
...*Momen sebelum Ratih dibawa ke rumah sakit.*...
Terhitung sudah lima hari Randy harus bolak-balik Bandung-Cirebon-Bandung, akibatnya ia selalu pulang terlambat, yang otomatis mengurangi waktunya bersama Ratih. Randy hanya melihat sang ibu ketika pagi hari, sebelum ia berangkat.
Hari ini merupakan hari keenam, dan Randy berencana pergi ke Cirebon lagi untuk memantau proyek pembangunan hotel yang sudah rampung 80%, hanya tersisa 20% agar selesai. Sejauh ini, belum pernah ada kendala yang sulit selama pengerjaannya, hanya ada beberapa kendala kecil yang mudah untuk diatasi.
Randy sangat bersyukur karena Tuhan memudahkan urusannya. Randy berharap hotel di Cirebon segera beroperasi, dan setelahnya ia bisa sedikit lega. Ia berniat mengajak Ratih ketika hotel itu siap dibuka, ia sudah menyiapkan rencana liburannya bersama sang ibu di kota udang tersebut.
Hari ini, Randy pergi ke Cirebon pagi-pagi sekali, yakni pukul 05.30, ia bahkan tidak sempat melihat wajah cantik Ratih.
...***...
Pukul 17.00, Randy masih sibuk dengan pekerjaannya di Cirebon. Sepertiya ia masih harus pulang telat lagi hari ini. Ketika Randy sedang mengecek semua laporan yang diberikan para pegawainya hari ini, tiba-tiba ponselnya bedering panjang. Ia pun melihat sekilas layar ponselnya yang menampilkan ‘Mbok Santi’ menelepon dirinya.
“Halo tuan muda,” sapa mbok Santi setelah telepon tersambung.
“Iya, ada apa mbok?” tanya Randy sambil melihat satu laporan terakhir.
“Ibu Ratih masuk rumah sakit, tuan. Sekarang masih diperiksa dokter,”
Mbok Santi tidak memanggil Ratih nyonya, lantaran Ratih sendiri yang tidak suka dipanggil nyonya. Menurut Ratih, panggilan nyonya terlalu membedakan kasta antara dirinya dan mbok Santi selaku asisten rumah tangga. Sedang Santi dipanggil mbok, sebab dirinya biasa dipanggil seperti itu, ia nyaman dengan panggilan mbok.
Panggilan mbok sebenarnya panggilan pertama yang diucapkan anak mbok Santi, itu sebabnya Santi merasa nyaman dan senang jika dipanggil mbok.
“Baik Randy kesana sekarang!”
Randy segera menuju mobilnya, ia meminta Ari untuk melajukan mobilnya dengan kencang agar segera sampai di rumah sakit. Namun Tuhan berkehendak lain, jalan tol menuju kota Bandung sore ini sangat macet. Randy kesal. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Ratih, ia jadi teringat kembali ucapan dari Ari beberapa hari lalu.
Randy berusaha untuk tetap berpikir positif, namun saat ini otaknya sangat susah diajak bekerjasama, hanya ada pikiran negatif dalam akalnya.
“Akh! Ya Tuhan, kenapa Engkau membuat jalannya macet sekarang!” teriak Randy di dalam mobil.
__ADS_1
“Tenang tuan muda, tuan muda Randy harus tetap tenang.” David berusaha menghibur Randy.
“Mana bisa tenang sekarang, paman. Ibu masuk rumah sakit, aku gak tau keadaan ibu sekarang. Aku khawatir ibu kenapa-napa!” atensi Randy masih meninggi saat ini.
“Saya coba telepon mbok Santi ya tuan,” tutur Ari, ia juga sangat khawatir dengan kondisi ibu dari tuan mudanya.
Satu panggilan hingga dua panggilan tidak diangkat oleh mbok Santi, namun Ari tidak menyerah. Ia kembali menghubungi rekan kerjanya, yang bertugas di dalam rumah Randy.
“Halo Ari, ada apa?” sahut mbok Santi pada panggilan ketiga yang diangkat olehnya.
Ari tidak menjawab pertanyaan mbok Santi, ia segera menyerahkan ponselnya pada Randy.
“Mbok gimana keadaan ibu?”
“Ibu Ratih masih diperiksa dokter tuan muda, dari tadi dokternya belum keluar,” ucap mbok Santi dengan suaranya yang bergetar. Ia sangat khawatir perihal keadaaan Ratih, terlebih dokter belum keluar sedari tadi, padahal sudah sekitar tiga puluh menit Ratih diperiksa.
“Aish! Kenapa lama banget dokter meriksa ibu?”
“Paman, tolong pesankan Randy ojek online saja. Pak Ari tolong keluar dari jalan tol di pintu keluar nanti, Randy ingin cepet sampe Bandung.”
“Baik, tuan muda.” sahut Ari dan David bersamaan.
...***...
Randy tiba di rumah sakit kota Bandung pada pukul 23.40, ia segera menuju ruang ICU empat tempat Ratih berada, yang sebelumnya sudah diberitahukan oleh mbok Santi.
Randy bertanya pada mbok Santi, apakah dokter telah selesai memeriksa Ratih, namun mbok Santi masih memberikan jawaban yang sama seperti beberapa jam lalu. Sontak Randy semakin khawatir dan gelisah.
‘Ibu harus kuat, ibu pasti sembuh.’ batin Randy mencoba menguatkan dirinya, tak lama pun dokter keluar.
Dokter bertanya apakah Randy adalah anggota keluarga Ratih, dan dengan cepat Randy mengangguk.
__ADS_1
“Mari ikut saya, biar kita bicara di ruangan saya saja.”
Randy mengikuti langkah dokter, menuju ruangannya. Sedang di dalam hatinya, tetap merapalkan doa agar Ratih segera sadar dan sembuh.
“Ibu Ratih terkena serangan jantung dadakan, sepertinya beliau pernah mengalaminya sebelum ini. Apa Anda mengetahuinya?”
Duar! Dunianya serasa runtuh menghujam tubuh Randy dengan kejam, seolah kepergian sang ayah belumlah cukup, kini Tuhan membuat wanita yang sangat dicintainya terbaring lemah karena penyakit mematikan yang bersarang di tubuhnya.
“Tidak dok, saya baru pertama kali mengetahui ini. Apa ibu saya sering mengalaminya?” tanya Randy dengan suara bergetar.
“Dari hasil pemeriksaan, sepertinya ini kali ketiga. Mungkin ibu Anda tidak menyadari bahwa itu adalah gejala serangan jantung, makanya beliau tidak terlalu memedulikan.” terang dokter.
“Lantas, apa ibu saya bisa sembuh seperti sedia kala?” Randy sangat berharap Ratih bisa sembuh kembali.
“Untuk itu, saya akan berbuat semampu saya. Anda juga harus terus mendoakan ibu Ratih, karena berkat doa anak, bisa jadi penyakit separah apapun bisa sembuh dan meninggalkan tubuh orang tuanya.”
Randy mengangguk.
“Saran saya, ibu Ratih jangan terlalu stres dan kelelahan, karena dua hal itu bisa membuat kondisinya lebih drop. Anda dan orang-orang di dekat ibu Ratih, harus bisa membuat suasana hatinya tetap tenang dan bahagia.”
“Baik, terima kasih dokter.” Randy pun keluar dari ruangan itu, ia ingin melihat ibunya. Kebetulan dokter sudah mengizinkan Randy melihat ibunya dari dekat.
Di dalam ruang ICU empat, Randy kini berada. Ia sudah memakai pakaian khusus untuk digunakan di ruangan ini, yang sudah menjadi aturan rumah sakit, agar ruang ICU tetap steril. Ratih belum dipindahkan ke ruang rawat biasa, lantaran kondisinya belum memungkinkan.
Randy bercerita tentang berbagai hal yang sudah dialaminya hari ini pada Ratih, meskipun sang ibu tidak merespons, namun Randy tetap semangat menceritakannya. Ia melakukan itu untuk berusaha menghibur Ratih, walau ia tahu bahwa ibunya tidak akan menimpali setiap ucapan yang ia lontarkan.
Waktu terus berjalan, hingga dua puluh menit sudah Randy berbicara sendiri di samping Ratih. Namun Ratih sama sekali tidak merespons. Hingga tiba-tiba, layar komputer Ratih bersuara cukup nyaring dan menampilkan detak jantung Ratih yang sedikit melemah. Randy sedikit memahami itu, lantaran ia pernah melihat layar komputer yang terhubung dengan ayahnya di saat Rohit belum meninggal, dan hal itu kembali terjadi pada sang ibu.
Randy lantas segera memanggil dokter dan perawat, ia khawatir ibunya akan terlambat ditangani jika dirinya tidak segera pergi.
Perawat meminta Randy untuk menunggu di luar ruang ICU, agar dokter lebih fokus memeriksa Ratih.
__ADS_1
Randy yang terlalu takut dan khawatir pun akhirnya pergi menuju rooftop rumah sakit.