
Ifa, Irgi dan dokter Jo masih menunggu kabar tentang kondisi Chintya. Saat ini, Chintya sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa, namun masih belum sadar pasca operasi beberapa jam lalu. Meski begitu, tetap membuat dokter Jo dan kedua anaknya merasa lega. Karena mereka tidak lagi melihat orang yang sangat mereka cintai terbaring lemah di ruang operasi.
“Irgi, antar adek kamu pulang dulu sana. Biar papi saja yang nemenin mami di…”
“Ifa gak mau pulang. Mau disini aja sama mami!” Ifa merengek, sambil berderai air mata.
Dokter Jo lantas memeluk puteri semata wayangnya, ia berusaha menenangkan sang puteri lewat pelukan hangat yang diberikannya.
“Sayang, kamu harus istirahat dengan nyaman di rumah. Biar papi yang menemani mami disini ya?”
“Pokoknya Ifa gak mau pulang. Mau disini aja!” ucap Ifa sambil sesenggukan yang masih dalam pelukan sang papi, ia sudah tidak bisa menahan kesedihannya tatkala melihat sang mami tercinta masih belum membuka matanya.
Dokter Jo pun mengelus lembut punggung sang puteri, ia berusaha menenangkan puteri tercintanya.
Sementara itu, Irgi berusaha tenang dan tegar di hadapan sang papi serta adiknya. Ia tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan dokter Jo, meski di dalam hatinya merasa sangat khawatir jika sang mami tidak akan membuka matanya lagi.
“Pi, Irgi ke toilet dulu.”
Dokter Jo mengangguk, dengan cepat Irgi meninggalkan adik dan kedua orang tuanya.
...***...
Di rooftop rumah sakit, Irgi berada. Sebenarnya ia tidak benar-benar pergi ke toilet, ia hanya beralasan agar dokter Jo mengizinkannya keluar dari ruang perawatan Chintya.
Di rooftop, irgi berusaha berpikir positif bahwa sang mami akan sembuh dan berkumpul bersama seperti sedia kala, dan dalam waktu yang bersamaan, muncullah sekelebat momen kebersamaan mereka di otaknya.
Memorinya tiba-tiba memutar kembali momen kebersamaan keluarga tercintanya, seketika ia tersenyum lebar tatkala momen indah itu muncul dalam otaknya. Tak lama setelah itu, dokter Jo meneleponnya bahwa Chintya sudah sadar.
Irgi pun segera berlari menuju ruang perawatan sang mami, sambil berderai air mata kebahagaiaan, Irgi terus merapalkan do’a agar Chintya segera diberi kesembuhan seperti sedia kala.
Setibanya di depan ruang perawatan Chintya, Irgi segera menghapus sisa-sia air mata lantaran tidak ingin membuat sang mami khawatir jika melihat wajah dirinya yang basah.
Irgi melihat pantulan wajah tampannya di layar ponselnya. Setelahnya, ia berusaha menormalkan detak jantungnya setelah berlari tadi, hingga kemudian tersenyum lebar sambil membuka pintu di depannya.
“Irgi sayang, sini peluk mami!” pinta Chintya.
Tak mau berlama-lama, Irgi segera memeluk sang mami tercinta. Ia bahkan bisa merasakan detak jantung Chintya yang masih lemah, ia sangat bahagia bahwa Tuhan telah mengabulkan do’anya yang sangat ingin Chintya kembali sadar.
Irgi melepaskan pelukan itu dan menatap lekat wajah cantik Chintya, meski usia maminya sudah berkepala empat, namun wajahnya masih sangat cantik dan menawan.
__ADS_1
Chintya menghapus setetes air mata yang turun dari mata kanan puteranya.
“Kamu jangan nangis dong, masa anak laki-laki nangis sih.” ujar Chintya sambil tersenyum hangat pada Irgi.
“Air mata ini adalah air mata kebahagiaan, Irgi bahagia karena mami udah bisa senyum manis lagi.” tutur Irgi sambil membalas senyuman hangat sang mami.
...***...
Tiga hari pasca operasi, Chintya bersikeras ingin pulang, dengan terpaksa dokter Jo pun meminta izin kepada dokter yang menangani istrinya untuk memberikan izin.
Awalnya dokter tidak mengizinkan, namun karena melihat wajah Chintya yang tampak sangat sedih, akhirnya beliau mengizinkan dan berpesan bahwa Chintya harus tetap melakukan perawatan jalan untuk terus mengontrol kesehatannya.
“Ingat ya dokter Jo, tolong bawa ibu Chintya setiap satu minggu sekali untuk melakukan perawatan dan mengecek kesehatannya. Karena beliau belum benar-benar pulih.” dokter itu berusaha mengingatkan kembali, ketika Irgi sedang berkemas.
“Baik dokter, saya akan ingat pesan dokter.” sahut dokter Jo sambil sesekali melirik istrinya, yang tengah dipeluk oleh Ifa.
Dua jam kemudian, mobil dokter Jo sudah tiba di rumahnya. Ia segera membantu sang istri berjalan menuju kamar mereka, sementara barang-barang Chintya dibawakan oleh Irgi.
“Mami istirahat aja, nanti kalo jam makan siang Irgi kesini lagi buat bangunin mami. Mami mau makan siang apa? Biar Irgi dan Ifa siapkan,”
“Iya, mi. Ifa bisa kok buatin mami makanan. Kan Ifa sering liat mami masak.”
“Tapi jangan pake lada dulu ya, mi. Mami belum boleh makan pedas sedikitpun.” potong dokter Jo cepat. Ia ingat betul bahwa istrinya belum diperbolehkan makan yang pedas meski hanya sedikit, karena ia tahu bahwa istrinya sangat menyukai makanan pedas.
“Iya, pi. Mami juga ingat kok pesan dokter.” tutur Chintya sambil tersenyum.
Pukul 12.00, Ifa membangunkan Chintya untuk makan siang, setelah bekerja sama dengan sang kakak selama proses membuat bubur sesuai pesan sang mami.
Ifa membantu Chintya berjalan menuju ruang makan. Sementara Irgi bertugas menyiapkan makanan untuk mereka bertiga, tanpa dokter Jo yang beberapa menit lalu pamit ke rumah sakit lantaran mendapat telepon darurat dari staff rumah sakit. Katanya ada pasien yang harus segera dioperasi, sedangkan dokter yang seharusnya bertugas hari ini tidak masuk lantaran sakit.
Irgi menarik bangku untuk Chintya di samping tempat duduk adiknya.
“Gimana mi rasa buburnya?” tanya Ifa setelah melihat Chintya baru menelan satu suap bubur.
“Enak sayang,” jawab Chintya sambil tersenyum.
“Ini buatan aku sama kak Irgi lho mi.” Ifa menjelaskan, Chintya tersenyum.
“Makasih ya sayang-sayangnya mami.”
__ADS_1
...***...
Beberapa minggu setelah kepulangan Chintya, wajahnya terlihat lebih segar dan bercahaya dibandingkan ketika dirinya baru pulang. Selain itu, Chintya juga sudah lebih bertenaga untuk melakukan aktifitasnya sendiri, namun belum diperbolehkan mengajar oleh dokter Jo. Sebab ia khawatir istrinya akan kelelahan dan drop kembali.
Sore ini, rencananya rekan-rekan guru Chintya akan datang menjenguknya. Ia pun merasa sangat bersemangat untuk sekadar membuat kue sederhana sebagai camilan nanti, dan saat ini Chintya sedang membuat kue pukis dan brownis coklat serta meyiapkan jus mangga.
Di tengah kesibukannya di dapur, tiba-tiba dokter Jo datang dan memeluknya dari belakang. Seketika Chintya merasa terkejut kemudian memukul pelan sang suami.
“Nanti kalau anak-anak liat gimana, pi? Malu mami,”
“Lho kok malu? Kan dipeluk suami sendiri.”
“Udah ah lepas, mami lagi sibuk ini. Takut gosong ini pukisnya,”
Dengan berat hati dokter Jo pun melepaskan pelukannya, kemudian mencicipi satu pukis yang sudah matang. Matanya berbinar tatkala pukis itu masuk ke rongga mulutnya, menurutnya rasanya sangat lezat hingga membuat dirinya tidak mampu berkata-kata.
Chintya meminta Ifa untuk mencicipi rasa pukis buatannya, ketika melihat sang puteri baru keluar dari kamarnya, setelah ia mengerjakan tugasnya. Karena ini hari Sabtu, jadilah Ifa di rumah saja, sebab dirinya sedang malas keluar.
“Enak banget mi. Emang bener ya, sesuatu kalo buatan mami pasti enak.”
“Siapa bilang gitu?”
“Papi.”
Pukul 16.00, rekan-rekan guru Chintya tiba di kediaman keluarga dokter Jo. Mereka berjumlah empat orang, dari total keseluruhan tujuh orang.
Mereka sangat menikmati kue buatan Chintya juga jus mangganya, menurut mereka, rasanya sangat lezat. Bahkan ada yang menyarankan Chintya untuk membuka toko kue, dan mereka berjanji akan menjadi pelanggan tetap jika toko itu buka.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 17.05, rekan-rekan Chintya pun pamit karena hari sudah sore.
Ternyata memang betul kalau perempuan sudah ngerumpi, waktu gak kerasa, tiba-tiba sudah sore saja. Dasar perempuan makhluk yang suka ngerumpi, hihi.
...***...
Minggu pagi ini, menjadi jadwal rawat jalan Chintya, kedua anaknya bersikeras ikut mengantar sang mami mengecek kesehatannya. Keduanya ingin mengetahui langsung perkembangan sang mami dari penuturan dokter di rumah sakit.
Pukul 08.15, mobil dokter Jo tiba di rumah sakit kota Bandung. Dokter Jo segera mendaftarkan istrinya untuk melakukan rawat jalan sekaligus kontrol, untunglah Chintya mendapat nomor antrian 04, jadi ia tidak harus menunggu terlalu lama. Ada baiknya juga dokter Jo mengajak sang istri pergi pagi-pagi, sebab dokter Jo khawatir Chintya akan menunggu terlalu lama hingga membuat dirinya kelelahan, ia tidak menginginkan hal itu terjadi.
Sambil menunggu, Ifa memilih pergi ke rooftop rumah sakit. Ia merasa sangat bosan jika harus menunggu di ruang tunggu, terlebih dirinya merasa mual jika harus berlama-lama mencium aroma obat.
__ADS_1
Di rooftop, Ifa melihat seorang lelaki muda yang berpakaian rapi lengkap dengan setelan jas mahalnya, sedang duduk termenung sendirian di pojok, sambil menyembunyikan wajahnya di kedua lututnya. Ia pun penasaran hingga akhirnya mendekati lelaki itu.