
Viona merasakan ada rasa sakit di dadanya, sekuat tenaga ingin melepaskan serangan dari pria diatasnya, entah kenapa tubuhnya terasa lemah.
"Om aku mohon lepaskan aku, Jangan lakukan lagi aku mohon" suaran jeritan yang tak kuat lagi karena, mutiara bening sudah membasahi pipinya.
Cikoza tidak menggubris ucapan Viona, sehingga badan Viona yang sudah hampir polos, dia pun juga melepaskan pakaiannya Cikoza menyatukan badan mereka tidak ada celah lagi hanya menyisakan celan* segitiga.
tangis Viona pecah menjadi-jadi tapi tubuhnya sudah pasrah, tenaga yang sudah terkuras habis.
celananya pun sudah basah dengan sebuah cairan, Cikoza sekarang beralih ke bibirnya lagi agar suasana hati Viona tidak lagi memberontak.
tangannya meraba segitiga yang ada di bawah di gerakkannya di inti kenikmatan membuat jeritan Viona makin menjadi-jadi, des*Han dan tangisan beriringan menjadi satu nada.
"Om lepaskan, Viona minta maaf telah membuat Om marah"ucap Viona.
Cikoza langsung melepaskan Viona begitu saja, pergi meninggalkan dia ke kamar mandi.
merendam badannya dengan air dingin, sial kenapa aku tidak bisa mengendalikan hasrat pada Viona, hampir saja aku memakan dia. batin Cikoza.
Viona turun dari tempat tidur memunguti pakainya yang berserakan, dengan rasa sakit di badannya, tangisan pun masih terus membasahi.
aku tidak tahu kamu pria seperti apa Om, kamu jahat, kamu tega, Dion aku nyesel menolak pernikahan kita... sekarang aku hanyalah wanita murah, pemuas hasrat pria dewasa. batin viona.
Cikoza keluar dari kamar mandi sudah berpakaian piyama tidur, berjalan menghampiri Viona yang masih menangis.
"Viona, aku mohon! jangan pergi tetaplah di sisiku, maaf aku salah" ucap Cikoza tak ingin Viona takut dengannya.
"Om jahat." ucap viona yang masih menangis.
"maaf, ini salahku tak seharusnya saya melakukan itu, bagai mana jika kita menikah saja?" ucap Cikoza ingin bertanggung Jawab.
"tidak, kita putus saja aku tidak bisa seperti ini terus" tegas Viona.
"sampai kapanpun kamu tetap milikku, sekali aku menginginkan tidak akan pernah aku lepaskan" jelas Cikoza, dengan wajah mulai memerah tidak suka mengakhiri hubungan ini.
malam yang larut hanya hening yang ada, mereka tidak lagi saling bersautan berbicara dengan pemikiran mereka sendiri.
sampai pagi tiba mereka masih diam dan tidak sedikitpun memejamkan mata. Viona beranjak dari tempat tidurnya, berjalan membuka pintu tapi masih terkunci.
"Om buka pintu Viona mau pulang." ucapnya pada Cikoza.
__ADS_1
Cikoza berjalan membuka pintu mengandeng tangan Viona sampai masuk mobil, mereka masih saja diam tidak ada pembicaraan dalam mobil.
Tepat berhenti di lampu merah, Viona melihat mobil Dion bersebelahan, kebetulan mereka tak sengaja saling menoleh lalu bertatapan.
"Viona, apa kabar! siapa dia?"tanya Dion.
Baru mau Jawab, lampu merah nyala mobil yang di bawah Cikoza tancap pun gas.
Dion sungguh kaget melihat tanda merah di leher Viona bukan satu tapi banyak hampir semua leher merah.
apa yang terjadi denganmu sekarang, kamu membuatku kuatir, batin Dion.
dia melanjutkan mobil dengan cepat untuk mencari keberadaan Viona, tetap saja tidak menemukanya cepat sekali dia membawa Viona.
"untuk apa kamu bicara dengannya?" ucap Cikoza.
Viona yang masih diam tidak ingin merespon.
mobil stop di pinggir jalan, tangan Cikoza meraih wajah Viona lalu meraih bibir Viona lagi dalam dan terhanyut, sudah tenang bibir lepas dari dua insan bermain bibir mesra.
"mengapa Om selalu seperti ini padaku?" ucap Viona, matanya pun sudah redup rasa mau nangis.
"Dia mantan yang masih aku cintai" jawab Viona.
Cikoza melajukan mobilnya lagi berkelana dengan pikirannya, karena dia tahu orang yang menjadi mantan pacar Viona Dion anggara.
"sudah berapa lama kalian menjalin hubungan? tanyanya.
"hanya satu tahun, tapi dia pria tidak mesum sepertimu." ucap Viona.
Ada rasa tak percaya jika Dion tidak melakukan apapun! pada wanita di sampingnya, dia tahu betul siap pria mantan kekasihnya itu, playboy yang selalu di pastikan ahli dalam ranjang yang panas.
"Oh, kamu tahu siapa sebenarnya mantanmu itu?" tanya Cikoza.
"ya tahu dia lelaki bejat dulu, dia sudah cerita semua, tapi dia tidak seperti Om" ucap Viona.
"aku seperti ini karena, badan seperti magnet yang liar di mataku" tegasnya.
sudah sampai di depan gerbang rumah Viona, dia langsung saja turun dan membanting pintu dengan sangat keras.
__ADS_1
"Om jangan pernah lagi temui aku lagi, jika kita bertemu anggap saja tidak kenal" ucap Viona, meninggalkan pria yang di anggapnya mesum.
kring... kring... kring...
Erik menelpon berkata jika Rahel sudah datang sekarang sudah berada di rumah orangtuanya.
"biarkan, biarkan saja dia yang datang padaku" tegas Cikoza.
Ting... tanda ada pesan masuk, "Ciko aku sudah pulang, kita ketemu di cafe bunga!" pesan dari Rahel.
Cikoza langsung membalikan mobilnya ke arah cafe bunga, butuh waktu 15menit dia sudah sampai di depan cafe, mobil terparkir membuat banyak orang melirik ke arah mobil itu. sebagian orang berdecak kagum melihat mobil dan orangnya yang nyaris sempurna, dia ke berjalan masuk ke cafe berjalan menuju meja yang telah di pesan Rahel.
Rahel tersenyum lebar melihat kedatangan Cikoza, yang tampan dengan tubuh yang proporsional, dia berdiri dan langsung memeluk erat Cikoza ada sekilas cium menghiasi bibir Meraka.
"Ciko aku sangat merindukanmu!" ucap Rahel yang masih memeluknya.
"oh ya, lebih baik lepaskan dulu pelukan ini!" ucap Cikoza, ada rasa bahagia dan kecewa. Rahel melepaskan pelukan dan duduk berhadapan, meraih tangan Cikoza.
"sepertinya kamu tidak bahagia bertemu denganku! atau kamu sudah tidak mengharapkan ku lagi?" tanya Rahel dengan wajah yang berubah menjadi sedih.
Ciko tidak menjawab pertanyaan yang ditanyakan Rahel, mala dia balik tanya.
"apa yang kamu dapat selama 7 tahun di Prancis? sudahkah menjadi model majalah?"
"kok, kamu tanya seperti itu! aku mengejar impian ku di sana!" ucap Rahel yang sudah mulai tidak Suka dengan situasi seperti ini.
"dari dulu aku sudah bilang, aku bisa membiayai hidupmu tampa harus pergi ke sana! tapi, kamu tidak mendengarkan ku!! hanya meninggalkan pesan pergi cuman 5 tahun. Tapi, nyatanya 7 tahun, kau buat aku seperti orang bodoh... kau buat aku menunggu menunggu yang tak kunjung datang" ucap Cikoza dengan nada yang kecil dengan penuh penekanan.
"maaf Cikoza, model adalah impianku dari kecil, sekarang aku pulang hanya untukmu! aku ingin menikah denganmu!!" ucap Rahel.
"bohong! jika kamu menginginkan menikah denganku, kenapa tidak dari dulu, saat aku mengajak untuk menikah?" ucap Ciko yang sudah tidak tahan berdebat dengan Rahel, dia pergi meninggalkan Rahel, Karena tidak ingin lagi melanjutkan perdebatan mengingat masa, dimana dia menjadi lelaki bodoh.
Cikoza keluar dari cafe, menuju mobil menancapkan gas untuk kembali pulang kerumahnya.
Tiba di rumah, sudah ada mamanya diruang tamu menunggu anak kesayangan, pulang.
Cikoza sudah tau dari isyarat mata yang menyuruh untuk duduk.
pasti ada yang penting, mana mungkin mama rela jauh-jauh dari Jepang kesini, hanya untuk melihat keadaanku" batin Cikoza.
__ADS_1