Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
Menghadiri Undangan


__ADS_3

Aksa tertawa ketika para wanita yang meminta foto berdecak kesal karena dia diharuskan memakai masker oleh sang istri.


"Biar gak kena virus umi-umi centil," sewot Riana.


Aksa merengkuh pinggang istrinya dan mengecup samping kepala Riana. "Apa ibu hamil sensitif seperti ini?" Aksa sadar, ketika Riana hamil anak pertama di usia kandungannya yang masih muda, dia harus berjauhan dengan sang istri. Dia menyuruh adiknya untuk memenuhi keinginan Riana selama hamil muda.


Dari arah belakang tubuh seseorang menegang ketika mendengar kata hamil.


"Lagi?" batinnya.


Seringai mematikan pun berada di wajahnya sekarang.


.


Perdebatan di kamar milik Aksa dan Riana pun tak terelakan. Riana yang masih santai dengan busana rumahannya membuat Aksa berdecak kesal. Rasanya enggan sekali untuk pergi ke acara perdata pernikahan mantan suaminya. Hanya akan menimbulkan cemburu di hatinya. Bagaimanapun Devita adalah wanita yang pernah sangat berarti.do hidup Aksa. Cinta pertama Aksa yang sulit untuk dilupakan hingga dia mengalami depresi.


"Sayang." Aksa pun mendekat dan mengusap lembut rambut sang istri.


"Kita datang ke acara pernikahannya Devita," ujar Aksara. Dia sangat tahu jikalau mendengar nama Devita, Riana akan segera terdiam. Masih ada cemburu di dadanya. Walaupun Devita secara terang-terangan mengatakan bahwa dia tidak akan menjadi pelakor dalam rumah tangga Aksa juga Riana. Tetap saja, Riana ingin suaminya menjaga jarak dengan wanita itu. Dia benar-benar takut cinta lama bersemi kembali itu terjadi. Bukannya lebay, tetapi itu sering terjadi pada mereka yang bertemu dengan mantan dan kembali akrab. Walaupun tidak semua, tetap saja mantan itu harus di buang ke tempat sampah. Kasarnya seperti itu.


"Ayolah! Kita ke sana sama Mommy dan Daddy juga kok." Aksa terus membujuk istrinya. Dia juga tidak ingin datang sendirian ke pesta pernikahan itu. Sudah pasti istrinya kan salah sangka. Dia hanya ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dia memiliki istri lebih cantik dari Devita, mantan kekasihnya yang hampir membuatnya gila. Dia juga ingin menunjukkan kepada keluarga Devita bahwa sekarang dia sudah hidup sangat bahagia bersama wanita yang dia cintai.


Masih tidak ada jawaban dari mulut Riana. Dia masih terdiam dengan ponsel yang berada di tangan. Masih ragu, itulah isi hati Riana.


"Yang," panggil Aksa lagi.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aksara dan pada akhirnya dia menyerah. Memilih untuk keluar kamar karena dia juga tidak mau memaksa. Apalagi melihat wajah Riana sudah sangat tidak bersahabat.


"Loh mana Riana?" Ayanda mengerutkan dahi karena Aksa keluar seorang diri.


"Kayaknya dia gak mau datang ke pesta itu, Mom."


Gio hanya tersenyum mendengarnya. Gio memaklumi karena sebuah alasan yang jelas. Namun, Ayanda Kimi sudah berdiri dan akan mencoba bicara kepada Riana.


"Mommy ke kamar kamu dulu."


Terlihat Riana tengah duduk di sofa seraya menyandarkan punggungnya. Terlihat raut wajahnya sangat sendu. "Ri," panggil sang mertua.


Riana menoleh dengan wajah datar. Ayanda mendekat dan mengusap lembut rambut sang menantu tercinta. "Suamimu hanya menghargai papahnya Devita. Sama halnya dengan Daddy. Tidak akan mungkin seorang Aksara berpaling," paparnya.


Riana terdiam, pandangannya lurus ke depan. "Apa iya?" Begitulah batinnya berbicara. Di kehamilan kedua ini Riana merasa sangat tidak ingin suaminya didekati oleh wanita manapun. Dia menjelma menjadi wanita yang posesif. Hatinya tidak mengizinkan duitnya untuk pergi.


"Ganti baju, ya. Kita bawa satu mobil saja." Ayanda terus memaksa. Terpaksa, Riana menuruti perintah ibu mertuanya. Dengan langkah berat dia menuju kamar mandi, melihat bayangannya di cermin. Ada rasa malas yang tak terkira. Enggan pergi sama sekali. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Riana. Dia segera mencuci wajahnya. Ketika selesai mencuci wajah dia tertegun melihat ada anak perempuan mirip dengannya ada di belakangnya. Wajahnya sendu.


"Jangan pergi, My." Anak itu mengatakan sesuatu kepada Riana.


Tubuh Riana menegang. Dia membalikkan tubuhnya dan terlihat anak perempuan itu menggelengkan kepala. "Jangan pergi!"


"G-gavina." Riana masih ingat akan wajah anak itu.


Riana mulai mendekat ke arah anak perempuannya dan ingin menyentuhnya. Namun, suara pintu kamar mandi terbuka membuat Riana menoleh. Suaminya masuk ke dalam kamar mandi, dan terkejut ketika melihat Riana sudah bermandikan air mata.


"Sayang." Aksa segera menghampiri istrinya dan memeluk tubuh Riana.


"Putri kita, Bang. Putri kita," ucapnya bergetar. Riana menunjuk ke arah dinding kamar mandi.


Hati Aksa sakit ketika mendengar ucapan Riana ini. Tenyata sang istri belum bisa melupakan putrinya. Aksa semakin memeluk erat tubuh istrinya. Setelah Riana sedikit tenang, dia membawa tubuh Riana duduk di tepian ranjang.

__ADS_1


"Jangan stres ya, Sayang. Abang tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon buah hati kita yang kedua ini," pinta Aksa. Dia tidak ingin pikiran Riana terganggu dengan hak Yanga akan membuatnya stres dan berimbas pada kandungannya.


Gio dan Ayanda menunggu kedua anak mereka yang tak kunjung turun. Ayanda memutuskan untuk menyusul mereka.


"Kalian mau berangkat gak?" tanya Ayanda. "Semua orang menanti kedatangan kamu sama istrimu," lanjutnya lagi.


"Mau berangkat gak?" Aksa tidak akan memaksa Riana karena dia tahu istrinya masih terguncang. Mendengar ucapan ibu mertuanya membuat Riana tidak ingin mengecewakan mereka. Pada akhirnya, Riana menyetujuinya dan meminta waktu lima belas menit untuk merias diri.


Suara langkah kaki terdengar, tiga orang yang tengah berbincang menoleh ke arah suara. Aksa benar-benar terpana akan sosok yang kini menghampirinya. Lengkungan senyum terukir di wajah tampan itu.


"Cantik."


Riana hanya tersenyum, Aksa segera menyambut Riana dengan memberikan sebuah kecupan hangat di kening istri tercinta.


"Siap?" Riana hanya tersenyum.


Di sepanjang perjalanan Riana hanya merebahkan kepalanya di pundak sang suami. Pikirannya tengah melayang entah ke mana. Wajah putrinya masih berada di dalam kepalanya. Ucapan Gavina pun masih terngiang-ngiang di kepalanya.


"Kenapa kamu melarang Mommy, Nak?"


Batin Riana tengah menerka-nerka. Biasanya jika seperti itu, aja. ada sesuatu yang akan terjadi. Namun, terkadang itu hanya Mutia belaka.


"Mual?" tanya Aksa. Tangannya sidang mengfenggam tangan Riana. Istrinya hanya menggelengkan kepala.


Berulang kali Aksa mengecup kening Riana. Dia tahu istrinya sedikit terpaksa datang ke acara itu. Tangan Aksa pun mengusap lembut rambut Riana.


.


Gavin Agha Wiguna tengah disandera di rumah Rion. Keluarga kecil Echa juga Rion tidak mengembalikan Gavin kepada kedua orang tuanya. Apalagi mereka tahu keluarga Giondra akan pergi menghadiri acara resepsi pernikahan sahabat Gio. Alhasil, Gavin lebih lama tinggal di rumah Rion. Untung saja Gavin adalah bayi yang baik. Tak pernah rewel malah terlihat selalu ceria. Apalagi jika sudah bermain dengan si triplets. Dia akan tertawa terbahak-bahak.


.


"Aksara!"


Panggilan dari teman SMP Aksa membuat Aksa tersenyum sopan kepadanya. "Gua kira lu bakal bakal datang ke acara ini," ejek Frans, teman Aksa. Tidak ada jawaban dari Aksa, dia hanya tersenyum tipis.


"Gua juga diundang. Gak ada salahnya kalau gua punya waktu luang gua datang."


Riana menatap ke arah suamimya yang terlihat santai. Ejekan itu tidak dia hiraukan.


"Lu datang juga buat liat betapa kayanya suami mantan lu 'kan."


Aksa hanya menggeleng mendengar ucapan dari Frans.


"Sayang." Aksa memanggil Riana agar mendekat ke arahnya. Senyum Aska terlihat sangat tulus. dia merengkuh pinggang istrinya dan tersenyum kecil ke arah Frans.


"Gua ngelepasin batu akik buat dapatkan permata cantik." Frans tak bisa bicara karena istri Aksa lebih cantik dari Devita. Jauh sekali.


"Dia hanya menjadi cinta monyet gua, tidak ingin menjadi cinta sejati gua." Aksa mengajak Riana pergi dengan senyum penuh kemenangan. Riana menghentikan langkahnya membuat Aksa ikut serta mengehentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Aksa.


"Abang tulus gak ngomongnya?"


Aksa tertawa mendengarnya. Dia mencium kening Riana sangat dalam. "Menurut kamu?" Ala malah balita tanya. Aksa mendengkus kesal.


Aksa memeluk tubuh Riana. Dia mengusap lembut punggung Riana. "Dia hanya cinta monyet Abang. Kamu itu adalah cinta sejati Abang hingga maut memisahkan kita berdua." Aksa tersenyum ke arah sang istri dibalas senyuman yang tak kalah manis oleh Riana.

__ADS_1


Walaupun Aksa sudah mgataka hal seperti itu, tetap saja masih ada cemburu di hati Riana. Enggan sekali rasanya naik ke atas pelaminan untuk bersalaman dengan sang pengantin wanita. Namun, Aksa sedikit memaksa. Riana pun terpaksa mengikuti kemauan sang suami. Aksa tidak melepaskan genggaman tangan Riana. Dia takut Riana akan pergi dari pelaminan. Kini, terjadilah kedua wanita itu berjabat tangan.


"Selamat!" Riana memasang wajah judes dan kata yang keluar dari mulut Riana pun sungguh tidak ikhlas.


"Jangan cemburu lagi sama aku. Aku gak akan pernah rebut suami kamu karena suami aku pun ketampanannya hampir sama dengan suami kamu. Kekayaannya juga hampir setara dengan suami kamu," ujar Devita. Riana hanya tersenyum kecut. Bagaimana pun Devita pernah menjadi orang yang sangat berarti untuk Aksa. Wajar jika dia masih cemburu.


Setelah mengucapkan selamat kepada para pengantin, mereka menikmati hidangan yang tersedia. Aksa dengan setia menemani sang istri mengambil makanan yang dia inginkan. Walaupun banyak para rekan bisnis Aksa yang menghadang jalannya. Namun, dia tetap menggenggam tangan Riana dengan posesif.


"Bang, Ri ke toilet dulu, ya," bisiknya. Dia tidak enak berbicara keras karena Aksa tengah berbicara serius dengan rekan bisnisnya.


"Mau Abang antar?" Riana tersenyum seraya menggeleng.


"Hati-hati, ya."


Riana ke toilet seorang diri dengan menggunakan masker. Dia melangkah santai, tetapi langkahnya harus terhenti ketika sudah masuk ke area toilet wanita. Tubuhnya menegang ketika dia melihat seseorang yang kini ada di depan matanya. Seringai licik muncul di wajah orang itu.


"Apa kabar? Sepertinya kamu sudah sangat bahagia."


Ingin rasanya Riana berlari kencang menjauhi orang itu.


"Kenapa dia bisa bebas?"


.


Di kediaman Rion Juanda, Gavin tak berhenti menangis. Tak biasanya Gavin seperti ini. Diberi susu salah, digendong salah. Bayi itu seakan tengah merasakan sesuatu. Echa dan Rion pun sedikit kewalahan untuk menenangkan Gavin.


Iyan yang tengah asyik bermain ponsel dengan santai tiba-tiba ponselnya terjatuh. Dia terkejut dan satu nama yang ada di kepalanya. "Kak Ri."


Aleesa tengah berlari mencari Iyan karena ingin mengatakan sesuatu.


"Om kecil!"


Suara Aleesa menghentikan langkah Iyan. Tatapan mereka berdua bertemu dan mereka berdua segera berlari mencari Rion. Merkea berdua seperti tengah merayakan sesuatu yang akan terjadi.


"Ayah, Kak Ri ke mana?" tanya Iyan. Dahi Rion mengerut ketika ketika mendengar anaknya menanyakan sang kakak.


"Hubungi Aunty sekarang, Engkong," pinta Aleesa sambil mengguncang tubuh Rion. Bukan hanya Iyan yang mencurigakan, tetapi Aleesa pun ikut aneh.


"Kalian kenapa?" Dahi Rion mengkerut melihat anak dan cucunya berwajah cemas. Baru saja meekw berdua menjawab, Echa sudah berteriak.


"Ayah, Gavin nangis terus." Kini Echa membuka suara.


"Hubungi Kak Ri, Ayah. Iyan mohon."


Echa dan Rion saling pandang. Mereka melupakan bahwa kedua anak itu memiliki kelebihan. Rion pun tersadar dan segera menghubungi Riana. Namun, tak ada jawaban sama sekali. Melihat wajah Iyan dan Aleesa panik, Rion juga ikut panik.


"Hubungi Uncle," ucap Aleesa.


Panggilan kepada Aksa pun tak dijawab. Rion terus mengumpat kesal menantunya. Hingga dipanggilan ketiga suara Aksa terdengar sendu.


"Kenapa Riana tidak mengangkat telepon dari Ayah?" bentak Rion. Tidak ada jawaban dari Aksa. hanya suara hembusan napas kasar yang terdengar.


"Abang! Kenapa diam?" tanya Rion tak sabar.


"Riana di IGD."


Tubuh Rion mengangguk mendengarnya. Begitu juga dengan Echa.

__ADS_1


...****************...


Komen atuh kalau mau lanjut


__ADS_2