
“Sebaiknya kau pulang saja, Jess!” Jonathan berkacak pinggang dihadapan adiknya. Mereka baru saja sampai di apartemen adiknya itu.
“Kok gitu sih? Misiku saja belum dimulai, masa sudah menyerah. Pokoknya tidak mau, Josh, tolong aku!” dia seperti kucing manja sudah menempel di lengan tameng tumbalnya itu.
“Aku sebenarnya mendukung Jo. Aku tidak ingin hal-hal buruk seperti semalam menimpamu lagi!” jujur Josh benar-benar tak bisa tenang kalau harus meninggalkan gadis itu hanya tinggal sendiri.
“Begini saja, aku kasih dua pilihan. Pulang bersamaku sekarang atau kau terima beberapa pengawal dariku!” cetusnya. Jonathan tak ingin kedepannya dia disalahkan. Walaupun dia tak pernah mengatur hidupnya dengan baik, bila berhubungan dengan adik kembarnya itu, dia sendiri yang akan turun tangan.
“Tuh kan mulai lagi, kau ini sama saja seperti papa dan papi. Tidak pernah percaya padaku. Selalu saja mengambil keputusan sendiri, aku ini sudah besar, JO! Aku bisa mengurus hidupku sendiri.” Nekad Jessy berkata lantang dengan kakaknya itu. Dia sungguh tak ingin menerima aturan dari siapapun. Dia sangat benci kalau harus diatur sampai hal-hal yang mendetail.
“Sekali saja, Jo ... kau percaya padaku. Memahamiku, aku tidak akan mencoreng nama baik keluarga. Aku hanya ingin kau tidak seperti papa dan papi,” Jessy menitikan air matanya memohon pada kakak kembarnya. Dia benar-benar berharap kakaknya mengerti apa yang dia rasakan.
"AARRGHH!” umpatnya. Dia menarik tubuh adiknya. Memenangkan tangisnya. Dia boleh tega pada wanita manapun yang dipermainkannya, tapi tidak dengan Jessy. Saat melihatnya sedih atau menangis seperti itu, dia akan berusaha membuatnya tetap tersenyum.
“Kau bisa membantuku mengawasi gadis tengik ini kan, Josh?” akhirnya dia menyerahkan tanggung jawab menjaga keselamatan adiknya ke tangan Josh.
“Kau tak perlu khawatir Jo, aku akan mempertaruhkan seluruh nyawaku. Asalkan dia tetap tersenyum,” ucapnya. Jessy melepaskan pelukan kakaknya. Menatap mata Josh yang begitu lembut saat menatapnya.
“Ahhh, Josh....” Jessy melompat kepelukannya. Dia sangat terharu mendengar ucapnya. Hatinya bahkan telah luluh oleh kata-kata manis yang Josh ucapkan.
“Sudah, jangan nangis lagi. Ada aku disini!” Jessy mengangguk pelan. Mendengarkan setiap perkataan yang terucap dari mulutnya.
“Hah, aku panas melihat kalian. Aku juga mau mencari sesuatu yang membuatku nyaman!" Jonathan pergi. Dia membanting kasar pintu apartemen adiknya. Tidak berkata apapun lagi setelah Josh mengambil alih tanggung jawabnya.
“Kau lapar? Mau aku buatkan sesuatu?” seketika dahinya berkerut seolah berkata, “Memangnya kau bisa?”
“Tentu saja aku bisa! Aku sudah mempersiapkan segalanya untukmu. Aku ingin selalu menjadi laki-laki yang bisa kau andalkan!” ucap Josh masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jessy.
“So sweet banget sih. Kau belajar gombalan seperti ini pasti dari kakakku!” cibirnya sambil berkerucut bibirnya.
“Belajar sedikit tidak apa-apa dong! Kalau kau juga senang, aku juga ikut senang!” dia hanya menganguk-anguk sambil mengikuti setiap gerakan ucapan yang keluar dari mulut Josh.
Josh benar-benar gemas dengan kekasihnya itu, tak sabar dia meraih wajah gadis itu yang masih meledeknya. Mengecup dengan hangat bibir gadis itu, “Malam ini aku menginap ya!” bisiknya lirih di telinganya, dia mengangguk perlahan. Josh yang sudah mendapat lampu hijau dari pacarnya. Mengangkat tubuhnya perlahan dan merebahkan di ranjang yang tidak jauh dari meraka.
“Jo-josh!” dia memanggil nama laki-laki itu yang tengah asik bermain di kedua miliknya.
“Apa boleh aku memanggilmu dengan sebutan sayang sekarang, Jess?” dia lagi-lagi mengangguk saat Josh berbisik lembut di telinganya. Josh mengkungkung tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Menatap wajah gadisnya yang terlihat malu-malu.
“Kau benar-benar kucing nakal, sudah membuatku khawatir. Jangan salahkan aku, jika menghukummu sekarang!” Josh berkata tanpa ragu dia melucuti pakaian yang di kenakan gadis itu satu demi satu tanpa ada penolakan darinya.
“Jo-Josh!” nafasnya tersengal. Dia mengigit bibirnya. Meremas rambut Josh dengan kasar.
__ADS_1
“Uhm!”
“Ja-jangan yang ituuuu, ituu untuk malam pertama!” ucapnya meremas seprai saat lidah Josh tepat bermain di area paling sensitif miliknya. Josh tertegun mendengar perkataan kucingnya. Dia pun tersenyum. Mengerti maksud dari perkataan gadisnya.
“Baik, aku tidak akan melakukannya, tapi kau keluarkan saja tidak usah di tahan. Oke?” ucapnya menyumbulkan kepala di antara kedua paha gadis itu. Dia yang sudah tak bisa menahan, hanya mengangguk pelan. Dan sedetik kemudian suara indah itu keluar dari mulut kucingnya. Membuat Josh sangat puas melihat wajah gadisnya saat mengeluarkan semua cairan hangatnya.
Jessy membenamkan wajah di dada Josh. Dia benar-benar malu. Dia menjadi berubah sejak pertemuannya dengan lelaki itu. Ya, Albertho telah mengubahnya menjadi gadis yang sedikit liar. Dia menjadi ketagihan akan sentuhan.
“Kau menyukainya?” bisiknya sambil membelai rambut dan mengecup kening gadis itu. Dia, menutup kedua wajahnya. Dia benar-benar malu berkata iya dihadapannya kekasihnya itu.
“Bilang padaku kalau kau sedang menginginkannya. Aku akan membantumu. Aku tidak ingin ada orang lain yang melihat wajahmu seperti tadi, ya!” Jess hanya mengangguk pelan. Namun, hatinya memaki dirinya berbohong. Dia bahkan sudah pernah melakukan sebelumnya dengan Albertho. Bahkan satu malam mereka dilakukan dengan saling membantu. Membantu saling memuaskan.
“Kita keluar mencari makan saja, ya. Sepertinya lain kali aku akan memasak untukmu.” Janji Josh, dia tak jadi memasak karena melihat wajah Jessy yang menggodanya tadi.
“Uhm, aku lapar sekali!”
“Kita mandi bersama, oke?” tawarnya.
“Tapi jangan macam-macam lagi!” suara imutnya malah menggoda keimanan Josh.
“Hah, kau ya. Benar-benar, sudah aku bilang jangan menunjukkan wajahmu yang seperti itu!” gerutu Josh kesal. Jess mana mengerti maksud perkataannya. Dengan wajah seperti apa dia harus menunjukan. Bahkan ketika dia bercermin pun dia masih belum mengerti kata-kata dari kekasihnya.
***
“Uhm. Besok aku juga sudah mulai bekerja. Semangat!” Jessy terlihat antusias menyambut pekerjaanya besok yang sebenarnya dia sendiri belum tahu pekerjaan apa yang berada di posisinya.
“Dimana?”
“Aku ikut magang di hotel Frist Night, dekatlah dari kampus aku hanya perlu waktu 30 menit sampai disana!” Josh hanya menatap gadisnya yang begitu bersemangat menceritakan tetang pekerjaan yang akan di mulainya.
“Ingat, baik-baik di sana. Jangan sembarangan bergaul dan aku peringatkan sekali lagi, wajahmu itu harus ketus pada semua laki-laki disana!” belum apa-apa Josh sudah keki sendiri saat membayangakan Jessy dekat-dekat dengan seorang laki-laki.
“Tuh, tuh, mulai lagi deh! Aku kan sudah bilang. Aku tidak suka kalau di atur. Aku pasti bisa menjaga diriku dengan baik!” cetusnya. Kembali dia menunjukkan bibirnya dengan bentuk kerucut.
“Loh, kalian ada disini juga?” suara seseorang memecah perdebatan. Mereka melirik kearah suara. Dan, Josh langsung memicingkan matanya dengan tajam saat melihat Alan sudah membawa tray makanannya. Berdiri di hadapan mereka.
“Alan!” pekik Jessy. Dia tersenyum menyambut laki-laki itu.
“Kebetulan sekali kita bertemu disini. Kalian sengaja datang kesini atau?”
“Eh, duduk sini!” Jessy menarik tray makan Alan. Membiarkan Alan duduk disampingnya.
__ADS_1
“Gimana-gimana tadi?” Jess mengulangi pertanyaanya.
“Kalian sengaja datang kesini untuk kencan?” tembak Alan tanpa basa basi. Wajah Jess langung merah padam.
“Yup! Tapi, tidak juga deh, kebetulan aku tinggal di apartemen depan itu loh. Beberapa blok dari sinilah,” cetus Jessy.
“Oh, apartemen Kenangan itu ya?” sahut Alan.
“Nah, kau tahu?”
“Kebetulan aku juga baru pindah dan malam ini barang-barangku baru datang!” jawab Alan.
“Wah, wah, jangan-jangan kita tetangga—an lagi? Kau di lantai berapa?” Jessy terlihat berbinar saat tahu Alan berada di tempat yang sama dengannya. Dia, jadi tak perlu merasa khawatir masalah keselamatannya. Karena kalau ada apa-apa dia pun bisa meminta bantuan saat Josh tidak bersamanya.
“Aku di lantai enam, kamar 405!” Josh langsung mendelikkan matanya. Kamar yang disebutkan Alan adalah kamar yang akan dia rencanakan sewa setelah dia pulang makan malam dengan Jessy
“OMG, heloooo!!” tiba-tiba Jessy berteriak dan mendapat delikan tajam dari Josh.
“Kenapa, Jess?” Alan menautkan alisnya.
“Itu kan kamar di sebelahku. Jadi kau—,” kini matanya berpaling pada Josh. Akhirnya dia mengerti delikan-delikan yang diberikan pacarnya itu.
“Ada apa Jess? Apa kamarnya bermasalah?” Jess melambai-lambaikan kedua tangannya.
“Tidak apa-apa, Lan. Eh, makan tuh nanti keburu dingin!” Jessy melihat Alan memesan sup untuk makan malamnya.
“Eh, iya. Aku makan. Kalian sudah selesai?” Alan melirik tray Jessy yang sudah bersih dipenuhi oleh tulang-tulang ayam yang berserakan dimana-mana.
“Iya, sudah, tapi, Josh sedang pesankan lagi. Yang masih hangat dan baru di goreng!” Jessy dengan wajar berbinar saat membicarakan ayam goreng kesukaannya.
“Ayam goreng? Kau suka sekali?” dia mengangguk cepat. Tak berapa lama pelayan menghampiri meja mereka. Memberikan satu cup jumbo ayam goreng, ice cream dan beberapa dessert, Alan dapat melihat dengan jelas semua pesanan karena plastik yang digunakan berwarna bening.
“Lan, kami duluan ya!” Jess beranjak dari duduknya saat Josh memberinya isyarat dan membawa semua pesanan Jessy.
“Ok!” Alan melihat kepergian Jessy yang bergelayut manja di lengan Josh.
Cih, mau wanita seperti apapun dia, darah yang mengalir di tubuhnya memang tak pernah bisa berubah. Dasar seorang pelakor. Alan memicingkan matanya. Rahangnya mengeras. Penuh dengan kemarahan dan dendam.
***
Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...
__ADS_1