Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
Koneksi Hati


__ADS_3

Di Kota yang berbeda seorang perempuan tengah duduk termenung di atas kasur busa tipis yang ada di kamar kontrakan kecil. Dia rindu akan sosok pria yang telah memperlakukannya sangat lembut. Pria di masa lalunya yang datang membawa cinta.


"Kenapa Bang As pergi tanpa kasih tahu aku? Kenapa Abang harus bersikap lembut, jika pada akhirnya Bang As akan pergi?" lirihnya.


Tak terasa hatinya sakit menerima kenyataan ini. Perasaannya yang dulu masih sama. Memendam sebuah rasa yang tak bisa diutarakan hingga dipendam sendirian. Meskipun, telah berkelana ke sana ke mari hatinya tetap berlabuh pada satu orang, Bang As. Dia juga tidak menyangka bahwa pria yang dia kagumi dalam diam memiliki perasaan yang sama kepadanya. Namun, pria itu telah pergi. Tanpa pamit seperti sedang membalas dendam.


Sedari tadi calon suaminya Jingga menghubunginya pun tak dia hiraukan. Pikirannya masih tertuju pada pria yang sudah merebut hatinya. Pria yang dari dulu tidak berubah, masih tetap sama.


Jingga menyentuh bibirnya, Aska telah memberikan kenangan manis di sana. Sentuhan lembut nan memabukkan mampu membuat Jingga luluh. Hatinya bergemuruh ketika Aska mengecupnya. Hati kecilnya ingin menolak, tetapi raganya seperti menikmatinya. Malah kecanduan akan tindakan Aska yang mampu membuatnya melayang.


Lamunannya harus buyar ketika pintu kontraka diketuk cukup keras. Jingga segera menghapus air matanya dan membuka pintu. Matanya melebar ketika melihat seorang pria yang sudah memasang wajah murka.


"Kenapa teleponku gak diangkat?" sergahnya.


"P-ponselku ... lagi di charge," jawabnya.


Pria itu malah mendorong tubuh Jingga. Dia menutup pintu kontrakan dan menguncinya dari dalam. Dia sudah menjepit tubuh Jingga dengan tubuhnya. Dagunya sudah pria itu tarik. Ketika dia hendak mencium bibir Jingga, refleks Jingga mendorong tubuh pria itu. Mata pria itu memerah dan terlihat sangat marah.


Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi Jingga. Bukan hanya sekali, pria itu menampar Jingga berkali-kali hingga tubuh Jingga tersungkur ke lantai. Ini bukan kali pertama Jingga mengalami kekerasan seperti ini. Hanya menangis yang bisa Jingga lakukan. Dia kini bersujud di kaki pria itu.


"Ampun," ucapnya lirih.


Bukannya mengiba pria itu malah menendang tubuh Jingga hingga dia kembali tersungkur.


"Jangan pernah berani menolakku." Tendangan pun dia berikan kembali ke tubuh Jingga.


Batin Jingga sungguh tersiksa menjalani hubungan bersama pria kasar ini. Jika, dia bisa mengakhiri hubungannya sudah dia akhiri hubungannya sedari dulu. Bukan hanya hatinya yang sakit, tubuhnya pun sangat sakit. Banyak luka memar di tubuhnya.


"Askara," panggilnya lirih. Berharap Aska darah sebagai pahlawan berkuda putih.


Di lain Kota, Askara yang tengah berdendang pun menghentikan petikan gitarnya ketika mendengar ada yang memanggilnya. Suaranya sangat dia kenali. Mata Aska menoleh ke sana ke sini, tetapi tidak ada siapa-siapa.


"Apa halusinasi ku saja?" batinnya.

__ADS_1


Wajah ceria Aska berubah seketika. Pikirannya tidak tenang, satu nama yang ada di kepalanya, Jingga.


"Kamu baik-baik saja 'kan di sana," gumamnya.


Aksa dan Riana menatap bingung ke arah Aska. Begitu juga dengan Ken dan juga Juno.


"Kenapa lu?" tanya Ken.


Aska menggeleng dan malah terdiam seribu bahasa. Sungguh hatinya sangat tidak tenang malam ini, seperti terkoneksi dengan hati Jingga.


"Ri, punya nomor Jingga?"


Padahal Riana ada di sampingnya, tetapi Aska malah mengirim pesan kepada Riana. Dahi Aksa mengkerut ketika mendengar denting ponsel istrinya. Tidak biasanya malam-malam begini ada yang menghubungi istrinya.


Aksalah yang membuka ponsel Riana karena istrinya tengah menikmati nasi kucing. Aksa menatap ke arah adiknya, hanya anggukan kecil yang adiknya berikan. Beginilah si kembar, ada hal yang sahabatnya perlu tahu. Ada juga yang mereka tidak perlu tahu.


Aksa memperlihatkan isi pesannya kepada Riana. Seketika Riana menggeleng. Terlihat Aska menghembuskan napas kasar. Tangan Aksa malah menari-nari di atas layar ponsel milik istrinya.


"Coba tanya si Fahri. Kalau gak tahu, pecat aja.😂"


Aska mengikuti saran Aksa, tetapi pesan yang dia kirim kepada Fahri hanya ceklis satu. Aska mengumpat kesal di dalam hatinya.


"Bhang Ke! Giliran gua butuh bantuan malah dimatiin hapenya," gerutu Aska dalam hati.


Aksa hanya tertawa karena dia memang tahu bahwa setiap malam Minggu dan hari Minggu ponsel Fahri akan dimatikan. Dia tidak ingin diganggu oleh hal pekerjaan dan persolan pribadi para atasannya. Dia juga ingin menikmati waktu tanpa adanya gangguan.


Cuaca semakin dingin, waktu juga sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Aksa mengajak istrinya untuk pulang karena angin malam tidak bagus untuk kesehatan.


"Sayang, kamu bawa uang cash gak? Tadi lupa narik," ucap Aksa.


Riana tersenyum dan mengangguk. Dia membayar semua pesanan yang mereka makan.


"Makasih, Bang. Makasih, Kak," ucap Ken dan Juno.


Aksa dan Riana mengangguk. Mereka pulang lebih dulu, sedangkan tiga jomblowan itu masih betah di sana.

__ADS_1


"Abang lu emang gak pernah megang uang cash?" Mode kepo Ken muncul.


"Isi dompetnya kartu semua," jawab Aska.


"Kartu debit dan kartu kredit?" timpal Juno.


"Kartu gapleh," sungut Aska.


Terkadang kedua sahabatnya berotak dangkal. Sudah jelas abangnya pengusaha muda, pastilah jarang bawa uang cash. Semuanya ada di dalam kartu debit miliknya.


Aska masih memikirkan Jingga sampai saat ini. Bayang wajah Jingga masih mengitari otaknya.


Perempuan yang tengah Aska pikirkan sedang menangis dengan menelungkupkan wajahnya di atas lututnya.


"Kenapa aku tidak mati saja dulu? Jika, pada akhirnya aku harus tersiksa seperti ini," gumamnya.


Jingga berusaha bangkit, dia melihat dirinya di cermin. Sungguh memilukan sekali. Air matanya semakin berjatuhan. Sudut bibirnya berdarah, punggungnya terasa sakit karena tendangan calon suaminya.


Dia berusaha berjalan ke arah kamar mandi. Membasuh wajahnya dan juga sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah. Setalah itu, Jingga mengunci pintu rumahnya dan mematikan ponselnya. Dia ingin istirahat dengan tenang.


Jingga menatap langit-langit kamar, tak terasa air matanya menetes lagj. Dia rindu akan sosok pria dewasa yang selalu memperlakukannya dengan baik, begitu juga dengan putra angkatnya yang selalu bermanja dengannya. Bekerja di keluarga itu membuat Jingga merasa dihargai dan bahagia sebelum dia harus dipaksa datang ke Jogja.


"Pak Satria ... Kalfa ... saya rindu kalian. Saya rindu kebaikan kalian," lirihnya.


Di Kota Jogja dia sama sekali tidak menemukan kebahagiaan. Kota ini bagai neraka untuknya. Keluarganya memang ada di sini, tetapi mereka membiarkan Jingga tersiksa tanpa mau membantu Jingga lepas dari penderitaannya.


"Tuhan ... boleh aku menawar untuk jodohku?" Bulir bening pun menetes di ujung matanya.


"Jika, boleh ... aku tidak ingin menikah dengan pria kasar dan suka main tangan. Aku ingin menikah dengan pria yang lembut dan menyayangiku apa adanya," pintanya.


Hembusan napas kasar pun keluar dari mulutnya. Jingga menyeka air mata di ujung matanya.


"Bang As, tolong bawa aku pergi dari sini," gumamnya.


...****************...

__ADS_1


Sampai akhir bulan akan crazy up, ya. Kalau bosan skip aja.🙏


__ADS_2