
Semalam gak up karena sampai jam 9 malam gak nyampe 100 ya komennya. Sekarang, aku menepati janjiku kepada kalian. Semoga terhibur ...
...****************...
Mata Rion dan Arya tertuju pada sosok wanita yang baru turun dari mobil. Raut wajahnya sangat kacau. Langkahnya tergesa seperti dikejar hantu.
"A-arya?"
Rion menatap ke arah Arya dan juga Chintya secara bergantian.
"Kenapa? Mau minta ampunan? Salah orang!" sergahnya.
Rion semakin tidak mengerti maksud dari Arya ini apa. Kenapa Chintya meminta maaf kepada Arya? Seharusnya 'kan dia meminta maaf kepada Riana.
Chintya menatap nanar ke arah Arya. Dan kini dia beralih pada Rion.
"Maafkan suami dan anak saya, Pak Rion."
Rion bergeming, sedangkan Arya sudah tersenyum miring.
"Arka melakukan itu semua karena dia sangat menyayangi Riana. Dia ingin Riana menjadi pendampingnya kelak," ujar Chintya dengan mata yang sudah berair.
"Kurang kena feel-nya," ejek Arya pada Chintya.
"Masa' ratu drama cuma segini doang aktingnya?" ledek Arya lagi.
"Lu kenal dia?"
Hanya anggukan yang menjadi jawaban. Arya menatap nyalang ke arah Chintya.
"Mantan pacar gak ada akhlak!" jawab Arya dengan nada sengit.
"Tidur sama pria lain, tapi minta pengakuan bapak dari gua. OGAH!"
Aib Chintya terbongkar sudah, mulut lemes Arya akan berfungsi sebagaimana mestinya jika sudah geram.
"Lu masih ingat 'kan pas Papih gua ngusir gua dari rumah? Tuh gara-gara wanita si Alan ini sama teman lu si Fakir miskin yang fitnah gua," geramnya.
"Si fakir miskin yang ngebobolnya gua yang disuruh tanggung jawab. Eddan gak?" Arya masih bersungut-sungut.
"Ingat ya, apa yang lu tanam itu juga yang lu tuai. Lu nanam keburukan, lu juga yang dapat karma setimpal. Gak bisa hamil dan Arka ... itu bukan anak kandung lu 'kan. Anak dari pembantu lu yang si fakir miskin hamili."
__ADS_1
Mata Rion melebar dengan sempurna mendengar penuturan Arya. Dia tidak menyangka Fikri sebejat itu. Sama seperti dirinya dulu.
"Kalian menyusun rencana jahat, mencoba menjatuhkan Riana dengan isu-isu yang kalian buat. Kalian berharap Riana akan terpuruk dan kalian bisa mengambil Riana dan menjadikan dia menantu kalian. Setelah itu kalian akan menghasut Riana agar mengikuti jalan pikiran kalian," terang Arya.
"Pada nyatanya rencana kalian itu gagal total karena Otak lu terlalu dangkal!" serunya pada Chintya.
"Asal lu tahu, kakak Riana adalah kakak Aksara juga yang beda bapak. Echa anak Ayanda dan juga Rion, sedangkan Aksa anak dari Ayanda dengan Giondra yang tak lain adalah kakak sepupu gua."
Kejutan yang baru Chintya ketahui. Dia pikir, Echa bukanlah kakak dari Aksa. Perlakuan Echa terhadap Aksa tidak seperti kepada adiknya. Makanya dia berani memohon dan bersujud kepada Echa. Meskipun permohonan dia ditolak mentah-mentah.
Suara pintu terbuka karena Riana merasa ayahnya sedang berbicara dengan orang lain. Dia melihat sudah ada Arya dan Chintya di sana.
"Loh--"
Belum juga Riana selesai dengan ucapannya, Chintya sudah memeluk tubuh Riana. Menangis di dalam pelukan Riana.
"Maafkan putra Tante, Riana. Maafkan Arka," lirihnya.
Riana tidak mengerti, dia pun tidak membalas pelukan dari Chintya.
"Ada apa ya, Tante? Ri, gak ngerti," ucapnya.
Chintya memperlihatkan Arka yang sudah mengenakan baju tahanan. Begitu juga dengan Fikri.
Riana tidak bereaksi melihat foto itu. Tak ada satu pun kata yang terucap dari bibirnya. Rion ikut memandang foto itu.
"Kenapa gak sekalian lu masukin ke liang lahat, Bhas? Gua siap bantu gali kuburnya."
Kata-kata judes nan menyakitkan yang keluar dari bang duda satu ini. Riana menggelengkan kepala mendengar ucapan sang ayah. Sedangkan Chintya tersentak mendengar perkataan Rion.
"Ri, Tante mohon. Hanya kamu yang bisa mengeluarkan putra dan suami Tante. Kamu tahu 'kan Arka dan Om Fikri sangat menyayangi kamu."
Riana beralih duduk di samping sang ayah. Menatap datar ke arah depan.
"Kenapa dari dulu Tante senangnya memaksa Ri? Ri, bukan boneka, Tante."
Jleb.
Ucapan Riana mampu mematahkan harapan Chintya. Sedangkan Arya sudah mengulum bibirnya. Ingin tertawa terbahak-bahak, tetapi belum saatnya.
"Jangan selalu mengatakan kata sayang dan cinta, jika sesungguhnya itu hanya modus belaka."
__ADS_1
Kata mutiara yang mampu menusuk hati Chintya. Bibirnya tercekat mendengar ucapan Riana.
"Dulu, Ri tidak ingin membantah perintah Ayah. Sekarang, Ri juga sudah bisa membantah Ayah. Jadi, Ri juga bisa membantah siapapun. Termasuk Tante." Riana menatap ke arah Chintya dengan tatapan dingin.
"Jika, sekarang Arka ditahan. Itu murni karena kesalahannya. Menyebarkan berita bohong dan mencemarkan nama baik. Bukan salah, Ri. Bukan salah orang yang melaporkannya juga. Semuanya salah Arka dan juga Om Fikri. Tidak selamanya orang yang diam itu lemah. Ada kalanya dia memberontak," pungkasnya.
"Ri, paling muak jika sudah membawa-bawa cinta. Cinta datang dari hati tanpa adanya paksaan. Cinta sesungguhnya akan melindungi bukan malah menyebar berita seperti ini. Cinta, obsesi dan ambisi beda tipis. Arka bukan cinta sama Ri, tetapi menjalankan ambisi Tante dan juga om. Sebelum hubungan pertemanan Ri dan Arka diketahui oleh Om dan Tante. Arka bukanlah orang yang seperti itu. Banyak perubahan yang Ri rasakan ketika Tante dan Om ikut campur dalam pertemanan kami."
Mati kutu sudah Chintya sekarang ini. Riana memiliki bisa mematikan sama halnya dengan Echa.
"Ikuti saja prosedur yang berlaku. Ri, tidak tahu menahu dan tidak ingin tahu, karena Tante pun tidak pernah ingin tahu dengan apa yang Ri rasakan selama ini. Memaksa dan terus memaksa."
"Maaf, jika Ri tidak sopan. Inilah yang Ri rasakan," tukasnya.
"Apa kamu tidak ingin tahu siapa yang memasukkan Arka dan Papahnya ke dalam penjara?" Chintya masih berusaha meminta bantuan Riana.
"Tidak penting untuk Ri, Tante. Segala perbuatan yang kita lakukan bukankah ada konsekuensi yang harus kita terima? Dia yang memasukkan Arka dan Om ke dalam penjara, dialah orang yang menyayangi Ri dengan tulus."
Senyum mengembang di wajah Arya. Dia tahu, Riana adalah wanita yang sangat peka.
"Makasih, Om." Riana berhambur memeluk tubuh Arya.
"Kamu tahu?" Riana mengangguk.
"Kak Echa yang memberitahu, Ri."
"Ngapain masih di sini?" hardik Rion kepada Chintya.
Tiba-tiba tubuh Chintya terkulai lemah dan tersungkur ke lantai dengan mata yang terpejam. Ketiga manusia yang ada di depan Chintya tidak berniat untuk membantunya. Malah membiarkannya begitu saja.
"Kita makan di angkringan yuk. Biar Om yang traktir."
Mereka bertiga pergi meninggalkan Chintya yang sudah terbaring di lantai.
"Ari, gua pinjam mobil lu," teriak Arya di depan kosan Ari.
"Lu urus wanita itu," tunjuk Arya ke arah Chintya.
"Dia pingsan?" Pertanyaan bodoh yang Ari ucapkan.
"Lu siram aja pakai air seember. Pingsan apa nggak tuh orang," tuturnya.
__ADS_1
...****************...
Komennya mana ???