Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
Dua Puluh Persen


__ADS_3

Di Padang rumput yang hijau, kini Jingga berada. Tempat yang dipenuhi oleh orang-orang yang memakai baju putih. Dia sendirian saja yang memakai pakaian berwarna.


"Di mana aku?" tanyanya pada diri sendiri.


Jingga terus berkeliling Padang rumput tersebut. Tempat yang sangat menenangkan dan juga sejuk. Langkahnya terus menyusuri Padang rumput tersebut. Menikmati keindahan yang tersedia.


"Jingga."


Mendengar namanya dipanggil, langkah Jingga terhenti. Dia menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ketika dia membalikkan tubuh, tiba-tiba tubuhnya menegang. Air matanya sudah tak tertahankan.


"Bunda."


Seorang wanita yang memakai pakaian gamis putih bersih tersenyum ke arahnya. Jingga tak bisa berkata, tubuhnya pun membeku seketika tak bisa dia gerakkan. Padahal, dia ingin memeluk tubuh ibunya. Wanita yang sangat dia rindukan lebih dari lima tahun ini.


Senyuman indah yang Jingga rindukan, akhirnya bisa dia saksikan lagi tepat di depannya. Tetesan air mata tak berhenti mengalir membasahi wajahnya karena rasa bahagia yang tak terkira.


"Akhirnya kita bertemu lagi, Bunda," lirihnya. "Aku sangat merindukan Bunda. Aku ingin kita bersama-sama lagi."


Bukan hanya Jingga yang menitikan air mata. Jessi, yang dia lihat pun meneteskan air mata haru.


"Bunda bahagia bisa melihat kamu secara langsung, Nak."


Jessi menghampiri Jingga yang masih mematung di tempatnya. Tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Ingin rasanya dia berlari dan memeluk tubuh ibunya dengan sangat erat.


Akhirnya, pelukan hangat itu bisa Jingga rasakan kembali. Tubuhnya yang kedinginan, kini mendapatkan kehangatan lagi. Dia yang sudah kehilangan arah, kini mulai bisa terarah lagi.


"Maafkan aku, Bun. Maafkan aku yang sudah mendahului takdir," ucapnya dengan suara yang sangat berat. Sang ibu tak menjawabnya, dia hanya mengusap lembut rambut Jingga.


"Maafkan aku yang sudah menjadi anak yang memalukan untuk Bunda. Anak yang tidak berguna untuk Bunda."


Linangan air mata terus membasahi wajah Jingga. Mulutnya terus mengadu kepada sang ibu bagai anak kecil yang sedang bercerita panjang lebar kepada ibunya.

__ADS_1


"Aku akan tinggal di sini bersama Bunda."


Jessi hanya tersenyum dan mengusap lembut air mata Jingga yang sudah sangat membasahi wajahnya.


"Kamu anak kuat, Nak. Kamu perempuan hebat."


Sebuah pujian yang keluar dari mulut Jessi. Berulang kali Jessi mengecup kening putrinya tersebut.


"Kamu adalah permata berharga yang Bunda miliki. Bunda sangat bahagia memiliki anak seperti kamu," ujarnya. "Maafkan Bunda, yang tidak bisa menemani kamu lebih lama. Maafkan Bunda, Nak."


Pertemuan yang mengharu biru yang dua wanita ini rasakan. Mereka seakan tidak ingin dipisahkan lagi, terlebih Jingga yang sudah merasa sangat nyaman bersama sang ibu di sampingnya.


Dua orang berjubah putih dengan cahaya yang terang di wajah mereka berdua menghampiri Jessi juga Jingga.


"Saatnya kamu kembali."


Jessi mengangguk, dia menatap ke arah Jingga dengan senyuman yang terukir indah di wajahnya. Perlahan, Jessi pun mengurai pelukannya.


"Aku ingin ikut Bunda," pinta Jingga dengan bermandikan air mata.


"Belum bisa, Nak. Nanti, ketika sudah waktunya ... pasti kita bisa bersama."


Sebuah kecupan hangat Jessi berikan di kening Jingga dengan sangat dalam dan juga lama.


"Jadilah perempuan kuat dan hebat, Nak. Bunda yakin, nanti kamu akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya."


Jessi mulai meninggalkan Jingga. Langkahnya semakin menjauh. Jingga yang ingin mengejarnya pun tidak bisa. Tubuhnya bagai patung. Jingga terus berteriak, tetapi tak membuat Jessi membalikkan badan.


"Jangan pergi, Bunda!"


"Jangan tinggalin aku lagi!"

__ADS_1


*****


Aska mengerang kesal dengan terus menjambak rambutnya. Kabar yang dia dapatkan sangat menyakitkan. Aksa terus berada di samping sang adik tercinta begitu juga Riana. Mereka berdua dengan setia mendampingi Aska yang tengah dalam kondisi kacau.


"Dia pasti bisa melalui kondisi kritisnya," ucap Aksa.


"Hanya dua puluh persen, Bang. Dua puluh persen," ujar Aska dengan suara lemahnya.


Riana terus memeluk tubuh sang adik ipar dari arah kiri. Dia ikut menangis ketika mendengar ucapan dokter yang sangat menyakitkan itu.


"Pasien kritis."


Mereka berempat menegang mendengarnya. Fahri ikut menunduk dalam karena ini semua adalah kebodohannya. Dia yang lalai menaruh karbol di kamarnya.


"Gua akan mencoba untuk ikhlas dengan takdir ini, Bang, tapi ... gua gak ikhlas kalau gua harus kehilangan dia untuk selamanya," lirih Aska dengan tatapan sendunya.


"Biarkan kami saling tersakiti, tapi tidak boleh ada yang mati hanya karena hal ini," sambungnya lagi.


Aksa hanya bisa mengusap lembut pundak Askara. Hanya itu yang dapat dia lakukan.


Di dalam IGD, dokter sudah bekerja semaksimal mungkin sesuai atas permintaan Aksara.


Tit ....


Suara monitor membuat semua dokter dan juga perawat yang ada di sana menoleh. Garis lurus yang monitor itu tunjukkan.


...****************...


Tegang gak?


Udah ya, cukup 2bab aja.

__ADS_1


__ADS_2