JESSYANA LOVE STORY

JESSYANA LOVE STORY
TAK BISA MENAHAN GODAAN


__ADS_3

“Oke. Kita bertemu besok malam saja, kebetulan ada yang ingin aku sampaikan padamu!” Josh menatap mata Jessy penuh arti. Sedangkan gadis itu hanya menggaruk kepalanya dan menguap.


“Oke, kau jemput  besok malam . Kebetulan, Jo memintaku datang ke pub langgananya itu. Kau tahu sendiri, aku tidak suka datang ke tempat seperti itu. Berisik!” keluhnya.


“Tak perlu datang. Aku  akan bilang padanya kalau kita juga ada acara!” protesnya. Hari ini dia sudah gagal. Josh tidak ingin melewatkan lagi harinya  untuk menyatakan cintanya pada gadis itu.


“Terserah, kau atur saja. Yang penting, dia tidak mengamuk hanya karena hal sepele padaku,” dia menarik kedua tangannya keatas, meregangkan otot-ototnya, sehingga terekspos dengan nyata belahan keduanya di mata Josh.


“Aku pergi!” dia segera berbalik tanpa mengucap sepatah kata lagi. Jessy langsung mentup pintu nya.


Dia baru saja menarik selimut dan akan merebahkan kepalanya di bantal saat bel rumahnya berbunyi kembali. Dia segera turun dari ranjangnya, “Ada apa lagi, Josh? Apa kau ketinggalan sesuatu?” matanya melonggo melihat orang di ambang pintunya. Sosok yang beberapa jam lalu di usirnya, kini sedang menatapnya dari rambut hingga ujung kaki.


“Ka-kau? Seda—,” dia mendorong masuk tubuhnya dan mengunci pintu apartemen Jessy.


“Apa kau benar-benar sudah tidak waras? Kau memakai pakaian seperti ini saat bersama dengan laki-laki bodoh tadi?” dengusnya. Matanya terus memicing dengan sangat tajam. Rahangnya  mengeras menahan emosi.


“Memangnya ada yang salah? Dia  itu sudah aku anggap seperti kakakk sendiri, dan kami pun mengenal sudah semenjak kecil!” Jessy berkata tanpa merasa dirinya salah.


“Aku sudah bilang padamu, dia menatapmu tidak sebagai seorang adik. Dia menatapmu sebagai seorang gadis. Apa kau masih saja belum menyadarinya?”  geram sekali Albertho menjelaskan soal perasaan Josh padanya. Karena gadis itu memang tak merasakan getaran apapun padanya.


“Sudah. Aku tidak mau mendengar lagi. Untuk apa kau datang? Bukankah seharusnya sekarang kau sudah sampai di rumah!” gerut Jessy menghampiri pintu dan akan membukanya.


“Aku kangen. Sepertinya aku tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini. Aku ingin tidur ditemani dirim!” Albertho mendekap erat tubuh  Jessy dari belakang. Berbisik lembut di telinganya. Membuat tubuh gadis itu merasakan suatu desiran yang dia sendiri tak bisa mencegahnya. Dia hanya diam ketika laki-laki itu mulai menyentuh kedua miliknya. Membuat seluruh tubuhnya kembali meremang.


“Pu-pulanglah. Aku benar-benar sangat lelah. Seharian ini aku baru saja pindah rumah dan belum sempat beristirahat!” dengan bibirnya yang bergetar, dia sekuat tenaga menahan gejolak yang sedang dia rasakan.

__ADS_1


“Aku janji tidak akan melewati batasan sampai kau sendiri yang memberikanku izin. Aku mohon, Jess!” ucapannya terngingang di telingga Jessy. Dia bahkan tak punya keberanian menolak permintaan laki-laki itu. Dia tak bisa menahan godaanya. Hanya menurut saat laki-laki itu mengangkat tubuhnya ke ranjang dan menarik selimutnya. Albertho melepaskan lingerie yang dikenakan Jessy. Menurunkan kepalanya pada kedua milik Jessy. Bermain disana, hingga Jessy tidur terlelap.


Jessy membuka matanya ketika dia mendengar getaran ponselnya di samping ranjang. Tangannya perlahan mengambil ponselnya. Dia melihat jam dalam ponselnya sudah menunjukan pukul dua belas.


“Astaga. Josh!” dia memekik saat Josh menelponnya.


“I-iya, hallo, Josh, ada apa?” suara Jessy terdengar panik. Apalagi telinga seseorang ikut terbangun saat Jessy menyebutkan nama seseorang. Dia menarik pinggang Jessy dan melingkarkan tangannya disana.


Jessy mendelik. Dia setengah sadar. Dia lupa kalau masih ada Albertho di ranjangnya. Albertho yang polos dan dia sendiri setengah telanjang hanya mengenakan kain tipis segitiga miliknya.


Kau benar-benar gila Jess! Sungguh! Apa kau salah minum obat! makinya pada diri sendiri. Dia sampai bisa melakukan hal segila itu. Dan dia membebeskan tubuhnya di lihat juga disentuh seseorang. Ya ... meskipun mereka tidak melakukan apa-apa. Dia  belum menyerahkan mahkota miliknya. Tetap saja ini merupakan hal gila. Dia yang selalu berprinsip kolot, tapi sekarang dia sendiri yang mengingkari.


“Apa kau sudah bangun? Aku sedang dekat dengan apartemenmu, mau kubelikan sesuatu untuk mengganjal perut!” saat di tanya seperti itu, perutnya langsung berbunyi. Membuat seberkas senyuman dari bibir Albertho.


“Tidak! Jangan kemari. Aku, aku ... ah, aku sedang diluar. Kembalilah nanti malam. Sesuai janji kita, kita bertemu nanti malam!” jelas Jessy sangat panik. Dia segera turun dari ranjang dan mengambil lingerinya. Memakainya dengan cepat. Dan berjalan mondar mandir saat menerima telpon Josh.


“Kau yakin akan menemuinya seperti itu?” kembali Jessy mendelikkan mata saat mengikuti kode dari tangan Albertho. Dia memberitahu beberapa stempel yang sudah dia tinggalkan semalam.


“Kau gila!” Jessy menghampiri lemari baju. Manarik sembarang  sweter hoodienya. Dengan cepat memakainya dan membukakan pintu untuk Josh.


“Ini!” Josh memberikan dia satu paper bag sambil menyungingkan senyum hangatnya.


“Terima kasih. Kau tidak bekerja?” Jessy maju keluar dan menutup pintunya. Mencegah Josh yang berniat masuk.


“Aku sedang break time. Aku mampir kesini sebentar karena aku yakin, kau pasti belum makan!”  tangan Josh reflek menarik hidung Jessy. Jessy tersentak dengan perlakuan manis Josh. Dia memang sering bersikap manis. Namun, Jessy merasa sikapnya kali ini berbeda.

__ADS_1


Jessy menghempaskan perlahan tangan Josh, “Sakit tau!” sambil menunjukkan wajah kerucutnya.


“Maaf deh. Ya sudah, aku kembali dulu. Langsung di makan, masih hangat!” dia melirik jam di tangannya. Berpamitan sambil kembali tangannya mengacak rambut Jessy dengan gemas. Membuat gadis itu melonggo dengan sikap Josh. Dan hatinya yang menjadi  setengah kacau di buatnya. Jika apa yang dikatakan Albertho benar. Dia masih belum tahu harus bersikap seperti apa dengannya.


“Ehem!” Jessy terkejut saat mendengar dehaman. Dan laki-laki itu sudah melipat tangannya di dada. Memandangi wajah gadisnya dengan kesal.


“E-eh, kau sudah bangun?” kikuk Jessy di buatnya hingga dia melenggang masuk tanpa memperhatikan sikap lelakinya yang sudah mati kesal karena cemburu.


“Aku pergi dulu, nanti malam aku datang lagi. Aku  ada janji pertemuan siang ini!” ucapnya tak di gubris oleh gadisnya yang tengah melamun.


“Jess, kau mendengarku?” kesal dia setengah menaikan suaranya satu oktaf, membuat Jessy melirik keberadaannya.


“Eh, apa?” dia memang sudah gagal fokus.


“Aku bilang nanti malam aku akan kembali menemuimu! Jangan kemana-mana karena aku akan menelponmu!” ucapnya menegadah tangan kehadapan gadis itu. Dia hanya menatapnya.


“Apa?” Jessy yang tak mengerti apa arti dari tangannya yang terulur.


“Ponselmu.”  Geram sekali dia menjawab.


“Po-ponsel?” masih saja Jessy menautkan alisnya. Namun, saat Albertho mendelikkan mata, reflek dia memberikan ponselnya.


“Aku akan menelponmu. Kita akan makan malam di luar. Ingat, kau milikku. Jangan sembarangan pergi tanpa izinku. Kalau tidak tanggung sendiri akibatnya!” nadanya penuh penegasan. Di telinga Jessy terdengar seperti ancaman.


***

__ADS_1


Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...


__ADS_2