
Empat jam berlalu. Jessy membuka matanya. Saat dia menggerakkan tangan, dia merasakan nyeri di pergelangan lengannya.
“Aw, sakit!” pekiknya.
“Kau sudah bangun? Bagaimana kondisimu?” suara seseorang yang tak dia kenali bertanya dengan penuh khawatir. Jess melirik kearah suara, matanya masih terasa buram. Dia mengecek keadaan sekitar. Bau obat-obatan langsung menyengat di hidungnya.
Dia melirik lengannya yang sudah di pasang oleh jarum infus, “Dimana aku?” dia mencoba menggerakkan tubuhnya. Orang tadi sigap membantu dan membenarkan posisi tubuh Jess hingga dia bersandar di ranjang bangsalnya.
“Aku membawamu ke rumah sakit terdekat. Maaf, aku membawamu kesini. Aku tidak tahu harus menghubungi kemana? Kau tidak memiliki identitas!” jelasnya. Menatap wajah Jessy. Ada sedikit rasa lega saat dia melihat gadis itu sudah siuman.
Jessy terdiam sesaat, dia masih mengingat kejadian beberapa jam lalu. Dia, dibekap dan dibawa dua orang ke suatu ruangan. Dan, mereka mencoba menodainya. Ingatan demi ingatan buruk beberapa jam lalu tersambung. Reflek dia hanya bisa mengeluarkan air matanya.
“Ma-mama!” tangisnya. Dia meraung dengan keras di ruangan itu. Seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu, dia menangis sejadinya.
Orang tadi memijat kepalanya. Dia merasa berisik saat mendengar tangisan cempreng Jessy. Namun, dia tak meninggalkan Jessy. Menunggu sampai tangisannya terhenti. Terkadang saat menatap gadis itu, mengembangkan senyuman yang tak di mengerti oleh siapa pun.
“Apa sudah puas kau menangis?” orang tadi memberikan Jessy satu gelas air. Dia sangat yakin Jess pasti kehausan saat mengeluarkan air matanya yang jika di kumpulkan mungkin ada seember penuh.
“Te-terima kasih!” Jess meraih gelas yang diberikan oleh orang tadi. Dia segera meneguknya. Tenggorokannya benar-benar kering karena tangisnya.
“Apa ada orang yang bisa aku hubungi?” dia berkata dengan sangat jelas. Tak ingin bertele-tele. Seperti anak kucing, Jess hanya mengangguk dengan cepat. Membuat seberkas senyuman tipis hadir di sudut bibir orang itu.
“Berikan nomornya, biar aku yang menghubungi! Atau kau sendiri yang sendiri saja yang berbicara dengan mereka.” Dia merogoh saku dan memberikan ponsel miliknya.
Kebodohan Jessy lain adalah, dia tak bisa menghapal nomor lain selain momor telpon dirinya sendiri. Dengan keyakinan dan juga putus asa. Dia menelpon ponselnya sendiri, berharap orang yang menemukan ponselnya dapat membantunya menelpon Jonathan atau Josh. Dia tak ingin kejadian semalam sampai terdengar ke telinga orangtuanya. Dia tak ingin membuat orangtuanya khawatir.
Satu kali deringan langsung tersambung dan di angkat,”Ha-hallo!” ucapnya bergetar. Dia seperti orang bodoh menelpon nomornya sendiri, dan akan meminta tolong pada yang menerima telponnya.
“Syukurlah! Dimana kau sekarang, Jess?” sahutan dari ujung telpon membuat Jessy menghempaskan nafasnya. Lega saat mendengar suaranya Josh yang menerimanya.
“A-aku, sepertinya di rumah sakit dekat pub, bisakah kau—,” telpon terputus. Jessy bingung dan memberikan ponselnya tadi pada orang di hadapannya.
“Terima kasih!” dia menerima ponsel yang diberikan oleh Jess.
__ADS_1
“Baiklah, karena sudah ada orang yang akan menjemputmu, sebaiknya aku pergi!” dia berbalik badan. Namun, Jess menarik bajunya. Dia menatap wajah orang yang menolongnya itu.
“Na-nama-mu siapa?” pertanyaan yang tak masuk akal terdengar di telinga orang tadi. Rasanya dia gemas sendiri saat mendengar Jessy bertanya sambil menunjukkan wajah imutnya.
Astaga, gadis ini benar-benar ya. Apa dia tak tahu wajahnya itu sungguh membuatku gemas. Andai saja dia boneka, pasti sudah kupeluk. Orang itu berbicara dengan hatinya sendiri.
“Alan, kau bisa memanggilku dengan nama itu,” dia berbalik badan dan tersenyum. Mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri.
“Jessyana, namaku, Jessy, kau bisa memanggilku, Jessy, Jess, atau apapun,” sahut Jessy. Dia menerima jabatan tangan dari Alan.
“Uhm, tunggulah sebentar lagi. Mereka pasti akan datang!” baru saja dia berkata, pintu sudah di dobrak masuk oleh dua orang yang berlarian dengan sangat cemas.
“Kau tidak apa-apa?” Josh yang benar-benar seperti kehilangan nyawa. Debaran jantungnya semalam mendadak lenyap saat mencari Jessy ke toilet yang lama tak kembali. Dan, dia menghubungi ponsel gadis itu sudah tergeltak di lantai bersama tas yang dia kenakan.
Josh memeluk erat tubuhnya. Dia, kini bisa bernafas dengan lega lagi, “Kau sungguh membuatku benar-benar ketakutan, kucing!” dia memanggil nama kesayangan mereka. Dan mengusap punggung gadis itu.
“Aw, Josh, sesak tahu!” keluhnya. Josh segera melepaskan pelukannya.
“Kalau kau sampai tidak ketemu siang ini, aku akan melapor pada papi dan papa!” Jonathan berkata dengan sangat keras, membuat adik kesayangan itu kembali meneteskan air mata.
“Kau!” delik Jonathan. Namun, pandangan matanya teralih pada seorang laki-laki yang sedaritadi menyaksikan pertunjukan kecil mereka.
“Siapa kau?” dengus Jonathan. Tak bersahabat. Entah kenapa dia tak menyukai laki-laki dihadapannya itu. Josh yang sadar ada orang lain di ruangan itu selain mereka melirik.
“Alan, namaku, Alan!” dia mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Jonathan. Josh bangkit dari ranjang kucingnya. Menatapnya dengan tatapan hampir sama dengan Jonathan.
“Hei, kalian tidak boleh menatapnya seperti itu. Dia, Alan, orang yang sudah menolongku. Kalau tidak ada dia semalam mungkin aku—,” Jessy menatap sedih kakak dan pacarnya itu. Dia tak ingin keduanya salah paham saat menatapnya.
Keduanya mencoba meredam amarah yang berkobar. Jonathan merasa ada sedikit keanehan pada kejadian semalam. Saat dia meminta pihak pub memeriksa CCTV, tak seorang pun dari Josh atau pun Jonathan mendapatkan gambaran wajah orang itu terekam. Bahkan kejadian semalam yang menimpa adiknya seolah tidak ada.
“Oh, maaf, aku tidak tahu Jess. Aku, Jonathan, kakaknya Jessy!” akhirnya Jonathan menjabat uluran tangannya. Dan menyembunyikan apapun yang harus dia selidiki lebih dalam. Alan hanya mengangguk pelan saat menerima genggaman cukup kuat di tangannya. Ini adalah kode alam dari seorang laki-laki kalau dia tak menyukainya.
“Josh—pacar Jessy!” tanpa tedeng aling aling, Josh segera memberikan blokir untuknya. Dia tak ingin melakukan kesalahan lagi sampai harus membuat kucingnya disukai oleh orang lain saat menatap wajah lucu dan imutnya itu. Kembali Alan hanya tersenyum saat mendengar ucapan-ucapan mereka yang tak berarti apapun baginya.
__ADS_1
“Baiklah, karena kalian sudah ada disini, aku pamit!” dia berbalik badan akan meninggalkan ruangan. Namun, Jess menarik selang infusnya. Turun dari ranjang dan mengejarnya. Kedua orang itu sempat terkejut, tapi tak bisa mencegah keinginannya.
“Alan, tunggu!” Jessy berlari memegangi dadanya. Dia berbalik dan melihat gadis itu yang tak memperdulikan dirinya. Dia berlari tanpa alas kaki.
“Berikan nomor telponmu!” ucapnya membuat kening Alan berkerut.
“Aku akan mentraktirmu sebagai ucapan terima kasih, ayo berikan!” ucapnya. Tangannya terus menengadah.
“Tidak perlu, Jess. Aku kan hanya kebetulan lewat saja!” dia menolaknya.
“Tetap saja, kalau tidak ada kau mungkin saja aku sudah ...,” Alan memberikan ponselnya. Sedetik kemudian gadis itu dengan sangat serius memasukan nomor telponnya dan memberikan panggilan di nomornya.
“Eh, haloo!” Jessy yang melonggo. Josh menerima telpon darinya.
“Ya ampun, aku lupa!” dia menepuk jidatnya sendiri sambil memberikan ponselnya.
“Kenapa, Jess?” sahut Alan dengan kening berkerut melihat tingkah konyol dan lucu Jessy.
“Aku kan tadi meminjam telponmu untuk menelpon nomorku. Aku benar-benar dong dong!” Jessy mengaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menunjukkan sederet giginya.
“Hah!” Alan hanya bisa mengelangkan kepala melihat tingkah Jessy yang benar-benar bodoh, tapi menggemaskan. Membuat suatu desiran aneh di jantungnya saat melihat wajah gadis itu yang imut.
“Oke. Aku pergi dulu ya!” kali ini Alan berbalik badan dan benar-benar pergi dari hadapan Jessy.
Saat Alan membuka pintu mobilnya, dia merasakan ponsel disakunya bergetar. Menutup pintu mobilnya dengan kencang dan mengangkat telponnya.
“Bagaimana hasil karya kami semalam, Bos?” Alan melirik spion mobilnya. Mematikan ponselnya.
“Kerja bagus! Ini bayaran kalian, setelah ini kalian menghilanglah dari negara ini!” Alan melemparkan satu buah amplop yang cukup besar. Mereka saling melirik isi di dalamnya.
“Beres, Bos. Kalau ada kerjaan lagi jangan lupa kontak kami. Kami pasti dengan senang hati membantu!” ucapnya. Mereka berdua keluar dari mobilnya.
Ini baru permulaan, Jess. Aku harap kau akan suka menerima kado-kado istimewa dariku.
__ADS_1
***
Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...