Jodoh RahasiaJodoh Rahasia

Jodoh RahasiaJodoh Rahasia
Penanam Modal


__ADS_3

Ucapan Aksa membuat Aska tersentak begitu juga dengan dokter Melati. Mereka berdua kompak menunduk dalam. Aksa cukup berbicara sekali karena dia tidak suka dengan orang ngeyel.


"Kebaikan kita terkadang banyak yang salah mengartikan. Niat hati baik karena tidak enak, malah diartikan yang berbeda. Lebih parahnya akan terbawa perasaan."


Sindiran keras yang menampar wajah dokter Melati. Dia sangat tidak menyangka jika pria yang wajahnya mirip dengan pria di sebelahnya memiliki bisa di dalam mulutnya.


"Aku tidak akan meninggalkan Jingga, Bang," sahut Aska.


Aksa tersenyum tipis, dia menatap nyaris tanpa ekspresi ke arah adiknya.


"Bisa dipercayakah ucapan lu?" sergah Aksa.


Saudara kembar dari Askara ini sebenarnya tidak suka dengan sikap Aska yang terlalu baik kepada semua orang, terlebih kepada wanita. Di mata Aksa, Aska belum bisa menjadi pria dewasa yang mampu mengunci hatinya pada satu wanita.


Lagi-lagi Aska sedikit tersentil dengan ucapan Aksa. Abangnya jika sudah berbicara tidak akan pernah lembut. Perkataannya seperti anak panah yang tepat menusuk pada sasaran.


Aska bangkit dari duduknya. Dia tidak ingin kakaknya semakin menekan dia dengan perkataan yang memang benar adanya.


"Gua mau jagain Jingga," kata Aska yang sudah menjauhi Aksa juga Riana. Dia memilih untuk masuk ke dalam perawatan Jingga.


Kini, Aksa menatap ke arah dokter Melati dengan tatapan yang sangat tidak bersahabat.

__ADS_1


"Anda seorang dokter yang tentunya Anda memiliki otak yang cerdas," cerca Aksa. "Akan tetapi, kenapa Anda seakan lupa dengan kode etik?" tekan Aksa.


"Apa Anda tidak malu dengan jas putih yang tengah Anda sampirkan di lengan?" Aksara seakan belum puas dengan apa yang dia tekankan tadi. Sekarang, dia semakin menekan dokter Melati.


Riana sudah merangkul lebih erat lengan manja sang suami seraya menatap ke arah Aksa dan menggeleng pelan. Helaan napas kasarlah yang keluar dari mulut Aksa.


"Masalah pribadi bicarakan di luar. Jika, ada yang seperti ini lagi, saya tidak akan segan menyuruh pihak rumah sakit untuk memecat dokter seperti kamu!"


Dokter Melati membeku mendengar ucapan dari Aksa. Dia memberanikan diri menatap Aksa karena sedari tadi Aksa terus memojokkan dirinya. Matanya seakan menantang Aksa.


"Memangnya kamu siapa? Kamu tidak berhak untuk berbicara seperti itu kepada saya!" sergah dokter Melati. Aksa hanya menjawab dengan senyum smirk.


"Coba kamu tanya kepada direktur rumah sakit ini. Siapa Ghassan Aksara Wiguna." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Aksa mengajak Riana untuk pergi meninggalkan rumah sakit.


Namun, pria yang dia tahu kembaranndari pria yang dia sukai itu terlihat sangat serius. Dia baru tersadar bahwa ruangan yang tengah dipijakinya itu khusus untuk para petinggi rumah sakit. Ada juga orang yang berpengaruh yang menempati ruangan itu karena mereka mampu membayar dengan harga fantastis per malamnya.


"Siapa dia?" tanya dokter Melati dalam hati.


Matanya menatap ke arah pintu kamar perawatan Jingga. Mata indah itu mulai terlihat nanar. Dokter Melati memilih untuk pergi dari lantai tersebut karena sang ayah sudah menunggunya di lantai bawah. Ayahnya pun merupakan salah satu dokter terbaik di rumah sakit ini. Dia juga menjadi salah satu petinggi di sana.


"Kok lama?" tanya dokter Eki ketika dokter Melati tersenyum ke arahnya.

__ADS_1


"Ada urusan sebentar," ujar dokter Melati.


Dokter Eki mengantarkan dokter Melati pulang karena Melati adalah anak kesayangannya dan apapun yang Melati mau pasti akan dokter Eki kabulkan. Dia seperti sedang menebus kesalahannya.


"Ayah, boleh Mel tanya sesuatu?" tanya Melati. Dokter Eki yang fokus pada jalanan pun hanya menjawab dengan deheman.


"Siapa Ghassan Aksara Wiguna?" tanyanya kembali. Dokter Eki menoleh ke arah putrinya karena sedikit terkejut mendengar pertanyaan Melati.


"Ada apa memangnya?" sergah dokter Eki.


"Mel hanya ingin tahu saja, Yah."


Dokter Eki kini mengembalikan kefokusannya pada jalanan. Wajahnya terlihat enggan sekali untuk menjawab pertanyaan putrinya itu.


"Ayah," panggil Melati dengan sorot mata yang penuh permohonan.


"Dia penanam modal terbesar rumah sakit itu." Seketika mata Melati melebar. Dia benar-benar syok mendengar perkataan ayahnya.


...****************...


Maaf lama up-nya. Lagi sibuk jadi seksi rempong dan jadi pagar beton di hajatan saudara. 😂

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2