JODOH DARI INSTAGRAM

JODOH DARI INSTAGRAM
BAB 3 : Kruyukkk


__ADS_3

Malam hari di rumah Randy, ia baru pulang dari kantor tepat pukul 22.00. Yaps, hari ini ia lembur sebab siang tadi hingga malam ia masih berada di Cirebon, untuk memantau proyek pembangunan hotel bintang tiga di kota tersebut. Randy terbiasa pulang antara pukul 16.00 hinga 17.00.


Proyek hotel di Cirebon, baru rampung sekitar 30%, dan besok Randy masih harus pergi memantaunya.


“Tumben baru pulang, Ran?” Ratih bertanya ketika melihat Randy yang tengah minum di ruang keluarga.


Ratih hari ini sengaja menunggu anak semata wayangnya, di ruang keluarga terdapat kulkas dan sofa yang nyaman untuk rebahan sambil menonton televisi. Ratih sudah menunggu Randy sejak pukul 17.00 sambil merebahkan tubuh dan menonton sinetron favoritnya. Karena terlalu lama menunggu, ia akhirnya tertidur hingga belum sempat mematikan televisi.


“Uhuk, ibu?! Bikin kaget aja deh, kirain gak ada orang!” sahut Randy yang terbatuk serta terkejut.


“Makanya kalo jalan perhatikan sekitar, jangan fokus liat HP aja.” balas Ratih acuh sambil mematikan televisi.


“Aku gak lihat HP, hanya sangat kehausan jadi gak merhatiin sekitar, sampe gak sadar ada ibu.”


Ratih tidak lagi menyahuti ucapan anaknya, ia kemudian hanya diam hingga Randy mendekatinya.


Randy bertanya kenapa Ratih bisa tertidur di sofa? Padahal beberapa hari lalu, sang ibu mengeluhkan punggungnya sakit.


“Ibu nunggu karena lagi kangen kamu,”


“Ibuku ini ternayata lagi kangen aku, kangennya berapa persen?”


“Seratus persenlah, emang kamu gak kangen ibu?”


“Kangen sih, tapi sedikit.”


“Jahat!” Ratih sedikit merajuk, meski hanya berpura-pura.


Randy lalu memeluk Ratih, ia mengelus dengan lembut bahu sang ibu, “Tentu aja aku kangen banget sama ibu.” mereka pun saling berpelukan.


...***...

__ADS_1


Randy bersiap untuk tidur, ia sudah memakai baju tidur dan mematikan lampu utama kamar. Namun, ia masih memikirkan tentang Ratih yang rela menunggu dirinya? Sebelumnya Ratih tidak pernah seperti itu. Ia jadi teringat kembali ucapan Ari pagi tadi.


‘Ya Tuhan, semoga ibu baik-baik aja. Tolong berikan kesehatan dan umur panjang untuk ibuku, hamba ingin membahagiakannya, selama ini hamba belum pernah membahagiakan beliau.’ Randy berdoa untuk sang ibu, ia membuang jauh pikiran buruknya.


Ketika Randy hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponselnya berdering panjang tanda telepon masuk, di layar ponselnya tertera nama David. Orang yang sudah berjasa mengajari Randy tentang mengelola perusahaan, hingga Randy bisa memiliki banyak properti seperti sekarang.


“Maaf tuan muda Randy karena saya mengganggu waktu istirahatnya. Saya hanya ingin memberi kabar, bahwa perusahaan Mr. Jack sudah menandatangani proposal kerjasama dengan Denon Group. Menurut sekretaris Mr. Jack, ia sangat puas dengan proposal kerjasama itu, bahkan si Mr. Jack ingin segera proyek itu diberlangsungkan. Karena ia ingin hotel itu segera beroperasi. Menurutnya juga, hotel itu nantinya akan sangat ramai, mengingat lokasinya yang sangat strategis. Ia bahkan memuji kemampuan tuan muda Randy dalam membaca peluang bisnis, kata Mr. Jack tuan muda Randy sangat mirip dengan mendiang tuan Rohit, jika berkaitan dengan bisnis,” David menjelaskan panjang lebar.


“Baiklah, terima kasih atas kabar baiknya, paman.” sahut Randy. Bagi Randy, David sudah seperti keluarga, itu sebabnya ia memanggil David paman.


“Baik, tuan muda. Selamat beristirahat kembali dan selamat malam.”


...***...


Keesokan paginya, Randy bangun agak terlambat, yakni pukul 08.00. Itu pun karena ia mendengar pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, yang tak lain dan tak bukan adalah Ratih, sang ibu tercinta.


“Ibu, kenapa bangunin aku malem-malem? Aku baru aja tidur, hoaaammm.” ucap Randy sambil menguap lebar.


“Hah?! Jam 08.00?” ucap Randy terkejut, lalu mengecek jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 23.00.


Randy kembali mendekati Ratih, dengan percaya dirinya ia mengatakan, “Ini masih jam 11.00 malem bu, tuh liat jam dindingku!” seru Randy sambil menunjuk jam dinding kamarnya.


Ratih memakai kacamatanya agar bisa melihat jelas angka pada jam itu.


“Jam kamu mati, harus diganti baterainya. Lihat HP ibu sudah jam 08.00. Kalau kamu gak percaya, lihat aja HP kamu!”


Randy pun mengecek ponselnya, dan ternyata benar sudah pukul 08.00. Seketika ia merasa malu pada sang ibu, ia pun hanya tersenyum kikuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu menyuruh Ratih keluar karena ia sudah terlambat bekerja pagi ini.


Seusai memakai pakaian kerjanya, Randy segera menelepon David. Ia meminta bantuan David untuk mengatur ulang rapat pagi ini yang seharusnya dilaksanakan pukul 08.30.


“Baik, terima kasih paman. Dua puluh menit lagi Randy sampai kantor.”

__ADS_1


Pukul 09.25, Randy baru tiba di kantor. Ia berjalan cepat menuju ruang rapat dimana sudah banyak orang yang hadir untuk mengikuti rapat pagi ini.


Randy lantas meminta maaf karena harus menunda rapat ini dan sudah datang terlambat, semuanya memaklumi Randy, meski ada beberapa orang yang membicarakannya di belakang. Manusiawi ‘lah ya, karena di kehidupan nyata pun masih suka ada beberapa orang yang seperti itu, betul tidak?


Randy meminta divisi yang bertugas dalam proyek pembangunan perumahan di jalan Cempaka untuk mempresentasikan proposal rancangan timnya, sekaligus memberikan informasi setiap detail progres proyek yang saat ini sudah berjalan delapan puluh persen, di hadapan para klien yang terkait.


Disaat semuanya fokus memerhatikan presentasi, tiba-tiba suara tak terduga terdengar, yang secara otomatis mengalihkan fokus semua orang di ruangan itu termasuk Randy.


“Kruyukkk!” suara perut Randy yang meminta jatah sarapan, ia memang tidak sempat sarapan karena terburu-buru.


Randy enggan untuk izin dari rapat, ia memilih mengabaikan suara perutnya yang sudah sangat kelaparan sambil tetap memasang wajah ‘stay cool’. Seketika para klien yang hadir pun bertanya-tanya, suara perut siapakah itu? Pasti rasanya sangat lapar karena suaranya terdengar sangat menyedihkan.


Beberapa detik kemudian, rapat pun dimulai kembali, sang ketua divisi yang memimpin rapat meminta maaf karena adanya gangguan tadi. Namun tak lama setelah itu, perut Randy kembali berbunyi, “Kruyukkk!”


Randy benar-benar merutuki dirinya, namun ia terlalu malu untuk jujur dan enggan meninggalkan rapat.


“Maaf, sepertinya rapat harus istirahat dua puluh menit. Karena saya sangat kelaparan, mohon maaf atas ketidak nyamanannya.” ucap ketua divisi.


“Terima kasih sudah menolong saya,” ucap Randy pada sang ketua divisi, Randy beruntung memiliki pegawai yang sangat pengertian sepertinya, ia bergegas ke ruangannya dengan diikuti David.


“Hah, saya sangat lapar, paman. Tolong pesankan satu piring bubur tanpa kecap.”


“Baik tuan muda!”


David menelepon staff kantin untuk mengantarkan bubur sesuai pesanan Randy, tak lupa ia meminta agar dibawakan satu gelas susu putih hangat. Sambil menunggu, Randy membuka akun instagram pribadinya. Ia mulai men-scroll kabar yang ada di beranda sosial media yang saat ini tengah digandrungi umat manusia di bumi.


Tak hanya men-scroll beranda, Randy juga membuka notifikasi, melihat siapa saja yang baru mem-follownya. Hingga ia merasa penasaran dengan akun bernama @irgi_jonathan, ia pun mulai meng-kepoi akun tersebut.


Randy melihat satu persatu foto yang diposting akun @irgi_jonathan, hingga matanya merasa sangat tertarik ketika melihat foto Irgi bersama Ifa yang diposting akun Irgi, tak lupa Irgi turut men-tag sang adik, @m10_ifaaa.


Randy kemudian ‘mengklik’ nama akun Ifa yang ditandai Irgi, ia juga melihat satu persatu foto yang diposting. Tanpa disadari, jantungnya berdebar kencang, sedang hatinya berdesir.

__ADS_1


__ADS_2