
Di perusahaan Denon Group, Randy, tengah rapat bersama seluruh divisi yang bertanggung jawab menangani proyek hotel di Cirebon. Randy sengaja mengadakan rapat di kantor pusat Denon Group, ia sedang merasa tidak enak badan jika harus pergi ke kota udang itu.
Rapat kali ini fokus membahas tentang hotel di Cirebon yang sudah rampung 90%, hanya tersisa 10% untuk hotel itu segera beroperasi. Namun, baru beberapa menit mengikuti rapat, kepala Randy terasa berdenyut nyeri. Ia lantas izin ke ruangannya, tanpa diikuti David.
David diberi wewenang untuk memantau jalannya rapat hingga usai, yang nantinya akan diminta menjelaskan poin-poin hasil rapat. David pun menuruti perintah tuan mudanya, meski dalam hati merasa khawatir dengan kondisi Randy.
Randy memijat pelan kepalanya yang masih terasa berdenyut nyeri, entah mengapa sejak mendengar kalimat keramat yang kemarin diucapkan Ratih, Randy selalu kepikiran tentang Ifa.
Randy khawatir, jika Ifa tidak menyukainya atau tidak bisa ia miliki.
"Akhhhh!" Randy menggebrak meja sambil menjatuhkan semua barang di atas meja kerjanya.
Semuanya jatuh, berserakan di lantai, bahkan figura foto mendiang Rohit pun terkena imbasnya. Kaca figura itu pecah dan menyebar kemana-mana.
Tak berselang lama, David masuk ke dalam ruangan Randy. Ia bertanya-tanya tentang apa yang sudah terjadi pada tuan mudanya.
"Tuan muda sakit?" tanya David penasaran.
Randy masih bergeming di kursi kerjanya tatkala mendengar pertanyaan David. Ia kemudian menarik napas panjang untuk berkata pada asisten yang sudah dianggapnya seperti paman.
Randy menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan wajah cantik Ifa di akun Instagramnya, @m10_ifaaa.
"Paman, tolong Randy! Cari tau segala sesuatu tentang wanita ini. Mulai dari makanan favoritnya, nomor sepatunya, warna kesukaannya, intinya semua tentang wanita ini. Randy butuh sesegera mungkin informasi tentangnya. Paman bisa?" Randy sangat berharap pada David agar nantinya ia lebih mudah untuk mendekati sosok Ifa, wanita yang sudah membuat hidupnya tak tenang.
Sesaat David memerhatikan dengan saksama wajah ifa, ia merasa tidak pernah melihat wanita itu. Ingin sekali ia bertanya namun tidak berani, ia khawatir jika bertanya akan membuat Randy kesal padanya, mengingat wajah Randy saat ini sangat tidak bersahabat.
"Sharifah Putri Salsabil," David membaca nama yang tertulis di bio akun Instagram milik Ifa.
"Benar, itu namanya!" Randy membenarkan ucapan David barusan.
"Baik tuan muda. Saya akan berusaha untuk mencari semua informasi tentang wanita ini, dan segera akan saya berikan pada tuan muda." David merasa sanggup untuk sekadar mencari informasi seseorang, karena memang ia memiliki kemampuan intelijen meski tidak pernah bergabung dengan tim intel secara resmi.
"Bagus! Aku tunggu informasinya dari paman." ujar Randy sambil tersenyum smirk. Ia sungguh tidak sabar untuk memulai pendekatan dengan gadis yang sudah membuatnya jatuh hati.
***
Randy pulang lebih cepat dari biasanya, ia sudah tiba di rumah ketika waktu menunjukkan pukul 15.00. Randy sengaja pulang cepat, sebab ingin beristirahat lebih lama untuk memulihkan kondisinya.
Ratih bahkan sampai heran ketika melihat putera semata wayangnya itu pulang cepat.
"Tumben cepet pulangnya?" Ratih sejenak menatap wajah tampan puteranya, ia tengah duduk di sofa depan televisi dan sedang menonton sinetron komedi favoritnya, yakni tukang ojek pengkolan.
Randy menghentikan langkahnya, yang semula ingin ke kamar, ia balas menatap sang ibu.
__ADS_1
"Ran, kamu sakit? Kok pucat gitu keliatannya?" Ratih segera menghampiri sang putera, ia bahkan sampai mengelus kening Randy untuk memastikan kondisi anaknya. Namun tidak seluruh punggung tangan Ratih menempel, lantaran tinggi Randy melebihi tubuhnya.
Ratih terkejut tatkala merasakan hawa panas dari kening Randy yang berhasil disentuhnya susah payah.
"Gak papa kok, hanya kurang istirahat aja. Makanya aku ini mau tidur." Randy hendak melanjutkan langkahnya, namun tangan Ratih berhasil menghentikannya.
"Kamu sakit, Ran, jangan bilang gak papa! Sekarang juga ibu bakal siapin kompresan buat kamu. Kamu lebih baik tunggu di kamar saja, dan segera lepaskan jas serta kemeja kamu itu, ganti baju dengan yang lebih halus bahannya serta yang bisa maksimal menyerap keringat."
Ratih bergegas ke dapur, ia hendak menyiapkan sendiri kompresan untuk Randy. Namun sangking panik dan tidak fokus, Ratih justru terjatuh. Mbok Santi datang tepat waktu, ia membantu Ratih berdiri. Mbok Santi baru saja selesai mengangkat jemuran hari ini.
"Ibu gak papa?" tanya mbok Santi cemas.
"Gak papa mbok, tapi Randy sakit sekarang. Saya mau siapin kompresan buat dia." Ratih segera mencari alat kompres, ia khawatir jika telat dikompres maka suhu tubuh Randy akan semakin naik.
"Biar saya yang siapkan bu, ibu susul tuan muda saja," mbok Santi mengambil alih pekerjaan yang sebelumnya ingin dilakukan Ratih.
Ratih pun menuruti mbok Santi, ia berjalan cepat menuju kamar Randy.
TOK
Ratih mengetuk pintu kamar Randy, tak lama terdengar suara Randy mempersilakan masuk.
"Ya ampun Randy, kamu belum lepas kemeja kamu? Sini biar ibu bantu lepaskan." Ratih sangat terkejut ketika melihat Randy masih memakai kemejanya, padahal ia sudah menyuruh sedari tadi.
"Ya udah cepat lepas!" suara Ratih tidak kalah kerasnya.
***
Ratih heran Randy belum keluar dari kamar mandi, padahal tadi Randy bilang hanya ingin sebentar ke kamar mandi, namun ini sudah dua puluh menit sejak Randy masuk.
Ratih pun mengetuk pintu kamar mandi Randy.
"Ran, cepet keluar. Ini kompresannya udah siap."
Tidak ada sahutan dari Randy, yang semakin membuat Ratih khawatir.
"Ran, kamu lagi ngapain sih di kamar mandi dari tadi?" masih belum ada jawaban dari Randy.
"Ran, kamu jangan bercanda ya. Ibu gak suka candaan kamu!" tutur Ratih tegas.
Randy masih belum menjawab.
"Ran, Randy..." suara Ratih kini sudah bergetar, ia khawatir terjadi apa-apa pada putera semata wayangnya itu.
__ADS_1
Pintu kamar mandi Randy dikunci dari dalam, Ratih pun menelepon security rumah untuk segera datang ke kamar Randy.
"Tolong bapak dobrak saja pintunya, saya khawatir Randy kenapa-kenapa," suara Ratih masih bergetar, mbok Santi pun mencoba menenangkannya, ia mengelus bahu Ratih.
"1 2 3... Aaaaahhh!" pintu belum berhasil terbuka.
Security kembali mendobrak pintu itu dengan lebih kencang.
"1 2 3, aaaaaaahhhhh!" usaha kedua belum membuahkan hasil, pintu masih tertutup rapat.
"Gimana ini mbok," kata Ratih masih dengan suara bergetar, ia sungguh sangat khawatir.
"1 2 3, aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh!"
Ceklek
Pintu akhirnya terbuka. Ratih segera mencari keberadaan Randy.
"Ya Tuhan, Randy!" pekik Ratih, ia sangat terkejut melihat Randy sudah terkulai lemah di lantai. Security segera mengangkat tubuh Randy untuk dibaringkan ke tempat tidur.
Ratih melihat Randy sambil berderai air mata, ia kemudian mengompres kening Randy dengan kompresan yang dibawa oleh mbok Santi tadi.
Ratih tidak henti-hentinya menitikkan air mata, ia tidak sanggup melihat Randy seperti ini. Hatinya terasa sangat sakit seolah disayat-saya pisau belati, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seketika ia khawatir Randy tidak akan sadar lagi.
Mbok Santi mengambil alih tugas mengompres Randy, diletakkannya kompresan yang hangat itu di kening Randy. Sementara Ratih berusaha mengelus lengan puteranya, tentunya masih dengan berderai air mata.
"Ran, bangun. Jangan tinggalkan ibu sendiri, Ran. Ibu akan sangat sedih jika kamu..." Ratih tidak sanggup menyelesaikan ucapannya, ia lalu menghapus air mata yang jatuh ke pipinya.
"Randy, bangun nak. Tolong jangan tinggalkan ibu sendiri,"
"Ibu gak sanggup kalo harus menghabiskan sisa hidup ibu hanya seorang diri, ibu mohon kamu segera bangun,"
Dokter keluarga yang tadi ditelepon mbok Santi pun datang, ia segera memeriksa Randy menggunakan stetoskop miliknya. Ia juga memeriksa kedua mata Randy.
"Detak jantungnya normal, organ lainnya juga normal,"
"Lantas Randy sakit apa, dok?"
Dokter belum merasa yakin dengan hasil pemeriksaannya beberapa saat lalu, ia kemudian kembali memeriksa Randy.
"Dokter, Randy sakit apa?" Ratih sangat tidak sabar, menurutnya dokter lama sekali memeriksa Randy.
"Dokter!"
__ADS_1