
Masih di rooftop rumah sakit, Ifa berusaha melihat wajah lelaki yang terlihat masih muda itu, namun sia-sia lantaran ia seperti enggan menunjukkan wajahnya, dan Ifa tidak ingin menganggunya. Hingga akhirnya Ifa hanya duduk diam di depan lelaki yang tak dikenalnya.
Satu menit, dua menit hingga dua puluh menit Ifa menunggu, namun lelaki itu tetap pada posisinya semula. Ifa pun menjadi cemas, ia khawatir lelaki itu sudah tidak bernyawa dan dirinya dituduh sebagai pembunuh.
“Halo pi, papi bisa ke rooftop sebentar? Disini ada orang aneh,” Ifa akhirnya menelepon papinya dan meminta untuk datang.
“Orang aneh gimana maksudnya?” dokter Jo bertanya-tanya.
“Jelasin di telepon rebet, pi. Mending papi kesini aja.”
“Oke oke, papi kesana.” dokter Jo segera mematikan telepon itu.
“Irgi, tolong jaga mami. Papi mau ke rooftop sebentar, nanti kalau giliran mami cek up telepon papi segera ya!” pesan dokter Jo pada putera sulungnya. Irgi lantas mengangguk atas pesan sang papi yang sarat dengan perintah. Kebetulan Chintya sedang ke toilet, jadi dokter Jo tidak perlu menjelaskan alasannya, dan Irgi memang tidak terlalu ingin mengetahui alasan itu.
Dokter Jo berjalan cepat menuju rooftop rumah sakit, ia sangat penasaran dengan apa yang dimaksud ucapan puterinya yang katanya ada ‘orang aneh’. Ia bahkan menduga-duga jika ada orang yang akan melukai sang puteri tercinta, namun jika mengingat nada bicara Ifa tadi, sepertinya tidak ada orang seperti itu. Lantas orang aneh seperti apa?
Ruang kontrol Chintya berada di lantai satu, jadi dokter Jo butuh beberapa menit untuk tiba di rooftop yang berada paling tinggi di rumah sakit ini. Meskipun dokter Jo menaiki lift tetap saja ia butuh waktu kan, kecuali jika ia menggunakan pintu kemana sajanya milik doraemon, tapi kan pintu itu hanya ada di dalam kartun.
Tepat satu menit kemudian, dokter Jo sampai di rooftop. Ia segera mencari keberadaan puterinya.
“Papi!” dokter segera berlari ke arah Ifa, dan memeluk puterinya. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada puteri kesayangannya.
“Papi, lepasin aku. Itu orang anehnya!”
Dokter Jo lantas melepaskan pelukan itu, ia turut melihat lelaki yang ditunjuk oleh Ifa.
“Siapa dia?”
“Aku gak tau, pi. Dari tadi dia diem aja kayak gitu, aku takut dia kenapa-kenapa.” ifa terdengar sangat cemas.
“Udah berapa lama?”
“Ifa gak tau pastinya, pi. Tapi ifa disini udah sekitar tida puluh menit, dan dia udah kayak gitu sejak Ifa dateng.”
“Mau coba bangunin khawatir orangnya udah meninggal, terus nanti aku dituduh pembunuh.” tutur Ifa dengan suara bergetar.
Dokter Jo lantas menyentuh lengan atas lelaki itu dengan kedua tangannya, ia kemudian menggoyangkan sedikit tubuh yang masih belum merespons itu.
__ADS_1
“Tuh kan, pi. Orangnya diem aja. Gimana ini, pi?” Ifa semakin khawatir, sementara dokter Jo tetap tenang.
Dokter Jo kembali menggoyangkan tubuh pemuda itu, sambil berkata bahwa ia harus bangun. Hingga pada usahanya yang kelima, lelaki itu membuka matanya dan bertanya ‘siapa’ pada dokter Jo dan Ifa.
“Saya dokter Jo, dan ini puteri saya. Kamu sedang apa disini? Kamu tadi kenapa?” dokter Jo bertanya.
Lelaki itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Randy Haryo Notonegoro pun tampak berpikir. Seketika dirinya ingat bahwa ia tadi sedang sangat sedih, hingga akhirnya tertidur dengan posisi duduk dan menekuk kedua lututnya, sambil membenamkan wajahnya.
Randy tiba-tiba menangis ketika dirinya mengingat sebab kesedihannya. Sementara Dokter Jo menjadi sangat kebingungan ketika melihat Randy menangis.
Dokter Jo pun bertanya pada Randy dan Randy tak sungkan bercerita, bahwa dirinya sangat sedih lantaran sang ibu sedang sakit yang saat ini sedang berada di ruangan ICU. Namun yang paling membuatnya sedih adalah, ia khawatir ibunya akan segera menyusul almarhum ayahnya.
Dokter jo lantas memegang kedua bahu Randy, matanya menatap lekat wajah tampan pemudia berusia dua puluh satu tahun itu.
“Ran, kamu jangan sedih. Lebih baik kamu do’akan ibumu agar cepat pulih, dan do’akan juga ayahmu agar beliau tenang di alam sana. Kamu minta pada Tuhan agar almarhum ayahmu, tidak perlu merasa khawatir terhadap ibumu. Biar kamu yang menjaga dan melindungi ibumu disini.” ujar dokter Jo dengan tersenyum hangat.
“Terima kasih dokter Jo. Saya tidak berpikir panjang dan lupa bahwa masih ada Tuhan yang Maha menyembuhkan segala macam penyakit hambanya.”
“Saya jadi malu karena nangis di depan dokter dan puteri dokter, ehehe.”
...***...
“Papi dari mana aja sih? Kata irgi papi hanya pergi sebentar, tapi kok lama banget.” Chintya sedikit kesal pada suaminya, lantaran dokter Jo tidak menepati janjinya yang bilang hanya pergi sebentar.
“Maafin papi, mi. Tadi aku yang minta papi nyusul aku,” Ifa berkata sambil tertunduk.
“Ibu Chintya Salsabil Saputra!” panggil perawat, karena sudah waktunya Chintya kontrol.
Chintya segera menuju ruangan tempatnya kontrol dengan diikuti dokter Jo dan kedua anaknya. Untung saja dokter membolehkan seluruh anggota keluarga Chintya masuk ke ruang kontrol, tentunya negosiasi itu tidak mudah jika bukan dokter Jo yang melakukannya.
Dokter mulai mengecek fisik dan kesehatan Chintya, tak lupa dokter turut mengecek organ-organ dalam Chintya. Karena operasi yang dialami Chintya tergolong operasi yang cukup besar.
“Ibu pernah merasakan keluhan di bagian tertentu tidak?” tanya dokter.
Chintya pun menggeleng, sebab dirinya merasa baik-baik saja dan belum pernah mengalami keluhan apapun pasca operasi itu.
“Apa ibu sudah memulai kembali aktivitas ibu yang sebelumnya?”
__ADS_1
“Belum dok, suami dan kedua anak saya belum memperbolehkan. Katanya, mereka sangat khawatir jika saya tidak di rumah.” jawab Chintya sedikit malas, pasalnya ia sudah sangat ingin mengajar.
“Baik, setelah saya mengecek kondisi ibu Chintya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan meski ibu sudah menjalani operasi yang cukup besar, selain itu tidak ada tanda-tanda efek samping dari operasi itu. Ibu sudah lebih baik dari sebelumnya, dan ibu sudah boleh memulai aktivitas ibu sebelumnya. Karena manfaatnya sangat besar bagi tubuh dan kesehatan mental ibu. Tapi ibu juga harus berhati-hati jika nanti sudah memulai semuanya kembali, ibu sudah merasa bosan kan di rumah terus?”
“Tentu saja, saya sangat bosan di rumah terus!” Chintya berkata pelan namun sangat tegas, seolah ia menegaskan bahwa ia tidak ingin dilarang melakukan sesuatu sesuai keinginannya.
“Jadi saran saya, dokter Jo dan putera serta puterinya ibu Chintya, jangan larang-larang lagi ibu Chintya nya ya. Kasihan kalau ibunya dilarang, nanti ibu Chintya justru merasa stres dan tidak bebas.” tutur dokter sambil tersenyum.
Seketika, dokter Jo, Irgi dan Ifa hanya bisa cengengesan.
...***...
“Ingat ya kalian, jangan lagi larang-larang mami untuk ngajar. Mami kan udah sangat rindu sama anak mami yang lucu-lucu,” Chintya sudah membayangkan para muridnya tersenyum manis serta lugu padanya, ia sungguh sangat merindukan momen itu.
“SIAP BOSSS!” ujar dokter Jo, Irgi dan Ifa bersamaan sambil hormat, mereka sudah pulang.
Malam hari pukul 21.00, Ifa sedang minum air dingin sambil memikirkan sesuatu. Tak lama datanglah dokter Jo yang juga sangat ingin minum dingin.
“Kok belum tidur?” tanya dokter Jo.
Ifa menggeleng pelan.
“Haus banget, pi. Jadi pengen minum air dingin.”
“Sama dong, papi juga lagi pengen minum air dingin nih.”
Dokter Jo segera meminum air dingin yang sudah dituangnya ke dalam gelas hingga tak tersisa.
“Pi, kok aku jadi mikirin lelaki di rooftop itu ya. Kira-kira sekarang keadaan ibunya gimana ya, pi?”
“Mmm, papi gak tau pastinya, tapi semoga saja ibunya baik-baik dan segera diangkat penyakitnya supaya bisa kumpul sama anaknya lagi.”
“Terus aku jadi kepikiran mami, aku khawatir, mami…”
Ifa tidak sanggup menyelesaikan ucapannya, dengan cepat dokter Jo menenangkan Ifa sambil memberikan pelukan.
“Kamu do’ain aja yang terbaik buat mami, papi dan kak Irgi juga.” Ifa hanya mengangguk, namun dalam hatinya, ia tidak bisa mengusir pikiran buruk itu.
__ADS_1