JODOH DARI INSTAGRAM

JODOH DARI INSTAGRAM
BAB 7 : Jeng Jeng


__ADS_3

Kamis, 16 Agustus 2018, pukul 17.00. Rohit, dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa ke pelukannya, tepat satu hari setelah ulang tahun sang putera semata wayang, Randy Haryo Notonegoro.


Rohit meninggal di kota Yogyakarta, setelah ia memantau proyek perusahaannya di kota pelajar itu, namun jasadnya dimakamkan di kota Bandung. Sebab pusara kedua orang tua Rohit berada di kota kembang.


Rohit tertarik membuat proyek di Yogyakarta, lantaran ia dilahirkan di kota tersebut. Rohit pindah ke kota Bandung saat usianya lima tahun yang ketika itu sang ayah dipindah tugaskan.


Randy remaja, merasa frustasi atas meninggalnya sang ayah, ia pernah berpikir dengan pola pikirnya yang masih labil kala itu, ‘Kenapa Tuhan tega mengambil nyawa sang ayah ketika usianya masih muda? Begitu tega Tuhan mengambil Rohit ketika Randy belum bisa membahagiakan sang ayah!’ begitulah kiranya.


Tidak salah memang prasangka Randy yang sarat dengan menyalahkan takdir, karena saat itu ia masih labil pikirannya, ia belum bisa berpikir jernih dan positif terhadap ketetapan Tuhan.


Jangankan Randy yang masih muda, kita yang mungkin ditinggalkan oleh orang terkasih ketika usia dewasa saja terkadang tidak bisa menerima kenyataan, bahkan sampai menyalahkan Tuhan. Benar tidak?


Hari demi hari Randy jalani tanpa semangat hidup, terlebih ketika Ratih, sang ibu tercinta dinyatakan kurang sehat mentalnya oleh ahli psikologi dan psikiater, Randy remaja semakin menyalahkan Tuhan dengan takdir hidupnya. Namun semua itu hilang kala Randy dinasehati oleh David.


David menasehati Randy dengan tulus, dalam hati David, sudah menganggap Randy sebagai anaknya sendiri. Bukan karena David memiliki putera yang seusia dengan Randy, itu semua sebab ia tulus menyayangi Randy, putera dari orang yang telah menolongnya di masa lalu.


David berpikir, ia harus menyayangi Randy seperti anaknya, karena ia berutang budi pada Rohit, yang sudah menolongnya secara cuma-cuma untuk membayar tagihan rumah sakit sang istri yang kala itu melahirkan Anton, puteranya. Selain itu, Rohit rela membayar lunas tagihan istri David yang langsung meninggal usai melahirkan. Padahal saat itu mereka belum kenal satu sama lain.


Sejak saat itulah, David bekerja pada Rohit. David berjanji akan selalu berbuat baik pada keluarga Rohit sampai kapanpun.


...***...


Lima bulan kemudian, Ratih dinyatakan sehat jasmani dan rohaninya setelah menjalani perawatan mental dengan ahli. Hal itu tentu membuat Randy sangat bahagia. Setelah itu, Randy, memiliki semangat hidup kembali. Ia sudah lebih menerima takdir yang digariskan Tuhan pada kehidupannya.


Randy berkeyakinan, bahwa Tuhan mengambil Rohit adalah karena Tuhan percaya jika Randy bisa menjaga serta melindungi Ratih dengan baik.


Dengan dibantu David, Randy mulai mempelajari dunia bisnis. Beruntung Randy karena David sangat sabar dalam membimbingnya, dan David tidak pernah ada niat buruk untuk mengusai perusahaan milik mendiang Rohit.


Awalnya tentu tidak mudah bagi Randy untuk menjalankan bisnis, terlebih Randy tidak memiliki pengetahuan atau kemampuan apapun perihal bisnis. Namun karena ketekunan, keuletan, kerja keras dan semangatnya, ia berhasil mengelola perusahaan Denon group hingga kini dengan kemampuannya yang seiring berjalannya waktu semakin baik.


Randy harus merelakan impian dan cita-citanya yang sangat ingin menjadi seorang sutradara film, ia sempat menceritakan itu dengan Rohit, dan Rohit mendukung penuh keinginan anaknya, namun takdir berkata lain.

__ADS_1


Seiring berjalannya waktu, Randy, semakin bersyukur dengan hidupnya, bukan karena ia menjadi ahli waris, namun sebab ia berhasil menjaga apa yang sudah diperjuangkan sang ayah dari bawah, yakni Denon Group.


...***...


16 Agustus 2019, satu tahun setelah meninggalnya Rohit, Randy dan Ratih mengunjungi panti asuhan di kota Bandung yang sering dikunjungi Rohit, keduanya memberikan donasi untuk anak-anak panti atas nama Rohit.


Randy dan Ratih baru mengetahui bahwa Rohit rutin berdonasi di panti asuhan, ketika pihak pengelola panti datang saat pemakaman Rohit tahun lalu, yang tak lupa pihak panti sangat berterima kasih lantaran Rohit sudah ikhlas menjadi donatur tetap panti. Hal itu tentu membuat Ratih dan Randy sangat terkejut, karena memang Rohit tidak pernah bercerita bahwa dirinya sering berdonasi. Namun keduanya sangat bahagia karena dengan kebaikan itu, semakin banyak orang yang turut mendoakan Rohit.


“Terima kasih ibu Ratih dan nak Randy. Sekarang meski tuan Rohit tiada, panti ini masih memiliki donatur tetap, dan karena itu juga panti ini masih bisa beroperasi hingga kini. Kami tidak akan pernah melupakan kebaikan tuan Rohit,” ucap ibu panti.


“Saya hanya minta tolong pada ibu dan anak-anak disini, untuk selalu mendoakan almarhum suami saya.” tutur Ratih sambil tersenyum hangat.


“Ibu tenang aja, aku seling kok doain tuan Lohit, aku berldoa supaya Tuhan ngasih tempat paling indah disisiNya.” ucap salah seorang anak yang masih belum fasih mengucapkan huruf ‘R’, kebetulan anak itu cukup dekat dengan Rohit.


“Makasih ya sayang,” kata Ratih sambil mengelus pipi kiri anak itu.


Cukup lama Ratih dan Randy di panti asuhan, mereka pulang ketika waktu menunjukkan pukul 15.00, lantaran Randy mendapat telepon dari David, katanya ada masalah di kantor. Randy bergegas pergi setelah mengantarkan sang ibu, ia ingin segera sampai di perusahaannya, padahal hari ini ia sudah meminta David untuk tidak ke kantor. Randy berpesan agar pekerjaan hari ini ditangani David, sebab Randy sudah janji akan menemani Ratih ke panti.


Sepanjang perjalanan, Randy sangat penasaran dengan masalah apa yang terjadi di perusahaan milik keluarganya, lantaran David tidak memberitahu ketika di telepon tadi. David mengatakan, bahwa masalahnya harus segera diselesaikan dan tidak bisa dibicarakan melalui telepon.


Di perusahaan Denon Group, Randy segera menuju ruang meeting, dimana sudah banyak para pegawai bangunan yang menunggunya sedari tadi.


“Tuan Randy! Saya minta kejelasan tuan selaku direktur Denon Group, kenapa tuan mengurangi upah kami tanpa memberitahu kami terlebih dulu? Apa Denon Group sekarang bangkrut?” kata salah seorang pegawai dengan nada tinggi, ia sudah tidak bisa menahan amarahnya.


“Pengurangan upah? Sejak kapan?” Randy benar-benar tidak tahu menahu.


“Halah! Jangan pura-pura tidak tau tuan, mentang-mentang kami ini hanya pegawai bangunan, jadi tuan bisa seenaknya saja!” sergah yang lainnya.


“Maaf, saya tidak tau apapun terkait pengurangan upah yang kalian bicarakan. Biar saya panggilkan staff yang bertugas memberi upah kalian,”


Tiga menit kemudian, staff yang dipanggil pun masuk. Randy segera menginterogasi orang itu.

__ADS_1


“Maaf tuan Randy, saya memang diberi tugas untuk itu, tapi yang menyerahkan bukan saya langsung, melainkan mandor pegawai bangunan, biasanya pun selalu seperti itu.” pungkas staff.


“Panggilkan mandornya! Suruh segera menghadap saya!” suara Randy lebih tinggi sekarang. Ia sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Tak lama, si mandor pun masuk. Randy segera mendekatinya dengan memasang mimik wajah penuh amarah, kedua rahangnya sudah mengeras sedari tadi, matanya merah menyala bak siap menerkam setiap mangsa di dekatnya.


“Kamu yang memberi upah ke mereka? Kenapa upah mereka bisa berkurang? Padahal di kontrak kerja upah mereka jumlahnya segitu hingga kontrak usai? Kamu melakukan korupsi?” suara Randy lebih keras dari sebelumnya.


“Maaf tuan, saya tidak pernah korupsi. Saya hanya bertugas memberi mereka upah dari uang yang diberikan staff keuangan, kemarin saya juga bertanya-tanya, kenapa jumlah uang yang saya terima untuk mereka berkurang? Saya tidak tau kenapa jumlah itu bisa berkurang, tuan. ”


“Tapi saya sudah memberikan jumlah uang sesuai dengan jumlah seperti awalnya, tuan. Demi Tuhan, saya tidak pernah melakukan korupsi!” sergah staff tadi.


“Lantas Anda menuduh saya melakukan korupsi? Saya menerima uang itu lalu segera dibagikan ke mereka!” mandor tidak mau kalah, ia tidak ingin dituduh korupsi.


“Ya Tuhan, kenapa semuanya tidak ada yang mengaku! Apa perlu saya pakai alat deteksi kebohongan?” ucapan Randy berhasil membungkam dua orang itu.


“Pakai saja tuan, saya tidak takut karena saya benar-benar tidak korupsi!” tegas mandor.


“Baik, segera bawakan saya alatnya!” Randy menyuruh salah satu pegawainya.


Randy menunggu si pegawai sangat lama, padahal ruang peralatan tidak begitu jauh dari ruang meeting.


“Ya ampun! Ini yang mengambil alat lama sekali! Paman David tolong segera susul mereka dan bilang cepat kemari!”


Lima menit kemudian, David bersama si pegawai kembali ke ruang meeting, namun…


“Jeng jeng, selamat ulang tahun, tuan Randy!”


Randy seketika menoleh, ia sangat bingung.


“Semua tadi hanya rekayasa?” tanya Randy heran, dan semua orang yang berada disana mengangguk, mereka sudah merencanakan semua ini. Randy lantas berkaca-kaca.

__ADS_1


“Maafkan kami tuan, ini semua rencana tuan David. Jangan pecat kami tuan!” tutur mereka kompak, yang langsung membuat riuh suasana.


“Dasar paman Davidddddddd!”


__ADS_2