
Randy bingung sekaligus panik, pasalnya ia tidak menemukan Ratih di ruang rawatnya. Jelas-jelas pukul 05.00 pagi tadi, sang ibu masih berada di ruangan ini. Randy pun pergi menuju petugas resepsionis rumah sakit, hendak bertanya tentang Ratih. Namun sebelum itu, Randy terlebih dulu menerima panggilan telepon dari David.
“Ada apa paman? Aku lagi nyari ibu ini. Ibu gak ada di ruang rawatnya, aku khawatir ibu pulang sendiri atau ada yang culik ibu. Ah sumpah, aku khawatir banget!” celoteh Randy tanpa memberikan kesempatan untuk David berbicara terlebih dulu.
“Tuan muda…” David hendak menjelaskan, namun Randy lebih dulu memotong ucapannya.
“Maaf mbak, saya mau tanya tentang pasien yang bernama Ratih di ruang rawat VVIP melati, pergi…”
“Tuan muda! Nyonya Ratih sudah di rumah, beliau pulang dengan saya.” terang David cepat, yang secara otomatis menghentikan ucapan Randy pada petugas. Seketika Randy mengelus dadanya yang bidang, meski dirinya sudah jarang berolahraga. Ia merasa lega.
Petugas itu tampak bingung, lantaran Randy tidak menyelesaikan ucapannya.
“Kenapa tidak bilang dari tadi?!” suara Randy sedikit keras yang menandakan dirinya sedang kesal.
“Maaf tuan muda, saya tadi ingin mengatakannya, tapi tuan muda terus saja berbicara.” David merasa serba salah.
‘Betul juga si paman David ini!’ batin Randy.
“Maaf, tadi tuan ingin bilang apa?” tanya petugas resepsionis masih dengan kebingungan, karena Randy justru berbicara dengan seseorang ditelepon. Ia merasa sedikit kesal, namun tidak menunjukkan kekesalannya secara langsung. Sebab khawatir akan memengaruhi karirnya.
“O iya, maaf, gak jadi mbak.”
Randy bergegas keluar dari rumah sakit, ia ingin segera pulang.
Sementara itu, petugas resepsionis itu mengumpati Randy dalam hatinya.
‘Dasar orang tampan tapi aneh!’ umpat petugas resepsionis dalam hati.
...***...
Randy pulang dengan selamat, ia menaiki taksi lantaran tidak membawa mobil. Setibanya di rumah, Randy segera mencari Ratih, ia ingin bertanya kenapa ibunya pulang tanpa menunggu dirinya.
Randy mencari Ratih ke kamar, namun tidak ada. Ia lalu mencari sang ibu di ruang keluarga, ruang tengah, ruang makan dan seluruh ruangan yang ada di rumahnya, namun hasilnya tetap nihil. Untung rumah Randy tidak terlalu besar, jadi ia tidak merasa kelelahan karena mencari Ratih. Sebab mendiang Rohit tidak terlalu menyukai rumah yang besar, toh anggota keluarganya hanya berjumlah tiga orang.
Di rumah Randy, hanya ada empat kamar. Dimana satu kamar milik Randy, Ratih dan mendiang Rohit, kamar untuk asisten rumah tangga serta satu kamar tamu.
Randy bertanya pada mbok Santi, apakah beliau melihat Ratih.
__ADS_1
“Ibu lagi di taman belakang tuan muda, saya barusan mengantar makanan ibu.” terang mbok Santi.
Randy berterima kasih pada mbok Santi. Ia berjalan cepat menuju taman belakang.
Setibanya di taman belakang, Randy merasa lega melihat sang ibu tengah mengurus tanaman-tanaman bunganya, tangan Ratih terlihat sangat termpil tatkala jari jemarinya berkutat dengan tumbuhan-tumbuhan kesayangannya.
Randy mendekati sang ibu.
“Ibu kok gak nunggu aku sih pulangnya?”
Ratih tidak menjawab, bahkan menoleh pada puteranya pun tidak. Randy paham bahwa sang ibu sedang kesal pada dirinya.
“Tadi aku khawatir banget, takut ibu diculik,”
“Kalo khawatir, makanya harus tepatin janjinya dong.” jawab Ratih masih tanpa menoleh pada Randy.
“Tadi aku ada urusan sebentar, waktu aku mau pergi, ibu belum bangun. Jadi gak enak kalo harus bangunin ibu.” tutur Randy, ia kini duduk di bangku yang ada di taman.
“Urusannya lebih penting dari ibunya sih ya, sampe-sampe gak tepatin janji sendiri!”
“Bukan gitu maksud aku, ibu jelas lebih penting dari segalanya.” Randy segera meralat ucapan Ratih.
“Tadi pagi itu, aku pergi ke ruang rawatnya sahabat dari wanita itu.” ucap Randy pelan, namun masih bisa didengar oleh Ratih, tentunya tanpa ia sadari.
“Hah wanita? Wanita siapa maksud kamu?”
Randy sedikit terkejut atas pertanyaan Ratih, pasalnya ia hanya mengatakan itu dengan pelan, tapi kenapa bisa didengar ibunya? Begitu pikir Randy.
Randy pun menjadi bingung, ia kelimpungan harus menjawab apa?
‘Haduh! Kenapa ibu bisa denger sih, aku harus jawab apa ini? Perasaan tadi aku ngomongnya pelan banget, apa karena disini sangat sepi jadi ibu bisa denger ya? Masa aku harus jujur sih? Sedangkan Ifa belum mengetahui perasaanku, gimana ini Tuhan?’ batin Randy.
Ratih mendekati Randy, ia menatap lekat wajah tampan puteranya, memerhatika setiap ekspresi sang putera. Karena tak mendapat jawaban, Ratih pun akhirnya bertanya kembali.
“Wanita siapa maksud kamu? Cepat jelaskan pada ibu!”
Randy belum menjawab, ia bahkan memalingkan wajahnya yang seketika membuat Ratih semakin geram.
__ADS_1
“Randy Haryo Notonegoro!”
Dada Randy terasa sesak, jantungnya berdegup kencang, ia selalu merasa seperti itu tatkala mendengar sang ibu memanggil namanya secara lengkap.
“I..itu bu,” Randy terbata.
“Lelaki itu, kalo ngomong harus tegas! Suaranya yang lantang, jangan kayak anak kecil!” kesal Ratih, masih memasang ekspresi kekesalannya.
Randy menghela napas panjang.
“Tadi pagi, aku pergi ke ruang rawatnya sahabatnya Ifa, perempuan yang sudah membuatku jatuh cinta,” pungkas Randy.
“Jatuh Cinta? Serius kamu jatuh cinta? Jadi nama wanita yang berhasil membuat kamu jatuh cinta Ifa, toh? Seperti apa rupanya? Ibu ingin lihat dong? Kamu udah nyatain perasaan kamu? Terus gimana responsnya? Dia nerima kamu? Kalian udah resmi jadian?” Ratih mencecar Randy, jiwa keponya naik dua ratus derajat, ahaha.
Randy pun menggeleng.
“Maksud kamu apa sih, Randy? Kalo jelasin tuh yang jelas dong, lelaki kok kayak gitu banget sih!” suara Ratih sedikit tinggi, ia sangat geram pada putera semata wayangnya, yang terkesan sangat lembek.
Randy kembali menghela napas panjang.
“Boro-boro jadian bu, aku mau nyatain perasaan aku aja belum selesai. Soalnya tadi pagi sahabatnya Ifa meninggal, jadi aku gak sempet mengutarakannya.” tutur Randy sambil menghela napas, ia kemudian menunduk setelah mengingat kembali momen pernyataan cinta yang baru pertama kali ia lakukan dalam hidupnya, dimana tidak semudah harapannya.
“Ya Tuhan! Jadi si Ifa itu belum tau perasaan kamu dong?” Randy mengangguk.
“Tapi kamu ada fotonya?” Ratih sangat penasaran, seketika Randy menatap Ratih dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Come on, Randy! Ibu baru pertama kali denger kamu jatuh cinta, waktu ibu nawarin buat kenalin kamu ke anak-anaknya kenalan ibu, kamu kayak ogah. Jadi pantaskan jika ibu sangat penasaran!”
Ratih benar, Randy baru pertama kali merasakan yang namanya cinta. Randy pun akhirnya membuka akun instagram miliknya, ia menunjukkan foto Ifa dari instagram Irgi. Randy belum berani memfollow instagram Ifa, karena ia khawatir tidak akan disetujui, sebab Ifa menjadikan akunnya ‘private’.
“Laki-laki ini siapa, nak?” tanya Ratih dengan suara yang sudah normal.
“Dia kakaknya.”
“Bagus itu! Pokoknya kamu harus cepat nyatain perasaan kamu, keburu si Ifa ini ada yang tembak.”
Randy merasa dejavu dengan kalimat yang baru saja diucapkan Ratih.
__ADS_1
“Kenapa ibu mengulangi kalimat menyebalkan itu!” kini, Randy justru merasa kesal pada sang ibu.