Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
Berpisah Sementara


__ADS_3

Jawaban dari Aksa mampu membuat semua para wartawan terkejut. Sangat jelas bahwa Aksa meragukan anak yang ada di dalam kandungan istrinya.


"Kenapa Anda seperti laki-laki tak punya hati? Dengan mudahnya berbicara seperti itu. Apa perempuan yang sudah Anda tiduri selalu Anda buang layaknya sampah?"


Pertanyaan itu datang dari seorang wartawan wanita. Bukan Aksa yang tersulut emosi mendengar pertanyaan tersebut. Christian lah yang berdiri dan menunjuk ke arah si wartawan.


"Jaga bicara Anda! Apa pernah Anda melihat klien saya tidur dengan wanita? Apa pernah Anda melihat klien saya membuang wanita? Saya bisa jebloskan Anda ke dalam penjara sekarang juga. Ucapan Anda sudah termasuk fitnah," geram Christian.


Wartawan itu pun gemetar ketakutan melihat wajah murka Christian. Sedangkan Aksa menyuruh Christian untuk tenang.


"Biarlah image ku jelek di hadapan semua orang. Mereka hanya bisa menilai tanpa tahu dalamnya aku seperti apa," ucap Aksa.


"Baiklah saya akan menjawab pertanyaan Anda dengan pertanyaan juga. Apa perempuan yang berada di video itu adalah perempuan baik-baik? Masih dikategorikan istri Solehah ketika dia menikmati permainan ranjang dengan pria lain di depan suami sahnya?"


Semua orang terdiam mendengar pertanyaan balik Aksa. Otak para wartawan seakan buntu untuk menimpali ucapan demi ucapan yang Aksa lontarkan. Sungguh Aksa adalah pria luar biasa.


Sudah lebih dari tiga menit tidak ada pertanyaan lagi dari para wartawan. Christian memutuskan untuk mengakhiri konferensi pers hari ini. Mereka berdua pun menjauhi area konferensi pers dengan didampingi para pria berbaju serba hitam.


Kedatangan Aksa ke ruang khusus disambut bahagia oleh kembarannya.


"Ini baru Abang gua,x ucapnya bangga sambil merangkul pundak Aksa.


Aksa hanya tersenyum dan mendudukkan diri di sofa yang sudah tersedia di sana.


"Langkah apalagi yang harus kita tempuh?" tanya Christian.


"Ikuti skenario yang sudah Aska persiapkan." Christian mengangguk pelan mendengar ucapan Fahri.


Sedangkan di rumah sakit, Echa dan Ayanda berteriak histeris ketika melihat video Aksa di salah satu media online. Aura bahagia terpancar dari wajah dua wanita dewasa itu.


"Anak Mommy," ucap Ayanda berkaca-kaca.


Echa menitikan air mata ketika melihat pernyataan adiknya di depan seluruh rakyat negeri ini. Secara tidak langsung dia mengumumkan perasaannya ke semua orang.


"Lihatlah Ayah, adik Echa tidak seperti yang Ayah tuduhkan.Dia anak baik," lirih Echa.


Radit memeluk tubuh Echa. Dia tahu istrinya sedang bersedih karena dia tidak bisa memeluk tubuh Riana yang tengah ketakutan. Dia tidak bisa berada di samping Riana ketika ayahnya marah.


Di kediaman Rion, Iyan tengah memeluk Riana dengan begitu eratnya. Ketika kakaknya bersedih hatinya sangat sakit dan teriris.

__ADS_1


"Jangan menangis lagi, Kak. Iyan percaya sama Kakak."


Mbak Ina menghapus ujung matanya yang berair. Mendengar ucapan Iyan membuat hatinya pilu.


Ketiga tuyul entah datang sejak kapan sudah berlari ke kamar Riana. Memeluk tubuh sang aunty yang tengah bergetar.


"Jangan menangis Aunty. Eesa ikut sedih," kata Aleesa yang sudah menahan tangisnya.


"Engkong jahat!" seru Aleeya yang kini sudah menangis sambil memeluk tubuh Riana.


Hanya Aleena yang diam. Namun, terlihat jelas matanya memerah. Sekuat tenaga Aleena menahan kesedihan dan tangisan. Dia juga ikut memeluk tubuh Riana.


Ini membuktikan bahwa Riana tidak sendiri dalam menghadapi masalah ini. Masih banyak orang yang menyayangi Riana. Terutama adik serta keponakannya.


Di ruang kerja, Rion menyesali perbuatannya. Dia benar-benar tidak bisa mengontrol emosi. Amarahnya sudah tidak bisa dia tahan lagi.


Jika Ayah tidak percaya. Ayah bisa melakukan tes keperawanan.


Kalimat itu lah yang masih terngiang-ngiang di telinganya.


Suata bangunan pintu membuat Rion menatap ke arah pingi. Dengan langkah lebar Arya menghampiri Rion. Wajah Arya sangat tidak bersahabat. Tanpa bicara Arya meraih kerah baju Rion. Melayangkan pukulan tepat di wajah sahabatnya hingga Rion tersungkur.


Arya meninggalkan Rion dengan emosi yang masih ada di dalam dada. Biarkanlah sahabatnya itu merenungi kesalahannya seorang diri. Hatinya teriris ketika melihat Riana tengah dipeluk oleh Iyan dan juga tiga anak Echa yang masih berumur lima tahun. Air matanya menetes begitu saja.


"Riana," panggil Arya.


Ketiga anak Echa, Iyan serta Riana menoleh ke arah Arya. Arya merentangkan tangannya membuat tangis Riana semakin pecah. Dia berhambur memeluk tubuh Arya. Ayah kedua baginya.


"Ri, tidak melakukan apa-apa dengan Abang, Pah. Apa yang dituduhkan dalam berita itu gak benar." Suara Riana bergetar dan terdengar sangat lirih.


"Papah percaya." Riana semakin mengeratkan pelukannya kepada Arya.


"Lebih baik, sekarang kamu ikut Papah, ya. Tenangkan diri kamu dulu. Jika, ayahmu tidak percaya biarkan saja. Ada Papah dan yang lainnya yang percaya sama kamu," tutur Arya.


Riana mengangguk dan menuruti ucapan Arya. Sebelum pergi, Arya berpesan kepada Iyan dan trio tuyul untuk tidak nakal.


"Eeeya ingin ke Bubu," ucap Aleeya. Kedua kakaknya pun mengatakan hal yang sama.


"Om kecil, ikut kita aja. Lebih baik jagain Bubu dari pada diem di sini bareng Engkong," celoteh Aleeya. Iyan mengangguk cepat.

__ADS_1


Arya membawa Riana pergi sedangkan trio tuyul dan Iyan dibawa oleh Rifal ke rumah sakit tempat di mana Echa dirawat. Sedari tadi Rifal berdiam di dalam mobil. Dia tidak ingin mencampuri urusan orang lain.


Mobil Arya melaju ke sebuah rumah yang cukup mewah. Lumayan jauh dari kediaman Rion. Mobil itu berhenti dan disambut oleh y yang berada di sana.


Arya mengajak Riana masuk ke dalam. Pikiran Riana sedang tidak fokus. Dia hanya mengikuti ke mana kaki Arya melangkah. Hingga Arya berhenti di sebuah kamar yang cukup besar dan didesain modern. Apalagi aroma terapi yang ada di kamar tersebut dapat membuat pikiran relaks.


"Kamu bisa istirahat, di sini. Tenangkan pikiran kamu. Papah yakin, hati kamu sakit mendengar ucapan tak berperikemanusiaan dari mulut ayah kamu." Riana tersenyum tipis.


"Papah tinggal, ya." Riana mengangguk.


Riana menghela napas kasar, dia menatap sekeliling kamar. Sudut bibirnya terangkat ketika dia melihat ada ayunan di depan jendela kamarnya. Sengaja sang penghuni rumah memasang ayunan tersebut agar bisa menikmati suasana luar dari balik jendela kamar.


Riana duduk di ayunan. Jendela dia buka lebar dan tatapannya mengarah pada awan yang cerah.


"Bunda, apa Bunda tidak percaya juga terhadap Ri?"


Air matanya meluncur kembali. Dia menundukkan kepala sangat dalam dengan isak tangis yang terdengar lirih.


"Ri, tidak mungkin merusak diri Ri sendiri, Bunda. Tolong percaya sama Ri, Bunda," gumamnya lagi.


Sebuah pelukan hangat membuat Riana tercengang. Wangi maskulin yang selalu Riana rindukan lah yang memeluk tubuh rapuhnya.


"Maafkan Abang, Sayang. Maafkan, Abang."


"Harusnya kamu tidak ikut terlibat dalam masalah pelik yang tengah Abang hadapi."


Riana mengurai pelukannya dan menatap sendu ke arah Aksa yang juga menatapnya penuh kepiluan.


"Bawa Ri, pergi," pintanya.


Aksa pun menggeleng. Tangannya mengusap lembut air mata yang sudah membanjiri wajah Riana.


"Abang tidak akan mengingkari ucapan Abang. Abang tidak ingin semakin dibenci oleh Ayah," terangnya seraya tersenyum.


"Biarkan kita berpisah sementara. Abang menyelesaikan masalah Abang dan kamu menyelesaikan kuliah kamu. Ketika semuanya sudah selesai, Abang akan datang menemui kamu. Tetap jaga cinta kamu hanya untuk Abang. Tetap kunci hati kamu untuk Abang. Abang sangat mencintai kamu, Riana."


...****************...


Yang lagi menunggu Ziva and family's Mana suaranya? Siapkan tenaga kalian dan simpan dulu sumpah seraphnya.

__ADS_1


Kalo gak malas nanti sore up lagi, kalo malas besok pagi 😂 Jangan lupa kasih kopi untuk sarapan pagi


__ADS_2