
"kak, sampai kapan kamu diam terus? Emang hatimu terbuat dari apa sih?" Ucap viona.
Erik masih diam sedikitpun tidak melirik arah Micel, sekarang dia pindah tempat duduk arah paling belakang.
Viona terbangun dari tidurnya, melihat sahabatnya duduk sendirian didepan dilihatnya tidak ada keberadaan Erik.
"Mana pak Erik? Kenapa Micel sendirian? Apa yang terjadi!" Tanya Viona.
"Erik ada di belakang, tenang! dia tidak akan kemana-mana. Apa kamu mengkuatirkan dia?" tanya Cikoza.
"Tidak."
Viona beralih pandangan ke depan, melepas pengamanannya berjalan mendekat Micel.
"Kamu kenapa? Cerita kalo ada Masalah!" Tanya Viona.
"Nggak, gue ketiduran tadi efek masih ngantuk jadi gue menguap terus keluar air mata dikit, loh kenapa kesini? Kembali gih... Dekat Cikoza Pepet terus Cikoza jangan Sampai lepas" ucap Micel.
" Gila loh, emang gue cewek apaan? Ingat, Sampai kapanpun gue nggak akan jatuh cinta sama pria kaya dia!"
"Oh... Maunya kayak Dion, ingat dia suami orang!" Ledek Micel.
"Apaan sih... Nggak semua harus tentang dion, Gue sudah ikhlas dan tidak ada niat lagi untuk hidup bersama dia. Sekarang gue udah move on nggak mau lagi pacaran pengennya temanan dulu langsung nikah gitu!"
"Ha... Haaa..." Micel tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata menikah, ternyata Viona sudah ada niatan nikah muda.
"Ada yang salah? Gue udah males pacaran. Oh yah... Gimana kabar Mr.E yang loh ceritain dulu?" pertanyaan Viona membuat Tawa Micel mulai mudar saat mempertanyakan Mr.E.
"Orangnya masih baik-baik saja, tapi kami sudah lama tidak berhubungan, karena itulah gue paling suka jika ke Bar biar perlahan melupakan dia" Jawab Micel.
Jet sudah mendarat, semua yang ada di didalam keluar, Cikoza membawa pengawal untuk membawakan semua kebutuhan dia dan anak buahnya.
Mereka menaiki mobil, menuju hotel sudah dipesan oleh Erik, berjalan menuju kamar hotel! Saat berjalan Viona kepeleset hampir saja jatuh, Erik dengan cepat menangkap badan Viona agar tidak terjatuh kelantai.
Saat melihat Erik dan Viona berpelukan Cikoza melihatnya ada rasa cemburu, tapi dia menepisnya tidak boleh cemburu.
__ADS_1
"Terima kasih pak, sudah menolong saya! Kalo nggak di tolongi pasti saya sudah jatuh kelantai" ucap Viona.
"Yah... Kita memang harus saling tolong menolong bukankah begitu bos?" Jawab Erik.
"Emm... Ayo kita kita istirahat, biar kalian lebih fresh ketika bangun besok! Satu lagi besok kita ke tempat wisata" ucap Cikoza sesekali matanya menatap kearah Viona.
Mereka masuk kamar mereka masing-masing kecuali Viona dan Micel memilih untuk satu kamar saja. Saat terbaring membuka layar ponsel baru ingat jika dia lupa memberi tahu mama dan papanya jika dia langsung pergi ke Korea.
Dia mengetik pesan di ponselnya memberi tahu mama dan papanya jika dia sudah berada di Korea, hati Viona merasa lega, memejamkan mata s
**********************
"Pa... Viona baru beri kabar, dia sudah di Korea sekarang! Hebat juga dia" ucap mama Viona.
"Iya ma, tapi sampai kapan kita rahasiakan ini dari Viona, bagaimana pun dia harus tahu siapa dia sebenarnya! jangan sampai dia tahu rahasia sebesar ini dari orang lain, pasti dia sedih banget bahkan dia akan membenci kita" ucap papa Viona.
"Ya pa, mama juga ingin banget memberi tahu dia! Tapi papa tahu sendiri keadaannya tunggu dia selesai magang kita beritahu siapa dia sebenarnya" jawab mamanya.
******************************
"Kamu nanya? Salah alamat, yang di tanya itu ke diri sendiri bukan gue" ucap Micel.
"Yah... Benar banget kata orang musuh terbesar dalam hidup adalah diri kita sendiri" jawab viona.
Viona berdiri dari rebahan nya, menuju kamar mandi karena dari Kamarin dia tidak mandi badannya sudah bau apek keringat, berbeda dengan Micel sudah selesai dia juga sudah berdandan cantik.
Waktu Viona masih tidur, ada Erik mengetuk pintu kebetulan Micel yang membukanya.
"Pukul 9 kita ke mall bantu bos mencari hadiah untuk anak tuan Lee" ucap Erik pada Micel.
Deg.... Deg... Suara jantung Micel saat Erik bicara langsung padanya. Micel sangat senang sampai sekarang bawaan senyum sendiri.
Viona sudah selesai mandi melihat Micel yang senyum sendiri, di atas tempat tidur.
"Loh kenapa senyum sendiri? Perasaan semalam loh Ngan kek gini" tanya Viona.
__ADS_1
"Ngan biasa aja! Mungkin bawaan di Korea aja" ucap Micel.
Viona Sudah selesai berpakaian dan mempoles wajahnya dengan makeup natural, Micel ajak Viona keluar kamar turun kebawah menuju parkir mobil menemani Cikoza dan Erik.
Tak butuh waktu lama 15 menit sudah sampai di mall B, Cikoza ajak mereka makan dia tahu pasti mereka lapar tidak makan dari semalam.
Dengan berbagai hidangan Korea yang super lezat ada di atas meja, mereka menyantapnya dengan lahap dengan penuh nikmat.
"Saya mau ke toilet udah kebelet, nanti hubungi saya saja jika kalian di lantai mana" ucap viona.
Viona berjalan arah toilet, sampai di toilet dia merapikan pakaiannya makeup dan juga rambutnya, sebenarnya dia tidak benar-benar ingin BAB.
Dia mencari keberadaan rekannya, ternyata mereka ada di lantai tiga, dia menyusul.
"Sekarang Viona Sudah ada bagaimana kita bagi dua pasang Viona sama gue dan Erik bersama Micel. kalian silakan belanja, saya dan Viona mau cari jam untuk anak tuan Lee." ucap Cikoza.
mereka berdua berjalan arah toko jam tangan bagus banget jam yang sangat berkelas.
"menurut saya, sebaiknya urungkan saja niat ingin beli jam buat kado, mending Om aja beli jamnya." ucap viona.
Mereka masih melihat lihat jam, Cikoza minta Viona mencarikan jam yang cocok untuk dia.
merasa tidak ada yang cocok untuk Cikoza, kali ini Cikoza ajak Viona ke toko perhiasan.
Menyuruh Viona mencari cincin yang bagus, kini Viona menemukan cincin yang bagus, bermata berlian berwarna merah.
"Ini bagus Om, pasti kak Rahel suka banget dengan Cicin ini!" ucap viona.
"Siapa bilang ini untuk ke Rahel, ini cincin saya belikan untuk kamu" ucap Cikoza sembari senyum, dia juga memakai cincin berlian itu di jari Viona.
"terima kasih Om, cantik sekali, saya suka bangat! tapi, saya rasa ini tidak pantas untuk saya! yang pantas menerimanya adalah kak Rahel." ucap Viona
"cincin ini anggap saja hadiah untuk mu sudah dekat dengan tuan Lee. jadi tidak ada kata penolakan dipakai terus ya cincinnya" ucap Cikoza pada Viona.
meraih tangan Viona di sematkan nya lagi Cicin berlian batu berwarna merah, mereka saling tatap
__ADS_1