
Di lain tempat, Aksa dan Riana baru tiba di sebuah rumah megah. Dahi Riana mengkerut ketika melihat rumah tersebut. Dia menatap ke arah sang suami dengan penuh tanya.
"Ini kan--"
"Iya, rumah yang sudah aku siapkan dari sebelum kita menikah. Kamu juga pernah tidur di sini 'kan."
Ketika Riana dibentak sang ayah dan ditampar oleh Rion. Arya mengajak Riana ke rumah ini. Ternyata rumah ini adalah rumah Aksa.
"Jadi, itu semua rencana Abang?" Aksa mengangguk.
Dia mengusap lembut rambut sang istri yang masih tak percaya dengan yang diucapkan suaminya. Aksa memilih keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Riana. Dia bersimpuh di hadapan Riana.
"Abang tahu kamu membutuhkan ruang untuk sendiri pada waktu itu. Inilah tempat yang tepat. Tempat yang akan menjadi saksi bisu kebahagiaan rumah tangga kita."
Riana memeluk tubuh Aksa dengan sangat erat. Tak terasa bulir bening menetes di wajah cantiknya.
"Jangan nangis, Sayang."
Akhir-akhir ini Riana lebih sensitif. Tidak boleh tersentuh hatinya bisa langsung terisak. Aksa mengendurkan pelukannya. Dia menatap Riana dengan penuh cinta. Tangannya mengusap lembut air mata yang sudah membasahi pipi Riana.
"Ini adalah rumah kamu. Rumah yang aku beli untuk aku berikan kepada kamu. Semua surat dan sertifikat sudah atas nama kamu."
Bukti cinta seorang Aksara bukan hanya pada kata-kata, tetapi pada bukti nyata. Tak dia pedulikan berapa uang yang harus dia gelontorkan.
Aksa mengajak Riana berkeliling rumah besar itu. Bibir Riana melengkung dengan sempurna ketika melihat interior serta perabot rumah tersebut. Sangat modern dan bukan barang murah.
Mata Riana sedikit melebar ketika dia merasakan tendangan kecil di perutnya.
"Bang."
Langkah Aksa terhenti ketika istrinya memanggil dirinya. Riana meletakkan tangan Aksa di atas perutnya.
"Baby kita gerak," ucap Riana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Aksa membawa Riana untuk duduk di sofa. Tangannya tak dia turunkan dari atas perut Riana. Seketika Aksa terdiam, gerakan kecil dari dalam perut Riana terasa di telapak tangannya.
"Nak," panggil Aksa dengan suara yang sudah bergetar.
Aksa mendongak ke arah Riana yang juga sudah menahan laju air matanya.
Aksa memeluk tubuh Riana dengan sangat erat. Tak dia sangka, sebentar lagi dia akan memiliki anak dari buah cintanya dengan Riana.
"Sehat terus ya, Nak. Jangan buat Mommy kesakitan," ucap Aksa ke arah perut Riana.
__ADS_1
"Sepertinya anak kita menyukai rumah ini," terang Riana.
Aksa hanya tersenyum dan masih memeluk erat tubuhnya. Riana terkejut ketika ada seorang wanita paruh baya yang sudah membawa nampan berisikan minuman.
"Silakan diminum," ujarnya.
Riana memandangi wajah suaminya. "Itu Mbok Muh, dia asisten rumah tangga di sini," paparnya. "Ketika Abang kerja, nanti Mbok Muh yang akan menemani kamu. Abang juga akan menyewa baby sitter untuk mengurus anak kita."
Pria yang penuh dengan tanggung jawab sekali Aksara ini. Dia tidak menginginkan istrinya kecapekan. Meskipun, kodrat istri adalah di dapur Aksa tidak memperlakukan Riana seperti itu. Dia memperlakukan Riana bak seorang ratu.
Riana mengajak Aksa untuk mengelilingi rumah tersebut, dan mereka berhenti di sebuah kamar luas yang sudah terpajang foto dirinya dan juga Aksa ketika resepsi pernikahan.
Aksa sudah merebahkan tubuhnya di kasur yang besar. Riana menghampiri Aksa dengan senyum yang tak pernah pudar.
"Makasih," ucap Riana yang sudah duduk di bibir tempat tidur.
Aksa menarik lembut tangan Riana dan masuk ke dalam pelukannya. Dia mengecup ujung kepala Riana dengan sangat lembut.
"Tidak perlu bertema kasih. Sudah kewajiban Abang sebagai suami untuk membahagiakan kamu, istriku."
Wanita mana yang tidak akan bahagia mendengar ucapan dari Aksara. Riana benar-benar beruntung karena memiliki suami seperti Aksa. Dia sudah menyuruh Riana berbaring di sampingnya. Memeluk erat tubuh istri tercinta dengan tangan yang sudah nakal.
"Bang." Suara Riana sudah mendayu-dayu membuat Aksa semakin bersemangat. Namun, semuanya harus terhenti ketika ponsel Aksa berdering. Aksa pun mendesah panjang sekaligus kesal.
"Dia sudah mau membayar uang setengah Milyar milik Bapak. Dia meminta bertemu di kafe yang biasa Bapak dan dia bertemu."
Setelah sambungan telepon itu terputus, tangan Aksa mulai membenarkan baju sang istri. Dia mengecup kening istrinya sangat dalam.
"Abang harus pergi."
Riana mematung seketika mendengar ucapan sang suami. Dia menatap Aksa dengan penuh tanya.
"Ada urusan, Sayang," jelasnya dengan sangat lembut.
"Ri, ikut," ucapnya.
"Jangan, Sayang. Ini--"
"Kalau Ri gak boleh ikut, Abang juga gak boleh pergi." Sebuah ancaman yang selalu membuat Aksa mati kutu.
Jika, sudah begini Aksa akan kalah. Dirayu apapun Riana oleh Aksa hanya akan berbuah kegagalan.
"Ya udah," ucap pasrah Aksa.
__ADS_1
Riana tersenyum sangat manis dan mencium pipi sang suami.
"Ganti baju ya, Yang. Itu bajunya udah kusut," titah Aksa. Riana hanya mengangguk patuh.
Mereka berdua pergi meninggalakan rumah besar itu tanpa membicarakan apapun. Mereka menuju sebuah kafe yang mana kafe itu adalah tempat favorit Aska jika tengah gundah gulana.
Aksa terus menggenggam tangan Riana menuju tempat yang benar-benar pribadi. Sudah ada Christian dan juga seorang pria di sana. Christian berdiri seraya menyapa Aksa dan juga Riana. Beda halnya dengan pria itu. Masih bersikap angkuh.
"Nih!"
Satu lembar cek dia berikan kepada Aksa dengan sangat tidak sopan. Riana menatap wajah suaminya yang juga terlihat sedang menahan amarah.
"Punya etika tidak, Anda?" bentak Christian.
"Gak usah ngomongin etika sama gua. Jangan mentang-mentang bos lu ini banyak duit, lu bisa nindas kaum kecil kayak gua," sungutnya.
Tangan Christian sudah mengepal dengan sangat keras. Urat-urat di wajahnya sudah mulai terlihat. Aksa mengusap lembut pundak Christina. Gelengan kepala kecil membuat Christian mengangguk.
"Oke, urusan saya dengan kamu selesai. Saya harap, saya tidak akan pernah bertemu dengan kamu lagi. Jika, sampai bertemu dengan kamu lagi, jangan harap kamu pulang dengan selamat."
Kalimat yang sangat menohok yang terucap dari mulut Aksa. Dia menahan kegeraman yang sudah memuncak. Dia mencoba bersabar di depan istrinya.
"Bang," panggil Riana ketika mobil mereka berhenti di lampu merah.
Aksa menoleh dan mencoba tersenyum ke arah Riana.
"Kenapa Abang diam saja diperlukan seperti itu?" tanya sang istri tercinta.
Aksa menggenggam tangan Riana dan menatapnya lamat-lamat.
"Abang tidak ingin anak kita melihat atau mendengar Abang murka. Abang tidak ingin, anak kita meniru hal buruk yang sering Abang lakukan. Seburuk-buruknya orang tua pasti menginginkan anaknya bersikap baik, bukan," papar Aksa.
Riana tersenyum dan mengusap lembut pipi sang suami. "Abang adalah suami idaman." Aksa pun tersenyum.
"Apakah itu yang namanya Bian? Sahabat dari Kak Aska," tanya Riana.
"Iya."
"Udah dibantu malah dia yang menggerutu," oceh Riana.
"Bukankah itu hukum alamnya?" timpal Aksa. Riana menatap ke arah sang suami dengan kedua alis menukik tajam.
"Orang yang berhutang lebih galak dari orang yang memberikan hutang. Itulah realita yang ada."
__ADS_1
...****************...
Jangan bosan, ya.