
Di suatu pagi yang cerah, di rumah keluarga Joshua Saputra, mereka sedang asyik menikmati roti bakar sebagai menu sarapan. Dokter Joshua atau akrab disapa dokter Jo, memiliki dua orang anak dari istrinya yang bernama Chintya Salsabil Saputra.
Putra pertama dokter Jo bernama Irgi Jonathan Saputra, sedangkan putri keduanya diberi nama Syarifah Putri Salsabil. Irgi putra pertamanya tahun 2022 ini genap berusia dua puluh tiga tahun, sementara sang adik, Ifa, sapaan akrab Syarifah, usianya baru delapan belas tahun.
Ifa, masih duduk di bangku kelas 3 SMA dan akan lulus pada bulan Mei tahun ini, sedangkan Irgi sedang menempuh pendidikan jenjang sarjana di salah satu kampus ternama di kota Bandung yang saat ini sudah masuk semester tujuh.
Keluarga dokter Jo memang sangatlah harmonis dan selalu bahagia, mereka selalu menyempatkan berkumpul di tengah kesibukkan masing-masing.
Istri dokter Jo, Chintya, merupakan seorang guru di taman kanak-kanak. Ia sangat menyukai anak kecil, itu sebabnya dirinya menjadi guru di sekolah untuk anak yang tergolong masih dini usianya. Menurutnya, mendidik anak dalam usia emas, sangatlah menyenangkan dan menghibur.
“Mi, aku gak berangkat bareng dulu ya. Aku udah janjian sama Eren mau ke toko buku dulu,” Ifa meminta izin sang mami, mereka memang terbiasa berangkat bersama ketika akan memulai aktifitas pagi masing-masing.
“Iya mi, Irgi juga gak berangkat bareng dulu nih. Mau nganterin surat izin PPL soalnya,” Irgi pun turut meminta izin.
“Oke, sayang-sayangnya mami papi,” ujar Chintya kemudian.
Ifa dan Irgi pun pamit lebih dulu, tak lupa mereka turut mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.
...***...
Di toko buku, Ifa dan Eren masih sibuk mencari buku pelajaran yang kemarin sempat disarankan temannya, katanya buku itu sangat sesuai dengan kurikulum pelajaran Bahasa Inggris dari gurunya, Mrs. Ariel.
Sudah dua menit keduanya mencari-cari buku yang disarankan temannya, namun mereka tak kunjung menemukan buku itu.
“Haaah! Capek gue, Fa. Udah aja yuk, nanti telat gimana? Berangkat aja yuk!” usul Eren.
“Iya nih, gue juga capek banget elah. Saran si Riko bener gak sih? Kok gue jadi ragu ya?” Ifa mulai ragu dengan saran temannya yang bernama Riko.
“Gak tau ah gue, entar di sekolah aja kita tanya dia lagi. Mana perut gue laper banget gak sempet sarapan tadi.” ujar Eren.
__ADS_1
“Yaudah cari makan aja dulu kali, takutnya kalo pesen di kantin nanti gak keburu lagi.” saran Ifa.
“Call!” sahut Eren menyetujui.
Setibanya di ruang kelas XII Bahasa 1, Ifa dan Eren segera duduk di tempat masing-masing, tak lupa mereka melihat ke sekeliling berharap akan menemukan temannya, Riko.
Pukul 07.00, bel sekolah berdentang nyaring dan tak lama Mrs. Ariel memasuki ruang kelas, yang ditangannya sudah terdapat beberapa buku.
Mrs. Ariel mulai mengabsen satu-persatu nama siswa di kelas itu, dimana hanya ada dua puluh siswa saja setiap kelasnya. Tidak terlalu banyak, namun dengan begitu proses belajar pun menjadi lebih efisien, serta agar seluruh siswa dalam kelas itu lebih mudah untuk diawasi daya tangkapnya, begitulah pendapat menurut pihak sekolah.
“Riko Satrio?” panggil Mrs. Ariel.
“Anyone know where Riko is?” tanya Mrs. Ariel.
“Sorry, we don’t know it, Mrs.” sahut seluruh siswa, mereka memang tidak mengetahui dimana keberadaan Riko sebab tidak ada satu pun siswa yang rumahnya dekat dengan Riko, selain itu Riko tidak memberi kabar.
“Alright, okay let’s just start today’s lesson.” Mrs. Ariel memberikan keputusannya kemudian, setelah mengabsen Riko yang merupakan siswa terakhir diurutan absen kelas itu, sebab urutannya memang tidak sesuai abjad.
...***...
Di rumah, Ifa sedang fokus mengulang kembali materi pelajaran yang disampaikan oleh guru-gurunya hari ini, ia memang memiliki kebiasaan seperti itu. Ia selalu disiplin jika mengenai pelajaran, itu sebabnya ia selalu menempati posisi tiga besar di kelas sejak masih di sekolah dasar.
Satu jam sudah Ifa mengulang enam pelajaran hari ini, ia kemudian merebahkan tubuhnya yang terasa lelah di kasur empuk miliknya, tak lupa ia membuka akun instagram miliknya sambil men-scroll satu-persatu kabar di berandanya.
Ifa cukup populer di sosial media jenis instagram, ia bahkan sudah memiliki pengikut lebih dari satu juta. Meski begitu, dirinya termasuk orang yang jarang memposting foto di aplikasi yang hampir seluruh warnanya merah muda.
Cukup lama bagi Ifa bermain dengan salah satu sosial media yang saat ini sedang digandrungi kebanyakan manusia di belahan bumi ini. Yah meski yang dilakukannya hanya sekadar melihat video-video lucu, sebab dirinya memang sangat menyukai itu.
Ketika hendak tidur, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring, ternyata sang kakak 'lah meneleponnya.
__ADS_1
"Halo kak, ada apa?" tanya Ifa.
"Hoaaaaaaam!" Ifa menguap sangking ngantuknya.
"Kamu cepetan ke rumah sakit kota!" titah Irgi.
"Ada apa, kak?" tanya Ifa mulai cemas, suaranya terdengar bergetar.
"Mami kecelakaan, sekarang lagi dioperasi. Papi masih ngebantu dokter nanganin mami." tukas Irgi.
Tanpa pikir panjang, Ifa segera menghentikan taksi yang lewat di depan rumahnya, ia menyebutkan tujuan dirinya ialah rumah sakit Kota Bandung.
Pak supir pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sambil sesekali melirik ke arah spion tengah untuk mengecek penumpangnya yang sedari tadi berderai air mata. Ia ingin bertanya namun diurungkannya.
Setibanya di rumah sakit, Ifa turun dengan tergesa dan menyerahkan dua lembar uang pecahan seratus ribu kepada sang supir.
"Nona, uangnya lebih!" teriak supir taksi, namun Ifa tidak memedulikannya. Ia terus berlari menuju ruang operasi tempat maminya berada.
...***...
Pukul 19.00, namun belum ada kabar tentang Chintya, bahkan dokter yang sedari tadi mengoperasinya pun tak kunjung keluar dari ruangan, padahal sudah terhitung tiga jam sejak kedatangannya.
Ifa dan Irgi semakin cemas, terlihat jelas dari gurat kekhawatiran di dahinya, mereka tidak henti-hentinya berdo'a untuk sang mami tercinta di dalam hati masing-masing, berharap wanita yang paling mereka cintai akan segera bangun dengan tersenyum lebar seperti biasanya.
Barulah pada pukul 19.30, dokter yang menangani Chintya keluar dengan diikuti dokter Jo. Dokter itu mengatakan bahwa operasi Chintya berjalan lancar. Namun meski begitu, ia masih belum sadar.
"Kalian harus terus mendo'akannya, saya juga akan berusaha semaksimal mungkin." terang dokter.
"Baik dokter, terima kasih." ucap Ifa dan Irgi bersamaan.
__ADS_1
Kemudian dokter itu pun pamit kepada ketiganya disusul dengan dua orang perawat, setelah kepergian dokter, dokter Jo segera memeluk kedua anaknya. Mereka saling menguatkan satu sama lain, lalu masuk ke dalam ruang operasi Chintya, sebab dokter tadi sudah mengizinkan.
Chintya memang mengalami luka yang sangat parah di kepalanya. Akibat kecelakaan itu, karenanya ia harus dioperasi.