JODOH DARI INSTAGRAM

JODOH DARI INSTAGRAM
BAB 11 : Pesan Eren


__ADS_3

*Flashback*


Tahun 2018, hari Senin tanggal 16 Juli. Ifa resmi menjadi siswi SMA di salah satu sekolah yang cukup populer di kota Bandung. Ia bukan lagi siswi SMP yang memakai seragam putih biru, melainkan putih abu-abu. Ia tersenyum lebar tatkala melihat pantulan wajah cantiknya di cermin kamar.


Rambutnya yang hitam sebahu, Ifa gerai, ia ingin tampil cantik di hari pertamanya sekolah SMA. Biasanya ia selalu mengikat mahkota indahnya itu, namun hari ini ia ingin tampil beda. Tak lupa, untuk menambah kadar kecantikannya, ia memakai penjepit rambut berhiaskan mutiara imitasi, di atas sebelah kiri. Ifa tidak berponi. Wajahnya yang putih sudah dipoles tipis bedak khusus kaum remaja.


"Wow! You're so beautiful. Perfecto!" Ifa memuji dirinya sendiri. Ia merasa kagum dengan penampilannya hari ini, ia sedikit tidak percaya bahwa wajah yang sedang dilihatnya adalah miliknya. Tak sia-sia ia belajar make up untuk kaum remaja, dari channel YouTube yang sering ditonton.


Ifa menuju ruang makan, menyusul kedua orangtuanya dan sang kakak. Chintya, mami Ifa, sebenarnya sudah memanggilnya sedari tadi.


"Wow! Siapakah gerangan kamu wahai gadis cantik?" dokter Jo berpura-pura tidak mengenali Ifa. Seketika, Chintya dan Irgi pun menoleh pada sosok yang sedang dilihat oleh dokter Jo. Keduanya merasa kagum pada Ifa.


"Wah wah! Hari pertama sekolah SMA kok udah ganjen begini! Lu mau gebet orang yang populer di sekolah ya?" Irgi menggoda sekaligus meledek sang adik, meski dalam hatinya merasa kagum akan penampilan Ifa.


"Ih kakak! Apaan sih? Pikirannya curiga aja sama adek sendiri tuh!" Ifa membalas dengan sebal sembari mengerucutkan bibirnya yang sudah dipoles lip gloss.


"Lagian lu, baru masuk SMA udah ganjen begini. Biasanya juga tampil dekil plus kucel." Irgi kembali meledek Ifa.


"Mami, marahin kakak dong! Masa aku dibilang dekil plus kucel,"


Chintya dan dokter Jo pun kompak memukul putera semata wayang mereka.


"Aw! Mami sama papi kok pukul Irgi?"


"Itu hukuman karena kamu udah bilang anak cantik mami dekil plus kucel!" dokter Jo tidak berkata apa-apa, namun ia turut menyetujui ucapan Chintya.


Irgi tak lagi berkata apapun, ia kembali melanjutkan sarapannya.


"Kamu cantik banget sayang!" dokter Jo memuji penampilan puteri semata wayangnya. Ifa hanya tersenyum manis merespons pujian sang papi.


***


"Selamat belajar sayang, semoga hari ini lancar dan kamu dapat banyak teman baru." Chintya berdoa dengan tulus untuk Ifa, setelah mobil keluarganya tiba di depan gerbang sekolah Ifa.

__ADS_1


"Makasih, mi. Ifa pergi dulu ya papi, mami."


"Iya anak kecil ganjen!"


Secepat kilat Chintya mencubit Irgi.


"Mami! Sakit tau," Irgi berkata dengan manja sambil mengelus lengannya yang kesakitan.


"Biarin, biar kamu tau rasa, itu akibatnya karena udah meledek adik sendiri," Chintya berkata dengan tegas. Ia sudah bosan melihat tingkah putera sulungnya yang cukup sering meledek sang adik.


Ifa tiba di depan ruang kelas X Bahasa, ia berhasil masuk jurusan sesuai keinginannya, setelah melewati beberapa tes ujian sebelum masuk sekolah. Beruntungnya Ifa sampai ketika suasana kelas masih sepi, jadi ia bisa memilih sendiri bangku tempatnya duduk.


"Oke, aku duduk di kedua aja deh." Ifa segera menduduki bangku kedua di barisan tengah, agar ia nantinya bisa melihat jelas tulisan guru.


Tak lama kemudian, datanglah seorang siswi yang celingukan. Ia bingung harus duduk dimana.


"Hai!" sapa siswi yang baru datang itu, ternyata namanya Eren.


"Oh hai! Lagi cari tempat duduk ya?" Ifa bertanya pada Eren. Eren lantas mengangguk, Ifa pun mengisyaratkan agar Eren duduk di samping bangkunya.


"Nama gue Arsyilla Erennia, panggil aja Eren,"


"Sharifah Putri Salsabil, panggil aja Ifa."


Hari berganti hari, kedekatan diantara Ifa dan Eren semakin erat. Mereka selalu bersama ke manapun, dan selalu duduk bersisian hingga kelas XII. Masing-masing dari mereka sudah mengenal keluarga sahabatnya, bahkan sudah sangat dekat.


*Flashback off*


Ifa kembali mengingat momen-momen awal perjumpaan ia dengan Eren, sahabat terbaiknya. Sungguh ia belum siap jika harus kehilangan Eren, ia ingin terus bersama melewati suka dan duka kehidupan dengan sahabat tercintanya.


"Ifa, lu harus janji sama gue, lu harus bisa jaga kesehatan lu, lu harus selalu bahagia dan banyak senyum. Lu jangan mikirin lagi cowok yang udah mencampakkan lu. Lu harus bisa lupain dia dan cari ganti yang lebih baik dari dia. Lu bisa kan?" Eren berpesan pada sahabat baiknya.


Beberapa hari lalu, Ifa memang sempat dicampakkan seorang lelaki yang sudah menjadi pacarnya selama satu bulan. Aryo, pacar pertama Ifa, pergi begitu saja tanpa memberi kejelasan tentang hubungan mereka. Ifa pun menjadi sedikit galau, dan ia sempat curhat pada Eren.

__ADS_1


Ifa tersenyum kikuk mendengar penuturan Eren, ia tidak menyangka, di saat Eren sedang sakit, masih sempatnya memikirkan orang lain. Terlebih di dalam ruang perawatan Eren ada bunda, kakak Eren, Chintya, dokter Jo dan Irgi. Ifa jelas merasa sangat malu. Ehehe, cinta pertama sih ya jadi agak susah dilupainnya. Hihi.


Semua orang yang ada di ruangan itu turut mendoakan Eren agar segera sembuh seperti sedia kala, namun Tuhan berkehendak lain. Jantung Eren tiba-tiba melemah yang sangat jelas ditunjukkan layar monitor komputer, semua orang panik, Ifa keluar ruangan hendak memanggil dokter. Akan tetapi, ketika Ifa baru sampai pintu, bunda Eren berteriak.


"Erenniaaaaaaaaaaaaaaa!"


Sontak Ifa pun masuk kembali, ia sangat terkejut. Eren sudah tiada, ia sudah pergi meninggalkan dunia ini selama-lamanya.


Tubuh Ifa luruh ke lantai, air mata mengalir dengan derasnya tanpa permisi. Ia tidak sanggup untuk berdiri, jantungnya seakan berhenti berdetak kala itu juga. Tak lama, Ifa dan bunda Eren pingsan bersamaan.


Dokter Jo segera mengangkat tubuh Ifa, sementara bunda Eren diangkat oleh Irgi. Keduanya dibawa ke sebuah ruangan untuk diperiksa.


"Bunda, bunda harus kuat, supaya Eren gak sedih liat bunda."


Chintya memeluk tubuh lemah kakak Eren, ia berharap dengan pelukannya bisa menguatkan wanita itu.


"Kamu harus kuat, nak."


Jasad Eren sudah diurus oleh petugas rumah sakit yang bertugas. Sedangkan Ifa dan bunda Eren masih diperiksa dokter. Keduanya kini berada di ruangan yang sama, dengan posisi brangkar pasien bersisian.


"Mereka tidak apa-apa, hanya merasa syok dan kelelahan. Saya sudah menyuntikkan vitamin untuk mereka." tutur dokter.


"Baik terima kasih dokter."


Dokter pun pamit. Kakak Eren, mendekati sang bunda, begitu pula dengan dokter Jo, Chintya dan Irgi yang mendekati Ifa.


"Kamu yang kuat ya sayang," Chintya mengelus lengan kiri Ifa, meski Ifa tidak meresponsnya.


Sementara itu, Randy merasa sangat bingung. Apakah ia harus masuk ke dalam ruangan tempat Ifa atau tetap menunggu di luar, karena sedari tadi Randy terus memerhatikan Ifa, bahkan sebelum Eren wafat. Sebenarnya ia ingin masuk, namun merasa tidak enak lantaran tak memiliki hubungan apapun dan belum terlalu dekat dengan Ifa ataupun lainnya.


"Kasihan kamu, harus kehilangan sahabat terbaik kamu hari ini. Namun kamu harus percaya, bahwa Tuhan pasti punya rencana baik dibalik semua ini." ujar Randy yang masih melihat Ifa dari balik pintu kaca ruang rawat Ifa dan bunda Eren.


'Sebaiknya aku simpan dulu pengakuanku, aku janji akan mengatakannya dan aku janji bakal buat kamu bahagia.'

__ADS_1


Randy pun pergi dari sana, ia hendak ke ruangan Ratih.


__ADS_2