
Masih di hari yang sama dan suasana yang sama pula, Randy sedikit kesal lantaran sang ibu, Ratih, mengucapkan satu kalimat menyebalkan yang beberapa hari lalu membuat hatinya tak tenang.
"Kenapa ibu mengulangi kalimat menyebalkan itu!" ucap Randy dengan suara agak keras, seketika Ratih merasa bingung. Ia tidak mengerti dengan puteranya.
"Hah? Apa maksud kamu?" Ratih bertanya keheranan.
"Sudahlah, gak usah bahas Ifa lagi. Aku mau mandi, gerah banget!" Randy hendak berlalu, namun Ratih menarik lengan kirinya.
"Tunggu, kamu belum bilang ke ibu, kapan kamu nembak Ifa? Come on Randy, memang kamu gak khawatir kalo Ifa..." Ratih tidak sempat menyelesaikan ucapannya.
"Ibu cukup! Aku mau mandi dulu." Randy segera berjalan menuju kamarnya.
Ratih tidak lagi menahan tubuh sang putera, namun ia sangat penasaran apa yang sudah terjadi atau dialami Randy, sehingga membuat Randy terlihat sangat kesal setelah mendengar kalimat yang diucapkan Ratih beberapa detik lalu.
"Ada apa dengan dia? Kenapa dia kayak kesal banget? Apa aku salah mengucapkan kalimat itu? Padahal kan maksudku cuma ngingetin aja, supaya dia gak nyesel nantinya. Akh, dasar anak aneh!" kini, justru Ratih yang merasa kesal.
Sementara itu, di kamar, Randy sedang duduk di tempat tidurnya. Ia memijat kepalanya yang terasa sedikit nyeri setelah mendengar kalimat keramat itu lagi, terlebih kalimat itu diucapkan oleh sang ibu.
'Ya Tuhan! Kenapa Engkau biarkan aku mendengar kalimat sialan itu lagi sih? Dan kenapa harus ibu yang mengatakannya?!'
"Akh! ****!" Randy mengumpat, kepalanya masih terasa nyeri. Entah kenapa, kalimat itu membuatnya sangat tidak nyaman dan tenang. Tanpa Randy sadari, Ratih mendengar umpatan dari mulutnya.
Ratih ingin mengetuk pintu kamar Randy, namun ia mengurungkan niatnya, setelah mendengar umpatan sang putera. Ia pun pergi ke kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Randy.
***
Waktu makan malam tiba, Ratih dan Randy sudah berada di depan meja makan, dengan masih mengambil beberapa makanan yang tersedia di meja itu. Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut mereka. Baik Ratih ataupun Randy, sama-sama menikmati makanan sambil larut dengan pikiran masing-masing.
Randy lebih dulu selesai menyantap makanannya dibandingkan Ratih, ia berdiri hendak ke kamar.
"Terima kasih makanannya, semuanya enak." Randy memuji masakan mbok Santi yang juga turut makan bersamanya dengan sang ibu.
Ratih menatap sebal punggung Randy, bisa-bisanya Randy bersikap tenang dan terkesan cuek dengan semuanya, apa Randy tidak serius mencintai Ifa? Apa Randy tidak bersungguh-sungguh ingin memiliki Ifa? Begitu kiranya yang ada dalam pikiran Ratih saat ini.
"Huh, dasar anak aneh! Katanya cinta, tapi gak gercep nyatain perasaannya!" Ratih berbicara sendiri, namun karena mbok Santi masih bersamanya di meja makan, seketika mbok Santi pun menjadi sangat penasaran.
"Tuan muda Randy sedang jatuh cinta sama siapa, bu?" mbok Santi bertanya.
__ADS_1
Ratih baru menyadari bahwa mbok Santi masih ada di dekatnya, ia pun merasa terkejut setelah mendengar pertanyaan mbok Santi.
"Lho?! Mbok Santi masih disini? Saya kira sudah pergi," ujar Ratih sekenanya.
"Saya masih disini daru tadi, bu." ujar mbok Santi sambil tersenyum.
Ratih pun bingung, apakah ia harus bercerita tentang puteranya, Randy, pada mbok Santi?
"Oh ah, itu ya. Mmm, kayaknya sih gitu mbok, tapi anehnya, saya tanya kapan dia nyatain perasaannya aja, eh dia malah marah gak jelas. Aneh kan si Randy?" Ratih menggelengkan kepalanya, ia masih belum memahami puteranya.
***
Keesokan paginya, Randy sudah bersiap untuk pergi ke kantor, ia sedang terburu-buru lantaran ada jadwal meeting pukul 07.00. Belum melangkah sampai pintu, kedua kaki Randy otomatis terhenti mendengar panggilan Ratih.
Randy membalikkan badannya, menatap sang ibu dengan belum mengeluarkan sepatah katapun. Ratih lalu mendekati Randy.
"Kamu kok buru-buru banget? Mau ketemu Ifa?" Ratih bertanya.
Randy tidak segera menjawab pertanyaan sang ibu, ia memalingkan wajahnya.
"Randy, ibu barusan tanya kamu?!" Ratih mulai sebal.
Sementara Ratih merasa terpaku dengan sikap Randy beberapa detik lalu, ia tidak habis pikir bahwa puteranya itu sangat menyebalkan.
"Ayah, kamu liat sendiri kan anak kamu nyebelin banget! Pengen rasanya aku cubit itu anak!" Ratih berbicara seolah ia sedang berhadapan dengan Rohit.
Sementara itu, di tempat lain, di rumah sakit kota Bandung, jenazah Eren sedang dibersihkan sebelum nantinya dimakamkan.
Meninggalnya Eren yang sangat mendadak ini, menyisakan duka sekaligus rasa kehilangan mendalan di hati sang bunda dan kakaknya. Bunda Eren sudah siuman pasca pingsan tadi, begitu pun dengan Ifa. Ifa sedang mengusap-usap telapak tangan bunda Eren.
"Bunda yang tabah ya, Eren pasti pengen liat bunda ikhlas dengan kepergiannya. Ifa gak akan pernah lupain Eren, Eren adalah sahabat terbaik bagi Ifa. Ifa sayang banget sama Eren."
"Makasih ya, nak. Kamu juga sahabat terbaik baginya. Bunda tau, kalian saling menyayangi." keduanya lantas berpelukan hangat.
Selesai dibersihkan, jenazah Eren segera dibawa dengan menggunakan mobil jenazah. Rencananya, Eren akan di tempatkan di dekat pusara sang ayah yang telah meninggal dua tahun lalu.
Jenazah Eren segera dimasukkan ke liang lahat begitu tiba di tempat pemakaman. Bersamaan dengan tubuh Eren yang sudah dibungkus kain putih masuk ke tempat peristirahatan terakhirnya, air mata dari bunda Eren kembali mengalir dengan deras.
__ADS_1
Air mata yang sekuat tenaga bunda Eren tahan, luruh membasahi kedua pipi wanita berusia empat puluh tahunan itu. Ia belum bisa menerima kenyataan bahwa Eren telah meninggalkannya, hingga akhirnya bunda Eren kembali pingsan.
Kakak Eren segera menopang tubuh wanita yang sudah melahirkannya, agar tidak ambruk ke tanah, ia sama sedihnya dengan sang bunda. Ia belum siap menerima kenyataan yang sangat menyedihkan ini.
"Bunda bangun, bunda bangun," kakak Eren menepuk pelan pipi kiri sang bunda, namun tidak ada respons.
"Lebih baik dibawa ke mobil saja neng, biar bisa istirahat bundanya." usul salah seorang yang turut menghadiri pemakaman Eren.
"Biar aku yang bawa kak," tawar Irgi, usia Irgi memang lebih muda dari kakak Eren. Irgi dan kedua orangtuanya sedari tadi bersama Ifa di rumah sakit, keluarga Ifa tentu turut berbelasungkawa dengan meninggalnya sahabat terbaik puterinya.
"Makasih, Gi." ucap kakak Eren.
Irgi segera membaringkan tubuh bunda Eren, tentunya dengan lembut.
"Apa kakak perlu ditemenin?"
"Gak perlu kok, makasih ya, kamu udah hadir disini dan turut mendoakan Eren."
"Eren adalah sahabatnya Ifa, keduanya sangat dekat, keluarga kita juga sudah sangat dekat. Kakak jangan sungkan ya sama kami."
"Sekali lagi makasih, Gi."
Irgi hanya mengangguk sambil tersenyum ramah, ia kemudian kembali ke tempat pemakaman.
Kakak Eren, kembali berusaha membangunkan sang bunda, namun hasilnya sama saja, tidak ada respons.
'Eren, kamu jangan khawatirin bunda ya. Kakak bakal berusaha dengan keras buat jagain bunda, seperti ayah menjaganya, kamu yang tenang di alam sana, supaya bunda bisa ikhlas.' batin kakak Eren sambil tersenyum menatap langit yang sedang cerah hari ini.
Di tempat pemakaman, suasana terasa sangat khidmat dan tenang, terlebih saat seorang tokoh agama mendoakan mendiang Eren yang turut diamini semua pelayat, termasuk teman-teman Eren juga para guru yang hadir.
'Gue bakal berusaha ikhlas supaya lu bisa tenang di alam sana, Ren. Gue gak bakal lupain lu, selamanya. Lu adalah sahabat terbaik yang Tuhan kirim dalam hidup gue.' batin Ifa.
Proses pemakaman Eren telah selesai, semua pelayat sudah pergi, namun tidak dengan Ifa serta keluarganya, begitu pun dengan bunda dan kakaknya Eren.
Bunda Eren sudah siuman, ia meminta diantar ke pusara Eren. Ia ingin melihat tempat tubuh sang puteri diistirahatkan.
"Ayah, tolong jaga Eren disana ya, sekarang ayah bisa ketemu Eren tiap hari. Bunda juga bakal jagain kakak kok disini. Sekarang, masing-masing dari kita sudah bersama salah satu puteri kita, yah. Ayah seneng kan bisa kumpul sama Eren disana? Bunda tau, ayah pasti kangen banget sama Eren, dan bunda tau Eren sama kangennya kayak ayah. Bunda ikhlas Tuhan ambil Eren dari bunda, karena disana, Tuhan pasti mempertemukan kalian. Iya kan, yah? Ayah dan Eren harus tenang disana, bunda dan kakak bakal selalu doain kalian. Bunda juga gak bakal lupain kalian, jadi kalian jangan pernah lupain bunda dan kakak disini, ya?" tutur bunda Eren dengan suara bergetar, sambil meneteskan air mata.
__ADS_1
Mendengar penuturan bunda Eren barusan, yang terdengar dari lubuk hatinya terdalam, seketika membuat air mata Ifa turun bebas. Bukan hanya Ifa, Irgi, dokter Jo dan Chintya pun turut menitikkan air matanya. Mereka merasa sama kehilangannya seperti bunda dan kakaknya Eren.