JODOH DARI INSTAGRAM

JODOH DARI INSTAGRAM
BAB 8 : Merasa Tenang


__ADS_3

Dua minggu sudah Ratih dirawat, Randy tidak pernah meninggalkan sang ibu, semua pekerjaannya ia lakukan di rumah sakit. Meski Ratih terus merengek pulang beberapa hari lalu, namun hal itu tak diindahkan oleh Randy. Kondisi Ratih kini sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


Randy tak ingin melihat Ratih sakit lagi, itu sebabnya ia meminta waktu lebih lama untuk sang ibu dirawat. Toh ia mampu membayar berapapun untuk perawatan Ratih. Ratih sudah dipindahkan sejak satu minggu lalu di ruang rawat inap VVIP rumah sakit kota Bandung.


Pagi ini, pukul 08.20, Ratih sangat ingin ke taman rumah sakit, namun ia tidak berani mengatakan itu pada Randy lantaran sejak pukul 05.00 pagi, Randy sudah berkutat dengan laptop. Matanya tampak fokus setiap melakukan pekerjaan, Ratih bahkan jarang melihat Randy berkedip tatkala sudah menatap layar terpaku tersebut.


Ratih sangat bosan, namun ia tidak bisa meminta siapapun untuk menemaninya ke taman, lantaran mbok Santi sedang pulang untuk membersihkan rumah, selain itu tidak ada perawat di ruangannya, karena sekarang semua perawat sedang sibuk.


Berkali-kali Ratih menatap puteranya, namun sang putera tidak bergeming sama sekali. Kedua matanya bahkan tampak enggan menatap sekitar.


Tuhan seolah mendengar rintihan Ratih dalam hati, sebab mendatangkan David ke dalam ruang rawatnya.


“David, tolong antar saya ke taman. Saya sangat bosan disini, satu manusia itu tidak bisa saya ajak bicara dari tadi!” keluh Ratih yang tidak dipedulikan Randy. Segera David pun membantu Ratih duduk di kursi roda.


Ratih belum diperbolehkan berjalan jauh, sebab hal itu bisa membuatnya kembali kelelahan. Sebelum pergi, David memberikan setumpuk laporan yang harus dicek ulang Randy dan beberapa berkas yang harus ditandatangani oleh tuan mudanya.


...***...


Randy baru sadar jika Ratih tidak ada di ruang rawatnya pada pukul 12.15, itu pun karena perutnya minta jatah makan siang.


Randy kebingungan harus mencari Ratih kemana lagi, sebab ia sudah mencari sang ibu di kamar mandi, luar kamar serta lorong kamar VVIP, namun tak kunjung menemukan sosok Ratih. Hingga akhirnya, otak Randy baru ingat bahwa pagi tadi David kemari.


‘Dasar combro! Kenapa gue baru inget harus telepon paman David sih!’ Randy memukul pelan kepalanya menggunakan tangan kanan, sambil merutuki sifat lupanya yang terkadang kambuh.


Randy segera berlari menuju taman, setelah mengetahui sang ibu berada disana. Sementara itu, Ratih bertanya pada David tentang siapa yang meneleponnya barusan.


“Tuan muda Randy,” jawab David singkat.


“Apa katanya?” tanya Ratih tanpa melihat David, kedua matanya masih asyik menatap bunga-bunga di taman.

__ADS_1


“Tuan muda mencari, Anda nyonya.”


“Ck! Dasar anak itu, saya udah pergi dari pagi, eh baru kehilangan sekarang!”


Ratih memang sangat suka dengan bunga-bunga. Bunga favoritnya adalah mawar putih. Ia menobatkan mawar putih sebagai favoritnya karena dahulu almarhum Rohit memberikannya ketika melamar. Sejak saat itulah mata Ratih selalu berbinar tatkala melihat mawar putih.


Sudah hampir empat jam, Ratih menikmati suasana taman rumah sakit. Ia sangat suka dengan udara segar di taman, tidak seperti udara ‘kekakuan’ yang ada di ruang rawatnya.


Di taman rumah sakit, terdapat banyak tanaman bunga. Seketika Ratih merindukan taman belakang di rumahnya.


“David, kapan saya dibolehkan pulang?” tanya Ratih pelan, namun masih bisa didengar oleh David. Akan tetapi David tidak menjawabnya.


“Saya sangat rindu rumah, rindu kenangan bersama almarhum suami saya di rumah, rindu taman belakang rumah saya, rindu semuanya yang ada di rumah,” air mata Ratih menetes yang kebetulan dilihat oleh Randy. Randy bahkan mendengar semua ucapan Ratih barusan, namun ia memilih cuek.


“Ibu, aku cari dari tadi ternyata ada disini.” kata Randy sambil mengusap lengan Ratih, David sudah menggeser posisinya sedari tadi.


Ratih terlebih dahulu menghapus sisa-sisa air mata di kedua pipinya, kemudian minta diantarkan ke kamar karena sudah merasa cukup lelah. Randy lalu mengantar Ratih dengan pelan.


...***...


“Paman, apa sebaiknya ibu segera dibawa pulang ya? Aku kasihan denger ibu ngomong tadi, tapi aku juga khawatir kalo ibu pulang cepat-cepat nanti ibu keingetan almarhum ayah lagi. Aku khawatir ibu kayak dulu lagi.” tutur Randy lirih.


Randy tidak ingin kesehatan mental ibunya kembali terganggu seperti dulu. Ia ingin melihat Ratih selalu sehat, ceria dan banyak tersenyum.


Bersamaan dengan itu, datanglah beberapa petugas rumah sakit yang sedang terburu-buru mengantar seorang remaja puteri yang terbaring lemah di atas brangkar.


Remaja puteri itu terlihat sangat lemah dengan banyaknya darah yang keluar dari seragam warna putih sekolahnya, di sampingnya terdapat seorang wanita seusianya yang menangis sambil menyebutkan nama, namun tidak terdengar jelas.


“Lo harus kuat, lo harus sembuh. Banyak orang yang sayang sama lo!” ucap gadis di samping brangkar yang ternyata adalah Ifa, sambil menggenggam tangan sahabatnya, Eren.

__ADS_1


Eren tidak membalas ucapan Ifa, ia hanya berusaha tersenyum agar sahabatnya tenang dan tidak mengkhawatirkannya.


Randy terus memerhatikan Ifa dari atas hingga bawah, hingga hatinya berdesir, jantungnya berdegup cepat tatkala tubuhnya bersisian dengan Ifa. Tanpa sadar, ia pun mengikuti langkah kaki Ifa.


“Nona tunggu di luar ya, biar dokter fokus mengobati teman nona.” pesan perawat, Ifa pun menurutinya. Ia ingin agar Eren segera ditangani dokter.


Ifa berusaha mengabari keluarga Eren, namun panggilannya tidak diangkat oleh bunda dari Eren. Tak mau menyerah, Ifa kemudian menelepon nomor kakak perempuan Eren, namun panggilannya sama sekali tidak diangkat.


*Flashback*


Ifa dan Eren sedang berjalan kaki setelah keduanya keluar dari sebuah studio foto. Awalnya Ifa menolak, namun karena sang sahabat memaksa, ia pun akhirnya mau saja ketika Eren menarik tangannya untuk memasuki studio foto itu.


Eren bilang, hari ini ia sangat ingin berfoto dengan Ifa, sahabat yang sudah dikenalnya cukup lama, yakni sejak kelas X SMA.


Ketika Eren menunggu Ifa di depan warung di pinggir jalan, tiba-tiba datang minibus dengan kecepatan tinggi menuju ke arahnya. Minibus itu sedikit oleng hingga menabrak Eren yang sedang berdiri, seketika tubuh Eren ambruk, darah segar bercucuran dari kepala dan bahu kiri Eren. Ifa lantas segera menghampiri sang sahabat.


Ifa memanggil-manggil Eren, namun sang empu nama tak meresponsnya. Ifa berteriak meminta tolong agar orang-orang di sekitar menelepon ambulance. Ia sedang tidak bisa berpikir jernih untuk sekadar menelepon.


Tak lama ambulance pun datang, tubuh Eren segera dimasukkan ke dalam ambulance. Ifa setia menemani Eren di sampingnya.


*Flashback selesai*


Randy mendekati Ifa yang terlihat sangat sedih.


“Kamu, puterinya dokter Jo ‘kan?” tanya Randy. Randy berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia tidak salah orang.


Ifa tidak menjawab pertanyaan Randy, ia justru memegang kedua tangan Randy. Ia mencoba mencari kekuatan, dari orang lain yang kebetulan orang itu adalah Randy. Lelaki yang pernah dilihatnya ketika sedang sangat lemah di rooftop rumah sakit ini.


Seketika tubuh Randy terasa aneh, ada suatu perasaan yang belum pernah dirasakannya selama ini. Namun ia tidak mampu untuk melepaskan pegangan tangan dari lawan jenisnya yang sedang merasa sangat sedih.

__ADS_1


Berbanding terbalik dengan Randy, Ifa merasa lebih tenang dan tegar tatkala tangannya menyentuh tangan dari lelaki yang baru dua kali ditemuinya, seolah Randy adalah sumber kekuatannya.


__ADS_2