Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
Tangis Tiada Henti


__ADS_3

Tubuh semua orang terkulai lemah. Apalagi Riana juga Ayanda. Hanya air mata yang mengalir sangat deras membasahi wajah mereka.


Rion memeluk tubuh Riana yang sudah tak bisa berkata. Tubuh Ayanda dipeluk oleh Beby dan juga Sheza.


"Berita ini bohong 'kan."


Suara lemah Ayanda terdengar sangat pilu di telinga mereka. Sheza dan Beby semakin erat memeluk tubuh Ayanda.


Ponsel Arya berdering dan Arya segera menjawabnya.


"Pah, Abang ...."


"Sabar ya, Dek."


Terdengar isakan tangis di seberang telepon sana. Hati Arya sangat sakit mendengarnya.


"Riana sama Gavin gimana?"


Aska masih mengkhawatirkan keadaan kakak iparnya juga keponakannya.


"Riana syok berat, sama seperti dengan mommy kamu."


Hati Aska semakin sakit mendengarnya. Dia hanya bisa menunduk dalam.


"Kenapa lu tinggalin gua, Bang? Kenapa?"


Aska marah di dalam hati. Dia tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi. Memilih untuk menutup sambungan telepon.


"Evakuasi sangat sulit. Posisi pesawat ada di dasar laut. Kemungkinan jenazah penumpang tidak bisa dievakuasi semua."


Aksa menjambak rambutnya sendiri. Dia benar-benar menangis mendengar kabar ini.


"Kenapa nasib kamu sangat malang, Mpin?" tutur batinnya.


Hatinya sangat sakit, separuh jiwanya telah pergi. Dia tidak bisa membayangkan harus hidup tanpa sang Abang.


"Bang, gua berharap jasad lu bisa diangkat. Setidaknya kita bisa lihat lu untuk terakhir kalinya."


Aska terus merapalkan doa walaupun air matanya tak pernah surut. Dia berharap akan ada keajaiban untuk abangnya.


Gavin, anak yang belum mengerti apa-apa hanya dapat terbengong melihat semua orang bersedih. Dia menatap ke kiri dan ke kanan. Semuanya menangis.


Echa yang baru saja datang segera berlari seraya menangis. "Ini bohong 'kan!"


Echa sedikit berteriak karena kabar ini seperti petir yang menyambar tubuhnya di teriknya matahari.


"Tenang, Cha." Arya sudah mendekap tubuh Echa.


"Ini gak benar 'kan, Om. Adik Echa masih hidup."

__ADS_1


Riana benar-benar sangat terpukul. Dia terus menitikan air mata tanpa berbicara sedikit pun. Tatapannya kosong.


"My, ada apa? Kenapa semua olang menangis?"


Pertanyaan Gavin membuat tangis Riana mengeras. Dia memeluk tubuh putranya dengan sangat erat.


"My, jangan nangis." Gavin masih sempat berbicara di dalam dekapan erat sang ibu. Semua orang menyeka ujung mata mereka melihat putra pertama Aksara.


Rion menatap Arya dan sebuah anggukan menjadi persetujuan. "Empin sekarang sudah tidak punya Daddy lagi."


Dahi Gavin mengkerut mendengar ucapan dari kakeknya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Rion.


"Daddy emang lagi gak ada. Lagi ke ...." Putra dari Riana itu berpikir sejenak. "Kuntianak."


Bukannya tertawa mereka semua malah menitikan air mata. Kenapa anak selucu Gavin harus ditinggalkan oleh ayah tercintanya dengan sangat cepat? Kenapa Tuhan begitu tega?


Riana pun kembali pingsan. Darahnya sudah naik ke selang. Semua orang panik. Ayanda segera menghubungi dokter Gwen. Echa tengah sibuk menghubungi suaminya juga Riki. Namun, tidak ada jawaban dari dua orang tersebut.


"Ya Tuhan, aku berharap ini hanya mimpi buruk semata."


Melihat Riana yang terkulai lemah, Gavin yang terus mendekap tubuh ibunya dan mengatakan, "bangun, My. Nanti aku dimalahin Daddy."


Sungguh hati Echa sangat sakit. Dia tidak kuasa menahan tangisnya. Dia memilih untuk pergi menjauhi ruangan itu. Menangis di halaman samping seorang diri dengan lutut yang sudah menekuk.


"Tuhan, selamatkan adikku. Jangan ambil dia dari kami."


Echa terus terisak dan dia sungguh susah untuk menerima kenyataan ini. Riana dan Gavin, dua orang yang akan sangat bersedih atas hal ini. Apalagi Riana yang tengah mengandung besar.


"Kenapa Ay?"


"Ke Pontianak sekarang. Kalau perlu bawa dokter untuk mendampingi Riana."


Jantung Echa berdegup sangat cepat ketika mendengar ucapan dari Radit. "Apa semua ini benar? Apa jasad Aksa sudah diketemukan?" Begitulah batinnya bertanya.


"Aku sudah membooking satu pesawat pribadi untuk kalian semua terbang ke sini. Pesawat yang Papah pakai pun sudah terbang ke Jakarta. Jadi, ada dua pesawat yang akan membawa kalian."


Nada bicara Radit sangat berbeda. Echa benar-benar penasaran.


"Emangnya ada apa, Ay?" Suara Radit terdengar panik.


"Ke sini saja ya, Sayang. Dampingi Riana juga Gavin."


Sungguh hati Echa tak karuhan dibuatnya. Kini, Echa menghubungi Askara yang tengah berada di posko penumpang pesawat.


"Kakak terbang aja ke sini. Adek gak bisa cerita." Suara Aska pun terdengar sangat berat. Dia seperti menahan tangis.


Echa sangat yakin apa yang diberitakan benar-benar terjadi. Dia menghubungi ayah sambungnya pun tak dijawab.


Helaan napas kasar keluar dari mulut Echa. Langkah beratnya membawanya ke ruang keluarga kembali. Dilihatnya dokter Gwen tengah memeriksa kondisi Riana.

__ADS_1


"Kondisi bayinya sangat sehat. Hanya saja kondisi ibunya yang sangat lemah." Dokter Gwen pun mengucapkan bela sungkawa kepada Ayanda dan keluarga. Dia juga tidak menyalahkan Riana. Jika, dia berada di posisi Riana sudah pasti dia pun akan seperti Riana.


"Mah, Yah, Ri, panggil Echa.


Nama yang dipanggil itu pun menoleh. Wajah Echa sudah menunjukkan kesedihan yang sangat mendalam.


"Ada apa, Dek?" Sang ayah menimpali ucapan Echa.


"Kita disuruh bersiap terbang ke Pontianak. Ada dua pesawat pribadi yang akan jemput kita."


Tubuh semua orang pun menegang mendengar ucapan dari Echa. Terutama Ayanda dan juga Riana yang seperti orang kebingungan.


"Dokter, tolonglah ikut dengan kami. Kami takut terjadi sesuatu dengan Riana di pesawat." Dokter Gwen pun mengangguk setuju.


Sekitar jam tiga sore mereka semua bernagkat menuju Pontianak. Riana benar-benar seperti patung bernapas. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Air matanya pun seolah tak pernah surut. Gavin terus mengusap perut buncit Riana dengan sangat lembut.


Ketika Riana memejamkan mata hanya bayang suaminya yang memutari kepalanya. Hanya wajah tampan Aksa yang selalu memenuhi kepalanya.


"Jangan pergi tinggalkan Ri, Bang."


Riana berucap dengan sangat lemah, tetapi mampu didengar oleh semua orang yang berada di pesawat itu.


"Ri," panggil sang ayah.


"Abang harus tetap di sini. Abang harus selalu jaga Ri, Mas Agha dan calon anak kita. Ri, masih memerlukan Abang."


Mulut Riana mulai merancau. Rion segera memeluk tubuh putrinya. Dia takut kejadian ini akan menjadi trauma tersendiri untuk Riana.


"Ri, yang ikhlas ya. Tuhan memiliki rencana yang indah untuk kamu dan juga Gavin. Kamu tidak akan pernah sendiri. Ayah akan berada di samping kamu."


Riana menitikan air matanya kembali. Dia benar-benar tidak menyangka akan mendapat cobaan seperti ini. Cobaan yang menguras air mata dan membuat hatinya sakit tak terkira.


"Tuhan, apa aku mampu melewati cobaan ini? Kenapa Engkau memberikan cobaan yang begitu sulit kepadaku?"


Riana melihat ke arah sampingnya. Ada Gavin yang selalu setia menemaninya. Dia tersenyum seraya menitikan air mata.


"Apa nantinya Mommy akan bisa menjadi ibu dan ayah yang baik untuk kamu dan adik kamu? Apa kamu akan tetap bisa membuat Mommy tersenyum ketika kamu mengerti bahwa Daddy telah tiada? Apa masih bisa, Nak?"


Riana masih belum bisa mempercayai ini semua. Ini seperti mimpi baginya. Orang yang sangat dia sayangi pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya. Dia rasa ini hanya bualan, tetapi rasanya sangat amat menyakitkan.


"My, jangan nangis telus. Aku kan jadi sedih."


"Andai kamu mengerti semuanya. Apa bisa kamu juga tidak menitikkan air mata seperti Mommy?"


Riana hanya bisa memeluk tubuh Gavin dalam diam dan tangis. Sedari tadi dia berdoa agar suaminya baik-baik saja. Dia berharap berita itu hanyalah kesalahan belaka.


"Tuhan, jika memang ini benar adanya. Tolong ijinkan aku untuk bertemu dengannya untuk terakhir kali. Aku ingin menciumnya. Aku ingin memeluknya dan aku ingin mengatakan cinta untuk terakhir kalinya."


Riana menyandarkan tubuhnya di kursi pesawat. Air matanya akan terus mengalir hingga dia benar-benar bisa melupakan Aksara selamanya. Cinta pertamanya yang kini menjadi tulang punggungnya. Namun, tulang punggung itu telah hilang dan hanya menyisakan tulang rusuk yang rapuh karena tidak ada penopang dalam hidupnya.

__ADS_1


"Kembalilah, Bang. Jangan buat kami menangis tiada henti."


...****************...


__ADS_2