
“Ehem!” Alan mendekati mereka. Merelai sengatan listrik yang berada dalam mata Jessy dan Donny.
“Chef!” Donny mundur selangkah, dan menundukkan wajahnya.
“Kau memukulnya?” Alan akan menyentuh pipi Jessy. Namun, kepala gadis itu segera mengalak. Dia menjadi tak sudi di sentuh olehnya.
“Maaf, Chef, saya terbawa emosi karena dia membantah ucapanku!” jelas Donny sedang menbela dirinya. Jessy hanya mengepal erat kedua tangannya.
“Ada yang ingin kau katakan sebagai pembelaan?” Alan melayangkan pandangan wajahnya pada gadis itu. Namun, kali ini Jess tak mengubrisnya. Dia, diam seribu bahasa.
“Baiklah, kau kembali bekerja!” ucapnya datar menatap Donny. Dia bahkan tak menegur atau memarahi laki-laki itu karena sudah memukul seorang wanita.
“Dan, kau—,” belum sempat Alan melanjutkan ucapnnya. Jess berbalik badan, dia mengambil sapu dan membersihkan pecahan piringnya, lalu dia kembali menyelesaikan sisa tugasnya.
Alan hanya bisa menatap gadis itu. Ingin sekali dia menarik tangannya dan mengobati lebam di pipinya, tapi dia urungkan karena melihat wajah gadis itu yang masam. Hingga saat mereka pulang tak ada lagi kejadian yang menggemparkan. Ya menggemparkan bagi mereka karena ini kali pertama dalam sejarah anak magang berani melawan atasan.
Jessy keluar sambil meregangkan tubuhnya yang terasa remuk. Tubuhnya seperti dilindas buldozer. Ngilu dan nyeri.
Dia tak berani menghubungi Jonathan. Dia takut kejadiannya saat ini menjadi bumerang baginya. Itu seperti kamikaze baginya. Sampai ke telinga Jonathan berarti menyuruh papa dan papi menghancurkan tempat kerjannya. Jessy tak mau itu.
“Ikut aku!” Jess tiba-tiba di seret paksa masuk ke dalam mobil Alan sebelum gadis itu berkata tidak, Alan sudah memasangkan sabuk dan membanting pintu mobilnya keras-keras.
Ada apa lagi sih? Apa otaknya gesrek sampai dia bersikap ini padaku. Jessy terus mengumpat laki-laki disebelahnya. Dia terlihat fokus saat memegang kemudi. Tampilannya sudah berubah, tanpa seragam. Hanya menggunakan kaos oblong dan celana beggie skeater membuatnya terlihat sangat modis menunjang wajahnya yang memang sudah sangat tampan.
Jess masih memalingkan wajahnya keluar jendela. Tak ingin menatap kearah laki-laki di sebelahnya. Dia menghentikan mobilnya, turun dan membukakan pintu untuk Jessy.
“Keluarlah!” ucapnya seperti perintah yang harus ditaati. Jess bungkam. Dia malah memalingkan wajahnya ketika laki-laki itu bicara.
__ADS_1
“Argghh!” pekik Jess, tubuhnya tahu-tahu sudah di tarik keluar oleh Alan.
“Lepaskan!” Jessy memekik. Menghempaskan cengkraman Alan di lengannya.
“Kau gila! Untuk apa kau bawa aku kemari!” Jessy tak mau diam. Dia terus melancarkan omelannya pada laki-laki itu.
“Kau masih marah padaku?” ucapnya enteng dan datar. Membuat telinga Jess yang mendengar menjadi murka. Ingin sekali Jess melempar sepatu yang dia pakai ke wajahnya.
“Hei, aku bilang apa kau masih marah padaku?” seperti tanpa dosa Alan berkata. Menyentuh pipi Jess yang masih terasa ngilu. Dia menyerinyit ketika tangan dingin Alan menyentuhnya.
“Untuk apa kau bertanya padaku. Bukankah kau tak mengenalku? Untuk apa sekarang kau pura-pura baik padaku? Katakan dengan jelas apa maksud dan tujuanmu itu?” majleb Alan mendengar muntahan lahar panas dari Jessy. Dia benar-benar tak menyangka gadis itu akan senekad dan seberani itu padanya. Dia tersenyum kecut. Setengah bangga dengan kegigihan semangat gadis itu.
“Kalau aku bilang, aku maunya kamu. Aku hanya ingin kamu menjadi milikku seorang. Selamanya. Kau hanya akan menjadi milikku, apa kau akan percaya?” Jess bagai tersambar petir di malam bolong. Bisa-bisanya laki-laki berkata hal menyebalkan di telinganya. Dia tak habis pikir, ternyata di dunia ini banyak sekali orang yang berperilaku buruk juga jelek seperti iblis Albertho.
“DIAM! DIAM!! Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan sampahmu itu. Ck,ck, sunguh menyebalkan bagaimana aku sampai bisa bertemu denganmu dan berhutang budi. Katakan padaku, berapa harga yang kau minta atas pertolonganmu saat itu. Aku akan melunasinya. Aku tidak ingin mempunyai hutang apapun dengan orang seperti dirimu!” duar duar dor dor dor bagai bom Hirosima dan Nagasaki, mulut Jessy tak berhenti. Hatinya sangat kesal. Mengapa dia seolah merasa sedang di permainkan oleh keadaan.
Sungguh benar-benar gadis manis, imut, lucu dan sangat menggemaskan. Mengapa kau memiliki paket komplit yang kumau, tapi aku tak aka pernah bisa memilikinya. Benar-benar menyebalkan. Dengusnya.
“Aku capek, lapar dan mau tidur. Antar pulang sekarang!” perintah selanjutnya yang keluar dari mulut gadis itu membuat Alan terkekeh geli. Dia benar-benar tertawa terbahak melihat tingkah polah lucu Jessy.
“Berhenti! Aku bilang berhenti. Kau, jangan tertawa lagi!” kini Jessy murka kembali dan berkacak pinggang di hadapannya.
“Hahahah! Sudah Jess, perutku sakit!” dia bahkan sampai mengeluarkan air mata saat menertawai gadis itu.
“Kita cari makan dulu, ya!” dia mengusap kepala Jessy seperti anak kucing. Jessy yang seperti terhipnotis hanya menganggukan kepala. Jessy seolah melepaskan kepenatan tadi saat dia bekerja. Semua rasa gondok, kesal, benci dan amarahnya langsung menghilang. Jess memang sangat mudah meledak-ledak. Namun, dia pun sangat mudah untuk diredakan.
Bisa-bisanya ada modelan gadis seperti. Hatinya tercipta dari apa? Bahkan dia tak mengungkit soal tamparan yang dia terima. Biasanya para wanita pasti akan merenggek saat menerima perlakuan buruk seperti tadi.
__ADS_1
Jessy makan dengan sangat lahap. Bahkan sebagai gadis yang dibesarkan dengan harta yang berlimpah. Dia tak terlihat seperti gadis anggun dan selalu menjaga imej-nya.
“Aku masih mau tambah ice cream!” tanpa basa basi dia meminta pada Alan. Dia yang memang hanya memandangi gadis itu makan. Alan melambaikan tangannya dan menuruti kemauan Jessy. Memesan ice cream.
“Mbak, boleh minta extra topping?”
“Boleh, kakak. Extra toppingnya apa?”
“Aku pesan strawberry purenya di pisah pakai extra jumbo cup, dan untuk tambahan biayanya kau bisa menangihnya. Berapa pun pasti dia akan bayar!” cetusnya. Membuat Alan mendelik dan mengeleng-gelengkan kepala. Namun, lagi-lagi dia hanya menuruti kemauan gadis itu.
“Apa kau akan menghabiskan itu semua?” kini Alan tidak yakin perut kecilnya itu dapat menambung dalam porsi yang cukup besar.
“Tentu saja! Aku biasanya malah minta dua cup jumbo!” sambil menunjukkan dua jarinya kehadapan wajah Alan. Membuat Alan melonggo dan memundurkan tubuhnya. Gadis itu seperti akan mencolok matanya saat menunjukan kedua jarinya itu.
Astaga, aku benar-benar sudah gila. Bisanya aku menuruti kemauannya yang tak masuk akal. Alan memijat dahinya yang berdenyut sakit saat membayangkan kembali semua celotehan yang keluar dari mulut Jessy. Jessy diantar sampai depan pintu kamarnya.
“Terima kasih!’ ucapnya sambil menderetkan gigi putihnya. Sebelum gadis itu benar-benar menghilang dari pandangan Alan.
Alan menutup pintu kamarnya. Menyalahkan lampu ruangannya yang gelap. Dia kembali masuk pada suasana hening dan sunyi. Dia benar-benar merasakan perbedaan. Saat tadi dia bersama dengan gadis itu suasana hatinya terasa sangat hangat. Atmosper gadis itu memberikan suasana ceria dan penuh semangat.
Dia mengingat seulas senyuman yang tergambar di wajah gadis itu. Kembali dia memegangi dadanya. Jantung berdebar dengan sangat cepat. Wajahnya merona merah.
Kau gila, Alan. Jangan bilang kau sekarang sudah menyukai gadis itu. Gadis bau kencur yang baru beberapa hari kau kenal. Hah, benar-benar gila. Aku tidak boleh terlalu dekat dengannya, kalau tidak aku tidak akan sanggup lagi untuk menahannya.
Alan membaringkan tubuhnya. Tetap saja bayangan wajah gadis itu tidak bisa hilang dari pelupuk matanya. Bertengger menggodanya. Menari-nari di atas kepalanya. Sampai dia bersikap seperti orang gila. Dia menghamburkan tangannya keatas. Menghilangakan semua pikiran-pikirannya yang berterbangan.
***
__ADS_1
Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...