkan kedua matanya. Telinganya hampir saja berdengung saat mendengar ucapan tak menyenanangkan dari mulut Alan.


“Apa maksudmu, Chef?” dia mendelikkan matanya. Tak percaya dengan semua tudingan yang dilontarkan tak menyenangkan itu.

__ADS_1


“Halah, kau tidak usah berpura-pura polos lagi di hadapanku. Katakan berapa harganya? Aku pasti sanggup membayarnya!” dia berkata sambil tangannya berjelajah kemana-mana. Membuat Jess bergerak ke kanan dan ke kiri karena tak bisa menahan geli.


“Aku benar-benar tidak mengerti! Sungguh aku tak mengerti maksudmu, Chef!!”


Srek!Tiba-tiba seragam depannya di robek paksa olehnya. Dia membuka secara paksa kedua area intip yang di tutupi oleh tangan Jessy.


“Argghh! Kau gila. Apa yang kau lakukan?” Jessy panik saat wajah Alan dengan leluasa menguasi kedua area miliknya. Alan bahkan mengecupnya secara bergantian. Dia seperti orang kerasukan tak bisa berhenti di area kedua milik Jessy itu.


Jessy meremasnya kasar rambut Alan. Dia berusaha menariknya. Dia tak ingin terlalu lama terjerumus. Dia tahu kondisi tubuhnya sendiri. Tak akan sanggup menahan godaan yang berhubungan dengan hal intim itu.


“A-Alan! Hentikan! Kau salah. Aku tidak seperti yang kau bayangkan!” Jessy memekik kencang. Dia berteriak sejadinya. Meronta agar terlepas dari dekapan Alan. Dia masih saja tak mendengarkan semua jeritan gadis itu. Dia seperti kehilangan akal. Jessy sudah hilang harapan.


“Aku mohon, Lan. Jangan lakukan itu, aku bukan wanita murahan. Aku tidak pernah sekalipun berhubungan intim sekalipun dia pacarku sendiri. Aku benar-benar menjaga semuanya, Lan. Menjaga sampai tiba saatnya,” ucap Jessy. Dia meraung keras. Menggigit bibirnya.


Alan tersentak. Dia benar-benar berhenti dari kegiatannya. Dia, manarik wajahnya dan melihat linagan air mata sudah tertumpah di pipinya. Dia sesegukan menangis. Alan merengkuh tubuh gadis itu dengan sangat erat. Dia sangat menyesal, hingga dia bisa gelap mata seperti tadi.


“Maaf, maafkan aku, Jessy! Sungguh, aku benar-benar minta maaf. Aku khilaf!” ucapnya. Gadis itu hanya bisa menangis dalam pelukannya.


“Kau benar-benar jahat, Lan. Apa salahku? Kenapa kau sampai tega menyakitiku seperti ini? Apa salahku, Lan?” Jessy yang sampai saat ini masih belum mengerti kenapa laki-laki itu bersikap arogan dan kasar terhadap. Rasa bencinya bahkan Jessy tak bisa menebak.


“Maafkan aku, aku janji, aku tidak akan melakukannya lagi. Aku mohon maafkan aku, Jess!” Alan terlihat lemah. Dia memegang erat kedua tangan Jessy. Berharap dapat pengampunan dari gadis itu.


Jessy belum bisa menjawab apapun. Dia terus saja menangis. Sampai satu jam berlalu akhirnya tangisnya mereda.


“Bajuku, robek!” ucapnya ketus. Kecut seperti mangga muda. Alan membuka lemarinya. Dia mengeluarkan satu seragam wanita, dan langsung memberikannya pada gadis itu.


“Gantilah!” ucapnya. Membalikkan tubuhnya. Dia tak berani lagi menatap wajah gadis itu. Perasaan bersalah masih menyelimutinya.


Alan sudah memantapkan hatinya. Dia, akan mencoba menarik simpati gadis itu. Dia ingin melupakan semua rencana yang sudah dia susun matang bersama dengan ibunya.


Maafkan aku, Jess. Mulai hari ini aku berjanji tidak akan membuatmu menangis, aku akan menebus semua kesalahanku padamu.

__ADS_1


***


Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...


__ADS_2