JODOH DARI INSTAGRAM

JODOH DARI INSTAGRAM
BAB 14 : Tidak Selamnya Cinta Pertama Indah


__ADS_3

Setibanya di rumah, Ifa segera mendudukkan diri di sofa ruang tamu. Ia, masih tidak percaya bahwa Eren, sahabat terbaiknya sudah tiada, meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Ifa, masih ingat betul, beberapa hari lalu, Eren setia mendengarkan curhatan dirinya. Ifa menceritakan semua pasal kekasih pertamanya yang tiba-tiba pergi tanpa kabar, bahkan sang kekasih sudah tidak masuk sekolah selama dua hari, dan Ifa baru mengetahui setelah ia bertanya pada salah satu teman kelas Aryo, pria yang baru satu bulan menjadi kekasihnya.


Ifa memang tidak pernah bercerita tentang Aryo pada orang lain selain Eren, termasuk kedua orangtuanya dan sang kakak. Ia terlalu malu untuk sekadar jujur bahwa dirinya sudah punya kekasih. Ia khawatir jika dirinya menceritakan hal itu pada keluarga, keluarganya tidak akan mengizinkannya untuk berpacaran, apalagi jika mengingat sifat Irgi yang sering meledeknya.


"Co-coba lu bayangin a-ada di posisi gue, Ren..." ucap Ifa terbata sambil sesenggukan ketika dirinya curhat pada Eren. Keduanya sedang berada di pojok taman sekolah sejak bel istirahat berdentang. Beruntungnya mereka keadaan taman siang ini tidak terlalu ramai.


"Sumpah, Aryo jahat banget sama gue, Ren. Padahal dia udah janji gak bakal ninggalin gue tanpa kabar, dia juga janji bakal setia sama gue... Ta-tapi apa buktinya? Dia pergi tanpa sebab dan kabar yang jelas, nomernya aja sampe hari ini masih gak aktif..." Ifa kembali sesenggukan.


"Kalo tau gini, gue nyesel udah nerima dia, gue nyesel udah sayang sama dia dan yang paling buat gue nyesel adalah, udah kenal sama dia... Dia udah nyakitin gue sangat dalem,"


"Seharusnya gue gak terima dia secepat itu, iya kan, Ren?" Ifa kembali sesenggukan, bahkan kali ini, tangisnya terdengar sangat pilu dan menyayat hati.


Eren segera memeluk erat tubuh sahabat baiknya, sambil mengelus punggung Ifa dan sesekali mengusap rambut hitam sebahu sang sahabat.


"Gue nyesel banget udah kenal sama Aryo dan sayang sama dia, gue gak bakal maafin dia kalo suatu hari dia minta maaf. Tapi kayaknya itu gak mungkin..." Ifa kembali berucap dalam pelukan hangat Eren, sedang Eren belum memberikan komentarnya. Ia ingin membebaskan Ifa untuk mengeluarkan seluruh isi hatinya terlebih dahulu, agar sang sahabat merasa lebih lega.


Ifa meluapkan seluruh kesedihannya dalam pelukan Eren, ia sekuat tenaga menahan rasa sedih dalam hatinya sejak jam pelajaran pertama.


"Menurut lu, sekarang gue harus apa, Ren? Gue butuh saran dari lu, gue butuh semangat dari lu," Ifa kembali sesenggukan, dan Eren pun memeluknya lagi.


Satu menit kemudian, Eren melepaskan pelukannya pada Ifa. Ia menatap lekat wajah cantik Ifa yang masih tersisa air mata di kedua sudut matanya yang kini menjadi sembab akibat menangis sedari tadi.


"Saran gue, lu sekarang harus hapus..." Eren sengaja tidak menyelesaikan ucapannya.


"Hapus apa, Ren?" Ifa sangat penasaran.


"Hapus, hapus, hapus ingus lu dulu tuh. Gue ilfeel banget tau gak liat sahabat cantik gue ini ingusan. Lu jadi gak keliatan cantik, justru bikin orang mulas!" jawab Eren konyol, ia sengaja berkata seperti itu untuk menghibur Ifa.


"Lu ngomong apa sih, Ren? Bukannya serius malah becanda," kata Ifa ketus, namun akhirnya ia tertawa juga. Ia merasa sedikit kesal pada sang sahabat, tapi tidak bisa membalas ucapan Eren yang terdengar menghibur sekaligus mengejek.


Ifa kemudian menghapus ingusnya menggunakan kain bagian dalam dari seragamnya.


"Ihhhh, jorok banget. Iyuh!!!" Eren memasang wajah jijik sambil berpura-pura ingin muntah.


"Ya mau gimana lagi, gue kan gak bawa tisu. Semua barang-barang gue di tas, dan tasnya ada di kelas. Emang lu mau nampung ingus gue di baju lu?" Ifa sengaja mendekatkan hidungnya pada seragam Eren.

__ADS_1


Sontak Eren mendorong kepala Ifa hingga tubuhnya tersungkur ke tanah, ia sama sekali tidak merasa menyesal telah melakukan hal itu pada sang sahabat.


Ifa tertawa tepat setelah dirinya jatuh, terlebih ketika dirinya meratapi nasib buruk yang baru saja dialami dan kebodohan akalnya, yang mudah percaya pada seorang pria. Namun pada detik berikutnya, ia kembali menangis, tapi kali ini tanpa sesenggukan dan suara.


Melihat hal itu, Eren pun merebahkan tubuhnya di samping Ifa.


"Sumpah ya, Fa. Selama kenal sama lu, gue baru pertama kali liat lu ingusan, mana cap sebelas lagi ingusnya. Ahahahahahaha." Eren tertawa lepas, Ifa pun kemudian ikut tertawa.


Eren berpikir keras, kalimat atau saran apa yang akan diucapkannya untuk sang sahabat.


"Fa..." panggil Eren tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


"Hmm..." Ifa hanya membalas dengan gumaman.


"Sebelumnya maaf karena gue baru ngomong ini hari ini, gue khawatir kalo gue ngomong waktu itu, lu gak bakal percaya sama gue. Terserah lu mau marah atau benci sama gue setelahnya..."


"Maksud lu apa sih, Ren? Jangan ngasal deh kalo ngomong!" suara Ifa sedikit keras ketika mengatakan itu.


"Sebenarnya, sebelum Aryo nyatain perasaan ke lu, gue pernah liat dia jalan sama Celine. Lu tau kan Celine kelas 12 IPA yang terkenal itu?"


"Iya, siapa sih yang gak tau dia. Cewek populer sekolah kita ini." sahut Ifa sedikit malas ketika membahas Celine, dalam hatinya berpikir bahwa Aryo adalah playboy cap kadal yang biasa merayu wanita siapa saja.


Eren merasa tidak yakin untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Terus apa?" Ifa sangat penasaran.


"Si Aryo masukin sisa mayonaise dari bibir Celine ke mulutnya," ucap Eren pelan namun masih bisa didengar jelas oleh Ifa.


"Oh." Ifa hanya mengucapkan satu kata itu. Eren kemudian menatap lekat wajah cantik Ifa.


"Lu gak papa denger ucapan gue barusan?" Eren bertanya dengan hati-hati.


"Jujur, gue jadi benci sama dia setelah mendengar penjelasan lu tadi, tapi dari lubuk hati gue, gue masih sedikit menyukainya. Cuman sekarang gue sadar, mungkin Aryo emang gak menganggap hubungan gue sama dia serius, padahal gue ngarepnya dia adalah cinta pertama dan terakhir dalam hidup gue. Tapi, gue bersyukur Tuhan menunjukkan sifat asli dari lelaki sialan* itu. Karena dengan begitu gue gak sakit lebih dalem lagi, iya kan Ren?"


Eren mengangguk sambil mengangkat kedua jempol jari tangannya, ia merasa sangat bangga pada sahabatnya ini. Keduanya kini sudah duduk berhadapan di pojok taman itu.


"Gue seneng lu akhirnya sadar sekarang, Fa. Gue khawatir banget kalo lu gak percaya sama gue dan bakal jauhin atau benci gue."

__ADS_1


"Gak mungkin dong, orang yang pantes gue benci ya lelaki itu. Gue selamanya gak bakal bisa benci atau jauhin lu." Ifa sangat malas untuk sekadar menyebut nama Aryo, lelaki yang sudah menjadi kekasih pertamanya sekaligus lelaki pertama yang menyakiti hatinya.


Ifa berjanji, tidak akan pernah membuka pintu hatinya untuk Aryo lagi.


Tak lama bel sekolah berdentang sangat nyaring, kedua sahabat itu lantas segera bangun dan menuju ruang kelas mereka.


Ifa menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya, ia kembali terisak ketika mengingat kenyataan pahit bahwa Eren sudah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


Chintya yang melihat Ifa dengan gerakan mengusap pipinya pun segera menghampiri sang puteri, ia paham, bahwa Ifa pasti belum bisa menerima kepergian Eren dengan ikhlas. Namun ia yakin, lambat laun Ifa akan mengikhlaskan hal itu.


"Sayang," panggil Chintya lembut, Ifa yang baru menyadari kehadiran sang mami pun menoleh pada wanita yang sudah melahirkannya.


"Kamu harus ikhlas, kamu juga harus selalu mendoakan almarhumah Eren." ucapnya sambil tersenyum.


Ifa mengangguk mendengar penuturan sang mami. Tak lama, Ifa memeluk Chintya dan menangis dalam pelukan hangat yang diberikan maminya.


***


Keesokan paginya, Ifa bangun sedikit terlambat. Ia tidak berniat sekolah hari ini, terlebih matanya masih bengkak lantaran menangis semalaman.


Ifa kemudian mengambil ponselnya, ia hendak Anton sang ketua kelas.


"Halo, Fa. Ada apa?" Anton bertanya dari sambungan telepon.


"Maaf, Ton. Gue gak bisa sekolah hari ini, gue ngerasa gak enak badan. Lu bisa tolongin gue buat bilang ke guru?"


"Bisa kok, get well soon ya, Fa."


Seperti mendapat hadiah lotre, senyum Ifa seketika melebar. Ia sangat senang lantaran Anton mau membantunya, padahal ia sudah sangat pesimis jika Anton tidak akan membantu, mengingat ia tidak terlalu akrab dengan sang ketua kelas.


Setelah menelepon Anton, Ifa segera mencuci wajah bantalnya kemudian pergi menuju ruang keluarga. Sebab Chintya sudah memanggilnya tadi.


 


Hai ges! ingat ya, tidak selamanya cinta pertama itu indah, seperti kisahnya Ifa disini huhuhu 🤧 yang sabar ya Ifa, peluk cium jauh buat kamu dari aku pembuat kamu🤗🤗


.

__ADS_1


.


terima kasih buat yang masih setia baca tulisan recehku ini 🤗 mohon koreksinya jika ada salah kata atau kalimat ya manteman 🤗


__ADS_2