
"Om nggak perlulah, nanti cincin ini akan membuat orang salah paham!" Dia mau melepas kan lagi cincinnya.
"Tidak! Ini hanyalah sebuah cincin, tidak ada yang spesial! Untuk apa orang salah paham" meyakinkan Viona agar tidak melepas cincin itu!
Mereka berjalan mencari keberadaan Micel dan Erik. Ternyata mereka berdua lagi makan eskrim tapi tidak saling bicara.
"Mereka seperti sedang bertengkar? Apa iya?" Membuat Micel menjadi bingung melihat mereka berdua.
Menghampiri mereka yang lagi makan eskrim, membuat Erik kaget saat kemunculan Viona dan Cikoza.
"Bukankah semalam janji ingin pergi ke wisata hiburan? Gimana kalo kita naik roda lambung yang besar itu! Gue uda lihat GPS nggak jauh dari sini ada! Sekitar 10 menit" Viona mengekpresikan jika dia ingin sekali naik roda lambung.
"Ayo kita kesana! Bagaimana dengan Kalian? Tanya Cikoza pada Erik dan Micel.
"Oke juga mesti dicoba! Mungkin seru juga, kapan lagi menikmatinya jalan ke Korea taman hiburan! Biasanya selalu urusan pekerjaan" jawab Erik.
Mereka berangkat tak butuh waktu lama sudah sampai, sungguh luar biasa ucap viona.
"Lebih bagus lagi jika malam, pasti seperti Drakor yang sering kita tonton itu suasana romantis" ucap Viona dengan penuh semangat.
Viona menarik tangan Cikoza berjalan menuju roda lambung yang besar, Cikoza kaget saat Viona menarik tangan berjalan cepat menuju ara tujuannya tadi.
"Sepertinya dia melupakan sahabatnya ini, cinta membutakan segalanya! Barusan semalam bilang nggak suka, e siang ini dia yang tarik tangan lelaki yang menjijikkan baginya kemarin! Cinta sungguh aneh seperti gue sekarang berdekatan depan mata, tapi orangnya uda nggak mau lagi sama gue" Batin Micel, yang masih mematung di tempatnya.
"Ayo kita kesana! Mau jadi ikan asin berdiri di tempat yang panas ini?" Ucap Erik yang membuat Micel tersadar dari lamunannya.
Deg... Bak tersambar petir, saat Erik tampa di minta bicara dengan sendirinya membuka suara padanya, membuat hati Micel berbunga-bunga! Rasa ingin meledak.
Viona baru sadar jika dari tadi dia memegang begitu erat tangan Cikoza, dia merasa sangat malu sekali buru-buru melepaskan genggaman itu.
"Mengapa kamu lepaskan, genggam Lah! Aku menyukainya" tangan Cikoza meraih tangan Viona lagi untuk saling genggam.
Namun Viona menepis, menolak untuk berpegang tangan, dia malu pada sahabatnya! Sebenarnya dia juga menyukai genggaman itu.
__ADS_1
"Ayo kita naik!" Suara Erik memecahkan perdebatan, mereka naik, "Erik dan Micel" "Viona dan Cikoza" roda sudah berputar.
"Viona, boleh aku tanya sesuatu padamu?" Ucap Cikoza dengan serius.
"Emmm... Tanyakan saja!" Beriringan dengan anggukan.
"Pasti kamu heran mengapa aku bisa menyebutmu wanita liar atau penggoda dulu, sebenarnya..."
"Ayo bilang aja! Jangan gugup, memangnya ada apa sih?"
"Sebenarnya aku... adalah pria yang kamu telpon waktu kamu di sekolah, karena itulah aku aku penasaran dengan kamu.
Saat kamu tumpahkan wiski padaku waktu itu aku tahu kamu sengaja! Biar aku melirikmu!!karena kamu baru putus dari Dion kan?.
"Kamu bilang seperti ini 'Hallo sayang, kenapa kamu nelpon! Kamu sudah kangen banget sama aku sayang! Kamu tahu sayang, aku lagi di kelas bentar lagi aku pulang, di akhir telpon kamu memberi cium.' Apa ada hubungannya dengan Dion" Cikoza menatap Viona dan ingin sekali tahu jawabannya.
Deg.... Ternyata pria yang bikin dia nyaman Selami ini ada di depan mata, wajah Viona memerah dia sangat malu pada Cikoza.
"Mengapa menangis? Kamu tidak salah, aku yang salah baru bilang sekarang! Maaf" Cikoza meraih tangan Viona dan menghapus air mata.
Cikoza mengeluarkan ponselnya! lalu menghubungi Viona, ternyata terhubung. Cikoza ingin mengambil ponsel milik Viona, namun Viona tidak ingin memberikan pada Cikoza.
"Berikan ponsel mu, apakah ada yang kamu sembunyikan?"
Cikoza mengambil ponsel milik Viona di tangannya, saat melihat nama yang tertera ponsel itu membuat matanya terbelalak.
Deg... Jantung Cikoza kaget melihat tulisan "calon suami" nama yang viona berikan di ponselnya.
"Apa kamu mengharapkan aku jadi suamimu? Cikoza menatap lekat wajah Viona.
"Dulu iya... Tapi sekarang aku sudah tau siapa orangnya, jadi aku batalkan niat itu! Karena aku tidak mencintaimu, aku hanya mengagumi orang di ponselku saja" jelas Viona masih butiran mutiara keluar dari matanya.
"Viona sebenarnya... Aku, aku"
__ADS_1
"Sebenarnya apalagi? Banyak banget yang ingin di bicarakan!" Viona memotong pembicaraan Cikoza sengaja, dia tidak ingin mendengar rahasia yang ingin dia ungkapkan membuat dia kecewa lagi.
"Nggak jadi, lebih baik sekarang kamu berhenti menangis!! Nanti orang bilang ngapa-ngapain kamu lagi" ledek Cikoza sembari senyum yang pertambah ketampanan di wajahnya.
"memang! Om sering ngapa-ngapain viona dasar Om-om mesum"
"Tapi kamu juga menikmatinya! Bagaimana jika kita melakukannya sekali saja di bibir?" Cikoza menggoda Viona.
"Ogah' kalo kepengen gih... Sama kak Rahel, Oya Om kak Rahel bukannya ada di Prancis, kemarin pas ke korea temui Alex, gue lihat orang mirip... banget, sama kak Rahel"
"Nggak mungkin! Dia tidak suka ke Korea"
Bilang nggak yah... Jika kak Rahel masuk dalam mobil bersama seorang pria, aghhh nggak nanti mereka berantem! Mana gue juga nggak ada bukti.
Roda lambung berhenti berputar, saatnya mereka keluar, Viona sangat gembira! Namun dia hanyalah pura-pura bahagia, pura-pura tertawa sebenarnya hatinya menangis. Dia harus terima kenyataan jika pria yang mampu membuat hatinya tenang selama ini setelah Dion adalah Cikoza.
"Kak Erik, plisss... tatap aku! Hanya orang bodoh yang menyimpulkan bukti hanya sekilas." Micel meraih tangan Erik.
"Tidak ada lagi yang harus di bahas, kamu masa lalu, berhenti menyakinkan aku karena Hati ini sudah ada yang mengisinya! Yang jelas bukan kamu" Erik mengucapkan dengan menatap wajah Micel dengan lekat.
Kamu masih sama seperti dulu, selalu agresif terhadapku. Micel teruslah mencintaiku, yakinlah Hati ini untukmu.
"Baiklah, Aku tidak meminta lebih kak! Bisakah kita berteman, tidak berharap untuk memiliki mu, karena itu pasti tidak mungkin lagi, apalagi hati sudah ada yang miliki" menatap lekat wajah Erik dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bagus jika kamu sadar dengan statusmu hanya sekedar mantan."
Emmm... mumpung ada kesempatan, ingin ah merasakan bibir kak Erik seperti dulu, sebelum janur kuning melengkung.
"Kak... Itu apa di rambutmu!" Micel tertawa dalam hatinya.
"Emang ada apa? Ini pasti akal-akalan kamu!" Erik yang sudah curiga.
"Apa sih... Negatif aja pikirannya, sini saya ambilkan" taktik yang Micel buat berhasil.
__ADS_1