JESSYANA LOVE STORY

JESSYANA LOVE STORY
PETAKA PIRING PECAH


__ADS_3

Wajah Alan terlihat sangat puas ketika orang itu memaki dan mempermalukan gadis itu di depan semua orang.


“Mungkin dia sedang mencari perhatian, Mr Alan, Chef!” celetuk salah seorang diantara barisan itu. Jessy tak berani lagi berulah lagi. Dia hanya diam, menundukkan kepalanya. Ingin sekali rasanya Jess berbalik dan mengutuk balik orang yang meneriakinya tadi.


“Oh, ya? Apa kau sedang mencari perhatian denganku?” cetus Alan datar. Dia berkata sangat dingin. Tidak seperti Alan yang dikenalnya ramah dan tersenyum saat menatap Jess. Alan berdiri dihadapannya dan melipat kedua tangannya di dada.


Jessy menarik wajahnya. Entah Jessy merasa salah lihat atau tidak, tapi sorot mata Alan dihadapannya kini seolah penuh kebencian padanya. Alan seolah tak mengenalnya.


“Hah!” terdengar dengan jelas helaan nafasnya itu dihadapan Alan. Alan sempat terkejut melihat respon gadis itu. Alan berpikir gadis itu akan bersedih atau malahan menangis saat mendengar seseorang meneriakinya.


Bodoh sekali kau, Jess. Ini kan di tempat kerja. Mana mungkin ada perlakuan khusus padamu, walaupun kau mengenalnya. Pikir Jess.


“Maaf, Chef! Saya tadi sedang melamun jorok!” jawaban yang membagongkan terdengar di telinga Alan. Hingga membuat seluruh peserta training saling berbisik. Mereka berpikir kegilaan apa yang sedang dilakukan Jessy.


Alan menghampiri Jessy, dia benar-benar sudah dihadapan gadis itu. Seolan Alan akan menerkam dirinya. Dia menundukkan kepala, dan, “Apa yang kau lamunkan itu, cerita dengan detail nanti di ruanganku!” bisiknya penuh penekanan. Jessy mendelikkan  matanya. Benar-benar tak menyangka akan mendapatkan jawaban yang diluar dugaannya. Padahal dia hanya ingin membalas umpatan orang yang meneriakinya.


“Baik, semua kembali bekerja. Untuk masing-masing tugas kalian akan di bagikan oleh Aschef Donny. Dan kau, ikut ke ruanganku!” tegas Alan memberikan perintah kepada semua anak magang. Kaki Jessy terasa lemas. Ingin rasanya dia menjatuhkan dirinya ke lantai. Namun, ucapannya tadi berujung kesialan. Dia harus berhadapan dengan masalah tak terduga di hari pertamanya bekerja.


“Arghhh! Mulutku, mulutku! Kau sungguh pembuat masalah!” Jessy bergerutu sambil tangannya memukuli mulutnya sendiri. Dan, lagi-lagi dia menabrak. Kali ini dia menabrak punggung Alan yang tiba-tiba berhenti mendadak.


“Ma-maaf, Chef!” dia membungkuk dan meminta maaf. Alan hanya menarik sudut bibirnya dengan kecut. Membuka ruangannya dan mengunci pintunya dengan rapat. Ruangan kedap suara yang dia minta. Siapapun tidak akan yang tahu apa yang mereka lakukan didalam, karena suara angin pun tak akan terdengar.


“Jadi, kau bisa ceritakan secara detail soal lamunan—mu itu tadi?” Alan menatap Jessy dengan tajam dari sofanya. Dia masih melipat kedua tangannya di dada. Tak membiarkan satu gerakan lolos dari matanya itu saat dia memperhatikan gadis itu.


“Ya ampun, Alan, sudah dong!” akhirnya dia mengeluarkan suaranya yang sejak tadi dia tahan. Dia ingin sekali meneriaki laki-laki itu saat melihatnya berdiri yang tidak jauh dari hadapannya.

__ADS_1


“Apa maksudmu?” Alan berang saat mendengar Jess memanggil namanya begitu saja. Dia bersikap dingin terhadap gadis itu, seolah tak mengenalnya.


“Opss, ma-maaf, Chef!” kembali dia terdiam. Membungkukan tubuhnya berkali-kali.


“Apa aku memanggilmu untuk melakukan itu, hah? Aku bilang kau harus menceritakan dengan detail lamunanmu itu. Kalau tidak aku akan menghukummu!” hardiknya. Lidah Alan benar-benar setajam pisau. Tiba-tiba, Alan sudah berada dihadapannya. Mencengkram wajah Jessy dengan kasar.


“Agk, aw, sakit!” ringisnya.


“Katakan padaku, apa yang kau lamunkan?” deliknya. Sedetik kemudian entah kenapa tubuh Jess bergetar ketakutan. Tubuhnya seperti merasakan ketakutan yang tak bisa dia jelaskan. Sekelebat, samar dia melihat wajah Albertho pada sosok Alan. Sosok iblis Albertho yang pernah dia tunjukan padanya


Nafasnya tiba-tiba bergetar dengan sangat cepat. Sedetik kemudian gadis itu melemah, memegangi tubuh Alan. Dia mencoba mencari sandaran sebelum dia benar-benar pingsan.


Alan tersentak saat mendapati tubuh gadis itu bersandar di dadanya. Ini kedua kalinya dia melihat gadis itu terlihat lemah dan tak berdaya. Dia seolah melihat sosok ibunya yang menderita, lemah dan tak berdaya saat menjalani kehidupannya.


Dia duduk di ujung sofa memandangi lekat wajah gadis itu. Semakin dia menatapnya, semakin perasaannya kacau. Dia bahkan tak bisa menahan debaran jantungnya yang seolah ingin melompat keluar.


Cih, benar-benar merepotkan. Bisa-bisanya jantungku berdebar seperti ini. Ingat Alan, dia wanita busuk. Penghancur rumah tangga. Kau harus menghancurkannya sampai berkeping-keping.


Alan mengepalkan erat kedua tangannya. Menguatkan kembali hatinya agar dia tak goyah oleh perasaan sentimentilnya.


Byuurr!Alan menyiram segelas air di wajah gadis itu. Jessy yang kelabakan. Dia sadar dari pingsannya.


“Pergi kau!” usirnya. Jessy tersentak mencoba berkompromi dengan tubuhnya agar dia bisa kembali normal seperti sediakala.


“Ba-baik, Chef!” Jessy melesat cepat keluar dari ruangannya. Mengusap wajahnya yang masih basah dengan kedua tangan. Dia segera kembali ke ruangan kerja bersama teman magang lainnya.

__ADS_1


“Hei, kau!” Ashef Donny memanggil Jessy.  Dia pun menurut.


“Cuci semua piring-piring itu!” perintahnya menunjuk bak cucian piring yang sudah penuh dengan puluhan piring.


“Ba-baik, Chef!” dia berjalan ke bak cucian. Sejenak dia hanya bisa mengusap dadanya. Dia benar-benar tak menyangka dunia misi kerja yang akan dia lakukan akan menjadi berat seperti ini. Selain itu dia pun masih berpikir mengapa Alan menatapnya seperti tadi. Dia sungguh tak mengerti apa kesalahan yang sudah dia lakukan sampai Alan menatapnya dengan tatapan kebencian.


Prang!Satu piring terlepas dari tangan Jessy. Membuat semua orang meliriknya. Termasuk Alan yang diam-diam memperhatikannya.


Memang anak manja. Baru mencuci segitu saja sudah membuat piringku pecah. Alan berkomentar jahat di hati.


“Jessy! Apa yang kau lakukan? Satu piring itu, sebulan gaji magangmu itu tak akan cukup untuk menggantinya!” Aschef  Donny berteriak. Memekakan telinganya. Membuat tubuhnya bergetar ketakutan.


Jangan menangis, Jess. Jangan menangis! dia berusaha menguatkan hati.


“Ma-maaf, Chef. Aku ganti, aku ganti! Kau bisa memotong semua gaji magangku untuk menganti piring yang pecah!” Jess berbicara lantang. Menatap wajah aschef Donny. Dia memang salah, tapi seorang pun tak berhak bersikap kasar atau berteriak seperti tadi. Dia masih berpikir, kalau dia bisa berbicara baik-baik dengan gadis itu.


Satu tamparan keras melayang di pipinya. Membuat satu tanda merah membekas. Perih terasa. Dia mengepalkan tangannya, ingin sekali dia membalasnya. Namun, hatinya terus berkata untuk menenangkan hati.


“Aku bilang akan menggantinya, Chef! Jadi, kau tak perlu melakukan hal se-ektrim itu padaku!” dia terbakar amarah. Akhirnya dia tak hanya tinggal diam.


Alan menatap keberanian gadis itu. Rupanya kau berani melawan juga!


***


Halo, terima kasih sudah mampir di novel terbaruku. Jangan lupa tinggalkan like, komentar terbaikmu, love dan rate 5-nya ya. Dukungan dari kalian sangatlah berharga untukku. Ada novel lain yang berjudul, "Mr. Arrogant's Baby" jangan lupa mampir ya, di jamin sama serunya loh...

__ADS_1


__ADS_2