
Aska memilih untuk tidak ikut sarapan dan berangkat sedikit siang. Dia tidak ingin menggegerkan seisi rumah karena luka lebam yang dia terima. Sang ibu akan sangat khawatir. Apalagi ayahnya, sudah pasti akan dicari orang yang telah melukai putranya.
"Bang, nanti gua mau ke kantor lu."
Sebuah pesan yang Aska kirimkan kepada Aksa. Padahal, abangnya masih sarapan di ruang makan. Ponsel yang tengah berada di tangan Riana membuatnya mengerutkan dahi. Riana tidak berkata apapun. Hanya menunjukkan isi pesan kepada sang suami.
"Biarkan saja," ucap Aksa. Riana hanya mengangguk dan meneruskan membajak akun sosial media milik suaminya.
"Sore ini Mommy akan mengambil baju di butik. Kamu jangan pulang malam, Bang," ujar sang ibu. Dia pun berkata lagi, "kalau bisa, sebelum Mommy berangkat kamu sudah ada di rumah."
"Kak Echa lagi ke Bogor, Iyan ada ekskul. Si triplets mau main ke rumah Rio," jelas Riana.
"Iya, Abang akan pulang cepat," sahut Aksa.
Banyak yang bilang jika kehamilan Riana sangatlah manja. Namun, semua keluarganya merasakan hal yang biasa. Wajar jika Riana ingin bermanja dengan suaminya. Dia sudah merasakan bagaimana pahitnya menjalani hubungan LDR.
"Si Adek ke mana, Mom?" tanya Giondra.
"Udah Mommy gedor-gedor pintunya, tapi gak dibukain. Mungkin masih tidur," jawab Ayanda.
"Anak itu harus diajarin bangun pagi. Bagaimana jika dia punya istri?" keluh Gio. Ayanda hanya mengangguk pelan.
"Bang."
Kini Giondra memanggil putra pertamanya. "Tolong jerumuskan adik kamu ke dalam perusahaan. Kalau kamu sendirian, kamu yang akan kewalahan," papar Giondra.
"Harus pelan-pelan, Dad. Dia itu keras kepala," sahut Aksa.
"Apa bedanya sama kamu?"
Ucapan sang ibu mertua membuat Riana tergelak. Aksa berdecak kesal dan mencubit gemas pipi sang istri tercinta.
"Sakit, Bang," ucapnya manja.
Gio dan Ayanda hanya tersenyum bahagia melihat putra pertama mereka sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Menjelang makan siang, Aska baru keluar kamar. Dia sangat terkejut ketika Riana sudah tersenyum penuh arti di depan kamarnya. Aska mulai curiga dengan mengerutkan dahinya.
"Ngapain lu di sini?" hardik Aska.
Bukannya menjawab, Riana malah menatap Aska penuh dengan tanya.
"Tumben pakai masker," ucap Riana. Aska hanya berdecak kesal dan berlalu meninggalakan Riana. Namun, tangannya berhasil Riana cekal.
"Mau ke kantor Abang 'kan?" tebak Riana.
Belum juga Aska menjawab, Riana sudah mencela ucapannya sendiri,
"Ri, ikut."
Aska menjerit kesal dalam hati. Semenjak Riana hamil, dia menjelma menjadi manusia menyebalkan di mata Aska.
"Mommy akan ke butik buat ambil baju lebih awal. Ri, gak mau sendirian di rumah."
Ada rasa iba mendengar ucapan Riana. Sontak Aska melihat ke arah perut Riana yang sudah membukit. Pada akhirnya, Aska pun menyerah. Dia berangkat ke kantor sang Abang bersama berdua.
"Lu gak ganti baju?" tanya Aska
__ADS_1
Riana menggeleng, sedari tadi dia sudah berpakaian seperti ini untuk menunggu Aska keluar kamar. Tas pun sudah dia selempangkan secara tadi.
"Ya udah minta ijin dulu sama Mommy," titah Aska. "Gua tunggu di mobil," lanjutnya.
Aska meninggalakan Riana dan adik iparnya tersebut menuju kamar sang Mommy untuk meminta ijin.
"Hati-hati ya, Sayang. Jaga cucu Mommy," ucap Ayanda. Riana mengangguk mengerti dan memeluk tubuh mertuanya.
"Ri, pergi ya, Mom."
Tidak semua mertua baik seperti Ayanda. Namun, bagi Ayanda siapapun yang menjadi pendamping anak-anaknya harus diperlakukan sama seperti anak kandungnya sendiri.
Aska dan Riana menuju kantor di mana Aksa berada. Wajah Riana terus tersenyum bahagia. Senyuman itu sedikit menular kepada Aska.
"Bahagia banget kayaknya," celetuk Aska.
Riana mengusap lembut perutnya yang sedikit menonjol dengan senyum yang tak pernah pudar.
"Hal yang membuat Ri bahagia sekarang ini, yaitu bertemu dan dekat sama Daddy-nya si baby."
Aska terenyuh mendengar ucapan Riana. Abangnya benar-benar menjadi pria yang sempurna. Mampu menjadi suami serta calon ayah yang sangat baik.
Tibanya di kantor, Aska harus melindungi Riana. Dia berjalan beriringan dengan Riana. Banyak karyawan yang menunduk hormat kepadanya. Riana pun membalasnya dengan sebuah anggukan disertai senyuman. Mereka tidak menyadari bahwa di samping Riana adalah adik dari Aksa.
Lift sudah menuju lantai paling atas di mana ruangan Aska berada. Sekretaris yang pernah Riana cemburuku sedang anteng di tempatnya.
"Siang, Nyonya," sapa sekretaris tersebut.
"Wah, hebat ya. Sekarang sudah pakai pengawal," ucapnya lagi.
Mata Aska melebar. Ingin sekali dia membuka masker di wajahnya, sedangkan Riana sudah mengulum senyum karena dia tahu adik iparnya itu sudah mengerang kesal di dalam hati.
"Ada di dalam, Nyonya. Beliau sedang bersama seroang pengacara."
Mata Aska melebar mendengar ucapan sekretaris abangnya itu. Dia segera menyerobot masuk membuat Riana sedikit terkejut. Benar saja, di dalam Aksa tengah berbincang serius dengan Christian.
Aksa dan Christian menoleh bersamaan ketika pintu ruangan terbuka dengan cukup kasar. Dahi mereka berdua mengkerut ketika melihat Aska masuk dengan menggunakan masker. Mata Aksa terbelalak ketika melihat Riana ada di belakang adiknya.
"Sayang."
Riana tersenyum ke arah sang suami yang sudah berdiri. Aksa menyambut kedatangan sang istri.
"Mau ke sini kok gak bilang?" tanya Aksa heran.
"Kak Aska 'kan mau ke sini, jadi sekalian aja," kekeh Riana. Aksa tersenyum dan memeluk tubuh sang istri. Mendaratkan sebuah kecupan di kening Riana dengan sangat dalam.
Aska dan Christian sedari tadi sudah menjadi penonton tak dibayar melihat kemesraan yang dipamerkan oleh Aksa dan Riana.
"Ada apa?"
Sergahan Aksa membuat Aska berdecak kesal. Abangnya itu belum duduk dan masih membawa Riana menuju sofa.
Setelah Aksa dan Riana duduk di sofa, Aksa memberikan kode rahasia kepada Christian yang duduk di samping Askara. Tangan cekatan Tian membuka masker Aska hingga dia mengumpat kesal.
"Kenapa dengan sudut bibir lu?" tanya Aksa. Mata Aksa begitu jeli.
"Biasa," jawab santai Aska.
__ADS_1
"Lu mau cerita sendiri atau gua yang cari tahu."
Kalimat maut yang membuat nyali Aska ciut. Aksa seperti cenayang yang segala tahu akan dirinya. Melihat adiknya masih diam, Aksa sudah mengangkat ponselnya hingga membuat Aska mengangkat kedua tangannya bertanda dia menyerah.
"Bian."
Erangan kesal keluar dari mulut Aksa ketika mendengar nama tersebut. Namun, wajah murka itu sedikit memudar ketika Riana sudah meletakkan telapak tangan Aksa di atas perutnya. Senyuman hangat pun Riana berikan kepada Aksa.
"Maunya apa anak itu?" geramnya.
"Gua mau tanya sama lu, ada masalah apa lu sama Bian?" Sekarang Aska yang menatap tajam ke arah Aksa.
Bukannya menjelaskan, Aksa malah bermanja dengan istrinya. Christian hanya tersenyum melihat reaksi Aska yang sudah geram sendiri.
Sebuah kertas putih berisikan tulisan serta angka Christian berikan kepada Aska. "Ini jawabannya," ucap Christian.
Aska meraih kertas itu dan membaca satu per satu kata yang ada di atas kertas tersebut. Matanya melebar ketika melihat nominal yang hilang dan kerugian yang diderita sang Abang.
"Lu rugi sebanyak ini?" Kini Aska yang bertanya. Aksa hanya mengangguk pelan.
"Kerugian gua setara dengan modal yang gua keluarkan, tapi gua hanya meminta yang setengah M saja," jelasnya.
Aska menggelengkan kepala ketika melihat nominal yang tertera di kertas tersebut. "Apa lu masih punya uang buat persalinan istri lu?"
Pertanyaan bodoh yang dijawab dengan tertawa renyah oleh Aksa. "Uang segitu gak akan membuat gua miskin."
Aska menyesal menanyakan tentang hal tersebut. Dia lupa terkadang abangnya terlalu sombong.
"Lu tenang aja. Gua hanya ingin mengambil hak gua," pungkas Aksa.
"Jangan masukin dia ke penjara," pinta Aska.
Riana dan Aksa terhenyak mendengar ucapan Aska. "Kenapa Kakak masih baik sama orang itu? Lihatlah diri Kakak yang terluka," imbuh Riana.
"Dia sahabat gua, Ri," belanya.
"Tidak ada sahabat yang dengan tega memukuli sahabatnya sendiri," ucap Aksa. Aska terdiam.
"Sampai kapan lu akan menjadi manusia baik?" tanya Aksa dengan sedikit bentakan.
"Buka mata lu sekarang!" seru Aksa.
"Tulus dan modus itu beda tipis, Ka." Kini, Christan mulai menimpali.
"Bukankah ketika kita berbuat baik jangan mengharapkan diperlakukan baik juga?" balas Aska. "Itu namanya gak ikhlas," tambahnya.
"Apa lu tahan jika diperlakukan seperti itu terus?" tanya balik Aksa. "Lu emang tulus, tetapi dia hanya sekedar memanfaatkan lu. Bukankah itu sama saja dengan penkhianatan?"
Aksa berbicara panjang lebar dan mampu dicerna oleh Aska.
"Dia berani nyakitin lu. Lama-lama juga dia akan mampu mengambil apa yang lu miliki," ucap Aksa. Dua berbicara dengan sangat berapi-api.
"Lebih baik punya sahabat satu, tapi selalu ada ketika kita sedang susah dan senang. Daripada memiliki sahabat banyak, tapi ada ketika kita sedang bahagia saja. Ketika kita susah, dia malah menjauh dan pura-pura tidak kenal. Bukankah itu tak lebih menyakitkan?" papar Riana.
Aska hanya terdiam. Ternyata dia salah datang, malah mendapat ceramahan gratis dari tiga orang.
...****************...
__ADS_1
Boleh crazy up lagi gak? Komennya jangan lupa ya