Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
Spirit Doll


__ADS_3

"Pencuri bayi!"


Teriakan salah satu perawat membuat orang yang berada tak jauh dari sana segera berlari mengejar pria tersebut. Pria itu juga lari dengan sangat kencang sambil menggendong bayi di tangannya. Tak sengaja dia menabrak seorang wanita yang baru saja masuk ke lobi rumah sakit.


"Aw!" Tubuh wanita itu terhuyung ke belakang untung saja sang suami sigap meraih tubuhnya. Pandangan mereka pun bertemu dan saling terkunci.


"Kamu gak apa-apa, Sayang?" Raut khawatir kini terlihat di wajahnya.


"Enggak kok, Ay."


Panggilan sayang itu akhirnya terlontar juga dari mulut istrinya. Itu membuat Radit sangat bahagia.


"Tangkap pencurinya!" Seruan suara tersebut membuat sepasang suami-istri itu terperanjat.


"Pencuri apa, Pak?" tanya Radit.


"Bayi laki-laki dicuri."


Mata Echa melebar mendengarnya, sama halnya dengan kedua anak Echa Aleena juga Aleeya.


"Bubu ... bukan Dedek ganteng 'kan yang diculik," ujar Aleeya dengan suara bergetar.


"Ay, ikut tangkap pencuri itu! Aku hubungi Aksa dulu."


Melihat ibu dan ayahnya panik anak kedua Echa dan Radit malah asyik mengunyah permen karet. Sama halnya dengan Iyan yang hanya melipat kedua tangannya di atas dada.


"Sia-sia." Itulah yang Iyan katakan.


"Kakak Na, itu dedek tampan bukan?" tanya Aleeya dengan raut sedih. "Masa dedek tampan diculik," ucapnya lagi.


"Bang, ada pencuri bayi di bawah. Anak kalian ada gak di sana?"


Aksa yang tengah membantu istrinya meminum obat mematung seketika mendengar apa yang kakaknya katakan dari balik sambungan telepon. Dia melihat ke arah boks bayi yang tidak ada penghuninya.


"Sayang, Aksa junior belum kembali?" tanya Aksa yang masih berucap santai. Riana hanya menggeleng dan Aksa sudah mulai sedikit panik.


"Apa kakak tidak salah dengar dan perihal pencuri bayi?" Pertanyaan Aksa membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"Enggak, Bang. Pencuri itu tadi sempat nabrak Kakak. Banyak orang yabg mengejarnya dan mengatakan bahwa bayi laki-lakilah yang diambil."


Deg.


Jantung Aksa seperti berhenti berdetak. Ponsel Aksa pun terjatuh begitu saja. Semua orang yang melihat reaksi Aksa ikut panik.


"Kenapa, Bang?" tanya sang Mommy.


"Bayi siapa yang diculik?" tanya Gio.

__ADS_1


Wajah semua orang pun cemas apalagi Aksa tidak menjawab pertanyaan mereka. Dia malah berlari keluar kamar perawatan Riana.


"Abang, apa itu bayi kita?" tanya Riana dengan sangat lirih ketika suaminya sudah keluar kamar dan diikuti oleh yang lainnya. Ayanda mengusap lembut pundak menantunya dan mencoba memberikan ketenangan kepada Riana.


"Semoga bukan Aksa junior," imbuh Ayanda. Jujur, dia juga merasa takut karena musuh suami juga mertuanya ada di mana-mana. Banyak orang licik yang menggunakan kesempatan ini.


Tak lama berselang, lima pria beda generasi tiba di lobi. "Ke mana penculiknya, Sayang?" Sang papa menanyakan kepada Echa.


"Ke sana, Pa."


"Kakak lebih baik temani Riana." Aksa pun segera berlari mengejar pencuri bayi itu sedangkan Echa juga ketiga anaknya dan adiknya menuju kamar perawatan Riana.


Di sana Riana sudah menangis karena dia takut anaknyalah yang menjadi korban penculikan itu. Aleena dan Aleeya mendekat ke arah sang Tante. Berbeda dengan Aleesa juga Iyan yang asyik duduk di sofa sambil menikmati camilan yang tersedia.


"Mengejar pencuri bodoh." Iyan hanya tersenyum mendengar ucapan dari keponakannya itu.


.


"Hahahaha ...."


Tawa pun menggelegar ketika melihat pria dengan langkah tergesa membawa bayi tampan tersebut.


"Mau main-main rupanya."


Orang di balik meja besar itu mengambil ponselnya dan mencari nomor seseorang.


"Tanpa kamu sadari, ada orang yang tengah sekarat. Ingin dipercepat menghadap Tuhan rupanya." Seringai mematikan pun terpampang nyata di wajah orang itu.


.


Di balik jeruji besi senyum merekah di wajah wanita yang terbilang gila. "Pasti kalian akan depresi," ucapnya dengan sangat yakin.


Dia terus tersenyum bagai manusia kurang waras. Terkadang tertawa keras membuat teman satu selnya menatap sinis ke arahnya.


"Emang udah edan tuh anak," ucap teman satu sel wanita itu.


Seorang petugas datang ke tempat di mana wanita itu berada. Dia menyuruh wanita itu untuk keluar dan mengikuti ke mana petugas melangkah. Senyum mengejek dia berikan kepada seorang pria yang tak asing baginya.


"Kenapa? Mau meminta ampun kepadaku?" Sangat percaya diri sekali wanita itu. Namun, pria yang memakai kemeja berwarna abu-abu itu hanya diam.


"Ingat ya, aku tidak akan melepaskan bayi itu. Bayi itu harus mati!" serunya.


Seruan wanita setengah gila itu membuat pria itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Dia melemparkan beberapa lembar foto ke atas meja.


"Siapa yang akan mati? Bayi yang tak berdosa ini atau ...." Mata wanita itu melebar ketika melihat siapa yang berada di dalam foto.


"Pa-pih!"

__ADS_1


Kini, pengacara muda itu menunjukkan seringai mautnya. Dia nenyilangkan tangannya di atas dada.


"Mahendra." Pengacara itu pun menjeda ucapannya. "Sekarat dan sudah sedikit ... sekali harapan untuknya hidup," jelas pengacara itu. "Apa mau dipercepat proses kematiannya?"


Plak!


Perkataan itu bagai tamparan keras untuknya. Mulutnya pun terbungkam.


"Jangan pernah bermain-main dengan keluarga Wiguna karena mereka bukanlah manusia yang berhati malaikat. Malah, mereka akan menjadi malaikat maut untuk manusia seperti dirimu," tunjuk pengacara itu ke wajah wanita gila tersebut.


Membeku, tubuh wanita itu bagai patung. Ancaman itu seperti sudah di ujung matanya.


.


Pria yang membawa kabur bayi tampan itu sudah berada di dalam mobil. Ternyata dia tidak bekerja sendiri. Ada seseorang yang sudah menunggunya di dalam mobil dan dengan sengaja juga plat mobil belakang yang mereka gunakan tidak mereka pasang agar tak ada yang mengenali mobil mereka.


Pria itu terus melihat ke arah belakang, dia masih cemas jika ada orang yang mengejarnya. Namun, sepertinya semuanya aman. Mobil yang dia tumpangi terus melaju hingga menjauhi Kota.


Ada sebuah kejanggalan di mana bayi yang pria itu bawa sedari tadi tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Dia mulai melihat ke arah sang jabang bayi. Semuanya terlihat normal. Bayi itu masih terpejam dan dia berpikir bayi ini memang bayi yang tidak rewel. Hingga mobil mereka berhenti di sebuah gudang besar dan kumuh yang jauh dari pemukiman. Tempat di mana mereka sering membuang mayat di sana. Benar saja, di dalam gudang tersebut hanya bau busuk yang menyeruak, juga tulang-belulang manusia berserakan di sana.


"Bos, apa Anda tega?" tanya sopir yang membawa pria itu. "Bayi itu tidak berdosa, Bos," ucapnya ketika melihat pria itu sudah mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya.


"Ini pekerjaanku. Aku tidak memakai hati untuk bekerja. Hanya memakai kekejaman yang dibayar mahal."


Sopir itu memilih untuk mundur ketika seringai jahat muncul di wajah penculik itu. Dia tidak tega melihat bayi dibunuh di depan kepalanya karena dia teringat akan anaknya yang masih balita.


"Selamat tinggal, bayi tampan!" Pria itu sudah mengangkat pisau ke udara dan hendak menancapkannya. Pisau itu pun sudah menancap di perut si bayi. Namun, tidak ada darah yang mengalir dan bayi itu pun masih saja diam. Si pria itu pun terhenyak ketika mendapati kenyataan yang ada.


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan membuat penculik itu menoleh. Orang berseragam hitam sudah mengelilingi. Matanya pun meleba karena sangat terkejut.


"Pencuri bodoh!" seru seorang berbadan kekar. "Yang kau curi itu adalah boneka! Bukan bayi sungguhan."


Genta sudah mengantisipasi semuanya. Ketika melihat sang cicit lahir dia segera menutup info tentang cicitnya . Wajah yang tersebar ke luar pun bukan foto sang cicit malah foto boneka spirit yang sudah dia pesan jauh-jauh hari untuk mengelabuhi para musuh. Di mana dia meminta kepada sang pembuat boneka untuk membuat boneka bayi tampan dengan tingkat kemiripan sembilan puluh persen dari aslinya. Wanita gila itu akhirnya terkecoh juga karena dia bukan lawan Genta Wiguna, hanya butiran debu yang tak berguna.


.


"Bahkan orang suruhan kamu pun sangat bodoh." Pengacara itu menggelengkan kepalanya. "Siapa yang telah dia bunuh? Bayi Aksara kah? Atau hanya sebuah boneka bayi yang mirip manusia?"


Wanita itu tidak bisa berkutik sama sekali ketika melihat video yang pengacara itu berikan.


"Bagiamana Zivanna Meysha Mahendra? Apa kamu juga sudah siap untuk mati?"


...****************...


Insha Allah 2 bab lagi ya ...

__ADS_1


__ADS_2