
Randy dan Ifa masih terpaku dengan pegangan tangan mereka yang memberikan sensasi berbeda untuk kedua insan manusia itu. Baik Randy ataupun Ifa, sama-sama belum ingin melepaskan pegangan tangan yang baru bagi mereka.
Hingga akhirnya, kedatangan bunda dari Eren dan kakak perempuan Eren berhasil membuat pegangan tangan insan berbeda jenis itu terlepas. Namun bunda Eren dan kakak Eren, tidak terlalu ingin tahu urusan antara Ifa dan Randy.
“Bagaimana keadaan Eren, Ifa?” tanya kakak Eren sambil memegang tangan bundanya yang terasa dingin, sementara sang bunda tidak mampu mengatakan sepatah katapun. Ia sudah berderai air mata sejak membaca pesan dari Ifa.
“Masih diperiksa dokter, kak.” Ifa menjawab dengan pelan, ia jadi semakin khawatir karena dokter sudah cukup lama memeriksa sahabatnya.
“Bisa tolong ceritakan kronologisnya?” pinta kakaknya Eren.
Ifa merasa ragu untuk menceritakan peristiwa itu, pasalnya ia khawatir akan membuat keluarga dari sahabatnya semakin sedih, jika sudah mendengarkan kronologis kecelakaan yang menimpa anggota keluarga mereka. Namun Ifa tidak bisa menutupi peristiwa memilukan itu, ia kemudian menarik napas panjang lalu menceritakannya.
Baik bunda Eren dan kakaknya, sama-sama mendengarkan penuturan Ifa dengan tenang tanpa memotong atau menyalahkan Ifa, sebab mereka yakin Ifa juga tidak ingin Eren mengalami musibah seperti ini.
“Jadi begitu bun, kak, kronologisnya. Seharusnya aku memaksa Eren masuk saja ke warung itu, namun karena Eren bersikaras tidak mau, aku pun merasa tidak harus memaksanya. Katanya ia sangat menikmati suasana dan cuaca siang tadi.” terang Ifa.
“Lantas bagaimana kondisi warung itu? Apa mengalami kerusakan? Dan bagaimana si penabrak itu, Fa?” kakak dari Eren sangat penasaran.
“Warung itu tidak terlalu mengalami kerusakan kak, hanya satu tiang kayunya saja yang tumbang akibat tubuh Eren sempat menyenggolnya. Si pelaku sudah diamankan polisi, ia positif dalam pengaruh alkohol. Aku mengetahui informasi pelakunya dari polisi yang meneleponku saat perjalanan ke rumah sakit, karena aku memang memberikan nomorku pada polisi yang tiba di lokasi.”
“Terus apa pelakunya sudah ditetapkan sebagai tersangka?” bunda Eren akhirnya mengeluarkan suaranya.
“Pelaku itu masih diperiksa polisi, bun. Polisi bilang akan mengabariku secepat mungkin setelah pemeriksaan terhadap si pelaku selesai.” tutur Ifa penuh kehati-hatian.
Bunda Eren dan kakaknya Eren pun hanya mengangguk, mereka bingung harus menjawab apa lagi. Mulut mereka bagaikan kehabisan kata-kata.
"Maafkan Ifa, bun, kak, aku gak becus jagain Eren. Aku gak becus jadi sahabat Eren," ujar Ifa lirih menyalahkan dirinya.
"Hei! Kamu jangan bilang gitu, kamu adalah sahabat terbaik Eren, Eren sangat menyayangi kamu, begitu pun kakak dan bunda." kakak Eren memeluk tubuh Ifa, ia tidak ingin sahabat baik adiknya menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa yang sama sekali tidak dilakukan olehnya.
...***...
"Maaf ya tadi aku tiba-tiba megang tangan kamu. Gak tau kenapa tanganku refleks aja gitu," ucap Ifa pada Randy. Mereka hanya berdua di depan ruang ICU tempat Eren dirawat sekarang, setelah bunda dan kakaknya Eren masuk seusai diizinkan dokter.
Dokter bilang Eren sudah melewati masa-masa kritisnya, tapi ia belum sadar lantaran masih merasa syok pasca kecelakaan. Hal yang wajar dan sering dialami korban kecelakaan.
"O iya gak papa," Randy sedikit bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Btw, kamu ngapain di rumah sakit?" tanya Ifa.
"Ibuku masih dirawat." Randy menjawab singkat.
Bersama Ifa lama-lama, membuat dada Randy terasa sesak, ada perasaan aneh yang belum pernah dirasakan Randy sebelumnya. Jantungnya berdegup kencang tidak beraturan, Randy sungguh tidak paham dengan dirinya saat ini.
"Maaf, saya permisi dulu." Randy hendak pamit, namun kakinya terasa lemas bagai tak memiliki tenaga untuk sekadar berjalan ke ruang rawat Ratih.
Randy berjalan sambil menempelkan tubuhnya ke tembok, ia berusaha dengan susah payah. Ifa melihat Randy merasa sangat kasihan. Ia pun mendekati lelaki berusia dua puluh satu tahun itu.
"Kamu kenapa? Aku antar ke dokter umum ya, biar dokter periksa kamu." Ifa menawarkan bantuannya.
"Tidak usah!" Randy berujar dengan tegas. Namun Ifa tidak memedulikan itu, Ifa segera memapah tubuh Randy ke tempat dokter umum.
Seketika hati Randy berdesir, jantungnya kembali berdegup kencang namun ada sedikit perasaan nyaman. Akhirnya Randy hanya menurut saja, tanpa membantah tawaran Ifa.
Setibanya di ruangan dokter umum, Ifa segera masuk lantaran antrean saat itu kosong.
Ifa segera membantu Randy duduk di depan kursi dokter. Randy pun langsung menceritakan keluhannya pada dokter yang berjambang, namun tetap terlihat tampan.
Dokter segera memeriksa Randy setelah membantunya naik ke brangkar pasien.
"Tapi tadi saya merasa sangat lemas dok, selain itu detak jantung saya cepat sekali gak beraturan gitu. Coba periksa saya lagi," pinta Randy.
Dokter itu hanya menurut lalu memeriksa Randy kembali, dan hasilnya tetap sama. Tidak ada gejala penyakit ringan ataupun berat pada tubuh Randy.
"Saran saya, tuan rutinkan lagi olahraganya. Tuan sudah jarang olahraga kan?"
Randy hanya cengengesan, pasalnya apa yang ditanyakan dokter sangat benar. Randy memang sudah jarang olahraga sejak dirinya sibuk dengan pekerjaannya.
"Apa tuan sering mengalaminya?" dokter kembali bertanya.
"Tidak, tapi saya mengalaminya hanya pada momen-momen tertentu saja. Cuma saya sering mengalaminya jika sedang melihat foto seseorang atau bersama orang itu," Randy baru paham, bahwa dirinya sering mengalami hal itu jika ia sedang melihat foto atau bersama dengan seseorang.
Ifa sudah pergi sedari tadi, ia mendapat telepon dari kakaknya Eren yang mengabarkan bahwa Eren sudah siuman dan mencari-cari Ifa.
"Aaah, mungkin tuan jatuh cinta pada orang itu. Apa tuan sebelumnya pernah merasakan hal ini dengan orang lain selain orang yang tuan maksud?"
__ADS_1
"Tidak, saya baru pertama kali ngerasainnya dok. Tapi apa yang saya rasakan itu wajar?"
"Wajar karena tidak ada gejala penyakit apapun. Menurut analisa saya, tuan ini orangnya sangat pemalu perihal cinta. Jadi karena tuan orangnya pemalu maka tubuh tuan meresponsnya dengan cara yang unik. Saya baru pertama kali ketemu pasien seperti tuan ini." tutur dokter sambil tersenyum ramah.
"Tapi kenapa tubuh saya merasa lemas? Padahal kalau saya ingat-ingat pernah nonton drama, orang yang sedang jatuh cinta gak ngerasain lemas gitu?"
"Umumnya memang tidak, tapi kembali lagi seperti yang sudah saya bilang tadi. Tubuh tuan meresponsnya dengan cara yang unik, tidak seperti kebanyakan orang pada umumnya. Biar saya resepkan vitamin untuk tuan ya,"
Dokter menuliskan resep vitamin untuk dikonsumsi Randy.
"Ini resep vitaminnya."
"Baik, terima kasih dokter."
"Saran saya, tuan segera nyatakan perasaan tuan pada wanita itu. Khawatir nanti dia ada yang tembak dulu." dokter memberikan saran terakhirnya, sedang Randy hanya tersenyum.
Randy pun keluar dari ruangan dokter umum, ia berjalan menuju tempat pengambilan obat. Ia ingin menebus resep vitamin yang disarankan dokter.
'Apa benar ini cinta?' Randy bertanya-tanya dalam hati.
...***...
Randy sudah di depan ruangan ICU tempat Eren berada, ia hendak meyakinkan perasaannya dengan mencoba mengobrol bersama Ifa, namun situasinya tidak memungkinkan. Pasalnya Ifa tampak sangat menikmati momen bersama sahabatnya yang baru siuman. Hal itu terpancar jelas dari raut wajah Ifa yang cerah, Randy bisa merasakannya meski hanya menatap Ifa dari balik pintu kaca ruang ICU.
'Baiklah, akan aku coba mengobrol dengannya besok saja.' batin Randy. Randy tidak ingin menganggu Ifa, ia pun pergi dari sana.
Randy membuka pintu ruang rawat Ratih, yang seketika membuat sang ibu merasa sangat sebal. Pasalnya Ratih menunggu Randy cukup lama, yang tidak bilang ingin pergi kemana.
"Kamu dari mana saja? Kok lama banget, gak bilang lagi mau kemana-mananya. Ran, kapan kamu ajak pulang ibu? Kalau kamu gak mau ngajak ibu pulang biar ibu pulang sendiri. Ibu bosan disini terus, ibu pengen duduk di taman belakang rumah, pengen tidur di kasur empuk ibu. Ibu kangen rumah!" Ratih merajuk sambil melipat kedua tangannya di dada, ia sudah sangat bosan berada di rumah sakit.
"O ibu mau pulang ternyata," Randy berkata dengan santai, tanpa memedulikan perasaan Ratih yang sudah sangat kebosanan.
"Ya iyalah ibu mau pulang. Dokter kan udah izinin ibu pulang!" Ratih semakin merasa kesal dengan ucapan Randy yang terdengar sangat santai.
"Ya udah, besok kita pulang ya."
Ratih tidak membalas ucapan Randy sama sekali, namun dalam hatinya sangat bahagia karena besok ia akan pulang.
__ADS_1
'Semoga besok beneran pulang. Awas aja kalau masih gak boleh, aku mau pulang sendiri saja!' batin Ratih.