JESSYANA LOVE STORY

JESSYANA LOVE STORY
DIGIGIT KUCING NAKAL


__ADS_3

“Hah, bagaimana aku bisa melakukan hal segila ini! Kau benar-benar gila!” Jessy mengacak rambutnya sendiri dengan kasar. Laki-laki tadi bangkit dari membenamkan wajahnya di bantal. Dia seperti tak menghiraukan ucapannya.


Dia bergegas ke kamar mandi yang hanya beberapa langkah dari ranjangnya. Kewarasannya  sudah mulai sadar. Jessy melirik bajunya yang tergolek di lantai. Menyentuhnya dan masih sangat basah. Dia pun mengingat kejadian beberapa jam lalu, bahwa dirinya tercebur kedalam kolam.


Astaga, Angelica dan teman-temannya sungguh melakukan hal licik itu. Dia kesal. Dan menyalahkan kebodohannya yang berdiri dekat pinggir kolam.


“Apa yang harus kukenakan? Josh pasti khawatir mencariku!” dia berguma dan terus berkeliling mencari keberadaan clouth yang berisi ponsel dan dompetnya.


“Bajumu basah semua, aku akan menyuruh seseorang untuk membelinya yang baru!” ucap Albertho yang benar-benar saat ini sudah waras. Namun, dia hanya menutupi aset miliknya dengan handuk.


“Kau, akh!” Jessy spontan menutupi wajahnya. Dia malu. Sepanjang usianya, pertama kali dia dihadapkan dengan laki-laki yang bersikap cuek. Seolah itu lumrah dan biasa untuknya.


“Ma-maaf, aku akan segera berpakaian!” dia menghampiri lemari bajunya. Jessy melirik tidak banyak pakaian disana.


“Uhm, daripada kau menyuruh orang untuk membeli yang baru dan akan membutuhkan waktu lama, bolehkah kau berikan saja aku satu pakaianmu!” cetusnya. Dia tak ingin berlama lagi di dalam kamar yang terasa asing bersama orang yang tak dia kenali.


Albertho melayangka pandangannya pada gadis itu. Selama ini bahkan dia tak sudi berdekatan dengan wanita manapun. Namun, malam ini dia malah melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Dia merasa sangat bersalah. Tanpa menjawab dia melemparkan satu kemeja miliknya.


“Terima kasih!” Jessy tanpa ragu mengambilnya, berbalik badan dan tanpa meminta izin dari laki-laki tadi, dia langsung masuk kamar mandi.


Dia keluar dengan kemeja kebesaran. Membuat jantung Alberto kembali lagi berdebar. Benar-benar sangat manis dan imut. Dia memalingkan wajahnya.


“Apa kau membawa clout-ku? Disana ada ponsel dan dompetku!” jawaban Albertho menggelang. Dia mana sempat memikirkan hal itu selain langsung membawa pergi gadis itu.

__ADS_1


“Ah, baiklah. Kalau begitu pinjami aku uang untuk ongkos taksi!” ucapnya membuat kening Alberto berkerut.


“Aku tidak mungkin naik kendaraan umum dengan penampilan seperti ini. Mereka pasti akan berpikir kalau aku wanita malam yang habis dicampakan oleh pelanggan. Jangan khawatir, Aku janji akan mengembalikannya. Kau bisa menuliskan nomor rekeningmu, setelah sampai rumah dan aku mendapatkan ponselku, akan akan langsung mentransfermu!” Jessy berkata panjang lebar menjelaskan. Namun, hanya gerakan kepala dan Albertho memijat kepalanya yang sakit karena penjelasan Jessy yang panjang.


“Hah, baiklah, kalau kau memang tak mau meminjamkannya. Setidaknya pinjamkan aku ponselmu, aku akan menelpon teman agar dia menjemputku!” ucapan terakhir Jessy membuatnya mendelik. Entah kenapa dada Albertho menjadi panas saat mendengar Jessy akan meminta seseorang untuk menjemputnya. Dia merasakan hal lain, seperti seorang yang tak senang jika barang yang dia sukai, sudah dimiliki orang lain.


Dia jadi mengingat pertemuan terakhirnya dengan Jessy. Ada seorang laki-laki yang bersama dengannya. Dan laki-laki itu terlihat sangat akrab dengannya.


“Tidak perlu!” sahutnya. Ucapannya kini membuat kening Jessy berkerut. Dia tak mengerti dengan kata-katanya.


“Maksudnya?”


“Aku sendiri yang akan mengantarkanmu!” cetusnya. Entah kenapa dia sangat enggan berpisah dengan gadis itu. Ingin rasanya dia menawan gadis itu untuk dirinya sendiri.


“Kau!” deliknya tanpa mampu berkata kemudian mencari sesuatu di lantai. Kunci kamarnya yang dia buang sembarangan.


Selama perjalanan Jessy hanya memperhatikan jalan. Dia bahkan tak menyadari kalau Albertho terus memandanginya. Jessy tak tenang. Dia  tak ingin Sabrina berkata macam-macam dengan Josh, dan Josh akan melaporkannya pada Jonathan. Kalau sudah sampai ketelinga Jonathan semua yang terjadi malam ini akan dibuat perhitungan olehnya dan tentu saja misi yang baru akan dia jalankan segalanya akan berhenti. Dia tak ingin kehilangan kesempatan itu.


“Soal yang tadi, aku meminta maaf!” ucap Albertho lirih.


“Ah, sudah. Lupakan saja! Aku tahu kau pasti tidak sengaja. Aku akan menganggap semuanya seperti digigit kucing!” celetuk  Jessy. Kembali membuat keningnya berkerut.


“Hah, rupanya kau sudah sering melakukannya dengan pacarmu itu ya? Jadi, kau menganggapnya biasa. Baiklah, baiklah, aku salah terlalu khawatir,” dengusnya kesal. Dia bahkan tak suka kalau dirinya disamakan dengan kekasih Jessy. Kekasih perkiraan Albertho.

__ADS_1


“Pacar? Maksudmu, aku? Sejak kapan aku punya pacar. Aku disentuh seperti itu baru pertama kali, dan pelakunya itu adalah kau!” kini Jessy terbakar emosi, seenaknya saja laki-laki itu menganggapnya seperti wanita murahan yang menjajakan tubuhnya.


“Lalu untuk apa kau tadi mau menghubungi dia?” Albertho seperti mendapatkan angin segar. Dia terlihat sengat senang ketika mengetahui gadis itu belum memiliki seorang pacar.


“Kau ini tuli atau memang telingamu tak berfungsi dengan baik. Aku kan tadi bilang mau menelpon temanku, dan Josh itu adalah temanku!” Jessy memberikan penjelasan. Mulutnya seperti tak terima atas tuduhan itu dan dia pun mengapa perlu menjelaskan dengan orang yang tak dia kenali, bahkan sampai detik ini, dia belum saling berkenalan.


“Owh, namanya—Josh! Lelaki bodoh itu!” cibirnya pelan. Dia sendiri sebagai laki-laki menyadari kalau Josh menyukai Jessy. Namun, Jessy sendiri tak peka dengan perasaan terpendam Josh.


Jessy mengkerucutkan bibirnya. Sebal. Lalu, memalingkan wajahnya kembali ke jendela. Entah setan apa yang menggerakkan tangan Albertho, dia menarik perlahan pinggang Jessy dan mendekap tubuh gadis itu. Dan, tubuh  Jessy tak menolak perlakuannya.


“Kalau begitu, aku akan bertanggung jawab. Karena aku sudah melihat semua milikmu, mulai hari ini kau pacarku!” perkatannya. Berbisik  lirih di telinga Jessy. Membuat wajah gadis itu langung memerah. Dan, dia tak menolak apapun perkataan Albertho. Seolah tak kuasa menerima hiptonis dari wajah tampan dan tubuh bidang Albertho yang tiba-tiba melintas di pikirannya.


“Bagaimana? Kau tidak keberatan kan?” dia bertanya kembali. Karena gadis itu masih saja terdiam saat menerima pernyataan cintanya.


“Berhenti dan keluarlah!” perintah Albertho pada sopirnya dan langsung dituruti. Dia membalikan tubuh gadis itu. Menatapnya lekat-lekat. Jessy masih tertunduk malu.


“Bagaimana? Kau setuju kan?” dia menyentuh kedua pipi gadis itu agar menegadah dan menatap wajahnya. Meraka kini saling bertatapan.


“Namaku, Albertho Terry, mulai hari ini kau resmi menjadi kekasihku. Dan , tubuh dan jiwamu itu hanya milikku. Aku pemiliknya, hanya aku yang bisa melihat dan menyentuhnya. Kau  mengerti!” kata-katanya seperti candu dan hipnotis yang tak bisa Jessy hindari. Dia seperti tersihir oleh kata-kata itu. Dan mengangguk perlahan secara tidak sadar.


Menerima persetujuan dari gadis itu, tanpa ragu Albertho menarik wajah gadis itu. Dia menaikan gadis itu kedalam pangkuannya. Dan sedetik kemudian, mereka terhanyut dalam pagutan bibir. Bibir mereka yang hangat dan bergelora.


***

__ADS_1


Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...


__ADS_2