
Malam harinya, Randy terus terpikirkan ucapan dokter mengenai perasaannya pada Ifa. Selain itu, kalimat terakhir dari dokter terus terngiang di kedua telinga Randy.
“Saran saya, tuan segera nyatakan perasaan tuan pada wanita itu. Khawatir nanti dia ada yang tembak dulu.” kalimat itu terus terngiang di telinga Randy hingga membuat dirinya tak nyaman.
Randy gelisah, namun dalam hati kecilnya merasa, momen ini tidak tepat lantaran keduanya sedang berada di rumah sakit. Akan tetapi, perasaannya sangat tidak tenang. Ia berperang dengan batinnya.
Randy bangun dari duduknya, ia hendak menemui Ifa di tempat siang tadi mereka bertemu.
“Mau kemana kamu, nak?” tanya Ratih.
“Pergi sebentar bu, cari angin segar. Ibu disini aja ya sama mbok Santi,” Randy tidak berani berterus terang pada sang ibu. Ia terlalu malu karena selama hidupnya, Randy belum pernah mencintai seorang wanita selain Ratih.
Selama duduk di bangku SMA dulu, Randy belum pernah pacaran, dan setelah lulus pun Randy tidak ada waktu untuk memikirkan tentang percintaan, lantaran yang ada dalam otaknya hanya bisnis, bisnis dan sang ibu. Itu sebabnya Randy merasa malu jika harus berterus terang pada Ratih, meski Ratih adalah orang tuanya sendiri.
Randy terperangah tatkala kedua netranya melihat Irgi sedang duduk di samping Ifa, kedua manusia itu tampak sangat akrab dan seperti saling menyayangi satu sama lain. Randy ingat betul bahwa Irgi adalah lelaki yang lebih dulu memfollow akun instagramnya, meski ia baru melihat foto Irgi dan belum bertemu secara langsung.
Seketika, Randy merasa sangat cemburu. Apalagi saat Ifa tersenyum manis pada irgi, ingin rasanya Randy menghilangkan Irgi saat itu juga. Namun ia terlalu takut jika harus dipenjara.
‘Sial! Apa mereka pasangan kekasih?’ Randy berkutat dengan pikirannya sendiri.
Meski ingatan Randy tajam tentang wajah Irgi, namun ia tidak ingat dengan caption Irgi pada salah satu postingan di akun instagramnya yang berfoto bersama Ifa. Dimana caption itu bertuliskan, ‘With my lil sister yang bawel.’ Nasib punya ingatan tajam tapi setengah-setengah ya Randy, hihi. Terima saja ya, Ran. Ahahah.
Randy akhirnya memberanikan diri berjalan di depan Ifa dan dokter Jo. Ia berpura-pura tidak mengenali keduanya, yang bertemu dengannya disaat hatinya sangat lemah.
“Nak Randy, ya?” sapa dokter Jo. Randy akhirnya menghentikan langkah.
“O hai dokter Jo, bertemu lagi kita di tempat yang sama meski beda situasi.” kata Randy sambil tersenyum kecut, ia belum bisa melupakan momen pertemuan dirinya dengan dokter Jo ketika ia sedang sangat lemah.
“Wah, Randy pemilik Denon Group ya? Gak nyangka benget gue bakal ketemu lo disini.” Irgi antusias.
__ADS_1
Randy tersenyum tipis merespons Irgi.
“Kenalin, gue Irgi, putera tampan dokter Jo.” Irgi memperkenalkan dirinya terlebih dulu.
‘Hah?! What the hell? Takdir apa ini ya Tuhan!’ batin Randy tak percaya.
Randy memasang wajah terkejut yang kentara jelas oleh dokter Jo dan lainnya.
“Kenapa terkejut begitu nak Randy?” tanya dokter Jo penasaran.
“Oh, e-eeh gak ppa-pa kok dok,” seketika Randy tergagap. Namun dalam hatinya merasa sangat senang, itu artinya ada peluang buat ia menyatakan perasaannya pada Ifa.
“Nak Randy heran ya karena wajah saya gak mirip sama Irgi? Memang sih, banyak orang yang bilang saya ini lebih tampan dibanding Irgi.” tutur dokter Jo dengan sangat percaya diri, yang seketika mendapat pukulan pelan dari Chintya.
“Aw, mami kenapa mukul papi?”
“Itu akibatnya kalau terlalu geer!”
Randy terus memerhatikan Ifa, matanya tak bisa mengalihkan pandangan pada yang lainnya. Ia pun semakin yakin bahwa dirinya telah benar-benar jatuh hati pada gadis muda itu.
‘Ya Tuhan, sungguh indah ciptaan-Mu. Senyumnya sangat manis dan kedua matanya sangat indah.’ seketika hati Randy berdesir. Jantungnya berdegup lebih cepat tak beraturan. Namun ia berhasil menenangkan dirinya dengan menyemangati diri sendiri.
Randy bingung, apakah ia harus menyatakan perasaannya saat ini atau nanti? Namun ia ingin segera masalah hatinya selesai dan bisa mengetahui langsung respons dari Ifa.
‘Bagaimana ini Tuhan?’ Randy bermonolog dengan dirinya.
***
Keesokan paginya, Randy bangun sebelum Ratih, ia lalu keluar dari ruang rawat sang ibu menuju ruang perawatan Eren. Ia sudah tidak bisa lagi menahan gejolak yang ada dalam dadanya.
__ADS_1
Randy berjalan cepat menuju ruang rawat Eren yang berjarak sekitar dua puluh meter dari ruang rawat Ratih. Ia berharap dokter Jo dan istrinya serta Irgi sudah tidak ada lagi, namun ia berharap Ifa ada disana.
Tuhan sangat baik pada Randy, Ifa, sedang duduk sendirian di depan ruang perawatan Eren. Gadis muda itu sedang duduk sambil memejamkan kedua matanya, namun ada yang aneh dari Ifa.
Seketika Randy berlari sebelum Ifa terjatuh dari kursi tempatnya duduk. Randy tepat waktu, Ifa menjatuhkan kepalanya pada bahu kiri Randy. Randy tentu sangat senang.
‘Ternyata kamu lagi tidur ya? Tidur aja kamu tetap terlihat cantik!’ Randy memuji Ifa dalam hatinya.
‘O iya, ini kan hari Minggu, pantas aja kamu gak sekolah.’ Randy baru mengingatnya.
Beberapa menit kemudian, Ifa membuka perlahan matanya. Ia sedikit terkejut tatkala dirinya bersandar pada bahu Randy.
Randy pun meminta maaf dan menjelaskan kronologis Ifa bisa bersandar padanya.
“Maaf ya, aku jadi gak enak deh. Soalnya aku tadi ngantuk banget, mau tidur di dalem terlalu sempit buat empat orang. Papi sama mami semalem ngajak pulang sih, tapi aku gak mau, aku mau terus nemenin Eren. Aku masih ngerasa gak enak sama bunda dan kakaknya Eren. Aku ngerasa gak becus jadi sahabat Eren, karena aku gak bisa jagain dia,” seketika Ifa menitikkan air mata dari kedua matanya yang indah. Ia sangat sedih melihat kondisi sahabat tercintanya masih terbaring lemah.
“Hei! Kamu gak salah kok, kamu sahabat terbaik buatnya. Kalo kamu bukan sahabat terbaiknya, kamu pasti gak bakal nemenin dia disini sampe sekarang, mungkin kamu lebih pilih pulang dan tidur dengan nyaman di rumah tanpa perduli dia.” Randy berusaha menghibur Ifa.
“Dia sangat beruntung punya sahabat kayak kamu. Jujur, aku pun pengen banget punya sahabat kayak kamu, tapi sahabat seumur hidupku.” Randy berusaha berterus terang tentang perasaannya, namun Ifa seperti tidak terlalu fokus mendengarkan ucapan Randy. Ia masih merasa sangat sedih.
“Ifa, aku mau bilang sesuatu nih.”
Ifa pun menatap Randy.
“Jujur, sebenernya aku…” Randy tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Ifa tolong segera panggil dokter, Eren tiba-tiba, jantungnya…”
Ifa paham maksud dari kakaknya Eren.
__ADS_1
“Baik kak, aku segera panggil dokter!” Ifa lantas segera berlari untuk memanggil dokter, meninggalkan Randy yang belum selesai mengutarakan perasaannya pada dirinya.