
"Aku ikut!"
Aska sedikit terlonjak dengan apa yang dikatakan oleh Jingga. Dia menoleh ke arah Jingga yang memperlihatkan wajah seriusnya. Kemudian, dia melihat ke arah lengannya. Di mana tangan Jingga sudah melingkar erat di tangannnya.
"Jingga, aku mau--"
"Aku harus pergi "
Kata 'kita' Aska ucapkan penuh dengan penekanan. Rangkulan tangan Jingga Aska lepas. Jingga terkejut dan segera menatap sendu ke arah Aska. Namun, Aska malah menggenggam erat tangan Jingga dan membawanya pergi dari kafe tersebut. Bian benar-benar terkejut dengan apa yang dia lihat.
Ingin Bian mengejar Jingga, tetapi panggilan seseorang membuat Bian teringat akan tujuannya datang ke sini. Bian pun membiarkan Jingga pergi dengan Aska. Dia melanjutkan kegiatannya di sini, yaitu bertemu dengan bos besar.
Selama di perjalanan, Jingga dan Aska hanya terdiam. Mereka tak saling bicara, seperti dua manusia bisu. Motor Aska sudah terparkir di depan kafe. Akan tetapi, dia tidak turun dari motor membuat Jingga mengerutkan dahinya.
"Abang gak turun?" Jingga membuka suaranya.
"Aku akan kembali ke kafe ketika kamu sudah memutuskan pilihan kamu. Apakah kamu mengijinkan aku untuk berjuang? Atau aku harus mundur pelan-pelan."
Kalimat yang membuat hati Jingga bergemuruh kembali. Wajah Jingga sudah berubah sendu. Apalagi sorot mata Aska menunjukkan keseriusan.
"Jika, kamu sudah memberikan kepastian. Meskipun, itu menyakitkan ... aku akan kembali ke sini," tegasnya.
"Aku pergi."
Aska sudah menghidupkan mesin motor dan membawanya menjauhi Jingga. Ada hati yang terluka karena kepergian Aska. Ada rasa sedih di dada.
"Laki-laki itu butuh kepastian, jangan disamain kayak jemuran," sindir Ken, yang baru saja keluar dari kafe. Dia melihat Aska yang pergi begitu saja.
"Dia orang baik, kaya dan low profile. Lu mau nyari cowok yang kayak gimana lagi?" sergah Ken.
Ken memang menyukai Jingga, dia segera mundur ketika Aska mengatakan bahwa Jingga adalah cinta pertamanya. Dia bukan sahabat yang kejam, apalagi Aska adalah orang yang sudah sangat baik terhadapnya.
"Harusnya lu bangga dan bahagia dicintai oleh pria seperti Aska."
Ken berlalu begitu saja, dia hanya ingin memberikan ceramah singkat kepada Jingga karena sesungguhnya dia sangat gemas kepada Jingga.
Jingga hanya bisa merenung, dia mencerna setiap ucapan yang dikatakan oleh Aska dan juga Ken. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Ponsel khusus pekerjaan masih di tangan. Jingga mencatat apa saja yang harus dilakukan oleh Aska dan akan dia laporkan melalui pesan singkat ataupun telepon.
__ADS_1
Ada rasa kehilangan di hati Jingga, padahal baru dua jam Aska tidak bersamanya. Dia hanya bersama Juno di ruangan tersebut. Ujung mata Juno menangkap ada yang tidak beres dari wajah Jingga.
"Kalau cinta bilang cinta. Kalau gak cinta bilang enggak. Gitu aja kok repot," ucap Juno.
Jingga yang tengah menulis agenda untuk Aska pun menoleh. Dia menatap ke arah Juno yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Jangan pernah bohongi diri lu sendiri. Jangan juga lu buat Aska menunggu terlalu lama."
Laptop miliknya pun dia tutup. Juno berdiri dan beranjak dari tempatnya bekerja. Matanya kini menatap ke arah Jingga.
"Jangan pernah melambungkan perasaan seseorang, jika akhirnya lu menjatuhkan dia ke lubang kepedihan."
Duar!
Kalimat yang menembak tepat pada jantung Jingga. Juno memiliki mulut yang lebih pedas dari Aska. Sama halnya dengan Ken. Juno meninggalakan Jingga seorang diri di meja Aska. Membiarkan perempuan yang dia anggap labil itu sendirian.
Jam dua belas tiga puluh, Jingga belum juga beranjak dari tempatnya. Dia masih mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh dua sahabat Aska juga Aska.
Drrt ....
Jingga langsung meraih ponselnya, dia berharap Aska yang menghubunginya. Namun, Bianlah yang menghubungi Jingga. Dia tidak berniat untuk menjawab telepon tersebut. Membiarkannya saja itu lebih baik.
"Lu udah bicara sama si Bian?" tanya Ken.
Aska hanya menggeleng. Kepulan asap rokok keluar dari mulutnya. Juno berdecak kesal. Dia meletakkan minuman dingin dengan cukup keras di atas meja.
"Kalau lu belum ngomong gimana dia tahu?" omel Juno.
"Cocok emang lu cocok," sungut Juno lagi.
Aska hanya terdiam, dia mengerti maksud dari Juno itu apa. Namun, dia terlalu memiliki hati yang lembut dan tidak enakan. Berimbas pada kesakitan hatinya yang tak tertahan.
"Aska gak salah juga sih, harusnya Bian ngerti dan peka sama sikap Aska yang tidak seperti biasanya." Tangan Ken sudah meraih rokok yang tergelak di atas meja.
"Kita itu udah bersahabat lama banget. Masa iya dalam hal ini Bian masih aja belum peka," ujarnya sambil menyalakan korek untuk membakar rokok yang sudah ada di mulutnya.
"Gak selamanya orang itu ngerti dengan diamnya kita. Justru karena dia gak peka harus dikasih tau," balas Juno.
__ADS_1
Aska mematikan puntung rokok yang memang sudah pendek. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala sofa dengan mata yang terpejam.
"Apa gua harus merelakan persahabatan kita hancur karena seorang wanita?" Perkataan Aksa membuat Ken dan Juno terdiam. Mereka menatap ke arah Aska yang terlihat sangat frustasi.
"Apa lu ingin mengalah?" tanya Ken.
"Bukannya Jingga itu cinta pertama lu?" tanya Juno. "Apa lu gak mau memperjuangkan dia?" lanjutnya lagi.
"Selama ini gua udah berjuang, tetapi belum dapat kepastian," sahut Aska. "Miris sekali, bukan?" katanya lagi dengan senyum kecut.
Juno merasa iba melihat sahabatnya seperti ini. Ini kali pertama untuknya melihat Aska selemah ini. Sama halnya dengan Ken.
Bel berbunyi, Ken membukakan pintu karena dia tahu itu adalah kurir pengantar makanan yang dia pesan. Dia tahu kedua sahabatnya ini belum makan siang.
"Isi perut dulu, baru galau lagi," canda Ken. Dia sudah meletakkan beberapa kantong makanan untuk mereka makan.
Aska sangat tidak berselera. Namun, melihat nama restoran cepat saji yang ada Ken beli mengingatkan dia pada seseorang.
"Apa kamu sudah makan?" batinnya. Aska teringat akan Jingga.
Dia mengecek cctv yang ada di ruangan miliknya melalui sambungan ponsel. Dia melihat Jingga masih termenung dengan terus menatap ponsel di tangannya. Tidak ada makanan di sana. Helaan napas kasar keluar dari mulut Aska.
****
Di tempat yang berbeda, Bian seperti tengah mendapat kejutan spesial yang membuat jantungnya terlepas. Bagaimana tidak, seseorang yang dia sebut bos besar memutuskan untuk mencabut modal dari restoran yang dia kelola.
"Pak, saya mohon."
Bian sampai bersujud di depan kaki pria tersebut. Pria yang terbilang kejam dalam segala hal.
"Keputusan saya sudah bulat. Silahkan kamu mencari penanam modal yang lainnya. Jika, saya sudah kecewa akan saya biarkan begitu saja," tutur pria itu.
"Kamu sudah saya pungut dari got, tetapi kamu malah mencoba menggigit saya secara perlahan. Ingat, saya bukan orang bodoh. Satu perak saja yang kamu curangi kepada saya, saya bisa tahu."
Deg.
...****************...
__ADS_1
Lagi gak?
Banyakin atuh komennya ...