
Waktu tak terasa terus bergulir. Ayah dan anak tersebut sering sekali menghabiskan waktu berdua. Sang ibu yang tengah hamil tua enggan untuk pergi ke mana-mana. Jadi, hanya Aksa serta Gavin yang menghabiskan waktu akhir pekan mereka.
Gavin ingin membeli jajanan di tempat kulineran pinggir jalan. Aksa mengikuti saja ke mana putranya itu melangkah. Sebelum pergi ke tempat jajanan, Gavin bersikukuh untuk memakai hooddie yang sama dengan ayahnya.
"Gak mau pake itu, My. Walnanya gak sama kayak punya Daddy." Gavin merajuk. Akhirnya, sebelum berangkat pergi Aksa harus mencari Hoodie untuk putranya tersebut.
Setelah mendapat Hoodie kembaran dengan sang ayah, Gavin tersenyum bahagia. Dia terus menarik tangan ayahnya menuju tempat makannya yang dia inginkan.
"Lompat, Mas." Gavin pun melompat karena ada got kecil di sana. Aksa tertawa begitu juga dengan Gavin.
Istrinya banyak menghabiskan waktu dengan Gavin setiap harinya. Berbeda dengan Aksa yang jarang ada di rumah dan hanya weekend bisa bermain bersama Gavin. Itupun jika pekerjaan sedang tidak terlalu banyak.
"Daddy, aku mau gulita."
Aksa menuruti saja apa yang Gavin mau. Hingga lima kantong belanjaan yang sudah Aksa dan Gavin genggam.
"Masih ada yang mau dibeli?" Gavin menunjuk ke arah minuman. Aksa pun tertawa.
Selama di perjalanan pulang Gavin terus berdendang. Anak itu merasa sangat bahagia. Tibanya di rumah, Gavin berlari menuju ke arah ibunya yang tengah berada di kursi refleksi.
"My, aku beli gulita buat Mommy." Gavin sangat tahu bahwa ibunya suka sekali dengan cumi-cumian.
"Makasih banyak, Mas." Riana mengecup kepala Gavin.
"Pegel lagi?" Riana mengangguk. Aksa tersenyum dan mencium bibir Riana sepintas.
Rumah terasa sepi karena kedua orang tua Aksa tengah menghadiri pesta pernikahan kerabat. Mereka bilang akan menginap. Esok pagi baru akan pulang.
"Ini wat Mommy."
Tanpa Riana duga, Gavin sudah memindahkan makanan yang berada di dalam steroform ke dalam piring. Dia mengambilnya di dapur meminta bantuan pelayan
"Ya ampun, pintar sekali anak Mommy." Gavin pun tersenyum menunjukkan senyum manisnya.
Gavin berbagi makanan kepada sang ayah tercinta. Sesekali dia menyuapi ibunya dengan makanan yang sudah dia beli.
"Daddy mau makan? Biar Mommy ambilin." Riana yang hendak bangkit dari duduknya dilarang oleh Aksa.
"Nanti Daddy ambil sendiri." Riana pun tersenyum.
Riana dan Aska tersenyum melihat Gavin yang sangat lahap menyantap makanan yang dia beli.
.
Waktu terus bergulir, usia kandungan Riana sudah memasuki usia sembilan bulan. Gavin dan Aksa sangat excited sekali menunggu kehadiran anggota baru keluarga mereka. Walaupun si calon anggota baru tidak pernah menunjukkan jenis kelaminnya, tetapi Aksa maupun Gavin tidak mempermasalahkannya.
"Mas, kalau nanti adiknya bukan perempuan gimana?" Pertanyaan Aksa membuat Gavin menatap ke arah ayahnya.
"Daddy dan Mommy bisa coba lagi 'kan."
Sungguh jawaban membuat Aksa tertawa sangat keras, sedangkan Riana sudah mendengkus kesal.
"Kamu kira kerok coba lagi, kayak hadiah di minuman seribuan," omel Riana.
Gavin pun tertawa, semenjak hamil besar sang ibu lebih senang mengomel. Namun, itu semua karena Gavin selalu berulah dan membuat ibunya selalu naik darah.
"Lusa Daddy akan ke Pontianak dulu selama lima hari."
Riana dan juga Gavin terdiam mendengar ucapan dari Aksa yang tiba-tiba. Mereka berdua seakan tidak mau ditinggalkan oleh Aksa.
"Daddy harus mengurus perusahaan WAG yang berada di sana," ujarnya. Tidak ada respon dari mereka berdua membuat Aksa memeluk tubuh Riana juga Gavin. "Lima hari, tidak sampai seminggu." Aksa meyakinkan anak dan istrinya.
"Ri, hanya takut ... Abang tidak bisa menemani Ri ketika anak kita lahir." Suara Riana terdengar sangat lirih sekali membuat Aksa sangat tidak tega.
"Jangan tinggalin kami, Dad."
Sifat manja Gavin muncul ketika ayahnya akan pergi berhari-hari. Sesungguhnya dia ingin selalu dekat dengan sang ayah.
"Daddy janji, Daddy akan temani Mommy lahiran dan akan bermain kembali bersama Mas Agha. Daddy janji."
Jika, Aksa akan pergi ke luar kota ataupun ke luar negeri biasanya mereka berdua akan ikut. Namun, kali ini karena perut Riana yang sudah semakin membesar Aksa tidak ingin mengambil risiko besar. Biarlah dia yang terbang sendiri ke Pontianak.
"Cepat pulang!" Begitulah pinta Riana.
__ADS_1
Belum juga pergi, tetapi mereka ingin Aksa segera kembali. Itulah yang membuat Aksa merasa berat meninggalakan anak dan istri tercintanya.
Hari di mana Aksa terbang pun tiba. Riana terus memeluk tubuh suaminya. Begitu pula Gavin yang menangis di dalam gendongan sang ayah.
"Daddy hanya beberapa hari Mas di sana," ucap Ayanda yang sudah meraih tubuh Gavin dari Aksa.
"Lima hari ya, Sayang. Abang janji Abang akan pulang dan menyaksikan kamu melahirkan anak kedua kita."
Riana mengangguk dengan terpaksa. Aksa memeluk tubuh Riana dengan sangat erat. Dia juga mengecup lembut kening Riana tiada henti.
"Jangan nakal ya, Nak. Daddy hanya pergi sebentar." Aksa berbicara kepada perut sang istri. Dia pun mengecup hangat perut buncit Riana.
Kini, Aksa mengambil alih Gavin dan tersenyum ke arah putranya. "Mau jadi Mas kok manja," kata sang ayah.
"Jaga Mommy, ya, selama Daddy gak ada." Gavin mengangguk mengerti. "Mas Agha harus bisa menjaga dan melindungi adik dan Mommy." Lagi-lagi Gavin mengangguk. Aksa mencium kening Gavin sangat dalam. Dia pun membawa tubuh Gavin serta menggenggam tangan Riana menuju halaman. Dia ingin diantar oleh anak dan istrinya.
"Daddy berangkat, ya." Gavin dan Riana melambaikan tangan.
"Cepat kembali."
Begitulah ucapan anak dan istrinya. Aksa pun tersenyum dan mengangguk patuh. Dia membalas lambaian tangan meninggalakan anak dan istrinya.
Di hari keempat kepergiaan sang suami. Perasaan Riana sudah mulai tidak enak. Perutnya sering sakit, bukan sakit karena kontraksi. Seakan anaknya tengah memberitahukan sesuatu. Riana terus berpikiran positif.
Di hari kelima, Riana merasa ada yang aneh. Sedari tadi Gavin terus menangis dan memanggil nama ayahnya. Begitu juga dengan perutnya yang masih terasa sakit.
"My, aku ingin beltemu dengan Daddy."
Rengekan Gavin yang terus membuat Riana pusing dan semakin kepikiran terhadap suaminya. Riana mencoba mengirimkan pesan. Namun, hanya ceklis satu. Hati Riana pun benar-benar kalut dibuatnya.
Dia mencoba menenangkan Gavin yang terus merengek. Akhirnya anak pertamanya itu tidur juga. Riana mengusap lembut rambut Gavin, tangan yang satunya pun mengusap lembut perutnya.
Baru saja hendak memejamkan mata, panggilan sang ibu mertua membuat mata Riana terbuka kembali. Riana mencoba turun dari tempat tidur, tetapi dilarang oleh ibu mertuanya. Dahi Riana mengkerut ketika melihat wajah Ayanda terlihat sendu.
"Ada apa, Mom?" tanya Riana bingung. Bukannya menjawab, Ayanda malah memeluk tubuh Riana dengan sangat erat. Terdengar isakan di sana.
"Ada apa, Mom?" Jantung Riana sudah berdebar hebat. Pikiran jelek kini sudah berkelana di kepalanya.
Ayanda mengurai pelukannya dan memperlihatkan berita online terbaru.
"A-abang pulangnya besok, Mom."
Ayanda menggelengkan kepala. Dia memperlihatkan gambar yang dikirimkan oleh Aksa kepadanya. Seketika tubuh Riana menegang. Dia menolak untuk percaya.
"Enggak, Mom. Abang gak bilang apapun kepada Ri."
"Dia ingin memberikan kejutan kepada kamu, Ri. Makanya hanya bilang kepada Mommy."
Tes.
Air mata Riana menetes begitu saja. Dia terus menggelengkan kepala.
"Mom, katakan semua ini hanya candaan," pinta Riana.
Ayanda mengusap lembut pundak sang menantu. "Daddy sudah terbang ke Pontianak untuk memastikan semuanya karena anak buah Aksa pun tidak bisa dihubungi juga."
Ayanda mencoba untuk tegar di hadapan menantunya yang tengah menitikan air mata.
"Katakan ini hanya mimpi, Mom." Riana terus menolak berita hingga sang kakak juga ayahnya datang.
"Ri," panggil Echa yang sudah sembab.
"Ini bohong 'kan Kak. Bohong 'kan." Echa memeluk tubuh adiknya yang benar-benar terlihat syok.
"Tenang 'kan diri kamu, Ri." Kini sang ayah mendekat dan mendekap hangat tubuh Riana dengan sangat erat.
"Suami Ri, Ayah. Suami Ri." Suara Riana sudah sangat bergetar. Terdengar sangat lirih pula.
"Sabar, Sayang. Kita berdoa untuk keselamatan Aksa."
Seharian ini Riana tidak mau makan sama sekali. Dia hanya memandangi ponselnya dan menunggu kabar dari sang suami. Puluhan pesan sudah Riana kirimkan untuk Aksa. Namun, tak satupun pesan yang yang terkirim kepada suaminya.
"Ya Tuhan, aku tidak ingin menjadi janda muda."
__ADS_1
Gavin, putra dari Aksa dan Riana menyeka air mata yang terus membasahi wajah ibunya. "Mommy jangan nangis. Daddy di sana pasti sedih."
"Jika, kamu tahu Daddy kamu, Mas. Kamu pasti akan menangis." Riana berkata dalam hati. Dia memeluk tubuh Gavin dengan sangat erat.
Malam sudah tiba, tak ada kabar dari ayah mertua juga suaminya membuat hati Riana semakin gundah. Matanya sudah sembab dan dia mencoba menghampiri ibu mertuanya yang tengah melamun di ruangan bawah. Bukan hanya dia yang terpukul, tetapi ibu mertuanya lebih terpukul.
"Mom."
Ayanda menyeka air matanya dengan kasar dan menoleh ke arah sang menantu yang tengah berbadan dua berdiri tak jauh darinya. Dia tersenyum, menutupi rasa sedihnya.
"Mau apa, Ri? Mommy akan buatkan."
"Ri, ingin Abang."
Air mata Ayanda pun tumpah mendengar keinginan sang menantu. Dia memeluk tubuh Riana yang sudah bergetar hebat.
"Ri, ingin Abang kembali, Mom. Hanya itu pinta Ri."
Tidak ada kabar dari Gio maupun Aksa membuat Raditya Addhitama beserta Riki asistennya terbang ke Pontianak. Echa datang kembali bersama sang ayah. Mereka tidak ingin meninggalakan Riana seorang diri ketika kondisi seperti ini.
Berita di televisi pun belum menemukan titik terang di mana pesawat itu jatuh. Kemungkinan besar terjatuh di laut. Itulah yang membuat tubuh Riana terkulai tak berdaya.
"Ri, bangun, Ri." Riana pingsan. Dia tidak mampu menghadapi musibah ini. Dia benar-benar sangat terpukul.
"Mah, apa sudah ada kabar dari Papah?" Ayanda pun menggeleng. Sedangkan Ayanda sibuk menghubungi dokter Gwen untuk memeriksa tubuh Riana.
"Bagaimana, Dok?"
"Nyonya Riana syok berat, Nyonya. Dia benar-benar stres, tubuhnya sangat lemah dan harus diinfus untuk memulihkan tubuhnya."
Ayanda menoleh kepada Rion, ayah dari Riana itupun mengangguk. Akhirnya, Riana diinfus. Ruang keluarga disulap menjadi ruang perawatan serta ruangan tidur mereka berempat. Echa memindahkan Gavin agar berada di samping ibunya.
Tak lama berselang, Riana tersadar dan nama Aksalah yang dia panggil.
"Sabar, Sayang." Lagi-lagi air mata Riana jatuh tak tertahan. Di sampingnya sudah ada Gavin yang tengah memeluk erat baju sang ayah yang terakhir dipakai tidur sebelum berangkat ke Pontianak.
"Kak."
Echa pun menggeleng dan air mata itu semakin tumpah ruah. "Kita tunggu ya, Ri."
Mata Riana tidak bisa terpejam sama sekali. Dia terus menatap layar televisi berharap ada breaking news atas penemuan titik pesawat yang jatuh. Namun, sampai pagi menjelang titik koordinat itu belum ditemukan. Mata Riana sudah sangat sembab. Wajahnya sangat pucat.
Keluarga Arya juga keluarga Kano yang berada di Singapura segera terbang ke Jakarta mendengar berita tersebut. Sheza dan Beby memeluk erat tubuh Riana. Dia merasakan bagaimana perasaan Riana sekarang. Tiga orang yang berada di sana pun nampak menunggu kabar dengan harap-harap cemas. Mereka terus merapalkan doa dalam hati. Berharap pesawat yang ditumpangi Aksa bisa ditemukan dan Aksa selamat.
Di posko para penumpang yang menaiki pesawat naas itu, Aska sedang menunggu kabar. Dia stand by terus karena sesungguhnya dia juga takut terjadi apa-apa kepada abangnya.
Aska tidak bisa makan apapun karena pikirannya masih tertuju pada nasib kembarannya.
"Bang, jangan buat kita khawatir. Kita masih ingin bersama lu lebih lama lagi."
Sebelum terbang dari Pontianak ke Jakarta. Aksa mengatakan bahwa perasaannya sudah tidak enak. Aksa sudah bilang jika tunda saja penerbangannya. Namun, Aksa tetap melanjutkan penerbangannya. Kini, pesawat naas itu belum juga ditemukan.
Riana tengah terduduk dengan selang infus menempel di punggung tangannya. Matanya terpejam membayangkan wajah suaminya. Tangannya menggenggam ponsel yang sedari tadi menyala. Menunggu pesan balasan dari Aksa yang tak kunjung ada.
Gavin mendekat ke arah ibunya. Mencium pipi sang ibu dengan sangat tulus. Dia pun mencium perut buncit Riana membuat hati Riana semakin teriris.
"Kenapa Mommy nangis telus? Apa gak sakit tangan Mommy ditancapkan jalum itu?" Wajah polos Gavin membuat hati Riana semakin perih. Dia memeluk tubuh putra pertamanya dengan sangat erat. Berharap suaminya kembali dengan selamat.
"Jika, kenyataan pahit terjadi. Apakah Mommy akan bisa merawat kamu dan adik kamu seorang diri?"
Hati Riana sangat sedih dan sakit kali ini. Dia hanya berharap ini semua hanya mimpi buruk.
"My, jangan nangis telus. Nanti aku dimalahin Daddy."
Setiap Gavin menyebut Daddy, ulu hatinya sangat sakit sekali. Air matanya pasti akan terjatuh.
Terlihat sang ibu mertua tergesa dan segera duduk di depan layar televisi dengan masih menggunakan mukena. Sheza dan Beby tengah di dapur. Rion, Arya dan Kano terus menghubungi Aska maupun Giondra. Sedangkan Echa tengah menjemput ketiga anaknya.
Layar televisi pun Ayanda nyalakan. Suara langkah cepat terdengar dari arah luar. Ketiga pria itu sudah mendapat kabar dari Aska dan segera menonton breaking news tentang pesawat yang terjatuh kemarin. Mereka mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh pembawa berita langsung dari posko korban pesawat. Ada pihak dari kepolisian juga di sana yang akan menjelaskan semuanya.
"... semua penumpang dinyatakan meninggal dunia."
Tasbih yang Ayanda genggam pun terjatuh begitu saja.
__ADS_1
"Abang! Jangan tinggalin, Ri!"
...****************...