
Minggu pagi pukul 07.00, Randy sedang menikmati hari libur di taman belakang rumah. Ia tengah duduk santai di bangku yang ada di taman sambil menyeruput teh tawar hangatnya. Ia memang sering menghabiskan hari libur di taman belakang, karena baginya taman belakang sangat sejuk, asri nan menenangkan.
Randy sering merawat tanaman-tanaman hias yang ada di taman belakang, meskipun di rumahnya ada dua orang asisten rumah tangga dan seorang penjaga taman. Namun dirinya tidak merasa sungkan jika merawat sendiri ketika libur. Menurutnya, tanaman-tanaman hias mampu menjernihkan pikirannya, setelah enam hari bekerja penuh. Maklum saja, Randy adalah seorang direktur di perusahaan mendiang ayahnya. Jadi bisa dipastikan betapa sibuknya ia, meski begitu Randy selalu menyempatkan waktu bersama sang ibu.
Ayah Randy, Rohit Haryo Notonegoro, meninggal ketika Randy berusia delapan belas tahun, tepat satu hari setelah ulang tahun Randy. Saat itu, Rohit izin pamit untuk memantau proyek pembangunan hotel di kota Yogyakarta. Namun nahas, mobil Rohit mengalami kecelakaan hingga membuat Rohit yang hanya seorang diri ketika itu meninggal dunia. Kebetulan, Ari, supir Rohit tengah sakit kala itu.
Randy dan Ratih Purnamasari Notonegoro, ibu Randy, merasa sangat terpukul atas meninggalnya Rohit. Bahkan Ratih sempat depresi beberapa hari yang hampir melukai dirinya, dengan cepat Randy meminta bantuan seorang psikiater dan seorang psikologi merawat dan memantau ibunya. Hingga lima bulan kemudian, Ratih dinyatakan sembuh total. Randy tentu sangat bahagia.
Randy muda yang baru lulus SMA, harus tetap melanjutkan hidup dengan mengelola perusahaan yang sudah diwariskan Rohit, ia kemudian belajar perihal bisnis dari orang kepercayaan Rohit, David namanya.
David sudah bekerja untuk Rohit sejak Randy berusia lima tahun, hingga usia Randy dua puluh satu tahun pada tahun 2021 ini.
Perusahaan Rohit, Denon Group, bergerak di bidang properti, sudah banyak properti yang dibangunnya. Seperti hotel bintang lima di kota Bandung, apartemen di Jakarta, hotel bintang tiga di Yogyakarta serta hotel bintang tiga yang tengah dibangun di kota Cirebon.
Randy sendiri telah sukses membangun hotel di Yogyakarta, proyek yang sempat tertunda lantaran Rohit tiada. Selain itu, Randy sudah berhasil membangun apartemen di Jakarta pada tahun lalu, dan kini Randy sedang bekerja sama dengan pengusaha dari Cirebon untuk membangun hotel di kota udang tersebut.
Meski Randy bergelimang harta, namun ia tidak pernah menyombongkan semua itu, ia selalu ingat pesan Rohit, bahwa semua harta yang dimilikinya hanyalah titipan Tuhan. Selain itu, ia juga rutin mendonasikan sebagian hartanya untuk panti asuhan di kota Bandung. Karena ia tahu bahwa disetiap harta yang ia miliki, ada hak orang lain di dalamnya.
Disaat Randy tengah asyik menikmati buah stroberi yang dipetik langsung dari pohonnya, tiba-tiba Ratih memanggilnya. Tak lama Ratih pun datang dan turut memetik buah bersama putera semata wayangnya.
Di taman belakang, ada berbagai jenis tanaman buah, mulai dari strawberry, blueberry, mangga, klengkeng dan manggis. Selain itu, ada berbagai jenis bunga, seperti mawar putih dan merah, melati serta anggrek.
Randy ingin menyenangkan hati ibunya dengan menanam berbagai bunga. Karena ia tahu Ratih sangat menyukai bunga, dahulu Rohit sering membelikannya buket bunga mawar putih.
“Ran, ibu mau tanya. Boleh?” Ratih meminta izin terlebih dulu.
“Ibu ini, biasanya juga gak pernah izin dulu, emang ibu mau tanya apa?” jawab Randy santai, kemudian melahap satu buah strawberry yang sedari tadi hanya dipegangnya.
__ADS_1
Randy dan Ratih sudah duduk kembali.
“Begini, ibu kan sekarang semakin tua, dan ayahmu sudah lama meninggalkan kita…” Ratih menggantung ucapannya.
“Kamu, apa belum ada rencana menikah? Ibu khawatir usia ibu gak akan lama…”
“Ibu akan berumur panjang, ibu harus optimis. Randy yakin ibu akan melihat cucu ibu, bahkan sampai cicit dan seterusnya. Tapi Randy mohon maaf, kalo ibu tanya kapan Randy menikah, Randy belum bisa memberikan jawaban pastinya. Karena memang belum ada rencana, selain itu aku juga masih fokus sama proyek pembangunan hotel di Cirebon itu, bu.” potong Randy dengan hati-hati, ia tidak ingin mengecewakan Ratih.
Randy sebenarnya bukanlah tipe pria pemilih. Namun baginya yang terpenting adalah, calon istrinya nanti harus sayang apa adanya pada ia dan sang ibu. Ia tidak ingin istrinya nanti hanya menyayanginya ketika dirinya bergelimang harta. Namun, sebagai pria sejati, Randy juga berharap memiliki istri yang cantik serta berhati lembut.
Cantik menurut Randy, tidak harus memiliki bentuk tubuh yang proporsional, bulu mata lentik, bibir tipis, lesung pipit serta kulit putih. Namun standar kecantikan Randy adalah, wanita itu bisa menerimanya apa adanya, setia, selalu percaya padanya, menyanyanggi sang ibu dan bisa mengatur keuangan dengan baik.
Menurut Randy, cantik sangat luas konteksnya, bisa cantik fisik dan cantik hatinya atau inner beauty, dan Randy lebih menyukai wanita yang memiliki inner beauty. Sebab inner beauty tidak akan pernah luntur dimakan waktu dan usia.
“Tapi usiamu sudah dua puluh satu tahun, dan usia itu sebenarnya sudah cukup untuk menikah, selain itu kamu juga sudah mapan. Ibu yakin kamu akan bisa menghidupi keluargamu kelak,”
“Ya sudah kalo gitu, ibu gak bisa maksain kamu.”
Randy kemudian memeluk Ratih.
...***...
Keesokan paginya, Randy sudah memakai setelan jas mahalnya dengan rapi, ia telah siap berangkat ke kantor
“Randy, sarapan yuk.” ajak Ratih yang sudah berada di depan kamar Randy.
“Randy langsung berangkat aja bu, ada meeting pagi soalnya. Randy sarapan di kantor aja.” sahut Randy sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya.
__ADS_1
“Hei jangan, ibu siapkan ya. Kamu sarapan di mobil aja, ibu khawatir kalau kamu gak sarapan dulu, nanti meetingnya gak fokus, lagian pasti nanti kamu telat sarapannya. Karena gak mungkin begitu sampai kamu langsung sarapan.” ucap Ratih tegas, sementara Randy hanya nyengir kuda.
Dua menit kemudian, Randy turun dari kamar dan hendak menuju pintu. Namun panggilan sang ibu menghentikan langkahnya.
Ratih memberikan kotak bekal isi roti sandwich kesukaan Randy serta satu botol jus mangga.
“Terima kasih, sayang.” ucap Randy sambil mengerlingkan sebelah matanya. Ratih hanya terkekeh melihat tingkah putera semata wayangnya.
“Makanya cepetan nikah, biar kamu bisa godain wanita selain ibu. Hihi!”
Seketika Randy kembali menghentikan langkahnya dan menoleh pada Ratih yang berada di belakangnya.
“Ibu, kan kemarin sudah sepakat?” Randy berpura-pura merajuk.
Ratih lantas mendekati Randy.
“Iya iya, maafin ibu!”
Randy kembali mendekati sang ibu, lalu mencium pipi wanita yang sudah melahirkannya sekilas.
...***...
Di perjalanan menuju Denon Group, Randy sangat menikmati sarapan buatan sang ibu. Tanpa sengaja, dirinya kembali terpikirkan pertanyaan Ratih tentang pernikahan, entah mengapa ia menjadi sedikit terganggu.
“Pak Ari, menurut bapak, kalo orang tua kita nanya kapan menikah artinya apa?”
“Biasanya sih orang tua yang nanya seperti itu, seolah mendapat firasat buruk tentang dirinya. Makanya ia ingin anaknya cepat menikah agar hidup anaknya tidak kesepian jika nanti mereka tiada.”
__ADS_1
Duar! Jantung Randy bagai meledak.