Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
I Wanna Grow Old With You


__ADS_3

Jari bisa berdusta, tidak dengan isi hati yang sebenarnya. Namun, Aksa sadar dia bukanlah siapa-siapa Riana. Apa yang dikatakan Echa benar adanya. Dia dan Arka memiliki kesempatan yang sama untuk mendekati Riana.


Malam semakin larut, tetapi mata enggan menutup. Pesan yang Riana kirim pun tak Aksa balas. Hatinya sedang dilanda gelisah dan gundah. Hingga dering ponsel mengganggu lamunannya.


"Lu udah tahu perihal Riana?"


"Hm."


Orang yang menghubungi Aksa pun terdiam mendengar jawaban dari Aksa. Tidak seperti biasanya dia seperti ini.


"Lu gak bertindak?"


"Memberikan sedikit kesempatan kepada lawan. Apakah dia mampu merebut wanita pujaan gua?"


Tidak ada yang melanjutkan obrolan lagi. Semuanya terdiam dan sambungan telepon pun Aksa putuskan secara sepihak.


"Memberikan kesempatan itu terlalu menyakitkan," gumam Aksa.


Aksa ke luar kamar dan terlihat semua ruangan sudah gelap. Menandakan penghuni rumah sudah terlelap. Awalnya Aksa tidak ingin pulang ke sini, tetapi Ayanda memaksa dengan alasan rindu akan putra pertamanya.


Langkah Aksa menuju halaman belakang. Lapangan basket yang menjadi tempat favoritnya masih dijaga dan dirawat dengan sangat baik. Dia berdiri di tengah lapangan dengan wajah yang dia dongakkan ke atas. Menghirup udara malam yang sangat sejuk meskipun ada yang kurang. Lebih indah lagi jika berada di tengah lapangan bersama sang pujaan hati.


"Belum tidur?" Suara Aska membuat Aksa menoleh sebentar.


"Ada masalah?" Aska seolah tahu akan kegundahan hatinya.


Aksa tidak menjawab, dia melangkahkan kaki ke pinggir lapangan dan duduk di sana.


"Riana?" Aksa masih terdiam.


"Bang, percaya deh sama Adek. Sejauh apapun Abang dipisahkan dengan Riana, kalau Abang emang ditakdirkan berjodoh dengan Riana pasti akan bertemu lagi. Sebaliknya ... Abang terus menggenggam erat tangan Riana agar tidak terlepas, jika Tuhan mengatakan Riana bukan jodoh Abang pasti akan terlepas juga. Kata anak zaman sekarang mah sia-sia jagain jodoh orang," tukas Aska.


"Dia mau pergi sama keluarga Arka." Aksa berucap tanpa menatap Aska.


"Biarin aja, Bang. Ke manapun dia pergi dan sama siapa pun dia pergi, jika hatinya kepada Abang, mereka bisa apa? Berjuang untuk menjadi pecundang," pungkasnya.


"Abang ingat 'kan apa kata Daddy tadi. Tata masa depan Abang dulu, mantapkan hati Abang sebelum ke jenjang yang serius. Menikah itu bukan sesuatu yang mudah. Semuanya harus kita pikirkan secara matang. Jadikan anak perusahaan Wiguna Grup menjadi perusahaan yang besar di area Jawa Tengah." Aksa menatap Aska dengan senyum yang mengembang. Dia menepuk pundak sang adik dengan bangga.


Banyak wejangan dan nasihat positif yang Aksa terima selama di Jakarta. Inti dari nasihat tersebut adalah sukses dulu baru menikah. Selesaikan masalah dulu baru melangkah. Rencana awal yang sudah dibuat akan Aksa rombak.


Jum'at malam, Riana tengah menghubungi sang kakak. Menceritakan semuanya perihal Arka dan pemilik kosan serta Rani.


"Kamu jangan khawatir, Rani orang baik. Lingkungan di sana juga lingkungan nyaman. Pemilik kosan itu Kakak sangat tahu betul. Belajar yang benar, sepuluh hari lagi kita bertemu dengan baju toga yang menempel di tubuhmu."

__ADS_1


"Iya Kak. Ri juga gak sabar ingin bertemu dengan Kakak dan yang lainnya. Apalagi si triplets."


"Kamu jadi besok ke Magelang? Udah ijin Abang?"


Riana terdiam sejenak. Hanya hembusan napas kasar yang dapat Echa dengar.


"Sudah, tapi ... sampai sekarang Abang tidak pernah membalas pesan Ri. Panggilan dari Ri pun tidak pernah Abang jawab." Suara Riana terdengar sangat lirih.


"Mungkin Abang sibuk. Lagi pula, tugas Abang sekarang cukup berat. Harus membesarkan nama yang perusahaan Abang kelola."


"Emang Abang ditugaskan di mana?" Rasa penasaran masih menyelimuti hati Riana.


"Di daerah Jawa."


Jawaban yang sama, membuat Riana mendengus kesal. Dia merasa ada yang sedang disembunyikan oleh Echa dan Aksa.


Keesokan siangnya, Riana sudah dijemput oleh Arka bersama kedua orang tuanya. Riana tidak diperkenankan untuk membawa barang apapun. Cukup baju yang dia pakai. Pemilik kosan sedang duduk manis di depan teras kosan. Arka menyapa Ari dengan hangat , hanya tatapan tajam yang Ari berikan.


"Riana, malam ini Rani pulang. Jangan sampai kamu tidak pulang malam ini. Rani pasti akan mengamuk," ucap Ari.


Riana mengangguk, Rani memang sudah memberitahu akan kepulangannya. Rani juga mengancam akan melaporkan Riana kepada sang kakak jika sampai tidak pulang malam ini.


Sepanjang perjalanan, Riana tidak banyak berbicara. Menimpali ucapan Chintya seperlunya saja. Dia mengecek ponselnya secara berkala. Dia sangat berharap Aksa akan menghubunginya.


Bang, Ri berangkat.


Aksa hanya dapat menghela napas kasar. Hanya deru napasnya yang terdengar.


"Pak, apa Bapak tahu Riana mengisi acara pernikahan di daerah mana?" tanya Fahrani.


"Saya hanya mengijinkan dan memberi kepercayaan. Tidak ada hak untuk menanyakan di daerah mana acaranya."


Sungguh terdengar sangat dingin suara Aksa di telinga Fahrani. Mulut Fahrani segera dia tutup rapat. Dia tidak ingin jika lahar panas menyembur mengenai telinganya.


Magelang.


Riana sudah tiba di tempat diadakannya acara. Sebelumnya, mereka singgah di salon ternama untuk merias wajah Riana serta Chintya. Serta mengganti pakaian mereka dengan pakaian yang sudah Chintya siapkan. Mata Riana melebar ketika melihat dress yang dikenakannya senada dengan yang dikenakan Arka.


"Kamu cantik sekali," puji Chintya.


Arka terpesona ketika melihat Riana. Matanya enggan berkedip meskipun Riana sudah menunduk malu.


Andai, di depan ku bukan kamu Arka ... tetapi Aksa.

__ADS_1


Sedari tadi Riana masih memikirkan Aksa. Apalagi pesannya tidak pernah dibalas oleh Aksa membuat Riana semakin bersalah. Tibanya di hotel bintang lima, Arka menggandeng tangan Riana dengan sangat mesra. Semua keluarga besar Arka mengira bahwa Riana adalah calon istri dari Arka. Riana benar-benar seperti dijebak. Apalagi pertanyaan semua orang sama.


"Kapan nikah?"


Ingin rasanya Riana pergi dari hotel ini. Acara pun dimulai, Riana dan Arka sudah bernyanyi di atas panggung tak jauh dari pelaminan. Tentunya menyanyikan lagu yang romantis khusus untuk kedua mempelai.


Tamu semakin ramai, dan sudah dipastikan tamu-tamu undangannya adalah para pengusaha. Dari cara berpakaian serta wajah yang sering terlihat wara-wiri di televisi.


🎶


Thing can and go


I know but baby I believe


Something's burning strong between us


Makes it clear to me


Lirik lagu I Wanna Grow Old With You dari Westlife dinyanyikan oleh Arka. Kemudian dibalas oleh Riana.


🎶


I wanna grow old with you


I wanna die lying in your arms


I wanna gold with you


I wanna be looking in your eyes


Namun, Riana berhenti bernyanyi ketika dia melihat seseorang yang tengah menatapnya dengan tatapan datar. Riana benar-benar tidak bisa meneruskan nyanyiannya karena dia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Apalagi tangan Arka sekarang sudah menggenggamnya.


🎶


I wanna be there for you


Sharing everything you do


I wanna grow old with you


Ditutup dengan Arka mengecup punggung tangan Riana membuat Riana tersentak. Berbeda dengan semua orang bersorak gembira, Ketika Riana menoleh ke arah pria yang tengah menatapnya, dia sudah pergi dengan langkah lebarnya. Hanya punggung pria itu yang dapat Riana lihay. Riana menghempaskan tangan Arka dan turun meninggalkan mini panggung. Mengejar seseorang yang sepertinya marah dan kecewa.


...****************...

__ADS_1


Tembus 70 komen up lagi buat nemenin malam mingguan kalian ...


__ADS_2